Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
hantu pamitan


__ADS_3

Adri datang bersama Nurul, dan Rania langsung berlari memeluk ayahnya itu.


"anak ayah yang cantik, kenapa menangis? nanti wajahnya jelek loh, seperti Sullivan," kata Adri.


"tidak, Rania seperti Boo, ayah seperti Sullivan," jawab Rania yang memancing tawa semua orang.


Adri pun tersenyum mendengar jawaban putrinya itu, "itu ibu Nurulnya tak di sapa Rania?"


"hallo bunda, kenapa datang kemari?" tanya Rania memeluk kaki Nurul dengan manja.


"bunda Nurul membawakan kejutan untuk putri cantik ini, ayo kita lihat bunda dan ayah bawa apa?" kata Nurul.


Adri pun menaruh kue begitupun dengan Nurul, bahkan keduanya sangat kompak.


Rania pun sangat bahagia melihat nama dan fotonya ada di atas kue kartun kesukaannya.


"selamat ulang tahun nak," kata Nurul memberikan hadiah.


Adri pun menemani Rania yang menerima hadiah dari Nurul, bahkan gadis itu memeluk keduanya bersamaan.


"sudah sempurna, bagaimana kapan mau di resmikan," kata Rizal melihat adegan itu.


"mas ih ... ngomong apa sih," kesal Luna yang mencubit pinggang suaminya.


"aku tidak omong kosong loh, lihat Rania begitu senang, Adri dan Nurul pun juga serasi terlihat, benar tidak Jasmin?" tanya Rizal


"iya pakde," jawab Jasmin yang duduk di samping suaminya.


"sudah jangan menggoda mereka lagi, Nurul dan Adri ayo sekarang temani Rania potong kue," kata Mak nur.


"Al-Fath mau bantu," kata bocah itu.


Adri pun bersama Nurul, semua orang melihat itu dengan senang, pasalnya Rania begitu bahagia saat ini.


Nurul juga senang bisa melihat Rania yang tersenyum lepas seperti ini, bukan gadis yang sering berdiam sendiri saat di sekolah.


sedang Raka belum tau siapa yang akan di pilih oleh keluarganya untuk menjadi pasangan ta'aruf untuknya.


Raka selalu berdo'a agar gadis itu bisa menerima dirinya, apalagi sejujurnya dia masih terikat dengan wanita dunia lain.


suasana desa malam ini terasa sedikit dingin dan mencekam, Adri sedang dalam perjalanan pulang setelah mengantar Nurul pulang bersama Raka.


"kamu merasa gak sih, ini masih jam sepuluh malam, tapi hawanya kenapa begitu dingin dan sepi ya," kata Adri melihat sekeliling.


"iya om, biasanya kalau seperti ini akan ada kejadian buruk," jawab Raka.


"semoga saja tak ada kejadian aneh ya," kata Adri lagi. tapi tak lama terdengar suara burung dares yang lewat dan kearah makan desa.


"wah sepertinya tidak om, tuh tandanya lewat barusan," jawab Raka tertawa.

__ADS_1


mobil mereka akan segera sampai ke rumah, saat keduanya melihat ada dua orang berdiri di pelataran rumah.


"eh ... siapa yang malam-malam begini bertamu," kata Adri tak ada pikiran aneh-aneh.


"sepertinya ada urusan yang belum selesai om, ayo masuk saja, dan tak perlu menggubris mereka," kata Raka yang turun dari mobil.


"tolong ... maafkan kami ..."


Adri menoleh, tapi Raka menariknya masuk, Raka tak mendengarkan keduanya sedikitpun.


terlihat dua sosok itu berwajah hancur dengan mata melotot dan menangis darah.


"om tidur, sebelum itu ambil air wudhu dan juga berdoa, dan jangan dengarkan semua hal aneh yang terjadi."


"baiklah nak, aku ikuti saran mu," jawab Adri menurut.


Rafa keluar dari kamarnya dan melihat Raka, "kita bereskan?" tanya Raka.


"tentu, aku tak suka jika mereka terus menganggu, terutama keluarga kita," jawab Rafa membawa air dan garam.


setelah di doakan, Rafa membawa air dan Raka membawa garam kasar itu keluar.


keduanya berdiri di depan dua mahluk itu, "kalian sudah tenang, untuk apa kemari," kata Rafa dingin.


"tolong ... maafkan kami ..."


Raka melihat sosok Ela yang begitu buruk, sedang Robi mengeluarkan aroma busuk dari tubuhnya.


"tolong ... maafkan kami ...."


keduanya pun berjalan pincang, tak lama ada sebuah bola mengelinding ke arah kaki keduanya.


Raka mengambil bola itu, ternyata kepala Wawan yang menyeringai seram ke arah keduanya.


"mati ..."


Raka pun langsung membaca ayat kursi dan kemudian kepala itu menghilang.


Rafa menyiramkan air dan Raka menaburkan garam, agar tak ada kejadian buruk lainnya.


tapi tanpa keduanya duga, Ela dan Robi malah menghantui semua keluarga mereka.


ternyata pukul satu dini pagi, dua arwah itu mendatangi Keluarga Vera, Nanda yang memang masih membereskan laporan untuk usahanya, kaget saat mendengar suara ketukan pintu.


dia pun keluar dan melihat dari kaca depan rumah, dia melihat tiga orang berdiri sambil menunduk.


"siapa Nanda?" Tanya Vera keluar dari kamar, dia yang kebetulan sedang sholat malam.


"tidak tau Bu, tapi mereka berdiri di luar," jawab Nanda.

__ADS_1


Vera pun membukakan pintu, "iya ada apa? kenapa bertamu pagi sekali?"


"tolong ... maafkan kami ..."


ketiganya mengangkat wajahnya, "Ela, Robi ..." kaget Vera.


"mau apa kalian datang, pergi," usir Vera.


Nanda buru-buru mengambil garam kasar pemberian Rafa, wujud ketiganya sangat buruk.


wajah mereka nampak daging dan darah terus menetes dan tercium aroma busuk.


"tolong ... maafkan kami ..."


kata-kata itu yang terus terulang dari mereka, Nanda langsung melempar garam itu ke arah ketiganya.


tapi tak di duga malah membuat ketiganya marah, "tolong! maafkan kami!" teriakan terdengar.


Vera menutup mata dan telinga, "kami sudah memaafkan kalian semua, kami sekeluarga sudah memaafkan," kata Vera ketakutan.


tiba-tiba suasana kembali sepi, Nanda yang memeluk sang ibu pun sudah tak melihat sosok Ela dan Robi yang sudah menghilang.


sedang di rumah Aira, terdengar suara pintu yang di garuk dengan benda tajam.


Aira membangunkan Alfin, "mas apa itu?" tanya Aira sedikit merinding.


"sepertinya ucapan Rafa benar, mereka akan datang karena ada urusan yang belum selesai," jawab Alfin.


"mas aku takut ..." lirih Aira.


"tidak perlu takut, mereka hanya ingin minta maaf, kita harus menemui mereka," kata Alfin mengandeng tangan Aira.


keduanya pun keluar dari rumah, benar saja ketiga arwah itu datang dengan penampilan yang makin buruk.


bahkan lidah dan tubuh mereka hancur, Aira tak sanggup melihat, bahkan aroma busuk begitu menyengat tercium.


"tolong ... maafkan kami ..."


"kami sekeluarga sudah memaafkan segalanya, Sekarang tolong tenang dan jangan menganggu orang-orang dan keluarga kami," jawab Alfin.


"tolong ... maafkan kami ..." kata ketiganya yang pergi sambil menyeret sebuah rantai yang kemudian terlepas.


Alfin pun merangkul istrinya dan mengajaknya masuk, "sudah tak perlu takut, sekarang kita berdoa saja pada Gusti Allah ya, ayo kita sholat mumpung bangun, sambil menunggu subuh," ajak Alfin


"iya mas, kita sudah lama tak sholat malam berjamaah,"


keduanya melaksanakan sholat malam bersama, sedang tanpa sepengetahuan mereka, Ayana melihat sosok mahluk tak kasat mata, serupa anak kecil seusia anak empat tahun.


tangan dan kakinya berbentuk seperti capit kepiting dan kepalanya gundul dengan telinga panjang keatas.

__ADS_1


Ayana pun pura-pura tidur, agar mahluk itu tak mengganggu dirinya, setelah mahluk itu pergi, Ayana pun tidur dan akan bertanya pada orang tuanya besok pagi.


__ADS_2