
Raka sekarang sedang memohon pada Rafa untuk membiarkan istrinya membantu pekerjaan Raka.
pasalnya Raka sudah lelah mengoreksi jawaban absurd murid-muridnya.
"gak boleh," kata Rafa tak mengizinkan.
"ayolah Rafa, sebentar saja, besok aku harus membagikannya, dan itu sangat melelahkan, kamu tega sekali dengan ku sih," kata Raka memohon.
"tidak boleh, kerjakan sendiri lah, tinggal baca doang," jawab Rafa enteng.
dua saudara itu masih sibuk bertengkar, Jasmin sibuk melihat Jawaban semu murid Raka.
tak butuh waktu lama semua jawaban selesai di koreksi, "selesai..." kata Jasmin menumpuk hasil kerjanya.
"benarkah?" kaget Rafa dan Raka.
Raka pun melihat semua lembar jawaban yang di koreksi oleh Jasmin dan tenyata benar.
"terima kasih kakak ipar yang cantik, ngomong-ngomong kamu kok mu sih dengan pria cerewet dan galak itu, aku aja ilfil tuh jadi adiknya," adu Raka.
"dasar kamu ya Raka, berani menghinaku di depan istriku, awas kamu," kata Rafa ingin memukul saudaranya itu tapi tak bisa.
Raka berlari dan langsung mengunci pintu kamar miliknya, hingga raga tak bisa mengejarnya.
sedang Jasmin beristirahat sambil mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat.
"kamu lelah ya dek, maaf ya saudaraku itu memang keterlaluan, masak kakak ipar hamil di suruh-suruh," kata Rafa.
"tidak apa-apa mas, ini juga bentuk terima kasihku, selama kamu tidak ada dia yang terus menjagaku," kata Jasmin mengusap pipi Rafa.
"maaf ya sayang,kamu jadi menghadapi ujian ini semua karena diriku," kata Rafa.
Jasmin mengangguk lemah, seorang kurir pengantar paket datang, "paket ..." teriaknya.
Rafa pun keluar, ternyata sebuah paket dari teman lama, "paket dari siapa mas?" tanya Jasmin.
"paket dari bos besar, dan pengusaha sukses, ku kita dia lupa padaku, he-he-he," kata Rafa tertawa.
"kamu ini lucu deh, jadi pingin gigit," kata Jasmin gemas.
"ayo, kebetulan aku juga mau loh di gigit," ajak Rafa.
"ih ... itu sih mau mu mas,sudah cepat di buka, aku penasaran," kata Jasmin.
Rafa pun mencari gunting dan membukanya, dan benar saja ternyata sedang di adakan pesta untuk persatuan pengusaha se Jawa timur.
__ADS_1
Rafa termasuk tamu kehormatan, "kita bisa sekalian mengunjungi ayah mas," kata Jasmin begitu senang.
"baiklah kita berangkat ya, tapi kamu harus selalu jaga kesehatan ya," kata Rafa mencium kening Jasmin.
setelah sholat magrib, Jasmin dan Mak nur mendapat undangan untuk yasinan di rumah tetangga.
sedang Rafa dan Raka berkumpul dengan para remaja musholla dan membahas beberapa hal termasuk dengan kehadirannya teror di desa mereka.
Rafa saat sedang mendengarkan perbincangan, merasa ada yang aneh di area Mushola.
"Raka hari ini, hari apa?" tanya Rafa.
"Kamis malam Jum'at Kliwon," jawab Raka santai.
"kalian semua ayo ikut aku, aku merasa ada sesuatu yang tak beres," ajak Rafa.
"mau kemana?" tanya para remaja itu.
"kita akan menyaksikan sesuatu yang menarik mungkin," jawab Rafa dengan senyum yang menyeramkan.
mereka pun keluar dari musholla, dan melihat seseorang berjalan sambil memondong tangan di belakang.
"Weh ... pakde samuji Ki Lapo, kok mondong tangan Nok nguri?" kata Apin.
Rafa dan Raka tau benar apa yang di gendong pria itu, seorang bocah yang bisa memberikan kekayaan pada pemeliharanya.
"yang aku tau, pakde samuji rabi maneh, wih bojone moblong-moblong, terus bodine aduhay gok," saut fajar.
"dasar otak mesum kamu, pikiranmu perempuan Mulu, Sono nikah gih," kata Majid.
"belum waktunya, aku masih suka se diri dulu," jawab fajar cengengesan.
"sudah, aku mau tunjukkin ke kalian sesuatu, tapi ingat apapun itu jangan berani ada yang teriak jika tak ingin celaka," kata Rafa.
"siap bos, kami kan kuat-" kata mereka terdiam langsung.
saat sebuah bayangan tinggi besar bersimpuh menghadap Rafa, "ada apa Ki Ireng, kenapa tiba-tiba kamu menunjukkan diri?" tanya Rafa.
"Sendiko dawuh prabu, ada kekuatan besar yang akan datang, dan saya butuh bantuan prabu untuk menahannya," jawab raksasa hitam itu.
"baiklah," jawab Rafa.
Rafa pun mentransfer ilmunya pada penjaga di area desa itu, Rafa pun tersenyum melihat teman-temannya yang langsung kicep.
"kenapa gak bahas yang aduhai lagi?" ledek Rafa dan langsung di sambut Raka dengan tawa.
__ADS_1
"kamu membuat mereka semua syok Rafa, gila loh kamu ... nunjukinnya gak nanggung langsung Ki item dong," tambah Raka sambil tertawa.
"tenang, Ki item itu baik, Raka juga punya namanya Ki Adhiyaksa," jawab Rafa.
"kami mah mau berteman dengan kalian rasanya kayak uji nyali, tiba-tiba lihat mahluk begituan," kata Majid.
"berarti dari tadi kalian gak sadar, jika kita semua berada di dunia ghaib," kata Rafa pada teman-temannya.
"apa? jangan bercanda ah Rafa, ayo pulang yuk, aku takut nih," ajak fajar.
Rafa pun membawa semua temannya kembali, tapi tak terduga ada seseorang yang ikut dengan mereka.
arwah seorang nenek yang memeluk punggung dari Apin, "Apin, nenek mu sangat menyayangimu ya?" tanya Rafa.
"iya bang, beliau adalah nenek kesayangan ku juga, tapi aku sedih saat beliau meninggal dunia aku tak sempat berpamitan, karena sedang studi tour," kata Apin sedih.
"mau melihatnya, jika iya pegang tanganku," kata Rafa mengulurkan tangannya.
Apin dengan mantap mengenggam tangan Rafa, dan dia bisa melihat bebek tersayangnya itu.
"nenek .... Apin kangen, Apin mau minta maaf karena saat nenek meninggal Apin sedang di luar kota, sehingga Apin tak di samping nenek." kata Apin dengan Isak tangis.
"jangan sedih le, nenek sudah tenang, Mbah pingin lihat kamu bentar, mas Rafa titip putu Kulo nggih," kata sang nenek memasrahkan Apin.
"inggeh nek," jawab Rafa tersenyum sopan.
"selamat jalan dan yang tenang nek, Apin selalu baik di sini kok," jawab Apin.
nenek itupun pergi dengan masuk kesebuah lingkaran cahaya, Apin yang masih mengenggam tangan Rafa kaget saat melihat sosok dalbo di kebun kosong menatap kearahnya dengan mata merah.
"apa itu," kaget sambil melepaskan tangan Rafa
"ya itu yang sering kami lihat, mereka yang selalu berdekatan dengan kita," jawab Rafa.
"seru lagi, mereka itu banyak rupa dan bentuk," tambah Raka.
"gak banget, lihat preman aja udah serem, malah lihat begituan, jijay yey...." kata fajar.
"emm ... fajar tolong kalau bicara di jaga, mereka tak suka dengan ucapan mu," kata Rafa menginggatkan temannya itu.
"ah maaf.. bukan maksudku menghina mereka, aku bercanda, iya bercanda," jawab Rafa.
akhirnya mereka pun berpencar mencari air wudhu untuk sholat isya'.
Rafa yang kali ini mengumandangkan adzan, dan Raka yang akan bertindak sebagai imam karena Adri sedang keluar.
__ADS_1