Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
tuyul yang meresahkan.


__ADS_3

keesokan harinya Ayana sudah melupakan apa yang semalam dia lihat.


sedang selama tiga hari semua keluarga harus menghadapi hantu pamitan dari Ela, Robi dan Wawan.


tapi beruntung setelah itu tidak ada gangguan lagi, karena mereka sudah tenang di sana.


tapi di desa tempat tinggal Alfin sedang heboh pasal uang yang hilang tiba-tiba.


Aira yang sedang berbelanja pun mendengar perkataan ibu-ibu di tukang sayur.


"bener Bu, ya Allah padahal itu yang mau buat bayar SPP semester putra saya, tega banget sih," kata ibu Nuning.


"ngomong-ngomong kalau di rumah Bu juragan, apa pernah ke masukan tuyul, pasti uang yang ambil jumlahnya banyak ya," tanya ibu Lika.


"wah saya belum tau Bu, kebetulan saya juga jarang pegang uang cash banyak di rumah, paling celengan milik anak-anak saja, tapi coba nanti saya cek lagi deh," jawab Aira tersenyum.


"tapi aneh ya, kenapa tuyul itu malah ngambil di rumah kampung-kampung, padahal di bank kan banyak uangnya," kesal ibu Nuning.


"kalau menurut adik-adik saya, katanya mereka itu tak bisa mengambil uang yang tak jelas pemiliknya, karena itu syarat," jawab Aira


"Bu juragan,mbok ya tolong gitu mas Rafa dan mas Raka di minta datang kesini untuk menangkap tuyulnya, kan biar tidak meresahkan Bu," kata Bu Lika.


"ya insyaallah nanti saya akan bicara ya Bu, karena mereka juga butuh bukti," jawab Aira.


"ini pada mau belanja, atau malah ngegosip sih, gak kasihan anaknya," kata tukang sayur.


"yey ... si Abang mah mereka udah berangkat, kalau nungguin Abang bisa telat ke sekolahnya," kesal Bu Nuning sambil memukul Abang sayur dengan waluh jangan.


tak lama, ada sebuah mobil baru dari showroom, bahkan di antar khusus oleh pihak showroom.


"wah siapa yang beli mobil baru? ibu juragan ya, mobil mewah tuh yang di beli," kata Bu Alif.


"tidak kok Bu, kebetulan malah kemarin kami jual mobil karena kebanyakan," jawab Aira jujur.


"terus siapa?" tanya Bu Lika.


mobil itu di turunkan di sebuah rumah, ibu-ibu pun tak mengira pak RT bisa membeli mobil mewah.


padahal rumah saja tidak bagus, bahkan cenderung belum jadi.

__ADS_1


"loh kok pak RT, kerja apa kok bisa beli mobil mewah gitu, wah jangan-jangan," kata Bu Nuning


"jangan berburuk sangka Bu, ibu kan tau istrinya pak RT kerja di luar negeri, siapa tau beliau memang menabung dan sekarang bisa beli mobil," kata Aira.


"ya gak mungkin toh Bu juragan, lagi pula suami saya juga kerja di luar negri juga tak sebanyak yang di pikirkan loh gajinya," saut Bu Alif.


mereka pun saling pandang, "sudah bang, tolong di total belanjaannya, saya mau pulang takut suami saya mencari," kata Aira yang tak ingin menggunjing lagi.


"totalnya jadi lima puluh ribu Bu juragan," jawab Abang sayur.


setelah membayar, Aira akan pulang tapi Alfin sudah datang menjemput istrinya itu.


"oh ... ku kira abangnya pindah tempat, kok belanjanya lama sekali," kata Alfin.


"maaf yah, tadi keasikan ngobrol sama ibu-ibu, ini udah mau pulang kok," jawab Aira naik ke motor Alfin.


"ibu-ibu jangan bergosip, jika ada masalah mending di musyawarahkan, dan jika bisa insyaallah saya bisa membantu kesulitan kalian, jadi saya permisi ya," kata Alfin sebelum pergi.


"bener tuh yang di omongin juragan Alfin, mending sekarang kalian ajak warga bermusyawarah, kemudian panggil duo kembar penolong itu, karena sebenarnya saya juga takut kalau uang jualan habis di ambil tuyul," jawab Abang sayur.


"hu ..... dasar Abang sama aja,"


Rafa dan Raka sudah mendapatkan pesan dari Alfin tentang semua kejadian di desa itu.


tapi dari keterangan Alfin, semua terjadi setelah pakde Tejo mewariskan semua ilmunya pada menantunya Satyo.


Rafa dan Raka mengiyakan, dan malam ini akan datang ke desa kelahiran mereka.


Rafa menitipkan Jasmin pada Mak nur dan Adri, bahkan Rafa melakukan pemagaran lagi demi melindungi keluarganya sebelum pergi.


mobil mereka menuju ke rumah keluarga Alfin, Suni naik ke bak di belakang.


"kenapa dia dalam mode garang? apa aura hitam pekat sekali?" tanya Raka.


"ya, karena pagar ghaib sudah hancur, terlebih pewaris dari pakde Tejo tak memiliki kesadaran untuk memperkuat pagar setiap bulannya," jawab Rafa melihat Raka.


benar saja baru juga sampai gapura masuk desa, jalan itu nampak begitu sepi, bahkan pencahayaan lampu pun seakan tak berpengaruh.


"Sesnag tolong singkirkan semua mahluk yang berniat buruk dari desa ini, karena kamu adalah pelindung desa ini," perintah Rafa dalam hati.

__ADS_1


Raka pun berjalan saat Rafa mulai membaca dzikir dan mulai meniti setiap butiran tasbih di tangannya.


kabut gelap itu perlahan hilang, Sesnag dan Linggo berhasil memperbarui pagar ghaib desa itu.


mobil keduanya tak sengaja melihat seorang pria sedang mengendong tangan dan berjalan menyebrang.


mungkin kalau orang biasa tak menganggap itu aneh, tapi Rafa dan Raka tau benar apa yang di gendong pria itu.


"apa perlu kita ikuti pria itu?" tanya Raka.


"tidak perlu, simpan tenaga kita, karena musuh kita bukan orang sembarangan," jawab Rafa.


mobil pun menuju rumah Alfin, benar saja saat sampai para warga sudah berkumpul.


"Alhamdulillah akhirnya datang juga," kata semua orang.


"wah ... ada pesta kah, kenapa begitu ramai?" tanya Rafa cengengesan.


"mas Rafa bercanda terus ini mah, masak juragan belum bilang," kata pak Darto.


"hahaha, santai to pak, jangan tegang begitu," kata Raka memijat pundak pak Darto.


Raka mencabut sesuatu dari bahu pria itu, sebuah paku Ghaib, "eh... wah bahu saya kok gak sakit lagi setelah di sentuh mas Raka."


"bapak aneh deh, masak di pukul malah gak sakit," bantah Raka yang sudah memusnahkan paku itu.


"sudah bapak-bapak lebih baik ronda seperti biasa, biar saya dan adik-adik saya yang mencari masalah itu, jadi mohon bubar ya," perintah Alfin.


"baik juragan," kata semua orang.


"ada yang gak ikut datang?" tanya Rafa setelah semua orang pergi.


"ada tiga orang, pak RT, pak Sugeng dan pak polo(kepala dusun)," jawab Alfin.


"wah ... padahal pak polo ini biasanya tak pernah absen kalau mas Alfin yang panggil loh, jadi kita mau mulai dari mana?" tanya Raka.


"tentu dari pusat desa ini, letak masjid dan benda pusaka desa harus keluar," jawab Rafa.


"kamu yakin, itu bisa melukai dirimu nanti," kata Raka khawatir.

__ADS_1


"tenang saja, dengan perlindungan Allah semua akan berjalan baik-baik saja, jadi ayo kita mulai," kata Rafa yang akan memimpin kedua orang itu.


dia juga mengunakan kaki palsu yang nyaman untuknya. karena bisa di pastikan itu bisa memaksa dirinya berlari mungkin.


__ADS_2