
Felix mengajak Sherli ke sebuah taman hiburan. Sherli begitu bahagia karena telah lama tidak pergi ketempat tersebut. Setelah puas dengan wahana yang ada, Felix mengajak Sherli ke suatu tempat untuk lanjut menghabiskan waktunya berdua.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebuah tempat yang begitu asri dengan udara yang menyegarkan, Felix membawa Sherli. Setelah membicarakan mengenai ekstrakulikuler Sherli, dimana Felix menyurunya untuk berhenti mengikutinya. Dengan alasan tidak ingin sang kekasih cedera. Suasana kemudian menjadi hening.
Karena merasa bosan didalam mobil, Sherli meminta izin kepada Felix untuk keluar dari mobil.
"Kak aku mau keluar dari mobil ...."
"Kenapa? Apa kau bosan?"
Sherli mengangguk pelan.
"Baiklah ayo kita keluar!"
Dengan berat hati Felix segera mengikuti langkah Sherli. Dia lebih suka menghabiskan waktu didalam mobil untuk memandang wajah sang kekasih. Dari pada keluar dari mobilnya.
Sherli berlarian kecil sambil berputar-putar bahagia menikmati udara yang begitu segar, dan juga pemandangan yang sangat indah.
Felix mendekat kearah Sherli berada.
"Kamu suka tempat ini?"
"Sangat suka kak!" jawab Sherli mengambangkan senyumannya.
"Ini adalah tempat singgahku menghilangkan penat saat masalah menghampiriku,"
Ucap Felix memandang lurus.
Melihat raut wajah Felix. Sherli menghentikan aktifitasnya.
"Apa Kakak sedang ada masalah?" tanya Sherli cemas.
"Kenapa kau berpikir begitu?" jawab Felix.
"Karena Kakak mengatakan jika kemari saat ada masalah, jadi aku berpikir demikian," jawab Sherli.
"Hanya sedikit, ini soal pekerjaanku di kantor, terimakasih sudah memikirkan diriku." Felix tersenyum.
Setelah dirasa perasaan Felix telah membaik. Sherli meminta izin, ingin mengambil beberapa foto ditempat itu.
"Kak! Ayo kita berfoto!"
Sherli segera mengeluarkan poselnya.
"Baiklah."
*
Cukup banyak foto yang mereka ambil bersama. Seketika Felix ingin mengambil foto Sherli sendirian untuk dijadikan wallpappernya diponselnya.
"Sher berdirilah disana aku akan mengambil fotomu!"
Sherli mengikuti arah tangan Felix, dan segera menuju ketempat yang dimaksud.
Sherli berpose banyak, namun Felix masih tidak puas dengah hasil foto yang dia ambil. Sherli pun merasa sedikit kesal, dia menoleh kearah sawah, sambil melipat tangannya. Tanpa disadari Felix memgambil fotonya.
"Wah yang ini bagus, sangat bernuansa," Felix terkagum memandang foto hasil jerih payahnya.
Sherli yang penasaran segera menghampirinya.
"Mana, Kak?"
"Coba lihat ini!"
Sherli mengernyitkan keningnya seketika saat Felux menunjukkan hasil fotonya.
"Ini tidak bagus, hapus-hapus!"
__ADS_1
Sherli berusaha meraih ponselnya. Dengan sigap Felix mengangkan tangannya.
" mJangan ini sangat bagus menurutku!"
"Kak, berikan ponselku!" rengeknya sambil mencoba mengambil ponsel dari tangan Felix, namun karena tubuh Sherli yang pendek usahanya hanya sia-sia.
Felix malah sengaja meninggikan tangannya dan segera mengirim foto itu kenomor ponselnya.
"Sudah, ini ponselmu aku kembalikan"
Sherli mendengus kesal karena fotonya dikirim ke nomor Felix. "Kak, kenapa kau menyimpan foto jelekku?" cebiknya.
"Aku hanya ingin memiliki fotomu saja apa tidak boleh?" tanya Felix. Diam-diam menjadikan foto Sherli sebagai wallpapper.
"Bukan begitu, paling tidak simpanlah yang bagus. Kan banyak?" ucap Sherli Heran.
Felix melihat kearah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudahlah! Ini sudah jam empat sore, ayo kuantarkan pulang!"
Mengingat akan amarah sang ibu lalu, Sherli bergegas mengikuti langkah Felix. Dan melupakan tentang fotonya.
Ketika di perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka karena merasa sama-sama lelah.
***
Setibanya di rumah, Sherli tidak langsung turun. Kepalanya menoleh memandang kearah Felix.
"Kak, terimakasih untuk hari ini!"
Sherli bergegas akan turun dari mobil, namun Felix menghentikannya karena teringat sesuatu.
"Sher tunggu!"
"Ada apa, Kak?" tanya Sherli.
"Ini untukmu, hampir saja aku lupa!" Felix menyodorkan papper bag pada Sherli.
"Buka saja nanti dirumah, sekarang cepatlah masuk dan istirahat!"
Felix selalu memberikan sesuatu setelah mereka bertemu. Dia ingin agar Sherli terus mengingat tentang dirinya saja.
"Baiklah, Kak! Terimakasih, aku masuk dulu" Sherli beranjak keluar dan berdiri di halaman rumahnya. Setelah tidak terlihat mobil Felix, ia bergegas masuk kedalam rumahnya.
***
Sherli masuk kedalam kamarnya, dan meletakkan papper bag dari Felix diatas nakas. Sherli beranjak untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai, ia menghampiri paper bag lalu duduk ditepi tempat tidur untuk melihat apa isinya.
"Kak Felix memberiku apa ya, aku ingin melihatnya." Tangannya segera membuka papper bag.
"Wah .... sekotak cookies coklat!" Sherli mengembangkan senyumannya. Tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk.
Toktoktok!
"Masuk tidak dikunci!" teriak Sherli.
Karena tidak ada sahutan, Sherli beranjak untuk melihat siapa yang mengetuk. Jika keluarganya pasti akan langsung masuk tanpa mengetuk, pikirnya.
"Kak Hongli?"
Ucap Sherli yang ternyata Hongli yang mengetuk pintu kamarnya.
"Masuklah, Kak!"
Sherli mempersilahkan Hongli masuk kedalam kamarnya, karena melihat wajahnya sedikit pucat.
Hongli duduk di kursi belajar Sherli, lalu mengarahkan kursinya menghadap ranjang. Sherli Duduk di pinggiran tempat tidur tepat di depan Hongli.
"Kak kenapa wajah kakak pucat? Apa kakak sakit?" tanya Sherli.
__ADS_1
"Sedikit, tadi dadaku terasa sakit. Sekarang sudah membaik,"
ucapnya dengan sedikit senyuman. Sherli mengangguk paham.
"Kamu habis dadi mana Sher, kenapa tidak ada dirumah tadi?" ucapnya heran.
Hongli telah berada di belakang rumah Sherli setengah jam yang lalu. Karena dia tidak melihat keberadaan Sherli saat mengitari rumahnya. Hongli menunggunya di bawah pohon bambu.
"Aku tadi habis main, Kak."
"Sama siapa?"
"Sama Kak Felix," jawab Sherli.
"Siapa dia?" Hongli memandang curiga, karena nama lelaki yang disebut.
"Dia pacarku," jawab Sherli dengan polos.
Seketika hati Hongli hancur mendengar ucapan Sherli. Dia mengerti jika tidak akan pernah bisa mendapatkan Sherli, namun apa daya jika hatinya sudah terjebak dalam perasaannya sendiri.
"Apa pacar? Sejak kapan kau punya pacar. Bukankah aku sudah bilang jangan berhubungan dengan lelaki! Karena dia akan menyakitimu?" tukasnya dengan nada meninggi. Keegoisannya pun muncul.
"Kenapa Kakak marah? Lalu apa bedanya dengan Kakak yang mendekatiku?" Hongki terdiam seketika.
"Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan lelaki lain," Hongli memalingkan wajahnya.
"Memang kenapa, Kak?" tanya Sherli heran.
Hongli beranjak lalu bersimpuh dihadapan Sherli. Dia meraih kedua tangan Sherli lalu memandang kearah matanya.
"Sher, aku mencintaimu!"
ucapnya dalam.
Sherli membulatkan matanya, dia terkejut mengingat mereka berbeda bangsa. Sherli hanya menganggap Hongli sebagai Kakak yang memberikan tutur khawatirnya pada seorang adik. Ia fikir perasaan Hongli juga demikian. Ternyata anggapannya salah.
"Tapi Kak! Kita berbeda alam, dan lagi aku hanya menganggap kakak selanyaknya kakakku!" jelas Sherli.
Hongli menundukan pandangan sedih seketika. Lalu memandang Sherli kembali.
"Aku tau itu Sher, aku hanya ingin kau tau perasaanku. Aku menilaimu sebagai lawan jenis bukannya adik!" tegas Hongli.
"Aku tau kita tidak akan pernah bisa bersama, tapi aku mohon tetaplah jadi temanku jangan menghindariku! Aku tidak perduli bagaimana perasaanmu padaku."
Sherli menghela nafas.
"Kak maafkan aku, aku tidak mengerti perasaanmu selama ini. Setelah mengetahuinya. Aku tidak tau apakah aku sanggup bertemu denganmu lagi atau tidak," ucap Sherli mengalihkan pandangannya.
Sherli tidak ingin memberikan harapan kepada Hongli, terlebih dia sudah memiliki Felix. Dia tidak ingin menghianatinya. Dan lagi dia pasti akan merasa canggung karena mengetahui Hongli memiliki perasaan padanya.
Hongli yang mendengar ucapan Sherli menjadi gusar.
"Sher kumohon jangan seperti ini! Baiklah anggap saja aku tidak pernah mengatakan perasaanku padamu, tapi jangan menghindariku!" pintanya.
"Tapi, Kak!"
"Aku akan menghapus perasaanku padamu perlahan, tapi tetaplah berteman denganku! Kumohon!"
"Tapi, Kak! Aku tidak bisa, maafkan aku," Sherli menepis tangan Hongli.
Seketika Hongli bangkit yang menatap Sherli kecewa.
"Baiklah!" Hongli berbailik.
Namun, ketika baru dua langkah dia berhenti dan menoleh kearah Sherli.
"Aku akan mengakhiri hidupku saja!"
Bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Apakah Hongli benar-benar akan mengakhiri hidupnya?
__ADS_1
Ikuti terus ya teman-teman! Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views :).
Karena dukungan kalian sangat memberikan semangat author, terimakasih.