
Sherli yang berjalan-jalan di area halaman depan rumah, tidak sengaja melihat Hongli berlalu, kemudian Sherli memanggil laki-laki itu.
"Hongli...!" teriak Sherli.
Hongli menoleh kesumber suara. Kaki ia langkahkan mendekati gadis itu.
"Eh Sher? sudah malam kenapa masih diluar?" tanya Hongli.
"Hehe, aku tadi tidak bisa tidur, lalu jalan-jalan sebentar biar kantukku datang. Kamu habis dari mana?" tanyanya.
"Aku habis main kerumah teman, ini mau pulang."
"Oh begitu" Sherli mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Besok kamu libur sekolah kan? Ayo main! Aku tunggu di rawa belakang rumah kamu ya?" ujar Hongli.
Ia fokus melihat wajah Sherli menunggu jawaban darinya, dengan harapan Sherli akan mau dengan ajakannya.
"Baiklah, aku bisa tapi pukul delapan. Karena ayah, ibu, dan kakakku baru berangkat kerja pukul tujuh tiga puluh," Sherli menjelaskan.
"Baiklah aku tunggu besok! Ya sudah, malam semakin larut masuklah!" tutur Hongli.
"Baiklah aku masuk dulu." Sherli segera berbalik, dan masuk kedalam rumahnya.
"Entah kenapa setelah bertemu dengan Hongli hatiku merasa tenang, dan ingin tidur, mungkin karena aku penasaran," gumam Sherli. Dengan segera ia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, dan tidur.
****
Pagi pun datang dengan langit yang begitu cerah, yang didukung dengan suara kicauan burung.
Sherli bangkit dari tidurnya, perasaannya semangat mengingat dia akan pergi bermain dengan Hongli. Sangat banyak yang ingin dia tanyakan pada laki-laki itu.
"Aku akan bertanya banyak padanya nanti, aku merasa dia sangat aneh," gumam Sherli.
Ia bergegas merapikan tempat tidurnya. Setelah selesai, Sherli bergegas mandi, dan menuju ke meja makan.
"Pagi Ayah, Ibu, Kakak" sapa Sherli pada keluarganya.
"Pagi Sanyang," jawab ayah Andre. Sherli pun duduk dan memulai sarapan mengikuti orang tuanya.
"Sher, nanti Ibu pulang agak sorean karena jahitan sangat banyak, kamu kalo lapar masak sendiri atau beli saja ya!" ucap ibu Ruri.
Ibu Ruri adalah seorang penjahit di salah satu konveksi temannya. Biasanya ibu Ruri pulang pukul dua belas siang. Namun terkadang kondisi mengharuskannya pulang terlambat.
"Baik, Ibu!" jawab Sherli.
Setelah selesai sarapan pagi, para orang tua Sherli pamit pergi untuk bekerja. Sherli mencium tangan ayah Andre, ibu Ruri, dan kakaknya.
"Hati-Hati dijalan ya!" ucap Sherli.
"Jangan lupa kunci pintu ya, Nak!" pesan ibu Ruri.
__ADS_1
"Baik, Bu."
Setelah ayah, ibu, dan kakaknya tidak terlihat. Sherli bergegas mengunci pintu rumahnya dan masuk kedalam rumah. Sherli segera mengganti pakaian untuk pergi bermain.
Sherli memakai dress selutut dengan lengan panjang warna biru elektrik. Rambutnya yang lurus sepunggung di biarkan terurai.
Sherli terlihat begitu manis, dan polos dengan dandanannya yang sederhana dan sangat feminim. Sherli meraih tasnya yang berisi beberapa buku, ponsel, pita rambut dan air minum, karena ia tidak bisa jauh dari air minum.
Saat dirasa sudah masuk kedalam tas semua. Ia bergegas menuju belakang rumah, menuju tempat yang Hongli katakan.
"Aku harus bergegas, semoga Hongli tidak menungguku begitu lama," gumam Sherli, yang memakai sandal biru yang senada dengan bajunya diatas marmer rumah.
"Oh itu Hongli." Sherli berlari kecil menghampiri laki-laki itu.
"Maaf ya! Apa kamu sudah lama menunggu?" tanya Sherli menyesalnya.
"Enggak aku barusan kok, kamu manis sekali" puji Hongli.
Ia berharap rasa sesal Sherli menghilang.
"Terimakasih," jawab Sherli.
Gadis itu tersenyum sambil melirik gugup. Karena ia tidak pernah dipuji anak laki-laki sebelumnya.
Mengingat awasan para orang tuanya yang begitu ketat, menjadikan gadis itu tidak pernah main dengan lawan jenisnya.
"Baiklah ayo! Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat"
Hongli segera menarik tangan Sherli. Gadis itu pun menurut mengikuti langkahnya.
"Tunggu saja, sebentar lagi sampai!" jawabnya fokus berjalan tanpa melepaskan tangan Sherli.
Setelah beberapa menit, mereka pun sampai disuatu taman yang dipenuhi bunga di sekelilingnya.
"Wah! Bagaimana bisa ada tempat seperti ini? Aku benar-benar baru tau tempat ini ada," ucapnya terkagum.
Sherli berlarian kesana-kemari seperti anak kecil.
"Usahaku tidak sia-sia menyiapkan ini semua, dia begitu bahagia dan tingkahnya sangat imut" batin Hongli.
Ia tersenyum melihat tingkah Sherli yang sepert anak kecil. Karena dirasa sudah agak jauh, Hongli pun memanggil Sherli.
"Sher kemarilah!" Hongli sedikit berteriak. Hongli menyiapkan alas dibawah pohon mangga untuk mereka duduk.
"Iya." Sherli bergegas menuju ketempat Hongli dan ikut duduk.
Setelah mereka duduk mereka pun berbicang selayaknya teman sebaya.
"Sekolahmu gimana Sher? Ikut kegiatan apa kamu?" tanya Hongli, memandang Sherli.
"Sekolahku baik-baik saja, meskipun mengesalkan karena baru masuk sudah banyak tugas, dan aku ikut ekstrakulikuler silat," jawabnya antusias.
__ADS_1
Gadis itu tidak merasa takut ataupun canggung lagi seperti sebelumnya.
"Wah kamu hebat, ikut silat untuk jaga diri ya, agar orang tua tidak terlalu mencemaskanmu?" tanya Hongli.
"Iya! kan aku sudah besar harus bisa jaga diri sendiri" Sherli tersenyum pada Hongli.
"Kamu kemarin kenapa kok kembali kerawa setelah kita berpisah?" Sherli memandang penasaran pada laki-laki itu.
"Aku masih ingin dirawa kemaren, karena merasa jenuh," jawab Hongli.
"Dan lagi, kemarin waktu aku akan berangkat kesekolah, aku melihatmu di dekat pohon bambu, ngapain? Kamu gak ke sekolah?" sambung Sherli. Sherli terfokus padanya menunggu jawaban.
"Aku kemaren sedikit jenuh, jadi jalan-jalan di rawa sebentar, aku udah enggak sekolah Sher" jawab Hongli.
"Bunkannya kita seumuran ya? Dan rumah kamu dimana?" Sherli yang menyerang pertanyaan pada Hongli. Ia memandang Hongli sedari tadi dengan rasa penasaran.
Hongli pun tersenyum mendengar berbagai pertanyaan dari Sherli yang bertubi-tubi.
"Enggak! Aku sudah lulus umurku dua puluh tahun, dan mengenai tempat tinggal, suatu hari nanti aku akan memberi tahumu," jawab Hongli mengelus puncak kepala Sherli.
Sherli merasa sangat canggung dengan elusan Hongli.
"Maafkan aku selama ini aku memanggil namamu, aku tidak tahu soalnya," ucap Sherli menurunkan tangan Hongli dari kepalanya. Hongli hanya tersenyum melihat Sherli menurunkan tangannya.
"Lantas kamu mau memanggilku apa jika tidak namanku?" Hongli mengeryit heran.
"Mulai sekarang aku akan memanggilmu, Kak Hongli." Sherli tersenyum lucu.
Hongli gemas pada gadis itu, ia sangat bahagia dengan panggilan yang Sherli gunakan untuknya.
"Terimakasih."
Sherli mengangguk menjawabnya.
"Haruskah aku berbicara jujur padanya, tapi bagaimana jika dia menjauhiku ..." batin Hongli memandang Sherli.
"Kamu bawa apa? Kok tas kamu terlihat penuh?" tanya Hongli yang melihat tas Sherli terlihat sesak.
"Oh ini. Aku membawa PR, Kak! Bantu aku menyelesaikannya ya!" Ia segera mengeluarkan buku metematikanya.
"Baiklah ayo kita kerjakan dulu!"
Hongli pun membantu Sherli menyelesaikan PRnya. Setelah hampir satu jam, PR Sherli pun selesai.
"Wah sudah selesai. Kakak hebat sekali aku faham semua dengan penjelasan Kakak, terimakasih ya kak." Sherli yang memandang Hongli senang. Ia segera memasukan bukunya kedalam tasnya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
Terimakasih atas dukungannya ❤.