Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
pemberian nama


__ADS_3

setelah shalat subuh, mak siti dan Mak sum datang ke rumah, bahkan keduanya langsung terlihat cekatan.


Wulan juga membantu membuat bumbu sesuai arahan kedua wanita sepuh itu.


setelah itu, dia juga memasak dengan arahan mereka, Nurul juga baru kali ini terlibat begitu jauh.


bahkan dia merasa jika tangan Wulan itu ajaib, pasalnya apapun yang dia masak pasti enak.


"eh tunggu, kenapa mas Raka, om Adri dan Rania kok gak kedengaran suaranya?" tanya Wulan heran


"eh iya juga, bentar Tante lihat dulu ya," kata Nurul pergi melihat ke depan


benar saja ternyata mereka sudah pergi ke rumah bidan untuk melihat Adel bayi.


sedang Raka datang dengan nasi Bungkus untuk semua orang, karena pasti belum ada yang sarapan.


"mas makan sama aku saja yuk, ini terlalu banyak," kata Wulan memanggil Raka


Raka pun mau dan sekarang di suapi oleh Wulan dengan sangat telaten, para ibu-ibu pun tak mengira jika Raka begitu manja.


"mas Raka, aku denger semalam pak Sadeli matinya aneh ya, bisa cerita gak?" tanya Mak Siti penasaran.


"aneh gimana Mak, orang aku tidak tau kok, karena aku lebih memilih nongkrong sama pocong temen ku," jawab Raka usil.


"mas Raka sih mesti begitu kalau di tanya, tak pernah serius, semoga nanti kalau punya anak semoga kayak ibunya yang kalem dan cantik, kalau mirip mas Raka beh ... auto pusing," kata Mak sum.


"Mak mah bisa saja, orang anak kami buatnya berdua, jadi harus mirip kami berdua dong," kata Raka mengusap perut Wulan.


"mas jangan di usap terus, nanti adiknya pusing," kata Wulan menahan tangan suaminya.


"wah ... mbak Wulan sudah hamil, selamat ya," kata Siti.


"iya Mak terima kasih," jawab Wulan


sedang Nurul tak mengira jika dia kembali kalah dengan kedua keponakannya itu.


tapi Nurul tak boleh berpikiran buruk, mungkin dia belum di percaya karena dia harus menjaga dan menyayangi Rania terlebih dahulu.


sedang Adri di tempat bidan merasa sedikit khawatir pada istrinya, pasalnya beberapa hari lalu Nurul sedih karena belum bisa hamil.


"ada apa Adri? kenapa sedih seperti ini? putrimu saja begitu senang punya adik kecil tampan katanya," kata Mak nur.


"Adri sedih karena beberapa hari yang lalu, Nuril telat mens, dia sudah sangat bahagia tapi saat di tes ternyata hasilnya negatif, dan Nurul sangat sedih, aku takut dia makin sakit hati Mak," jawab Adri.


"nak ... mungkin Allah belum mempercayakan kalian, tapi jangan putus berdoa dan berusaha, dan besok Mak buatkan kamu ya, siapa tau setelah ini istrimu di bisa hamil," kata Mak nur memberikan semangat.


"iya Mak terima kasih ..." jawab Adri yang sedikit menyesal dulu pernah melakukan kesalahan besar.


siang hari, Jasmin sudah di izinkan pulang, dan saat Jasmin pulang acara brokohan di lakukan.


bahkan mereka juga membuat bubur penolak bala, dan acara berjalan lancar.


tadi juga Raka yang menanam ari-ari dari keponakannya dan tak lupa mengadzani juga.


"boleh aku menggendongnya Jasmin?" kata Nurul.


"tentu Tante, dia juga akan jadi putra kita bersama," jawab Jasmin.

__ADS_1


"aduh Nurul padahal udah nikah lumayan lama, kok belum bisa hamil, jangan-jangan mandul ya, soalnya Dati yang dulu juga tak bisa hamil kan?" kata Bu lakah.


"iya nih, Wulan juga belum bisa hamil, jangan-jangan kalian berdua majer, mending cepat ke dokter gih, kasihan suami kalian punya istri kok gak normal," ejek Bu Gandung dengan sombong.


"maaf ya Bu, anak, rejeki dan maut itu rahasia Allah, kami mungkin belum di percaya oleh Allah, dan kemarin di desa ku orang seumuran ibu sudah meninggal mendadak loh, jadi semua itu rahasia kan Bu," jawab Wulan sambil tersenyum.


Jasmin dan Mak nur menahan tawanya, mereka tak mengira jika wan bisa membungkam mulut jahat dari tetangga.


sedang Bu mut mencubit putrinya itu, "nak yang sopan .." bisik Bu mut.


"habis punya mulut kok di buat ngomongin orang, hamil duluan jadi gunjingan, belum hamil jadi cacian, kami juga punya hati Bu, tak perlu menghina seperti itu," kesal Wulan yang langsung pergi.


"aduh malah ngambek nih anak," kata Bu mut menghampiri putrinya.


Wulan sedang menangis, dia tau benar perasaan Nurul, bagaimana pun anak adalah dambaan dari semua pasangan yang sudah menikah, tapi mereka punya takdir masing-masing .


Bu Gandung dan Bu lakah pun merasa malu setelah mendengar ucapan Wulan.


mereka memang dengan mudah menghina wanita lain, padahal mereka juga wanita.


Mak nur tersenyum dan mengusap jilbab menantunya, Nurul pun tak mengira jika Wulan punya keberanian sebesar ini.


Bu mut memeluk putrinya itu, dia mengakui setelah Wulan hamil gadis itu jadi sensitif.


"sudah dong putri ibu gak boleh sedih, kamu mau makan apa nanti ibu buatkan deh," bujuk Bu mut.


"mau makan eseng-eseng bunga pepaya campur teri, dan juga lapis daging," jawab Wulan.


"dasar kamu ini," kata Bu mut memeluknya lagi.


akhirnya semua pun pamit, Rania memeluk perut Nurul, "sebentar lagi di perut bunda juga akan ada adeknya, dan itu adik Rania ya," kata gadis itu.


Adri pun mengendong Rania dan memeluk Nurul, "seandainya dulu aku tak buruk, dan melakukan keburukan mungkin kita sudah memiliki anak lagi," batin Adri.


Rafa yang menjadi orang tua baru, membagi tugas dengan istrinya. dan bayi mereka di beri nama Muhammad Sarfaraz Ubaidillah.


tak hanya mereka, Wulan juga akan membantu menjaga Faraz, saat Rafa dan Raka ke yayasan masing-masing.


dan rumah Mak nur makin ramai dengan kehadiran dari Faraz.


setelah dua hari, keluarga dari Jasmin akhirnya datang untuk menjengguk cucu pertama mereka.


tapi saat datang, Jasmin kaget melihat penampilan dari Windi dan Bu Diah yang sedikit kucel.


dua orang itu biasanya terlihat begitu cantik dan sempurna, tapi ini mereka sangat tak terawat.


"mereka kehilangan susuk-susuk yang membantu merrka cantik," bisik Wulan memberikan bayi Faraz.


Jasmin tak mehgira jl itu, bahkan jika di lihat dengan mata biasa tubuh Windi nampak normal.


padahal jika di lihat oleh orang yang bisa memiliki Indra keenam windi sedang hanil besar.


wulan pun memutuskan untuk ke belakang Tanpa mau ikut campur sedikitpun.


dia mengambil minuman dan tak sengaja dia salah mengambil air yang biasanya di gunakan Rafa untuk mengobati orang.


dia juga mengambil beberapa kue dan makanan ringan, Mak Siti gemas pun mencubit pipi Wulan.

__ADS_1


"aduh maaf ya pak, hanya ada air putih saja," kata Wulan yang keluar membawa air dingin.


"kenapa repot-repot mbak, oh ya asal kamu tau ya kamu sebentar lagi akan di usir oleh mas raka yang akan menikahiku," kata Windi pada Wulan.


"Windi tutup mulutmu, dan jangan berulah, mohon maaf ya nak," kata pak Handoko.


"iya om, saya ke belakang dulu mau bantu mengantarkan makan siang untuk para pekerja di pengilingan," pamit Wulan.


"hati-hati ya dek, oh ya ajak Mak Siti biar kamu ada temennya dan tak sendirian," kata Jasmin.


"siap mbak, oh ya sebentar lagi mas raka dan mas Rafa katanya pulang karena urusan sekolah sudah selesai dan beres,"


"oke nanti aku bilang pada mas Raka," kata Jasmin mengerti.


Wulan pun berangkat mengunakan motor miliknya, tapi baru juga keluar dari gapura.


pertama kali dia menuju ke pengilingan milik Rizal, dan saat sampai terlihat Rizal yang begitu lesu.


"assalamualaikum pakde, ada apa?" tanya Wulan.


"entahlah nduk, sudah dua hari ini pakde merasa begitu mudah lelah," kata Rizal.


Wulan bisa melihat mahluk di samping Rizal dan langsung membaca doa dan membinasakannya.


setelah itu dua mengambil daun kelor dan meminta Rizal mengunyahnya dan kemudian memberikan air minum.


dan sepuluh menit kemudian, Rizal muntah darah kotor, dan tubuh Rizal merasa begitu ringan.


"lain kali pakde, jangan mengambil atau saat menemukan sesuatu, jangan mengambilnya dengan tangan kanan, tapi ambil dengan tangan kiri," kata Wulan.


"baiklah terima kasih atas sarannya, oh ya semua sudah kebagian nasinya?" tanya Rizal.


"sudah, sekarang tinggal ke pengilingan dua lagi," pamit Wulan.


sedang di tempat Adri, Wulan bertemu dengan Neneng, wanita itu terlihat masing berbincang dengan mang no.


Wulan pun meninggalkan tas berisi makanan itu di sana, dan Mak Siti malah hilang dan memilih ke kebun belakang.


pak man membantu Mak Siti mengambil bung (bambu muda), untuk di masak besok.


sedang Wulan menunggu sambil berteduh, tapi tak lama Neneng yang tiba-tiba ingin menyentuh perut Wulan.


"jangan sembarangan menyentuh tubuh orang lain, jika Anda tak ingin terluka," kata Wulan menahan tangan wanita itu dengan kuat.


"ah maaf, aku hanya ingin menyentuh perut mu yang sedang hamil," kata Neneng tersenyum.


"bagaimana anda tau, padahal hanya keluarga ku yang tau, dan kau pikir aku tak tau jika anda ingin mengincarnya bukan, karena anda butuh tumbal untuk kecantikan mu bukan," bisik Wulan.


Neneng diam, dia tak mengira jika wanita yang terlihat lembut ini bisa mengetahui rencananya.


"kamu ini ngomong apa nak, kami itu hanya gadis muda," kata Neneng masih mencoba untuk tersenyum.


tapi tak terduga Wulan melempar daun kelor ke wajah Neneng yang langsung memerah.


"dasar wanita ******!" teriak Neneng menutupi wajahnya.


"tutup mulut mu yang tak punya sopan santun itu, cepat pergi dari sini!" teriak Adri tak suka.

__ADS_1


Wulan hanya diam, bahkan dia tau jika bukan hanya wajah saja, tapi hampir di semua tubuh itu banyak tertanam susuk.


__ADS_2