
Hongli bergegas naik keranjang, selimut segera ia tarik untuk menutupi tubuhnya.
"Huft ...." Helaan nafasnya.
Hongli mengelus dadanya yang masih berdegup dengan kencang. Ia berusaha memejamkan matanya dan melanjutkan tidur.
Pagi datang menggantikan malam diiringi suara kicauan burung dan hangatnya mentari yang menjadikan semua makluk mulai terbangun dari alam mimpi.
Sherli terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan tersadar tidak berada di kamarnya, ia spontan mendudukkan tubuhnya dan mengedarkan pandangan untuk mengingat sedang berada dimana dirinya.
"Oh iya aku kan di kediaman kak Hongli," gumamnya pelan yang hanya ia yang mendengar karena Hongli masih terlelap.
Sherli segera bangun dan merapikan tempat tidurnya, lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Hongli terbangun karena mendengar gemercik air, ia membuka matanya dan menyandarkan tubuh di sandaran tempat tidur. Ia mengucek matanya dan berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih berlarian.
"Sherli pasti sedang mandi?" gumamnya.
Seketika ia mengingat kejadian semalam.
"Aku benar-benar merasa bersalah. Apa aku harus bilang dan minta maaf ya padanya? Tapi jika dia semakin marah gimana? Duh! Pusing! " gumam Hongli pelan mengacak-acak rambutnya.
Saat itu juga Sherli keluar dari kamar mandi dan telah rapi memakai pakaiannya yang ia kenakan dari rumah.
Ia melihat kearah ranjang Hongli dan melihat pria itu sedang mengacak-acak rambutnya frustasi.
Sherli tertawa kecil melihat tinggkahnya, ia mengendap-endap mendekati ranjang. Dengan perlahan ia jinjitkan kakinya melihat Hongli.
"Kakak!" teriak Sherli mengejutkan Hongli.
"Ha?" pekik Hongli.
Ia menoleh kearah Sherli dengan mengelus dadanya karena terkejut.
"Kamu mengejutkanku, Sher!" ucap Hongli kesal. Ia segera turun dari ranjangnya menghampiri Sherli.
"Hehehe maaf ya, Kak! Habisnya Kakak aneh, bangun-bangun ngacak-ngacak rambut sendiri. Kakak kenapa?" tanya Sherli.
"Tidak apa-apa aku hanya ingat semalam," ceplosnya karena lupa.
Sherli menggeryit heran ia penasaran ada apa memangnya semalam.
"Memang semalam kenapa, Kak?" tanya Sherli.
Hongli membulatkan matanya, ia tersadar telah mengatakan hal yang akan membawa petaka untuknya.
"Emmm, semalam aku hanya terpeleset waktu di kamar mandi!" ucap Hongli dengan setenang mungkin agar Sherli percaya.
Sherli mengeryit ia langsung membolah balik tubuh Hongli dan memutarinya.
"Sher ada apa?" pekik Hongli yang terkejut dengan tingkah aneh Sherli.
Sherli menghentikan aktifitasnya dan segera memandang Hongli serius,
"Katanya terpeleset? Dimana yang luka?" tanya Sherli cemas.
"Aku sudah baik-baik saja Sher, jatuhnya semalam sekarang sudah tidak sakit!" jawab Hongli.
Hongli melewati Sherli dan segera masuk kedalam kamar mandi. Ia meninggalkan Sherli yang masih mematung ditempatnya.
__ADS_1
Karena tidak ada yang bisa dilakukan Sherli merapikan kado-kado Hongli semalam dan menata bungkus-bungkus kado tersebut.
Tidak lama kemudian Hongli keluar dari kamar mandi, dan melihat Sherli yang sedang memisahkan bungkusan kado dengan isinya. Ia mendekatkan diri kearahnya lalu berjongkok di samping gadis itu.
"Sedang apa?" tanya Hongli.
"Sedang masak." Ucap Sherli tanpa menoleh dan masih berkutat pada aktifitasnya. Hongli mengeryit kesal pada Sherli.
"Masak dari mananya, orang kamu lagi milah kado dan isinya?" bantah Hongli.
Sherli menoleh sekilas pada Hongli.
"Itu Kakak tau!"
Hongli begitu geram akan respon Sherli. Ia mencubit pipi Sherli dan menariknya hingga Sherli mengikuti arah tariknya karena takut akan sakit.
"Kak! Hentikan! Sakit pipiku! " ringisnya kesal.
Hongli tertawa melihat wajah Sherli, ia segera melepaskan cubitannya karena wajah gadis itu sudah mulai memerah.
"Kamu sih buat aku kesal, kamu itu tidak pantas bercakap seperti itu! Karena wajahmu sangat lucu!" ucap Hongli.
Sherli terdiam melirik Hongli kesal. Ia terus mengusap pipinya yang masih terasa panas.
"Kenapa wajahmu seperti itu, Cantik?" Hongli mengelus rambut Sherli lembut.
"Sakit!" serunya.
Hongli kembali tersenyum ia segera melepaskan tangan Sherli dan melihat ulahnya yang ternyata menimbulkan bekas.
Hongli membulatkan matanya, ia tidak menyanggka akan seperti ini karena menurutnya cubitannya tidak terlalu kencang.
"Kenapa sampai seperti ini padahal tadi aku tidak kencang mencubitmu?" ucap Hongli dengan melihat pipi Sherli.
Ia segera kembali menghampiri Sherli. Tanganya sibuk membuka kotak obat yang baru ia ambil, ia segera meraih krim dingin didalam kotak tersebut untuk dipoleskan di pipi Sherli.
"Aduh!" pekik Sherli.
"Maaf-maaf pasti sakit ya?" Hongli melembutkan gerakannya dengan raut cemas menghiasi wajahnya.
"Gimana apa mendingan?" Sherli menganggukkan kepalanya.
"Baiklah ayo kita keluar untuk sarapan, pasti mama sudah menunggu kita!" ucap Hongli.
Hongli meletakan kotak obat dipangkuannya diatas nakas. Lalu segera bangkit dan membantu Sherli untuk berdiri.
Mereka menuju ke meja makan dengan gurauan kecil sehingga membuat keduanya saling mengembangkan tawanya.
Ketika tinggal beberapa meter dari meja makan, ibunda Calista melihat kearah mereka yang sedang bercanda ria.
Terbentuk senyuman hangat menghiasi wajah wanita itu karena melihat sang putra begitu bahagia.
"Selamat pagi Mama, sudah lama menungguku?" sapa Hongli sambil menarik kursi untuk Sherli.
"Tidak! Mama, barusan kesini lalu menunggu kamu," jawab ibunda Calista.
"Pag, Bibi!" sapa Sherli sambil merapikan bajunya untuk duduk.
Ibunda Calista membalas senyuman Sherli.
__ADS_1
"Pagi juga, Nak."
Seketika Ibunda Calista mengeryit saat pandangannya tertuju pada pipi Sherli yang memerah. Ia langsung memandang putranya tajam yang sedang mengambil makanan.
"Hongli! Apa yang sudah kamu perbuat pada Sherli?" Hongli sontak memandang kearah ibunda Calista.
Ia tidak mengerti akan maksud ibunya tersebut. Sherli juga dibuatnya bingung akan hal itu turut menatapnya. Hongli dan Sherli saling melirik satu sama lain lalu kembali memandang Ibunda Calista.
"Apa, Ma? Hongli tidak melakukan apapun pada Sherli!" ucapnya heran.
"Lalu kenapa pipi Sherli memerah, apa yang telah kamu lakukan, jawab!" suara ibunda Calista dengan agak meninggi.
"Oh itu tadi aku mencubitnya, padahal pelan tapi entah kenapa bisa semerah itu," jawab Hongli.
"Iya, Bibi! Hanya itu kok, jangan memarahi Kak Hongli!" sahut Sherli.
Wajah ibunda Calista sedikit lega karena dari tadi ia berfikir hal lain.
"Oh yasudah, ingat Hongli jangan diulangi! Kita mahluk yang berbeda dengan Sherli, jadi kekuatan kita tiga kali lebih kuat dari manusia biasa. Makanya pipi Sherli jadi memerah meskipun kamu hanya mencubitnya pelan."
"Iya, Ma! Hongli sekarang mengerti" jawabnya manggut-manggut.
Ia baru mengerti akan hal tersebut. "Oh ternyata begitu, padahal hanya mencubitnya pelan sampai begitu, bagaimana jika?" batin Hongli dengan fikiran nakalnya.
Ia segera menepis fikirannya dan memulai memakan makanannya. "Sherli nanti kau antakan pulang jam berapa?" tanya ibunda Calista.
Hongli dan Sherli yang fokus makan langsung memandang kearahnya bersamaan.
"Nanti sore Ma!" jawab Hongli lalu memasukkan makanan dimulutnya.
"Baiklah, bukannya Mama melarang Sherli datang kemari. Namun, ia punya keluarga juga, pasti mereka semua khawatir," tutur ibunda Calista.
"Iya, Ma! kemaren Sherli sudah aku izinkan pada orang tuanya, dan aku bilang akan memulangkannya sore nanti!" jawab Hongli.
Ibunda Calista memelototkan matanya pada Hongli.
"Apa?"
Hongli dan Sherli terkejut karena suara tinggi ibunda Calista, mereka langsung menghentikan makan dan memandang kearahnya.
"Jangan bilang kamu memantrainya?" selidik ibunda Calista dengan suara yang masih meninggi.
"Hehehe iya, Ma!" jawab Hongli sambil garuk-garuk kepala.
"Jangan diulangi lagi Hongli, mantra yang kamu terapkan akan mempengaruhi kesehatanmu beberapa waktu!" tegas ibunda Calista.
Sherli membulatkan matanya, ia berfikir telah menyakiti Hongli lagi. Pandangannya tertuju pada pria disampingnya.
"Maaf ya Kak sekali lagi aku menyakitimu," sesal Sherli.
Hongli tersenyum lembut lalu menggenggam tangan Sherli, "Tidak apa-apa bagiku keadiranmu adalah segalanya untukku meskipun aku harus mengorbankan diriku sendiri," jawab Hongli dalam.
"Ehmmm!" dehem ibunda Calista pada kedua anak tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
Terimakasih yang telah membaca :).