
Tak lama kemudian motor Afbi terdengar, Sherli sedikit menjauhkan dirinya dari samping Felix. Felix tersenyum melirik Sherli yang tiba-tiba merasa gugup.
"Aku pulang!" ucap Afbi.
Sherli bangkit dari duduknya ia masuk kedalam dapur dan mengambil beberapa peralatan makan. Saat akan menuju keruang tamu, Sherli melihat kotak buah dari Hongli.
"Apa aku sajikan ini diluar ya? Tapi bagaimana jika kak Felix kecewa nanti?" gumamnya.
Mengingat tanaman daun bidara dari bibi Jen lalu, Sherli meletakkan peralatan makannya di meja makan dan segera mengambil tujuh buah daun bidara yang ia letakkan di samping tanaman kenanganya.
Untuk mengantisipasi energi negatif, Sherli berniat menetralisirnya dengan mencuci buah-buahan tersebut dengan daun bidara.
Setelah selesai ia segera mengambil peralatan yang ia letakkan di meja makan, lalu menuju kedepan.
"Maaf Kak lama" ucap Sherli.
Ia segera menata piring-piring tersebut, dan meletakkan makanan diatasnya. Mereka memulai makan dengan posisi Sherli duduk di tengah.
Afbi dan Felix membahas pekerjaan yang telah mereka tuntaskan di luat kota, Sherli hanya mendengarkan sambil melanjutkan makannya karena tidak mengerti dunia bisnis.
"Gadis tadi lumayan ya Fel?" ucap Afbi ditengah pembicaraan. Sherli seketika melirik kearah Felix tajam, ia mendengus dengan melambatkan makannya.
"Ku fikir biasa saja," jawab Felix.
"Kau serius? Bukannya kau menyukainnya?" ucap Afbi enteng.
Felix melihat Sherli yang terdiam mendengarkan, ia tau betul sang kekasih sedang kesal dengan perkataan kakaknya.
"Tidak! Aku kan sudah punya kekasih untuk apa melirik wanita lain" jawab Felix.
Sherli seketika merasa lega mendengar ucapan Felix, ia kembali melanjutkan makannya.
"Oh maksudmu gadis yang kau bawa diacara perayaan kantor dulu?" tanya Afbi.
"Iya itu kekasihku, sayangnya kau tidak melihtannya," jawab Felix melirik Sherli.
Tiba-tiba suara motor mendekat menghampiri rumah Sherli.
"Ibu pulang."
Mereka yang tengah makan di ruang tamu memandang kesumber suara yang ternyata ibu Ruri dan ayah Andre telah pulang.
"Wah ada tamu! Apa dia temanmu, Nak?" tanya ibu Ruri pada Afbi. Mereka bertiga bangkit dari duduknya untuk menyalami ibu Ruri dan ayah Andre.
"Iya Bu, dia Felix teman kerjaku" Felix mendekat dan meraih tangan ibu Ruri dan ayah Andre bergantian.
"Saya Felix tante, om salam kenal ya" ucapnya sopan.
"Terimakasih sudah sering menolong Afbi, Nak!" ucap ibu Ruri.
"Ah tidak perlu seperti itu Tante, Afbi juga sering menolongku" jawab Felix sungkan.
__ADS_1
"Baiklah, Nak! Silahkan dilanjutkan makannya kami masuk kedalam dulu," ucap ayah Andre.
Ibu Ruri dan ayah Andre berlalu masuk kedalam maninggalkan anak-anak tersebut. Afbi, Felix dan Sherli kembali melanjutkan makannya.
Ibu Ruri masuk kedalam, ia mendudukkan tubuhnya di meja makan dan melihat sekotak buah disana.
"Dari mana ini?" gumamnya melihat isi kotak tersebut.
"Apa Sherli yang membawanya?" pikir Ibu Ruri, tak ambil pusing ia segera meletakan beberapa buah dipiring saji.
Menurutnya Sherli yang telah membawanya karena terlihat buah tersebut berair seperti baru saja dicuci.
Ibu Ruri menghampiri ruang tamu, ia berniat menyuguhkan buah-buah tersebut pada Felix yang menjadi tamunya sekarang.
"Silahkan dinikmati, Nak!" ucap ibu Ruri.
Sherli terdiam melihat buah-buah tersebut, ia melirik kearah Felix lalu memandang ibunya.
"Kamu yang bawa kan, Sher? Kenapa tidak di sajikan untuk Kak Felix?" tanya ibu Ruri. Sherli hanya tersenyum canggung kearah Ibunya.
"Maaf Bu! Aku lupa," ucapnya.
Ibu Ruri hanya geleng-geleng kepala, lalu meninggalkan anak-anak tersebut.
"Apa ini dari temanmu, Dik? " tanya Afbi. Sherli melirik Felix yang sedang memandangnya menanti jawaban.
"Iya Kak" jawab Sherli singkat.
Setelah selesai makan, Sherli menganggkat piring-piring yang telah mereka pakai kedapur, terkecuali piring berisi buah-buah yang disajikan oleh ibunya.
Sherli menuju kearah kamarnya, ia meraih papper bag dilantai depan kamarnya dan membuka knop pintu dan masuk kedalam.
tubuh segera ia letakkan diatas kursi meja belajar dengan tangan sibuk membuka papper bag dari Hongli.
"Inikan?" ucap Sherli membulatkan mata. Yang ternyata dress dan sepatu yang ia sentuh di toko baju lalu.
"Kak Hongli," gumamnya haru.
Ia segera meletakkan pakaian dan sepatu tersebut di dalam lemarinya. Ia tidak ingin terus berlama-lama mengingat barang tersebut karena ia merasa sedang menghianati Felix.
Sherli kembali mendudukkan tubuhnya di kursinya dengan berbagai fikiran yang memenuhi benaknya.
"Aku telah dibebaskan oleh kak Hongli, apa aku harus menghilang saja, tapi itu pasti akan menyakitinya. Namun, bagaimana dengan perasaan kak Felix yang bahkan rela aku mengunjungi kak Hongli, bahkan tadi perbincanganya mengenai gadis lain sangat membuatku terluka, apa lagi aku yang sering mengunjungi Kak Hongli, pasti kak Felix sangat menahan sakit hatinya. Oh tuhan bantulah aku untuk tidak melukai keduanya" batinnya.
Sherli sangat merasa bersalah kepada sang kekasih, tidak dapat dihindarkan lagi untuk sekarang hatinya benar-benar telah dipenuhi oleh Felix.
Ia ingin sekali meminta maaf atas perbuatannya yang menyakiti hati pria yang sekarang berstatus sebagai kekasihnya tersebut.
Sherli beranjak dari kamarnya, ia menuju ruang tamu yang masih terdapat sang kakaknya dan Felix. Ia mendudukkan tubuhnya disamping sang kakak.
"Dik, kamu kapan libur semester?" tanya Afbi.
__ADS_1
"Sekarang sudah mulai libur kok Kak, besok raport diambil oleh ayah" jawab Sherli.
"Semoga hasilnya memuaskan ya, Sher!" sahut Felix tersenyum.
"Terimakasih, Kak."
Afbi mengeryit mendengar keduanya karena ia belum mengatakan nama sang adik kepada temannya tersebut.
"Oh mungkin saat aku mengambil pesanan tadi mereka sedikit berbincang" pikir Afbi.
Waktu menunjukkan pukul enam sore, Felix berpamitan kepada keluarga Sherli untuk segera pulang.
"Sering-sering mampir ya, Nak!" ucap ayah Andre.
"Iya, Om! Terimakasih karena telah menerimaku, aku akan sering-sering mampir mengunjungi Afbi," ucapnya melirik Sherli sekilas.
"Baik Om, Tante saya pamit dulu."
Setelah ibu Ruri dan ayah Andre mengiyakan, Felix segera menuju mobil dan segera melajukan meninggalkan area rumah Sherli.
"Untuk sekarang aku disambut sebagai tamu, semoga suatu hari nanti aku akan disambut sebagai menantu mereka," gumam Felix tersenyum dengan pandangan menelusuri jalan.
Karena merasa sangat bahagia, ia ingin pulang kerumah orang tuanya, ia ingin membagikan kebahagiaannya dengan papa dan mamanya.
Setibanya di area rumah orangtuanya, mobil segera ia masukkan di halaman rumah. Felix turun dari mobil, dan melangkahkan kakinya didepan pintu, bel rumah segera ia tekan dan munculah wanita paruh baya yang tidak lain adalah mamanya.
Felix segera berhambur memeluk sang mama, dengan perasaan bahagia sehingga membuat wanita tersebut mengeryit heran.
"Ada apa dengan putra kesayanganku ini, kenapa sepertinya suasana hatinya begitu bahagia?" ucap mama Marta melepas pelukannya.
"Ma, aku baru berkunjung di rumah kekasihku, ternyata dia adiknya teman kerjaku," ucapnya antusias.
"Baiklah-baiklah mari kita masuk dulu baru lanjutkan ceritanya!" tutur mama Marta.
Ia segera mengajak sang putra masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu.
"Ma! Aku ingin bercerita sambil tidur di pangkuan Mama," ucap Felix manja.
Sang Mama terkekeh mendengar permintaan sang putra, ia tidak menyangka sikap putra manjanya akan muncul kembali saat ia jatuh cinta.
Mama Marta pun mengiyakan, Felix segera merebahkan kepalanya dipangkuan wanita yang telah melahirkannya tersebut, dan kembali bercerita panjang lebar kepadanya, dengan raut bahagia yang menghiasi wajahnya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
Terimakasih yang telah membaca :).
__ADS_1