
mang no ketakutan bukan main, pasalnya dia tau jika Sunar sudah mati, tapi kenapa bisa jadi arwah penasaran.
"juragan muda, kenapa bisa sampai seperti ini?" bingung mang no.
"sepertinya, arwah bang Sunar tak akan tenang sampai tangannya di temukan, bahkan saya saja tak bisa membuatnya tenang," kata Raka.
"innalilahi wa innailaihi rojiun, semoga polisi cepat menemukan potongan tubuh itu ya juragan muda," kata mang no.
Raka sudah mengantarkan keduanya pulang, sedang dia menuju ke rumah saat tak sengaja melihat sosok itu masih berada di pertigaan jalan.
Raka tak memperdulikan itu, pasalnya arwah itu tak bisa mengikuti Raka maupun masuk ke dalam lingkungan rumah Raka.
Jasmin sedang mengaji, bersama Rania saat Adri baru pulang dari pengajian tiga harian dari rumah Sunar.
"bagaimana om, apa banyak yang ikut ngaji?"
"lumayan lah, semua warga desa seperti ketakutan, banyak yang bilang arwah Sunar terus mengetuh pintu satu persatu rumah," jawab Adri.
"itulah sebabnya om, aku terus memantau kerja polisi untuk menemukan potongan tubuh bang Sunar," jawab Raka.
"iya Raka, kasihan juga kalau tiap malam terus ada teror seperti ini, apalagi desa kita yang biasanya ramai jadi begitu sepi dan mencekam," kata Adri.
"sudah-sudah, ayo makan dulu, dan Mak mohon jangan ngomong ini di depan Jasmin dan Rania, mereka sengaja Mak tak izinkan keluar demi menghindari berita itu," kata Mak nur.
"iya eyang," jawab Raka.
mereka menuju ke dapur, lagi-lagi terdengar suara burung dares yang begitu nyaring lewat ke arah jalan makam desa.
"La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim, ada apa lagi ini," lirih Mak nur.
"innalilahi wa innailaihi rojiun," gumam Raka dan Jasmin bersamaan.
ternyata suara burung itu tak hany sekali, melainkan beberapa kali.
Mak Nur meminta Jasmin tidur bersama dengannya dan Rania, sedang Raka akan berjaga bersama Adri.
pasalnya ini akan menjadi malam yang sangat panjang, Raka lupa jika hari ini malam Jum'at.
dia sedang berzikir di kegelapan rumah, bersama Adri dan suasana desa makin mencekam dari biasanya.
Linggo dan Suni berjaga di depan rumah, sosok arwah Sunar mulai meneror semu orang.
bahkan arwah itu mendatangi Linggo dan Suni, "tolong .... carikan tangan saya..."
__ADS_1
"pergi dari sini, tangan mu tak ada di sini sebelum kami melenyapkan dirimu," ancam Suni.
"tolong .... carikan tangan saya ...."
arwah itu berjalan menjauh, tapi tak terduga ada sekelompok remaja tanggung yang sedang pesta miras.
mereka semua seakan tak memperdulikan peringatan warga tentang teror yang terjadi.
keenam pemuda itu begitu asik menenggak miras oplosan, arwah Sunar tersenyum melihat itu.
"tolong ... carikan tangan saya ...."
"aduh ganggu saja sih, lagi asik minum," kata Ridwan.
"tau nih, pergi sana, atau mau kami hajar, pergi sana," usir dari Latif.
"tolong ... Carikan tangan saya ..."
"di bilang pergi kok, berisik tau-" suara Latif tercekat saat melihat siapa yang berdiri di belakang mereka.
"maaf aku tak tau tangan mu, hantu!" teriak Latif berlari meninggalkan teman-temannya.
pria itu bahkan berlari dengan zig-zag karena sudah mulai mabuk miras oplosan.
yang lain pun ikut melihat, bahkan mereka sempat diam dan saling pandang.
mereka pun langsung lari tunggang langgang setelah sadar, bahkan tak sengaja Ridwan terjatuh ke sebuah lubang berisi air bekas galian batu bata, dan tenggelam.
sedang teman-temannya sudah pergi berpencar dan kocar-kacir setelah melihat arwah Sunar.
Sunar pun kembali berjalan sambil menyeret kakinya, dan terus meminta tolong untuk mencarikan tangannya.
beruntunglah, saat Raka masih terjaga karena berdzikir, sebuah pesan dari pihak kepolisian seperti angin segar untuk desanya.
pasalnya polisi sudah menangkap dan menemukan truk yang melindas tubuh Sunar.
dan potongan tangan itu ternyata tersangkut di bagian bawah truk, dan kedua supir mengaku jika setiap hari mendengar suara aneh.
Raka pun berjanji nanti siang akan ke kantor polisi bertemu dengan supir yang menabrak Sunar.
tak terasa waktu subuh sudah datang, arwah Sunar pun menghilang, Raka mulai berani membuat pintu.
tapi dia malah melihat sesosok bayangan dengan tubuh penuh air berlari-lari.
__ADS_1
"ya Allah apa lagi ini," gumam Raka.
semua orang ke musholla untuk sholat subuh, dan tak di duga ayah Ridwan menemukan putranya sudah mengambang di belumbang samping rumah.
"Ridwan, ya Allah nak!" teriaknya mengagetkan para jama'ah mushola yang baru selesai sholat berjamaah.
semua warga langsung berkerumun, Raka dan Adri langsung terjun dan menolong.
tapi semua sudah terlambat, pasalnya pemuda itu sudah tak bernyawa.
Raka menyentuh tubuh Ridwan, Adri menjaga tubuh Raka agar tak jatuh.
Raka pun melihat kilasan sebelum Ridwan mati tenggelam, bahkan Raka bis merasakan bagaimana Ridwan sesak nafas.
Adri pun mengguncang tubuh keponakannya hingga sadar, "innalilahi wa innailaihi rojiun, pak apa Ridwan mengatakan semalam mau kemana?" tanya Raka sedikit ngos-ngosan.
"katanya semalam dia ingin keluar main bareng teman-temannya, dan dia pamit untuk menginap di rumah temannya, tapi ..." tangis bapak Ridwan.
Raka tak bisa menceritakan apa yang dia lihat, "sebenarnya apa yang terjadi Raka?" tanya Adri.
"Ridwan dan lima temannya sedang mabuk mira oplosan di kebun kosong sebelah sekolah, dan tak sengaja mereka di datangi arwah bang Subro yang meminta tolong, semua pemuda kocar-kacir, karena sudah mulai mabuk tanpa sengaja Ridwan lupa jika ada belumbang di sini dan tercebur," jawab Raka.
"tapi tak mungkin, putraku tak mungkin mabuk, dia itu anak baik," kata bapak Ridwan tak percaya sambil memeluk putranya.
"maaf pak, tapi bapak bisa menanyakan itu pada Latif dan Isman, mereka juga ikut mabuk semalam, dan untuk ketiga teman yang lainnya saya tak mengenali mereka," tambah Raka.
akhirnya Adri meminta para warga membantu mengangkat tubuh kaku itu ke rumah duka.
mereka bahkan sedang merebus air untuk membuat tubuh kaku Ridwan bisa di luruskan, karena bisa menyusahkan saat akan di kuburkan nantinya.
siaran kematian terdengar, Isman dan Latif makin histeris ketakutan.
pasalnya Ridwan semalam baru pertama kali minum dan sekarang dia mati.
mereka merasa bersalah, karena hasutan mereka, latif bahkan berlari ke rumah Ridwan sambil menangis histeris.
"maafkan aku Ridwan, maafkan aku," kata Latif yang di tangkap tubuhnya oleh Raka.
Raka pun membisikkan ayat kursi dan alfatihah kemudian pemuda itu pingsan.
orang tua Latif bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi, mereka langsung bersimpuh di depan orang tua Ridwan.
"maaf ya bapaknya Ridwan, saya tak mengira jika kelakuan buruk putra ku bisa membuat putra kalian meregang nyawa seperti ini," kata orang tua Latif.
__ADS_1
"apa maksudnya?" tanya bapak Ridwan.
"mereka semalam habis pesta miras oplosan, dan Latif pulang seperti orang gila, katanya mereka melihat arwah Sunar dan kabur masing-masing," kata bapak Latif.