Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
klinik gelap


__ADS_3

Irma dan Zuzun sudah pergi, tapi di otak Irma kini malah sedang memikirkan Raka yang makin terlihat tampan.


"kita pulang atau gimana?" tanya Zuzun.


"pulang saja, karena aku ingin tidur setelah tiga bulan ini tak bisa tidur nyenyak," jawab Irma.


Zuzun pun mengantarkan Irma ke rumah, terlihat ibu dari irma sedang merawat sang ayah.


Zuzun pun menyapa Keduanya sebelum pergi, Zuzun heran karena setelah di sembuhkan.


ayah Irma pak Prapto malah lumpuh, tapi Irma seakan tak sedih atau pun bagaimana.


gadis itu bahkan nampak bahagia saat ini, Zuzun pun memilih pergi toh itu juga bukan urusannya.


Raka sedang bertukar pesan dengan istrinya, untuk menginggatkan menjaga kesehatannya.


saat Nurul tiba-tiba mengetuk pintu kamar Wulan, "dek, aku menganggu tak?"


"tidak Tante, ada apa memangnya?" tanya Wulan.


"maukan nemenin Tante sebentar," ajak Nurul.


"iya Tante, aku ganti baju dulu ya," pamit Wulan.


Nurul pun minta izin pada Mak nur, Wulan keluar dengan celana panjang longgar dan juga tunik.


keduanya pun memilih naik motor, dan ternyata Nurul mengajak wulan ke sebuah klinik kandungan.


"Tante kenapa kita kesini?" kaget Wulan.


"aku ingin memeriksakan diriku, karena tadi hasil tes kehamilan hasilnya positif, jadi temenin Tante ya," mohon Nurul.


"kenapa tidak ke rumah sakit saja sih Tante, kenapa harus ke klinik beginian?"


"ini tuh klinik yang di rekomendasikan sama Bu Lilik, katanya kliniknya bagus," jawab Nurul memohon.


Wulan pun pasrah mengikuti sang Tante, dia juga sudah mengirimkan pesan pada Raka.


Wulan tak bisa duduk dengan tenang, dia terus nampak gelisah dan ketakutan, dia juga terus melindungi perutnya dari sesuatu.


Raka belum membaca pesan dari istrinya itu, karena masih mengajar di kelas, Rafa yang baru pulang pun menyapa istri dan Putranya.


"assalamualaikum putra ayah, tumben dek kok sepi, mana Wulan biasanya membantumu menjaga Faraz," tanya Rafa.


"tadi di ajak Tante keluar katanya sebentar, tapi tak bilang mau kemana mas," jawab Jasmin memberikan air dingin pada Rafa.


"coba telpon dek, karena perasaan ku gak enak nih," kata rafa sambil menenggak minumannya.


"aduh jangan gitu lah, aku cemburu tau," kata Jasmin tertawa.


"kamu ini lucu ya, sama ipar dan Tante sendiri juga, sudah cepat nanti terjadi apa-apa lagi," kata Rafa pada istrinya itu.


Jasmin pun menelpon Wulan, "halo, assalamualaikum dek, kamu dimana? apa kamu baik-baik saja?" tanya Jasmin.


"waalaikum salam mbak, aku sedang di klinik kandungan, dan aku tak baik-baik saja mbak, tolong minta mas Rafa mengirimkan khodam miliknya mbak," kata Wulan dari sebrang telpon.


"halo dek, kamu kenapa halo Wulan!" panik Jasmin ketika panggilannya terputus.


"ada apa dek?" tanya rafa saat mengendong Faraz.


"mas ... Wulan minta di kirimi khodam milik mas, sepertinya dia sedang dalam masalah," kata Jasmin sedih.


Rafa mengirimkan Sesnag dan juga memanggil Ki Antaboga untuk ikut, kedua khodam itu pergi.


kedua khodam itu sampai di tempat Wulan, mereka pun langsung membantu kedua wanita itu.


ternyata Wulan ketakutan karena melihat begitu banyak arwah bayi penasaran.


"tolong ..."


Ki Antaboga marah, dia membunuh dan membinasakan semua arwah yang ada disana.


Wulan pun masih sesenggukan, tak mengira mengantarkan Nurul akan mengalami kejadian buruk ini.

__ADS_1


bukan dia tak bisa melawan, pasalnya dia sedang hamil, dan hanya ingin melindungi perutnya dari para arwah itu.


Raka yang masih di sekolah pun heran melihat begitu banyak miscall dari Wulan dan Rafa.


"ada apa ini?" bingung Raka.


dia menelpon istrinya tidak di angkat, dia pun memutuskan menelpon Rafa dan langsung tersambung.


"assalamualaikum, ada apa kanu menelepon ku?" tanya Raka.


"waalaikum salam, cepat ke klinik di desa sukun, istrimu dalam bahaya,"teriak rafa kesal.


"apa? kenapa dia disana?" kaget Raka yang langsung pergi dari kantornya.


dia pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, pasalnya dia tak ingin terjadi apa-apa pada istrinya itu.


Ki Antaboga masih mencoba menenangkan Wulan, ternyata menuruti permintaan Wulan tadi adalah salah, karena akhirnya terjadi kejadian buruk ini.


sedang Sesnag masuk ke ruangan periksa. ternyata Nurul sedang melakukan USG.


dan wanita itu sedang hamil satu bulan, dan Sesnag melihat jika janin Nurul baik-baik saja.


"maaf nyonya, janin anda sepertinya akan cacat, lebih baik di gugurkan sebelum besar," kata dokter itu.


sedang Sesnag tau jika dokter itu memiliki pesugihan, dan tenyata janin Nurul akan menjadi korban ke seribu jika wanita itu menurut.


"biarkan aku bertanya pada suamiku dulu, bagaimana pun aku butuh izin padanya," jawab Nurul dengan air mata yang deras mengalir.


"tapi jika di tunda, akan membuat nyawa anda dalam masalah besar," kata dokter itu


"lepaskan wanita ini, atau aku akan menghanguskan semuanya termasuk dirimu," ancam Sesnag pada sosok wanita di belakang pria itu.


"tidak bisa, ini akan memperkuat ku, jika dia tak boleh, aku ingin bayi dari wanita di luar itu," kata hantu perempuan itu ingin pergi melukai Wulan.


Sesnag menyerangnya tapi dia teluka karena tercakar kuku hantu wanita itu, tapi tak terduga Wulan pingsan saat Rafa datang.


Rafa langsung masuk dan membaca ayat kursi dan mengusir hantu wanita itu.


"Tante, kita pulang yuk, om Adri pasti marah jika tau apa yang Tante lakukan, terlebih Raka," kata rafa yang membantu Nurul bangun.


"kamu pergi dulu dan sembuhkan luka mu," perintah Rafa.


"baik prabu," jawab Sesnag.


Raka datang dan melihat istrinya di jaga Ki antaboga, "kenapa ini Ki?"


"nyai tadi ketakutan melihat semua arwah bayi yang ada di lingkungan ini, dan nyai akhirnya pingsan saat salah seorang arwah ingin melukai perutnya," jawab Ki antaboga.


"tolong jaga dulu, biar aku bereskan dokter gila ini," kata Raka marah.


dia masuk dan melihat dokter itu ingin melukai rafa, "brengsek!" teriak Raka.


dia langsung menendang dokter itu hingga pingsan karena membentur dinding.


"kamu bawa Tante, dan aku bawa istriku, dan kalian akan habis dengan ku," kata raka tak bisa menahan diri lagi.


para perawat pun ketakutan, pasalnya mereka baru kali ini melihat seseorang yang begitu bengis itu.


Rafa meminta pak ji meminta pulang dengan membawa motor Nurul, sedang Rafa membawa Nurul dengan mobilnya.


sedang Raka menelpon polisi untuk menggerebek tempat klinik setan itu, Raka pun menunggu para polisi dan menyadarkan istrinya.


"sayang bangun dong, jangan seperti ini?" lirih raka menciumi pipi istrinya itu.


Wulan pun membuka mata, "tolong jangan membunuh ku, membunuh anakku," panik Wulan.


"sayang lihat ini aku suami mu, Raka tolong istighfar dek," kata Raka memeluk Wulan.


Wulan pun menangis melihat suaminya itu,dan aroma tubuh Raka menenangkan dirinya.


"mas,disana banyak arwah janin, mereka ingin mengajak bayi kita pergi, tolong buat mereka tenang agar tak mengganggu orang hamil yang lain," kata Wulan.


"pasti sayang," jawab Raka.

__ADS_1


tak butuh waktu lama, polisi datang dan meringkus dokter dan para pegawai dan perawat.


polisi tak menemukan ada mayat janin di sana, "maaf pak Raka, kaki tak bisa menahan jika tak ada barang bukti," kata polisi.


"kalian akan menemukan di lubang sumur yang di tutup rapat itu, di sanalah semua mayat yang sudah di aborsi di buang begitu saja.


polisi pun memerintahkan anak buahnya membuka sumur itu, dan tercium aroma yang begitu busuk dari dalam sumur.


"kau berbohong, bagaimana bisa ini ketahuan," marah dokter itu.


"karena kamu mengincar orang yang salah, kalau tidak salah ada sekitar sembilan ratus lebih janin yang mereka bunuh," tambah Raka.


"bulsyit, bagaimana kamu tau," teriak pria itu.


polisi pun memanggil bantuan untuk mengambil dan memastikan ucapan dari Raka.


Ki Antaboga menyentuh tubuh dokter biadab itu, tak lama pria itu bisa melihat semua arwah bayi yang dia bunuh.


dia pun ketakutan setengah mati, pasalnya semua arwah janin itu merangkak dengan tubuh yang tak sempurna.


ada yang tak punya wajah, tak punya kaki dan tak punya tubuh bahkan ada yang masih berbentuk seperti cacing.


"pergi, jangan mendekat, tolong usir mereka kenapa aku penuh darah, tolong ..." teriak dokter itu ketakutan.


Raka tersenyum, "itu adalah janin tak berdosa yang kau bunuh, entah berapa ratus nyawa tak bersalah yang kau bunuh," kata Raka.


hantu wanita itu lari karena melihat Ki Antaboga menjaga Wulan, sedang hantu itu di hancurkan oleh Ki Adhiyaksa yang datang bersama Raka.


akhirnya klinik itu di tutup, dan semua perawat dan pegawai juga ikut terseret karena membantu dokter itu untuk melakukan kegiatan melanggar hukum.


Rafa dan Nurul yang Baru sampai rumah pun langsung di sambut Adri, yang nampak begitu khawatir.


Adri pun mengendong Nurul dan menidurkan istrinya itu di kamar, dan dokter pun datang memeriksa kondisi Nurul.


"beruntung dia hanya menerima obat bius, dan kondisinya juga sangat baik, dan beruntung janinnya juga baik," kata dokter itu.


"apa? dia sedang hamil?" kaget Adri.


"itu benar om, tadi Tante dan wulan pergi untuk memeriksakan kondisi Tante. tapi sayang dokter itu ingin mengugurkan kandungan Tante, dan beruntung kami berhasil datang sebelum hal buruk itu terjadi," jawab Rafa.


"ya tuhan sayang, seharusnya dia pergi ke dokter bersama ku saat tau hamil," lirih Adri yang sedih.


dia hampir saja kehilangan istri dan janin di perut istrinya itu, dan belum lagi jika Wulan ikut terluka.


bagaimana dia akan menghadapi raka yang begitu mencintai istrinya itu, terlebih wanita itu adalah kebahagiaan terbesar keponakannya.


Raka pun mengajak Wulan pulang, tapi sebelum itu, mereka berdua melihat para arwah janin itu berkumpul dan melambaikan tangan pada keduanya.


"mereka mengucapkan terima kasih?" lirih Wulan.


"iya bunda ku sayang, mereka mengucapkan terima kasih pada kita, dan itu yang mereka lakukan sebelum pergi untuk menyeberang," kata Raka.


mobil Raka pun melesat menuju ke rumah, tapi saat sampai terdengar suara ribut-ribut dari dalam rumah.


Wulan pun turun dan bergegas masuk, tenyata Adri sedang marah karena ulah Nurul.


meski dia awalnya dia tak ingin marah, tapi setelah tau jika Wulan ikut bahaya dia pun tak bisa menahan diri lagi.


"om tenang om, suara mu terdengar sampai luar," kata Raka.


"om tolong jangan marahi Tante,aku hanya terkejut tadi, lagi pula Tante juga sedang hamil jadi tolong jangan membuatnya sedih," kata Wulan memeluk Nurul.


"maafkan aku Wulan, aku tak tau jika itu klinik untuk aborsi, aku mohon jangan membenci ku," mohon Nurul


"apa yang Tante bicarakan, aku tak marah pada Tante, kita selamat saja itu sudah keberuntungan, jadi jangan sedih atau bayi kita akan ikut menangis," kata Wulan memeluk Nurul.


"lihat om, istriku tidak marah, jadi tolong jangan menyalahkan Tante, ini semua bukan keinginan Tante untuk mengalami kejadian buruk ini."


"itu benar om, tolong jangan seperti ini, lihat Tante sampai ketakutan seperti ini, dua sedang hamil ..."


Jasmin pun memeluk Nurul dan Wulan, Adri pun melemah dan ikut menangis.


"maafkan aku, aku hanya takut melihat mu dan Wulan akan mengalami hal buruk, terus bagaimana aku harus mengatakan pada Raka nantinya, aku dan Raka sudah terlalu banyak kehilangan orang yang kami cintai, jadi jangan melakukan hal bodoh lagi," tangis Adri.

__ADS_1


"maafkan aku mas, seharusnya aku mengajakmu ke dokter atau rumah sakit, aku tak mengira jika klinik itu adalah klinik aborsi," kata Nurul yang menghampiri suaminya.


__ADS_2