Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Aku bercanda saja.


__ADS_3

Rafa tiba-tiba langsung tertawa begitu saja, bahkan membuat semua orang bingung.


"dia gila?" kata Adri melihat Alfin dan Aira yang juga tak mengerti.


"tenang om, aku hanya menguji bagaimana kesungguhan Raka menyukai gadis itu, karena perjalanannya tak akan mudah," kata Rafa tersenyum membantu Raka berdiri.


Raka bukan berterima kasih, malah langsung memukul Rafa karena terus di kerjai saudaranya itu.


keduanya sekarang malah saling berguling sambil saling memukul dan mencekik.


karena kesal, Alfin langsung mengambil selang dan menyemprotkan air kearah keduanya.


keduanya pun berhenti bertengkar, dan akhirnya keduanya pun basah kuyup karena itu.


"sudah berantemnya, kalian itu kayak kucing kalau berantem, di guyur air baru diem," kata Aira.


"mbak dingin ..." kata Rafa dan Raka dengan memohon.


"masuk, dan cepat ganti baju, terus makan," perintah Aira kesal.


sedang tiga bocah melihat om mereka yang sudah basah kuyup masuk rumah lewat belakang.


sedang Linggo dan Suni sudah siap karena mereka takut akan terjadi hal gawat pada keduanya.


tapi mereka malah melihat hal yang mengelikan, "mau balik saja lah, buat apa disini," kata Linggo pergi.


"aku ikut juga!" kata Suni mengejar Linggo.


setelah berganti pakaian, raka melihat ponselnya yang beruntung tak mati karena air.


tak di duga sebuah pesan masuk ke ponsel itu, dan melihatnya sudah membuat Raka senyum-senyum sendiri


"ciye ... yang lagi kasmaran, udah kayak wong edan, tersenyum gak jelas," ledek Rafa.


"yaelah ... memang kenapa iri situ, kasihan gak pernah pacaran dih," kata Raka.


"kata siapa, aku mah pacarannya habis nikah lebih enak, bisa nyentuh tanpa dosa, memang kamu sudah main peluk-peluk saja," kata Rafa memukul Raka kesal.


"loh kok tau, di laporin sama om item ya?" tebak Raka.


"menurut mu, untung kalian gak di apa-apain tuh di kebon duren," jawab Rafa.


"maaf deh, habis pak Slamet sih yang ngagetin, jadi dia masuk ke pelukan ku, Kan lumayan," jawab Raka.


"dasar kamu ini, sudah ayo makan dulu," kata Aira.


kini Aira pun membantu semua untuk bersiap makan, tapi Adri membantu mengambilkan untuk Ayana yang duduk di sampingnya.


sedang Raka dan Rafa bahkan mengambil lauk dan sayur yang sama, karena makanan kesukaannya juga sama.


setelah makan, Raka membantu Aira mencuci piring, dan Aira begitu penasaran dengan gadis yang di sukai Raka.

__ADS_1


"jadi bagaimana gadis itu?" tanya Aira


"dia cantik, senyumnya manis, sopan, bahkan dengan orang baru, dan yang pasti pipinya chubby," kata Raka yang tersenyum menginggat Wulan.


"apa sebaik itu? dia menutup auratnya?" tanya Aira lagi.


"insyaallah lagi belajar mbak, tapi aku sebisa mungkin membimbingnya untuk berubah," jawab Raka.


"bagaimana bisa?" tanya Aira.


"sebenarnya aku bisa masuk ke mimpi seseorang, dan aku juga sedang mempelajari ilmu Ngrogo Sukmo," jawab Raka.


"bukankah itu berbahaya," tanya Aira khawatir.


"aku melakukan itu untuk membantu arwah yang tersesat mbak, bukan untuk bertarung," jawab Raka tertawa.


"baiklah, oh ya dua bulan lagi bukankah waktunya acara tingkepan Jasmin? kamu mau mengenalkannya pada mbak," kata Aira


"kenapa menunggu dua bulan, besok jika mbak ke yayasan, aku perkenalkan, karena dia sedang kerja lapangan di sekolah madrasah ibtidaiyah milik yayasan kita," jawab Raka.


"benarkah, baiklah Raka, mbak jadi gak sabar ingin bertemu dengan gadis itu," kata Aira.


raka pun mengangguk dan memeluk Aira, akhir malam itu mereka pulang ke rumah.


Jasmin dan Nurul begitu khawatir, begitupun makmur, tapi saat melihat motor Raka datang tapi Adri yang membawanya.


ketiga wanita itu sedikit tenang, itu berarti Raka sudah bisa di bujuk untuk di ajak pulang.


"Raka jangan marah lagi ya, nanti eyang yang lamarkan untuk mu, jadi jangan seperti ini lagi ya," kata Mak nur.


"iya eyang, tapi masalahnya dia masih sekolah kelas dua Aliyah," jawab Raka tersenyum malu.


"apa? wah gila, kamu pedofil," ejek Rafa lagi.


"tutup mulut mu ah ... bikin orang emosi saja," kesal Raka.


"santai brai, aku cuma bercanda we ..." jawab Rafa.


Raka ingin sekali memukul Rafa, tapi Adri malah menjewer keduanya untuk masuk.


seketika semua menertawakan kedua saudara kembar itu, pasalnya ulah mereka tetap lucu meski usia mereka sudah dewasa.


Raka msih terjaga untuk membaca buku, sedang Rafa sedang membaca Al-Qur'an di kamar mereka.


saat terdengar suara retakan di pagar ghaib rumah, keduanya pun langsung bergegas keluar.


Rafa membawa garam yang sudah di doakan, dan juga tak lupa bambu kuning juga di bawa.


bahkan suni dan Linggo juga sudah bersiap di depan menjaga rumah itu dari segala kemungkinan.


"sebenarnya apa yang bisa membuat pagar ini retak," kata Raka melihat ke sekeliling rumah.

__ADS_1


Raka terdiam saat melihat sosok yang begitu mengerikan, dan seketika dia berlari.


"Rafa jaga istrimu, ada bajang!" teriak Raka yang menuju ke rumah Adri.


Raka membukanya dengan mudah, dan benar saja Rania sudah berdiri dan kerasukan.


"hi-hi-hi ...."


Raka pun ingin mendekat tapi Rania sudah berlari keluar rumah, Rafa langsung memukulnya dengan bambu kuning.


tubuh Rania terpental dan di tangkap oleh Raka, "Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum.


Laa ta’khudzuhuu sinatuw wa laa naum.


Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh.


Man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi idznih.


Ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum.


Wa laa yuhiithuuna bi syai-im min ‘ilmihii illaa bi maa syaa-a.


Wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardha wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa


Wahuwal ‘aliyyul ‘azhiim."


Rania pun pingsan, Raka mengendong adiknya itu, Rafa memakaikan tasbih miliknya.


Linggo langsung mencabik bajang itu, "tidak mau mati, ibu!" teriaknya dengan keras.


Rafa masih belum bisa tenang, dia merasakan sesuatu masih begitu kuat.


dia mengeluarkan golok warisan keluarga, dia pun berjalan menuju ke kamar Adri.


tapi sebuah cahaya merah keluar dari sana, dan Rafa melempar goloknya dan mengenai cahaya itu.


"kamu tak bisa lari, siapa yang mengirim mu?" kata Rafa.


tak di duga Ki item datang dengan wujud penjaganya, bahkan Ki Adhiyaksa juga datang ke desa itu.


keduanya pun melawan kekuatan besar, ternyata itu adalah Delia yang sudah sempurna menguasai ilmu hitam.


cahaya merah itu kembali ke pada pengirimnya yaitu Delia, Sesnag datang dan memperbaiki pagar ghaib rumah yang sudah rusak.


Delia terluka saat Rafa melempar golok ghaib miliknya yang sudah di olesi garam.


tak hanya itu, Raka langsung bersila dan Ngrogo Sukmo, dia mencari tubuh Delia.


dia pun menemukan tubuh itu di sebuah kamar kosong dan penuh debu.


dia pun menancapkan tiga potong bambu Kuning runcing di leher itu agar Delia kesulitan untuk kembali.

__ADS_1


__ADS_2