
Suasana telah menunjukkan sore hari, matahari mulai turun dari peraduannya.
Felix mondar-mandir ditaman kastil tempat Sherli dan ia berjumpa tadi, fikirannya dipenuhi kebingungan mencari cara agar dapat menemui Sherli untuk mengatakan rencana yang bibi Jen katakan, agar mereka dapat terbebas dari dunia itu.
Felix telah menunggu dan merasa gelisah selama hampir satu jam ditaman itu.
"Apa yang harus aku lalukan agar bisa menemui Sherli?" gumamnya mendudukkan tubuh dan memijit kepalanya.
*
Hongli mengatakan dengan perasaan berbunga pada Sherli tentang rencana pernikahan mereka.
Meskipun Sherli nampak acuh, ia sungguh tidak perduli karena hal yang terpenting adalah dia bisa menikahi gadis itu.
"Apa kau tidak bahagia kita akan menikah?" tanya Hongli, karena Sherli menatap nanar kesembarang arah.
Sherli memandang Hongli malas.
"Tentu saja tidak! Kau memaksaku dan membelengguku untuk apa aku bahagia!" ucapnya datar.
Ia sungguh tidak takut lagi akan amarah pria itu, ia merasa tidak ada bedanya mati nanti ataupun sekarang ditangannya, karena ia tidak bisa menemui keluarganya lagi.
Hongli memandang tajam gadis itu, ia sungguh merasa kesal.
"Bukankah beberapa saat lalu kau mengangguk akan memilihku jika aku ini manusia? Sekarang aku katakan padamu, aku adalah anak manusia dan jin, setengah dariku adalah manusia, apa kau sekarang memihakku?" ucap Hongli datar menahan amarah.
Sherli menatap tajam Hongli, ia merasa lelah mengatakan hal-hal yang sia-sia menurutnya pada laki-laki yang begitu egois dihadapannya sekarang.
"Tidak!" seru Sherli tajam.
Hongli naik darah mendengar ucapan Sherli, matanya dipenuhi kabut amarah dengan nafas memburu, ia mendorong gadis itu hingga Sherli terbanting berbaring, Sherli terlonjak kaget tanpa dapat berkutik saat Hongli telah mendudukan tubuhnya diperutnya. Hongli mengunci tangan Sherli diruang kosong diatas kelapanya.
"Kau sudah tidak perduli akan keluargamu? Apa kau sudah rela mereka semua mati ditanganku?" ucap Hongli datar, kata-katanya terasa menusuk jantung Sherli.
Gadis memblalakkan matanya, ia sungguh lupa akan nasip keluarganya. Ia berfikir sikapnya hanya akan berdampak pada dirinya sendiri.
"Jangan!" ucap Sherli cepat dan meloloskan airmatanya.
Hongli tersenyum kemenangan.
"Kenapa? Bukankah tadi kau begitu angkuh? Dimana kepercayaan dirimu yang tadi?" Sherli hanya diam memandang Hongli sedih, gadis itu tidak berani menjawab pria yang sedang berada diatas tubuhnya sekarang.
Hongli mendekatkan wajahnya pada gadis itu, ia menyambar bibirnya dengan dipenuhi amarah. Sherli semakin menangis tersedu karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah cukup puas dan reda amarahnya, Hongli menghentikan aksinya. Ia tersenyum penuh kemenangan diatas tubuh Sherli sebelum ia berpindah posisi disebelah gadia itu.
Sherli masih menangis ditempatnya, ia merasa lemas kerena kembali syok. Bibirnya kini terasa membengkak dan mengeluarkan darah disudut bibirnya.
Hongli bersikap acuh padanya, ia tidak mengobati luka Sherli seperti sebelumnya karena masih kesal pada gadis itu.
Hongli melipat tangannya didada, matanya melirik sekilas Sherli yang masih menangis.
"Aku akan menahan amarahku saat ini, tunggu saja setelah kita menikah, bahkan untuk bernafas kau harus izin kepadaku!" batin Hongli.
Setelah Sherli merasa tenang, ia bangkit mendudukkan tubuhnya. Ia memberanikan diri turun melewati Hongli karena ingin kekamar mandi.
"Kau mau kemana?" ucap Hongli datar.
Sherli menoleh saat baru satu langkah. "Kekamar mandi, apa juga tidak boleh?" ucap Sherli sedih.
"Tidak, sekarang kembali ketempatmu!" tegas Hongli.
"Tapi aku mau kekamar mandi sebentar!" ucap Sherli memohon.
"Jika aku bilang tidak ya tidak, cepat kembali!" teriak Hongli.
Dengan terpaksa Sherli berbalik dan menyandarkan tubuhnya di samping Hongli. Gadis itu menghela nafas dalam.
__ADS_1
"Bahkan hanya untuk kekamar mandi aku harus mendapatkan izin, bagaimana nasipku jika aku benar-benar dinikahinya?" batinnya sedih.
Sherli hanya ingin bercermin di dalam kamar mandi untuk melihat bibirnya yang terasa sakit.
Hongli melirik Sherli dan dengan tiba-tiba ia menjatuhkan kepalanya dipangkuan Sherli, hingga gadis itu terlonjak kaget, namun Sherli tidak memiliki keberanian untuk berontak atau menegur Hongli untuk memindahkan kepalanya.
Hongli telah terlelap dipangkuan Sherli. Setelah hampir satu jam Sherli terdiam, ia menggoyangkan tubuh Hongli karena pegal, namun pria itu tak bergeming.
Sherli memindahkan kepala Hongli perlahan. Ia mengendap-endap turun dari ranjang dan keluar dari kamar Hongli.
Sherli hanya ingin berjalan-jalan karena ia tidak tahu caranya kembali kedunianya.
Langkah kakinya tertuju pada taman kastil karena menurutnya hanya tempat itu yang dapat menenangkan hatinya.
Saat baru sampai di ambang pintu taman, ia melihat Felix yang terlihat duduk memikirkan sesuatu, sudut bibir Sherli terangkat membentuk senyuman. Ia segera berlari menghampiri Felix.
"Kakak!" teriaknya membuat Felix menoleh kesumber suara. Pria itu langsung berdiri dan membuka tangannya menyambut Sherli yang berhambur ingin memeluknya.
"Aku senang Kakak disini," ucap Sherli haru.
Perasaannya yang masih sedih atas perlakuan Hongli, menjadikan kehadiran Felix sangat berarti untuknya saat ini.
Felix mengeratkan pelukannya dan menciumi puncak kepala Sherli, ia sungguh rindu dan senang bisa memeluk kekasih kecilnya, karena rasa cemas akan yang dikatakan bibi Jen mengenain Hongli yang ingin menikahinya. Felix segera melepaskan pelukannya karena takut kehabisan waktu.
"Sher! Sekarang dengar aku, kita harus kabur agar aku bisa menikahimu, hanya dengan cara itu mahluk disini tidak bisa mengganggumu ataupun keluargamu lagi, bibi Jen yang mengatakannya" ucap Felix serius.
Sherli terkesiap mendengar Felix, ia merasa antara senang dan bingung.
"Tapi tidak sekarang Kak, aku tadi keluar kamar kak Hongli tanpa izin dia pasti akan murka dan melampiaskan pada keluargaku, aku akan mencari alasan besok, Kakak tunggu aku di samping kastil!" ucap Sherli.
"Baiklah, nanti aku akan mengatakan pada keluargamu tentang ini dan menyiapkan semuanya, kau harus datang besok karena hanya cara ini yang dapat kita lakukan, sebelum mahluk itu curiga." Sherli mengangguk paham.
"Bibirmu kenapa?" tanya Felix saat matanya melihat bibir Sherli yang terlihat bengkak.
"Oh! Aku tadi terjatuh di kamar mandi!" ucap Sherli beralasan.
"Kau tidak bohong? Apa ini bukan hasil mahluk itu memukulmu?" selidik Felix.
"Jaga dirimu!" ucap Felix.
"Iya Kak! Baiklah aku akan kembali
ya. Jika kak Hongli semakin marah aku akan sulit mendapat izin besok!" Felix mengangguk.
"Iya! Cepat kembali!"
Sherli melangkah menuju kekamar Hongli. Dan Felix juga kembali keruangan obat untuk menemui bibi Jen.
Saat Sherli baru membuka pintu kamar, ia melihat sosok Hongli sedang berdiri dihadapannya.
Sherli membulatkan mata, ia sungguh takut rencananya gagal besok.
"K-ak-ak!" ucapnya terbata.
Hongli memandang tajam gadis itu, tangannya menarik Sherli kasar dan membanting pintu.
"Kau dari mana saja? Bukannya menemaniku tidur kau malah keluyuran diluar" teriaknya.
Sherli hanya menundukkan kepalanya takut.
"Maaf!" jawabnya.
Sherli berusaha mengalah dan meredam hati Hongli untuk rencananya besok.
"Maaf kau bilang, kau habis dari mana?" teriaknya lagi.
"A-ku hanya dari taman, Kak!" jawab Sherli takut.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disana? Apa kau menemui pria itu lagi?" ucap Hongli semakin naik darah.
Sherli membulatkan matanya ia merasa tertangkap basah.
"Tidak!" ucap Sherli cepat, Hongli tidak akan tau pikirnya.
Sherli berhambur memeluk pria itu untuk meluluhannya.
"Maaf aku keluar tanpa izin" ucapnya lirih.
Hongli terkejut melihat reaksi Sherli, ia merasa senang gadis itu memeluknya, amarahnya seketika meredam. Ia menarik Sherli menuju ranjangnya dan duduk ditepi.
"Kau jangan tiba-tiba menghilang! Jika jantungku berhenti bagaimana?" ucap Hongli cemas.
"Iya, Kak! Maafkan aku!" Sherli memegang tangan Hongli untuk meluluhkan hatinya.
*
Felix dan Bibi Jen bergegas kembali ke dunianya, ia mengatakan pada Yuwen memiliki tempat tinggal di sekitar kastil itu sehingga harus pulang karena hari sudah mulai petang.
Bibi Jen dan Felix segera menuju pintu belakang rumah Sherli.
Toktok!
Tangan Bibi Jen mengetuk pintu itu. Tidak lama kemudia ibu Ruri muncul membukakan pintu.
"Kalian sudah kembali?" matanya mencari sosok putrinya, namun ia tidak menjumpai ada Sherli bersama mereka.
"Sherli mana?" ucap ibu Ruri cemas.
"Ibu Ruri ada yang harus saya sampaikan kepada kalian semua.
"Ibu Ruri mempersilahkan mereka masuk dan menuju ruang tamu, tempat putra dan suaminya berkumpul.
Mata Felix tertuju pada ayah Andre yang terbaring di sofa panjang.
"Om kenapa Tante?" tanya Felix cemas.
"Tadi tiba-tiba Ayah Sherli sakit kepala hebat tanpa sebab" ucap ibu Ruri.
Felix membulatkan matanya, ia mengingat perkataan Sherli akan mahluk itu menyerang keluarganya.
"Sepertinya ini ulah mahluk itu karena Sherli tadi berkata begitu"
"Dimana sekarang Sherli, Nak?" tanya ayah Andre lemah.
"Iya dimana Sherli, Felix?" sahut Afbi.
"Silahkan duduklah dulu!" ucap ibu Ruri.
Mereka duduk melingkar dan Felix juga bibi Jen menceritakan semuanya mulai dari bertemu dengan Sherli dan melihat keadaannya disana dan solusi tentang pernikahan mereka.
Ayah Andre terdiam, ia merasa tidak rela jika putri kesayangannya harus menikah semuda itu.
"Apa tidak ada solusi lain?" ucap ayah Andre.
"Tidak ada pak Andre, keputusan ada ditangan Anda! Apakah anda ingin menikahkan Sherli dan Felix atau Sherli akan dinikahi mahluk itu dan tidak dapat kembali lagi bertemu kalian."
Seketika hening tercipta, ayah Andre berfikir keras akan nasip putrinya, dan Felix berdegup kencang menantikan jawaban ayah dari kekasihnya.
Ibu Ruri dan Afbi sudah setuju karena melihat pengorbanan Felix menghampiri Sherli didunia itu. Namun, keputusan tetap ada ditangan ayah Andre.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
Terimakasih atas dukungannya ❤.