
Pagi berkunjung menggantikan malam, kicauan burung mengiringi mentari yang mulai menampakkan dirinya.
Sherli mengerjapkan matanya, ia terbangun karena telah merasakan kesegaran dari rasa lelah hari lalu.
Beban tidak biasa menyerang tubuhnya, seakan ada sesuatu yang menimpa perutnya hingga membuatnya sesak.
Kantuk yang masih menyerang segera ia tepis, untuk mengetahui penyebab rasa sesaknya.
Saat nyawanya telah menyesuaikan didalam jiwanya, ia segera melihat tubuh bawahnya.
Alangkah terkejutnya Sherli saat melihat tangan Hongli melingkar dengan erat diperutnya, bahkan pembatas guling yang ia janjikan semalam tidak berada diantara mereka, membuat Sherli merasa kesal.
"Kakak!" teriaknya kencang memekik ditelinga Hongli.
Laki-laki itu membuka matanya dan terlonjak duduk karena kaget. "Ada apa!" teriaknya berseru dengan nafas memburu.
Sherli mendudukkan tubuhnya dan menyilangkan kedua tangannya didada.
Pandangannya tajam kearah Hongli yang masih kebingungan menanti jawabannya.
"Kan benar Kakak mengambil kesempatan," gadis itu mencebik kesal.
Hongli masih tidak mengerti akan perkataan Sherli.
"Apa maksudmu, kesempatan apa?" tanyanya heran.
"Kakak tadi memelukku saat tidur, semalam kan Kakak bilang akan ada pembatas mana?" ucapnya kesal.
Gadis itu menangis seketika, membuat Hongli cemas dibuatnya, "Maafkan aku, Sher! Aku tidak menyadarinya!" ucapnya sambil mengalus rambut Sherli.
Ia berfikir jika menyentuh tangan ataupun tubuhnya yang lain, akan membuat gadis itu semakin merasa direndahkan.
"Tolong jangan menangis, maafkan aku," sesal Hongli.
Sherli melepas tangkupan tangannya diwajah, ia memandang pria itu.
"Kenapa Kakak selalu semena-mena? Tidakkah Kakak fikir aku ini memiliki hati dan perasaan?" ucapnya dengan derai airmata.
Hongli menangkup wajah Sherli lembut.
"Maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ucapnya dalam.
Sherli memandang kesembarang arah, entah kenapa ia berani bersikap seperti itu. Namun, perasaannya saat ini sungguh sensitif, ia segera menepis rasa marahnya mengingat rencananya hari ini.
"Baiklah!" ucapnya pelan.
"Ya sudah cepatlah bersiap! Katanya mau jalan-jalan memberiku kejutan?" bujuk Hongli.
Sherli mengangguk pelan dan segera bangkit untuk mandi dan bersiap.
***
Didunia Sherli telah menunjukkan pukul 8 pagi. Felix beserta papa Dave dan mama Marta telah berada dirumah Sherli.
Mereka memberi dukungan perasaan kepada calon besannya mendengar kondisi Sherli yang sakarang ini berada didunia lain.
"Kami memahaminya Bu Ruri, karena dulu saya juga sempat merasakan situasi yang Sherli alami saat ini, kalian harus mendoakan dirinya, karena hidupnya berada diambang dua dunia sekarang" ucap mama Marta.
Ibu Ruri mengangguk pelan seraya menghapus airmatanya yang berkali-kali terjatuh.
Felix dan bibi Jen segera bersiap menjemput Sherli, mereka telah merencanakan strategi jika Sherli tidak diizinkan pergi sendirian.
"Kalian disini tolong doakan kami, aku dan bibi Jen akan berusaha membawa Sherli kembali" ucap Felix serius.
Ia menyakini jika jin itu tetaplah akan kalah dengan lantunan ayat suci. Mama Marta bangkit dari duduknya menghampiri sang putra.
"Kau harus membawa menantu Mama dengan selamat, Felix!" tegasnya.
Felix tersenyum mendengar ucapan mamanya.
"Tentu saja, Mama! Aku akan berusaha membawanya dengan selamat."
__ADS_1
Perkataan keduanya sangat menyejukkan hati ayah Andre dan ibu Ruri, mereka merasa tepat akan menyerahkan putrinya kepada keluarga Felix.
"Baiklah! Kami berangkat."
Bibi Jen dan Felix segera menuju belakang rumah dan menuju pohon bambu.
Setibanya disana mereka mengunjungi ruangan obat terlebih dahulu, agar Yuwen tidak curiga pada mereka.
Setelah bertemu dengan Yuwen mereka melakukan tugas masing-masing.
Felix segera menuju tempat yang dijanjikannya pada Sherli yaitu samping bangunan kastil dengan pohon yang cukup rimbun.
Bibi Jen memantau pergerakan sekitar sambil memetik tanaman obat sebagai alasan.
*
Sherli telah bersiap dan membawa keranjang jinjingnya, ia telah meminta sarapan didalam kamar pada Hongli, untuk mengelabuhi ibunda Ratu dan pamannya agar tidak curiga.
Setelah matahari cukup tinggi tepatnya pukul sembilan pagi, Sherli segera pamit pada Hongli.
"Kak! Aku berangkat ya, jangan keluar kamar! Aku akan segera kembali!" ucapnya lembut, gadis itu mengecup singkat pipi Hongli agar pria itu tidak cemas atau merasa curiga.
Hongli merasa perasaannya luluh lantak karena kecupan itu.
"Cepatlah kembali, aku akan menunggumu!" ucapnya memegang erat tangan gadis itu.
"Baiklah! Sekarang lepaskan tanganku, aku akan pergi membawakanmu sesuatu," Hongli tak bergeming.
Entah mengapa perasaannya berat melepaskan gadis itu, seakan ada yang mengganjal dihatinya membuat jantungnya sedikit berdegup melambat.
"Bisa kau batalkan saja? Aku tidak tenang!" ucapnya memelas.
Sherli merasa heran dengan tingkah pria itu.
"Apa kak Hongli menyadarinya? Apa gerakanku mencurigakan?" batin Sherli.
Sherli berusaha menenangkah Hongli agar rencananya berjalan mulus.
"Baiklah! Sekarang pergilah sebelum aku berubah fikiran!"
Sherli segera melepaskan pelukannya, dan bergegas bangkit sebelum Hongli benar-benar berubah fikiran.
"Aku pergi sebentar!" Sherli menutup pintu kamar segera.
Tanpa disadari seorang pengawal memantau pergerakannya, pengawal itu telah ditugaskan Hongli semalam setelah Sherli terlelap.
Sherli telah berada dihalaman kastil, matanya mengedar mencari sosok Felix.
Bibi Jen melihat Sherli yang telah keluar dari kastil, ia merasa aneh saat Sherli membuka gerbang kastil.
Terlihat seorang pria berpakaian serba hitam mengikutinya.
"Gawat! Bisa gagal rencana ini!"
Bibi Jen segera berlari saat sadar pria itu adalah pengawal dibagian kastil selatan.
"Tuan tunggu!" teriak bibi Jen.
Pria itu segera menoleh kearahnya, "Ada Apa?" ucapnya datar.
"Tuan tolong aku, diruang obat banyak kardus yang harus dipindahkan, barangnya sangat berat dan penting untuk persediaan obat ibu ratu dan putra mahkota. Aku takut menjatuhkannya, tolong bantu saya mengangkatnya!" ucap bibi Jen dengan memelas.
Pengawal itu memandang Sherli yang tengah berjalan kearah pasar, "Dimana tuan Yuwen?" tanya pengawal itu.
"Dia sedang tidak ada ditempatnya, saya takut jika terlalu lama ramuannya akan terkontaminasi dengan zat obat lain yang berhambur diudara." Bibi Jen berusaha menyakinkan pengawal itu.
"Sepertinya aku tinggal beberapa menit tidak apa-apa, nyawa ibu ratu dan putra mahkota lebih penting dari pada gadis itu" batin sang pengawal.
"Baiklah, ayo cepat! " pengawal itu mendahului bibi Jen.
*
__ADS_1
Felix yang berasa di pepohonan yang rimbun segera menarik tangan Sherli masuk kedalamnya, membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Akh, jangan! Hiks hiks" Sherli menangis menutup wajahnya takut.
"Sayang, ini aku!" ucap Felix menyingkirkan tangan Sherli yang menutupi wajahnya.
Saat Sherli melihat pria itu benar-benar kekasihnya, ia segera berhambur memeluknya.
"Kakak!" ucapnya membenamkan wajahnya di dada Felix.
"Sudah tenanglah," Felix melepas pelukannya dan menyeka airmata gadis itu.
"Kendalikan perasaanmu! Waktu kita tidak banyak, ayo!"
Felix menarik tangan Sherli menuju pohon bambu yang jaraknya duaratus meter dari tempat mereka, Felix segera membuka pintu dimensi yang diajarkan bibi Jen, membuat Sherli terkejut melihatnya.
*
Pengawal istana itu segera berlari menyusul Sherli, ia tidak melihat sosok gadis itu disekitar manapun, Hingga pandangannya tertuju pada pohon bambu yang memperlihatkan dua sosok menghilang dari sana.
"Gadis itu sepertinya nona Sherli, celaka aku!"
Pengawal itu segera berlari untuk menanyusul sosok Sherli yang tengah menghilang dari pandangannya.
"Sial!" umpat pengawal itu, dirinya tidak memiliki kemampuan untuk menembus dimensi lain.
Langkah kakinya segera berlari menuju kastil, untuk melaporkan pada Hongli.
*
Felix segera menarik Sherli untuk masuk kedalam rumah, tanpa menjawab gadis itu yang merasa heran dirinya dapat membuka pintu antar dimensi.
TokTok!
Felix mengetuk pintu, dan munculah ibu Ruri.
"Sayang!" ucapnya berhambur memeluk Sherli, wanita itu menangis haru.
Felix yang melihat kondisi itu memberi teguran.
"Ibu! Kita tidak memiliki banyak waktu sebelum mahluk itu menyadari Sherli ada disini."
Ibu Ruri segera melepaskan pelukannya dan menghapus airmatanya.
"Kau benar, Nak! Ayo kita masuk!"
Ibu Ruri membimbing mereka menemui orang-orang diruang tamu.
Ayah Andre dan Afbi merasa bahagia melihat putri tunggal rumah mereka telah kembali dengan selamat.
Namun, perasaan mereka dikesampingkan terlebih dahulu mengingat keselamatan Sherli belum sepenuhnya aman.
"Cepat kalian bersiap!" ucap ayah Andre. Sherli segera menuju kamarnya bersama ibu Ruri untuk membantu Sherli memakai baju kebayanya.
Dan Felix dibimbing Afbi kekamarnya memakai jasnya. Para orang diruang tamu segera menempati tempat mereka masing-masing.
***
"Apa! Kau kutitahkan mengawasi seorang gadis manusia saja tidak becus!" teriak Hongli pada pengawal itu.
"Maaf, Tuan! Tadi saya diminta membantu mengangkat kardus di ruang obat."
"Alasan! Hah!" murka Hongli, ia mendorong kuat pengawal itu hingga tersungkur. Hongli segera berlari keluar kastil, menyusul Sherli.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya ❤.