Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
berjuang kembali


__ADS_3

Raka di ijinkan masuk kedalam ruangan itu meski hanya beberapa saat, dia pun tak bisa menahan air matanya kali ini.


istri yang begitu dia cintai terbaring dengan lemah dan tak berdaya, bahkan semua alat medis itu menempel di tubuh istrinya yang cantik.


Raka hanya bisa mendekat dan mencium kening wulan, dan tak sengaja air matanya jatuh membasahi pipi chubby istrinya.


"sayang bangun yuk, mas tak bisa jika harus melihat mu seperti ini, bagaimana cara mas harus bertahan tanpa mu," lirih Raka


pria itu benar-benar tak ingin kehilangan istrinya, wanita yang sudah mengisi hari-harinya selama beberapa bulan ini.


"Ya Allah tolong kembalikan istriku, aku rela menukar apapun yang aku miliki bahkan nyawa ku, tapi tolong kembalikan istriku padaku ..." lirih Raka dengan suara serak.


suster pun meminta Raka keluar karena waktu kunjungan habis, Raka pun mau tak mau pergi meninggalkan istrinya.


saat sudah keluar dari ruang ICU, tubuh Raka limbung tak berdaya dan Rafa menahannya.


hidupnya sudah hancur setelah menyaksikan keadaan istrinya yang tak mau membuka mata sedikit saja.


"aku rela menukar hidupku, asal aku bisa melihat dia kembali tersenyum dan memeluknya ..."


"sabar Raka, Allah tengah menguji kalian, yakinlah pasti akan bahagia pada akhirnya," kata rafa menenangkan saudaranya itu.


semua orang yang datang tak bisa menahan tangisnya, mereka tak mengira jika cinta Raka begitu besar.


sedang Fahri merasa jadi adik yang tak berguna karena dia tak bisa melindungi kakaknya dari serangan Irma.


"jika saja aku bisa menghentikan Irma, mbak pasti gak akan seperti ini ..."


"apa maksudmu Fahri?" tanya pak Suyatno.


"maaf pak, mbak jatuh karena di jegal oleh Irma, setelah dia memfitnah mbak Wulan, dia ingin menyingkirkan mbak Wulan karena dia menyukai kak Raka," terang Fahri.


"kenapa mereka terus seperti ini, apa salah putriku, apa Wulan tidak boleh bahagia dengan pria yang dia cintai," gumam pak Suyatno.


"tidak pak... ini hanya iri hati dari gadis itu saja, dan semoga dia mendapatkan pelajaran yang setimpal," kata Adri.


Raka pun memilih duduk diam di depan ruang icu, para keluarga pun kini bergilir menjaga wulan.


sudah seminggu ini terlewati, Raka bahkan tak mau sedetik pun meninggalkan istrinya itu.


bahkan seminggu ini Rafa yang harus melakukan semua pekerjaan Raka, karena Raka hanya fokus pada istrinya.


Mak nur, Adri dan Rizal sangat khawatir tapi Raka tak bisa di bujuk sedikit pun.


Raka terus berkomunikasi dengan dokter yang merawat Wulan, bahkan dia tak keberatan dengan biaya yang sangat mahal, karena baginya keselamatan dan kesembuhan istrinya itu lebih utama.


sedang di rumah keluarga Prapto, keluarga Irma sudah tak bisa melakukan apapun, bahkan ruqyah dan pengobatan medis tak bisa menyembuhkan gadis itu.


tubuh Irma pun sudah seperti mayat hidup, bahkan aroma tubuhnya begitu busuk.


keluarganya pun terpaksa membuatkan sebuah gubuk khusus untuk wanita itu.


"sakit ...."


bu Prapto tak mengira putrinya bisa mengalami hak buruk seperti ini, "sebenarnya apa yang kamu lakukan Irma, kenapa kamu bisa sampai seperti ini," gumam wanita itu yang hanya bisa menangis.


Irma juga tak mengira jika akan mengalami kesialan sebesar ini, dia tak mengira jika ini balasan karena ingin mencelakai dan merebut Raka.


"sakit Bu...."


ustadz Arifin datang kali ini, dia tak mengira jika penyakit Irma tak bisa di sembuhkan.


"pak, sebaiknya cari tau, dan minta maaf jika di butuhkan, karena yang saya lihat ini bukan penyakit biasa, ini tekad mungkin dek Irma melukai hati seseorang," kata ustadz Arifin yang kasihan kepada Irma


"tapi bagaimana ustadz, keluarga itu begitu membenci kami, terlebih sudah seminggu ini putri mereka juga tidak sadarkan diri, bagai masih belum ada perkembangan berarti, karena ulah Irma," jawab pak Prapto.


"saya bisa bantu pak, siapa tau keluarga itu bisa memaafkan, siapa kalau boleh tau?" tanya ustadz Arifin.


"keluarga dari pak Suyatno, Irma membuat Wulan kritis dan membuat raka begitu terluka saat ini," jawab pak Prapto.

__ADS_1


ustadz Arifin dim, dia tau bagaimana kondisinya saat ini, pasalnya semalam dia batu selesai menjenguknya.


bahkan Raka saja tak bisa berbicara maupun hidup normal karena istrinya yang sedang tak berdaya.


bahkan kondisi pria yang biasanya begitu sehat dan bugar, kini sudah mulai tak terurus.


"Allahuakbar pak, kenapa dia mencari masalah dengan orang yang salah, asal bapak tau Wulan adalah hidup Raka, bahkan pria itu bisa melakukan apapun untuk istrinya, dan mungkin hanya maaf dari keduanya yang bisa meringankan beban Irma," jata ustadz Arifin.


"apa tidak ada cara lain, saya tidak tega melihat kondisi putri saya," kata pak Prapto.


ustadz Arifin mengeleng pelan, bahkan dia tak bisa melawan mahluk di dalam tubuh wanita itu.


sepertinya hanya Raka atau Wulan yang akan bisa mengeluarkan dan menyembuhkan Irma seperti sediakala.


bu mut sedang bersiap ke rumah sakit, dia membawa makanan kesukaan dari menantunya itu.


sesampainya di rumah sakit, bu mut melihat Raka yang sedang mengaji dengan air mata yang terus menetes di luar ruang ICU.


"assalamualaikum nak," salam Bu mut yang datang bersama pak Suyatno.


"waalaikum salam ibu, bapak ..." jawab Raka tersenyum menyapa kedua mertuanya.


pak Suyatno memeluk menantunya itu, "nak tolong kuat ya nak, jika kamu lemah dan seperti ini, bagaimana bapak akan menjelaskan pada Wulan nanti kalau dia bangun,"


"saya kuat kok pak, oh ya kebetulan ada jadwal jengguk ke dalam, saya takut lemah lagi pak, tolong ibu atau bapak yang masuk ya," mohon Raka.


"ibu masuk, bangunkan putrimu Bu, bilang kasihan suaminya yang selalu khawatir menunggunya, dia selalu nurut pada ibu," kata pak Suyatno.


"dari pada ibu, bapak lebih depn dan yang paling di cintai putrimu pak, biar ibunya duduk dan menemani nak Raka sarapan," jawab Bu mut.


pak Suyatno pun mengangguk, dia yang masuk ke dalam ruangan ICU, untuk bertemu putri yang pertama yang begitu dia sayangi.


Bu mut pun menyiapkan sarapan untuk Raka, "ayo nak, kamu juga harus sehat, agar saat istrimu bangun dia tak sedih melihat kondisimu nak,"


"iya Bu," jawab raka.


Bu mut bahkan menyiapkan teh dan makanan yang sudah di bawa, sedang pak Suyatno masuk dan menyiapkan hatinya.


"nak putri ku tersayang, ini bapak nak, bangun yuk, bapak rindu suara mu, bapak rindu tawamu, bapak rindu manja mu, bapak rindu semua tingkah mu, bahkan bapak tak bisa melihatmu seperti ini, nak bangun yuk, atau bapak akan marah, karena bapak inget dulu saat bapak pulang. kamu akan tersenyum sambil menunggu di depan pintu dengan begitu bahagianya, tapi semua hilang bapak tak bisa melihatnya lagi ...." tangis pak Suyatno mengenggam tangan putrinya.


Wulan pun perlahan membuka mata, dan membalas genggaman tangan pak Suyatno.


"bapak ...."


pak Suyatno pun bangun dan melihat putrinya yang tersenyum dan melihat dirinya.


"dokter!!!" teriak pak Suyatno


pria itu pun keluar dengan menangis bahagia, raka dan Bu mut langsung berdiri saat melihat pak Suyatno.


"pak ada apa?" tanya Raka.


"putriku, istrimu .... dia bangun nak," kata pak Suyatno dengan tawa yang begitu mengembang.


rak pun langsung sujud syukur, dia tak mengira jika istrinya yang sudah seminggu ini tak ingin bangun.


bu mut juga begitu bahagia mendengarnya, Raka pun langsung menghubungi semua keluarganya.


Rafa yang mendapatkan pesan pun juga langsung sujud syukur, "Alhamdulillah ya Allah," katanya dengan begitu senang.


"ada apa mas?" tanya Jasmin.


"wulsn sudah bangun dek, dia bangun, kira ke rumah sakit, dsn kita titipkan Faraz pak mak Siti dulu," kata Rafa yang terlalu senang.


"iya mas, iya. aku tak sabar ingin bertemu adik ipar ku itu," kata jas begitu bahagia.


"lihat Faraz, ibu kecil bangun, sebentar lagi dia akan bermain dengan Faraz lagi," kata Rafa yang mengendong putranya, bayi itu seakan mengerti dan tersenyum melihat Rafa.


"iya mas, aku akan memberitahu om Adri dan Tante, dan eyang juga," kata Jasmin senang.

__ADS_1


akhirnya keluarga itu pun siap berangkat ke umah sakit, dan saat sampai ternyata Wulan baru di pindah ke dalam ruangan rawat.


Rafa langsung memeluk Raka yang nampak begitu bahagia, begitupun semua orang.


Wulan tersenyum menyapa semua orang, tapi senyumnya hilang saat melihat Raka.


"ibu ... dia siapa?" tunjuk Wulan pada Raka.


mendengar ucapan Wulan yang tak mengenali dirinya, dia begitu sedih dan terpuruk.


"nak kamu yakin, kamu mengenali kami?" tanya Mak nur.


"iya eyang, ini eyang nur, itu mbak Jasmin, ada om Adri dan Tante Nurul, tapi aku tak mengenalinya?" kata wulan.


tiba-tiba Raka langsung menangis memeluk Rafa dengan kejer, pria itu bahkan tak perduli dengan wibawa atau karisma.


semua orang sedih, pasalnya mereka tau bagaimana Raka yang begitu khawatir dengan istrinya itu.


Jasmin melihat Wulan yang tersenyum melihat suaminya, "dek kamu tak kasihan dengan suamimu?"


"maaf ya mbak, habis mas Raka penampilannya begitu banget, aku tak mengira jika suamiku bisa seperti ini?" lirih Wulan.


"ya tuhan nduk, kamu membuatnya sampai nangis gitu, nak Raka putri bapak cuma bercanda doang kok," kata pak Suyatno menepuk punghung menantunya dengan lembut.


"apa pak," kata Raka melihat istrinya itu.


"maaf ya suamiku tersayang, aku hanya tak mengira jika kamu bisa sesedih ini," kata Wulan tersenyum.


Raka pun berlari dan langsung mrmdluk istrinya itu dengan erat, "bercandaan mu tak lucu, aku sudah sangat depresi saat kamu tak ingin membuka mata, dan jika tadi benar terjadi, aku mungkin bisa mati berdiri karena kamu tak mengenaliku," kata Raka yang menciumi wajah Wulan.


"mas malu ih ... ada banyak orang," gumam Wulan.


"aku mencintaimu," kata Raka tak peduli.


semua pun ikut terharu melihat kemesraan dari keduanya, bahkan mereka pun meminta Rizal untuk membagikan sembako untuk menunjukkan rasa syukur atas sadarnya Wulan.


Bahkan tak hanya sembako, bahkan uang juga di berikan pada setiap rumah ibadah.


ulsn mengusapkan pipi suaminya, "mas kamu kelihatan tua saat memelihara jambang seperti ini, tidak seperti suamiku yang tampan," lirih Wulan.


"aku tak sempat merawat diriku, aku selalu fokus pada kesembuhan mu, tapi lihat bapak yang meminta mu bangun, kami langsung bangun, sedang aku yang tiap hari menyapamu, kamu tetap menutup mata," lirih Raka.


"Bukan aku tak mau membuka mata, aku hanya sedang ingin tidur lebih lama," jawab wulan


Raka pun mencubit pipi istrinya, Wulan pun ingat janinnya, Raka pun menyentuh perut istrinya.


"setiap hari aku berbisik padanya untuk meminta mu bangun, dia baik-baik saja sayang, dia sangat kuat bertahan untuk menjadi bukti cinta kita."


"dia seperti ayahnya, pria yang kuat dan akan menjadi kebanggaan dari kedua orang tuanya, iya kan nak," gumam Wulan.


tiba-tiba terasa tendangan cukup keras, Raka dan Wulan pun kaget, mereka pun langsung tertawa dan


begitu bahagia berdua merasakan pergerakan dari bayi mereka.


"anak ayah..." kata Raka yang langsung memeluk Wulan.


Mak nur yang ingin masuk pun ikut begitu bahagia melihat keduanya, dia tak mengira jika cucunya bisa hidup baik bersama wanita yang tepat.


"ya Allah, jika aku di ambil sekarang, saya ikhlas karena aku sudah menyaksikan semua cucu dan anak ku bahagia," lirih Mak nur.


"tapi aku yang belum siap kehilangan mak," kata Adri memeluk Mak nur.


"kamu ini selalu manja, sudah Mak mau masuk dulu memberikan teh Hangat ini, kamu tunggu di depan ya," kata Mak nur.


"iya Mak, lain kali jangan berdo'a seperti itu lagi ya," kata Adri yang memang belum siap di tinggalkan oleh orang tuanya satu-satunya itu.


Rafa datang dengan bubur ayam, itu adalah bubur ayam kesukaan dari Raka dan istrinya.


"ini aku bawakan makanan kesukaan kalian, makan ya, karena aku yakin jika Wulan pasti lapar, suapi Raka," kata Rafa.

__ADS_1


Mak nur pun menjewer Rafa karena gemas, dia hanya tersenyum saja melihatnya.


__ADS_2