Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
pasangan serasi


__ADS_3

Raka sedang membereskan semua baju milik istrinya, tapi tak di duga malah perlengkapan sholat yang tak bisa masuk tas karena terlalu penuh.


"mas mukenanya biar aku yang bawa saja ya, ayo kita pulang," ajak wulan.


"tentu sayang," jawab Raka begitu senang.


Raka pun mendorong kursi roda milik istrinya itu, dan Fahri membantu membawakan tas.


"mbak kamu kok makin gemuk ya, lihat pipi mu sampai penuh dan bulat begitu, kadigan mas Raka dong gak kuat gendong," kata Fahri.


"kamu mengejekku, mas, Fahri jahat ...."


"sudah sayang, sini Fahri aku jitak ya, kenapa kamu mengejek mbak mu sih, dia cantik kok," kata raka.


"udah deh, repot ini masalahnya kalau udah bucin gini," kata Fahri tertawa.


raka pun memiting adik iparnya itu. dan mereka pun langsung masuk ke dalam mobil.


untuk keamanan dan juga kebaikan Wulan, Mak nur meminta cucu menantunya itu untuk tinggal bersama ibunya.


karena Mak nur sudah sibuk dengan Faraz dan juga Rania, karena Nurul juga sedang hamil jadi dia sedikit mengalami kesulitan jika Wulan juga harus tinggal bersama mereka.


mobil yang di bawa Adri memasuki rumah keluarga pak Suyatno, terlihat dari jauh nsnyak orang ysng sudah menunggu, bahkan Bu mut langsung memeluk putrinya itu.


"Alhamdulillah akhirnya kamu bisa pulang, ayo istirahat dulu, Fahri ambil minum gih," perintah Bu mut.


"ya Allah mbak ... jika kamu tinggal di sini, aku merasa jadi pembantu ini lama-lama," kesal pemuda itu.


"udah di suruh bukan jalan malah ngedumel, kebiasaan kamu ini," marah Bu mut.


"iya Bu, Iya...."


Fahri pun mengambilkan air putih untuk Wulan dan Raka, dan para tetangga pun menyapa wulan.


mereka pun ikut senang saat melihat wanita itu baik-baik saja, terlebih setelah semua yang terjadi.


Raka pun heran karena ada terop di depan rumah pria yang sempat dia tegur beberapa Minggu lepas.


"pak, itu kok ada terop kematian? memang siapa yang meninggal dunia?" tanya Raka.


"itu nak pak Paijo, kamu ingat pria yang suka memukul sapi saat marah," kata pak Suyatno.


"berarti sudah dua, dan masih ada dua orang lagi yang akan di jemput, dan bapak inget saat pagebluk lewat dan melintasi empat rumah, dan salah satu orang di rumah itu akan meninggal," kata Raka.


"tapi tak mungkin nak, orang dua lainnya adalah rumah milik pak Laksono dan pak Sugandi, mereka itu orang baik, bahkan begitu peduli pada semua orang di sini, masak iya mereka akan mati mengenaskan," jawab pak Suyatno.


"ya kita lihat saja pak, tapi semoga perkiraan saya salah," jawab Raka.


Wulan pun tersenyum melihat suaminya yang nampak begitu akrab dengan orang tuanya.


tapi tak di duga, tiba-tiba Raka yang sedang minum air langsung muntah darah hitam bercampur paku.


"innalilahi wa innailaihi rojiun, kamu kenapa nak!" teriak pak Suyatno kaget.


Ki Antaboga boga langsung menyembuhkan Raka, tapi kemampuannya tak bisa menghalangi santet itu, bahkan Raka sendiri mencoba melawan dengan tenaga dalam juga tak berhasil.


Wulan pun ingin mendekat dan membantu suaminya, tapi Fahri menahannya.


tapi tak terduga ada bantuan datang, "siapa yang berani menyantet menantuku," kata Bu mut yang sudah kerasukan nyai Nawang.


nyai Nawang pun mengusap pipi Wulan yang menangis melihat suaminya.


nyai Nawang pun bersila dan langsung menempelkan tangannya di punggung Raka. "kembali kepada yang mengirimmu, dan jangan pernah berani keluar lagi, jika tidak ingin aku binasakan semua sejenis mu!" teriak Bu mut yang di ikuti oleh Raka yang kembali muntah.


ternyata seseorang ingin mencelakai Raka, dukun itu pun mati seketika karena santet kirimannya kembali.


Raka pun bersila dan memulihkan kondisi tubuhnya, Bu mut pingsan karena tak bisa terlalu lama di rasuki.


Wulan pun tak bisa berbuat banyak, karena kondisinya yang masih sangat lemah.

__ADS_1


"Fahri kamu ambil air dari mana?" tanya wulan.


"aku ambil air di kulkas kok mbak, itu juga air yang biasanya di pakai kak Raka," terang pemuda itu ketakutan.


"sudah maafkan mbak ya, sekarang tolong bantu mas Raka untuk beristirahat ya," kata Wulan yang di angguki oleh Fahri.


Wulan pun meminta Suni mencari orang yang berani mengirimkan santet pada suaminya.


pak Suyatno meminta para warga untuk pulang, agar Wulan dan Raka bisa beristirahat agar kondisinya makin baik.


Suni pun sampai di rumah Irma, ternyata ibu dari Irma sedang kesakitan bahkan perutnya membesar tak normal


pak Prapto tau jika istrinya tadi menemui dukun tapi tak mengira jika istrinya itu melakukan santet, dia hanya mengira istrinya ingin meminta pertolongan tentang kesembuhan Irma, tapi kenapa santet itu malah kembali ke tubuh istrinya hingga berakhir seperti ini.


"dasar keluarga ilmu hitam, ini semua balasan yang pantas kalian dapatkan," kata Suni mengeram marah.


Linggo pun hinggap di punggung harimau putih itu. "lebih baik kita pergi dan melaporkan semua para nyai kan, oh ya ... kamu masih ngambek ya sama Sen-sen?" tanya burung elang itu.


"tutup mulut mu itu, aku hanya tak menyukai tingkah sok nya saja, padahal dia saja sudah semedi bertahun-tahun baru bisa sembuh cih..." kata Suni yang kemudian berlari menuju ke rumah Wulan.


pada saat sampai di rumah, Suni melihat sosok Sen-sen, kedua harimau itu pun mengeram satu sama lain.


Wulan pun tersenyum dan memanggil Suni, hingga berjalan dan mendekat kearah Wulan.


Suni memberikan apa yang dia tau melalui sentuhan tangan Wulan, wulan pun menangis setelah mengetahui itu.


"ada apa sayang, apa yang kamu lihat?" kaget Raka yang tak sengaja menyentuh Suni juga.


Raka pun tau siapa yang ingin melukainya, "mereka lagi, ternyata mereka tak pernah menyerah untuk melukai kita, aku harus turun tangan sendiri rupanya, padahal aku sudah melepaskan mereka!" geram Rafa marah.


"tidak mas, jangan melakukan ini, kamu bisa melukai dirimu sendiri, dan lagi mereka sudah menuai dari semua perbuatan mereka," jawab Wulan menahan suaminya.


"jangan terlalu baik pada orang-orang yang ingin melukaimu, jika sudah keterlaluan, lebih baik menyelesaikan semuanya sampai selesai," kata Jasmin.


Raka melihat istrinya yang tetap menggenggam tangannya itu dengan erat, sedang Raka tak bisa diam saat keluarganya dan istrinya di perlakukan tak adil seperti ini.


Rafa yang tak hilang akal, pun mengangguk dan membaca semua penglihatan dari Raka.


setelah mengetahui segalanya Rafa tersenyum, "sumpah mu tak berlaku untukku," kata Rafa yang pergi mengajak Ki antaboga.


kini mereka pergi ke rumah keluarga Irma, ustadz Arifin juga sudah ada disana karena dia datang atas perintah sang Abi untuk membantu.


sesampainya disana, Rafa pun bisa tau apa yang terjadi, "dia tak akan bisa sembuh selama iri hati dan semua penyakit hati tetap kalian pelihara, terutama dukun yang membantu istri anda juga sudah mati," kata Rafa.


"mau apa kamu datang kemari Raka?" tanya pak Prapto dingin dan marah.


"tapi sayangnya saya Rafa, bukan Raka, karena saudara saya tak bisa melanggar janji pada istrinya," jawab pria itu tertawa.


"Rafa, ini harus bagaimana? ini aku belum pernah lihat jenis santet yang seperti ini," kata ustadz Arifin yang nampak bingung.


"makanya main juga ke pasar gelap, biar bisa tau, ini namanya santet mindah Sukmo, dan karena dia salah pilih lawan, jadilah santet ini berkembang jadi santet Sewu Dino, dan setelah itu kamu tentu tau apa yang terjadi," jawab Rafa.


"berarti usianya tinggal seribu hari?"


"tidak, usia ibu sudah dalam hitungan hari, karena nyai Nawang telah memusnahkan wadah pelebur Sukmo milik dukun itu," jawaban Rafa mengangetkan semua orang.


pak Prapto pun langsung bersujud pada Rafa, "tolong selamatkan istriku, bagaimana cara aku untuk membesarkan semua anak-anak ku jika dia tiada nak," mohon pria itu.


"sudah ku katakan, penyakit hati bapak dan keluarga yang membuat sulit untuk di obati, padahal dia sudah mengambil prajurit yang menyiksa Irma, tapi karena semua perilakunya yang buruk, hingga dia tak bisa di sembuhkan, saya sudah pernah bilang, minta maaf tapi kalian tak menggubrisnya sedikitpun, di tambah lagi ini ...."


ustadz Arifin baru kali ini tau jika Rafa begitu banyak bicara, bahkan pria itu terlihat berbeda.


Wulan yang berada di rumah pun menyadari sesuatu, dia hanya tersenyum saja.


dia tak mengira jika suaminya dan saudara itu bertukar tubuh, Wulan menyadari itu karena Raka seperti kaget saat tangan mereka bersentuhan.


"mas Rafa, kenapa kalian melakukan ini, kenapa membiarkan mas Raka pergi," bisik Wulan pada pria di sampingnya.


"kamu menyadari ini, tapi aku yakin saudaraku itu tak mungkin melakukan hal yang kejam, terlebih kamu sedang hamil," jawab Raka

__ADS_1


"baiklah, oh ya bisa bisa minta tolong garukan punggung ku mas, ini sangat gatal," kata Wulan tersenyum.


Raka melotot kaget mendengar permintaan Wulan, meski tubuh ini milik Rafa tapi isinya tetap Rafa.


"eyang tolong bantu Wulan ya, aku kebelet mau kebelakang, maaf ..." kata Raka langsung berlari pergi.


"eh tumben Raka gak mau, biasanya belum di minta udah gatel dulu tuh anak," gerutu Adri.


"mungkin mas Raka benar-benar kebelet om," jawab Wulan


Rafa bisa gila kalau harus jadi Raka satu hari saja, dia tak akan bisa menyentuh istri adiknya itu.


"kenapa kamu di sini?" tanya Rafa yang baru datang.


"cepat kita bertukar, aku tak mau jadi dirimu," kata Raka panik bukan main.


Rafa menyentuh tangan Raka dan kemudian keduanya sudah bertukar lagi.


Wulan dan Jasmin melihat kedua pria itu, "sudah bermain, sudah puas dan sekarang mas Raka jujur yuk?"


"maaf ya sayang, aku harus melihat sendiri Semuanya, dan aku sudah puas, dan Arifin yang menyelesaikan sekarang," terang Raka memeluknya.


Rafa pun melakukan hal yang sama, "sudahlah, ini terakhir ya, dan jangan melakukan hal mengerikan itu lagi," kesal Wulan.


"tau nih, aku saja kaget saat Wulan bilang jika mas Rafa yang ada di tubuh mas Raka," seru Jasmin ngambek.


"maaf ya bunda ..." jawab Rafa mencium pipi Jasmin.


sedang Raka sudah dapat cubit cubitan maut dari istrinya itu.


setelah sholat magrib semua orang sedang mengaji di rumah pak Paijo, dan suasana desa cukup seram malam ini.


bahkan orang jualan saja tak ada yang lewat padahal masih jam tujuh malam.


malam harinya di rumah pak Laksono pria itu sedang tersenyum menyaksikan sesuatu yang menarik baginya.


dia yang selalu di nilai sebagai orang baik, nyatanya bukan yang sebenarnya, dia hanya pria biasa yang punya kesenangan aneh dan kejam.


pria itu adalah pendatang yang sudah lama tinggal di desa itu, tapi belum ada yang sadar tentang kelakuan anehnya.


"bagai mana cantik, kau menikmati waktu kawin mu?" kata pria itu tertawa.


wanita itu hanya menggeleng lemah, pasalnya dia tak mengira, akan menjadi wanita panggilan yang sial hari ini.


niatnya hanya ingin mencari uang untuk keluarganya, tapi malah menerima perlakuan buruk ini.


sedang pria yang tadi menawar dirinya adalah pria bajingan kejam tak punya hati ini, dia tak mengira jika pria yang sudah sepuh itu punya kesenangan yang mengerikan.


"tolong tuan, lepaskan aku karena ini sangat menyakitkan," kata wanita itu memohon dengan tubuh yang sudah penuh luka cakaran.


"tidak bisa, kamu sudah menerima uang yang besar tadi jadi kamu harus menurut, dan jangan berani mengatakan apapun pada siapapun, jika tak ingin mati, kau ingat itu ya l*nt*," kata pria itu menyeringai.


Raka sedang duduk-duduk santai saat tiba-tiba dia ingin membeli sesuatu.


"Fahri, kaki sedang apa?" panggil Raka.


"ada apa toh mas, ini sudah malam loh," tegur Wulan lembut.


Raka pun membantu istrinya itu duduk di sampingnya, dan mulai membelai perut yang mulai nampak itu.


"iya mas, baru selesai belajar, ada apa? mau beli martabak ya," kata Fahri iseng


"cocok, ayo kita pergi, biar bapak yang jagain mbak mu, datang pergi dulu ya," pamit Raka.


"iya hati-hati, dan Fahri jangan celamitan loh ya," kata Wulan menginggatkan.


"idih ... siapa anda nyonya, orang mas gak protes tuh, ha-ha-ha,"jawab Fahri yang pergi bersama Raka.


Raka juga meminta ku antaboga menjaga rumah itu, sedang dia pergi bersama dengan Suni.

__ADS_1


__ADS_2