Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
sabar sayang.


__ADS_3

"alah kami sekarang ngomong begitu karena merasa kaya, suami mu memang kaya tapi kami lupa bagaimana dulu kami mendapatkannya," kata Windi tak terima.


Wulan yang akan pergi memilih berhenti, dia tak mengira jika adik dari Jasmin begitu kasar.


"Windi jaga bicaramu," kata pak Handoko.


"kamu itu tak sebaik itu, kau lupa bahkan kau saja hampir di perkosa oleh beberapa pria, kau lupa itu hei ..." kata Windi.


Wulan marah, dia tak suka ucapan dari Windi yang menghina Jasmin, "tutup mulutmu, jangan lupa ini di rumah ku," kata Rafa yang menenangkan istrinya.


"lihat dia sudah kau cuci otaknya ya-"


suara Windi terhenti oleh sebuah tamparan keras, "tutup mulutmu, atau aku perlu yang melakukanya dan membantu mu," suara Wulan yang berdiri di depan wanita itu.


Raka membaca mantra-mantra teluh ringan dan mulai membuat Windi kesakitan dengan hal itu.


"ini baru pelajaran jika kamu berani mengatakan hal buruk, kami ingin tau jika aku yang melakukan teluh?" kata Wulan yang berjongkok di depan Wanita itu.


"Raka Hentikan, jangan membunuh orang dengan ilmu itu, tolong sadarkan diri kalian," kata Rafa yang berhasil menghentikan adiknya itu.


Wulan pun hampir pingsan, Mak nur menahannya, "ada apa eyang?" tanya Wulan.


"tak papa, sekarang Raka ajak istri mu ke rumah mertua mu, biar eyang yang menangani disini," kata Mak nur


"iya eyang," pamit Raka yang langsung mengendong Wulan.


Mak nur pun mengangguk, Rafa melihat Windi dan Bu Diah, Mak nur mengambil bambu kuning yang biasanya di pakai Raka.


mak nur berjalan dan menempelkan bambu itu ke tubuh Windi , dan gadis itu langsung muntah nanah.


"sekarang kalian tau seperti apa keluarga kami, sekali kalian mengusik salah satu dari kami, maka saudara kami yang akan melakukan apapun, dan jangan lupa kami bisa membunuh orang tanpa harus menyentuhnya," kata Rafa.


"lebih baik kalian istirahat di rumah sebelah, dan nak Jasmin tolong istirahat juga, jangan membuat dirimu tertekan, ingat kamu sedang menyusui," kata Mak nur.


"inggeh eyang," jawab Jasmin.


Rafa mengangguk mengantarkan istrinya.


pak Handoko pun memikirkan ucapan dari Jasmin itu benar. windi terlalu sering melukai Jasmin dan keluarga barunya.


"ini terakhir kali kamu ikut ayah ke rumah Raka, karena ucapan mu,


bisa membuat Jasmin dalam masalah," kata pak Handoko.

__ADS_1


"lihat, ayah terus saja membelanya, aku juga Putri ayah, kenapa hanya terus Jasmin, Jasmin dan Jasmin!" kata Windi tak terima.


"tutup mulutmu Windi," kata Angga.


"terus saja bela jasmin itu," kata Windi.


"cukup dia putriku, ingat itu!" tidak pak Handoko.


Bu Diah yang ingin membela putrinya di tahan oleh pak Handoko, "jangan bicara, aku sudah tau semuanya, tak sudah untuk membuang mu dan membuat mu tak memiliki apapun, karena aku sudah memiliki bukti, jadi jangan memaksa ku," kata pak Handoko.


Bu Diah terdiam, dia tak bisa melawan hal itu, jika tidak dia bisa jadi gelandangan.


"tutup mulutmu dan tidur, bawa putrimu," kata pak Handoko pada Bu Diah.


Angga melihat ayah sambungnya yang begitu frustasi, dia merasa kasihan dengan hal itu.


"ayah boleh aku minta sesuatu?" tanya pria muda itu.


"apa nak, kemarilah duduk di sebelah ayah," panggil pak Handoko.


"ayah, lebih baik ayah pisah dengan mama, itu akan baik untuk ayah, dan tinggallah di desa ini agar lebih dekat dengan menantu dan putri ayah," mohon Angga.


"tapi bagaimana dengan usaha ayah," kata pak Handoko.


"kamu sudah tau nak?" lirih pak Handoko sedih.


"iya ayah, aku sudah tau dari lama, sebab itu aku tak ingin jadi pewaris ayah, karena sifat mama," jawab Angga.


pak Handoko tak mengira jika putra sambungnya begitu pengertian dan begitu baik,dia pun mulai memikirkan hal yang di katakan oleh pria muda itu.


sedang Jasmin masih terisak dalam pelukan Rafa, "sabar sayang, jangan seperti ini, kasihan kamu dan Faraz," kata Rafa.


"aku malu mas, bagaimana aku harus menghadapi Wulan dan mas Raka, belum lagi dengan eyang, ya Allah kenapa keluarga ku seperti ini, aku malu mas..." kata Jasmin.


"sabar sayang, ini ujian kita," kata rafa yang menelpon Wulan.


"assalamualaikum... ada apa?" kesal raka yang menjawab telpon saudara kembarnya itu


"waalaikum salam, mana Wulan, lihat istriku sedih karena tadi?" kata Rafa.


"mas Rafa buat malu," kata Jasmin mencubit suaminya yang usil.


"assalamualaikum Kakak ipar cantikku, aku sedang membuat botok kuthuk untuk mu, jadi aku sedang menagngguk ibu, ada apa kakak?" tanya Wulan yang memeluk raka dari punggungnya.

__ADS_1


"aku ingin minta maaf..." kata Jasmin sedih.


"aduh kenapa sih cantik, mas ih diem gak ... aku tak ada masalah dengan kakak kok, jadi kakak tak perlu minta maaf," jawab Wulan yang masih sibuk menenangkan tangan suaminya.


"lihatkan dek, Wulan itu gadis baik jadi kamu tak perlu sesedih ini..." kata Rafa.


"iya mbak, tapi saat aku pulang mas rafa harus buatkan aku mie ayam tiga warna, boleh?" tanya Wulan dengan harap.


"baiklah apapun untuk mu, dan jangan lupa kalau pulang bawa pepes patin ya," kata rafa.


"siap kakak ipar, aku bawakan banyak, terlebih Tante sedang hamil!" teriak Wulan.


"apa !" kaget semua orang yang tak tau.


"eh ..." kata Wulan bingung.


"kamu bilang Tante hamil?" tanya Adri yang tak sengaja lewat.


"ah itu, habis ciri-cirinya persis aku dulu, jadi kemungkinan tante hamil," jawan Wulan.


"kamu punya tes kehamilan?" tanya Adri pada Jasmin.


"ada di lemari obat om, kemarin mas Raka beli banyak," jawab Jasmin.


Adri pun buru-buru mengambil alat itu dan membawanya pulang, sedang semua bingung melihat reaksi dari


Adri.


sedang Wulan malah terlihat takut, Nurul akan terluka dengan ucapan asalnya itu.


Raka pun mengangguk dan menenangkan istrinya, jadilah kini dua orang itu saling video call dan membahas hal yang tak berfaedah.


sedang Adri bingung ingin meminta istrinya melakukan tes kehamilan, dia takut melukai Nurul.


akhirnya Adri pun mengurungkan niatnya dan memilih untuk diam dan menyembunyikan alat itu di kamar Rania.


"mas sedang apa?" tanya Nurul yang melihat suaminya.


"tidak ada dek, hanya sedang mengucapkan selamat malam pada Rania," jawab Adri yang kemudian menghampiri Nurul.


"apa Jasmin baik-baik saja, aku kasihan tadi mendengar semuanya," kata Nurul.


"iya semua baik, terlebih Wulan dan Raka juga tak dendam sedikitpun," jawab Adri.

__ADS_1


__ADS_2