Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
ta'aruf untuk para jomblo.


__ADS_3

Adri pergi meninggalkan Rafa dengan buru-buru, dia lupa jika nanti malam itu ulang tahun Rania yang ke enam tahun.


jadilah dia ke sebuah toko roti di daerah kecamatan, tapi sayang tidak ada yang bisa membuat kue pesanan seperti keinginan Adri.


"aku harus apa?" bingung Adri.


"pak Adri? kenapa kok kelihatan bingung begitu?" sapa Nurul dengan lembut.


"ibu guru, ini saya sedang kebingungan karena Rania besok ulang tahun, dan nanti malam saya akan memberikan kejutan, tapi tidak ada toko kue yang siap menerima pesanan saya," jawab Adri.


"kalau boleh tau, memang bapak mau pesan kue model apa?" tanya Nurul.


"karena Rania begitu menyukai kartun monster inc. jadi saya ingin pesan kue berbentuk Sullivan" kata Adri.


Nurul terkejut, pasalnya tak mengira jika anak muridnya itu menyukai kartun seperti itu.


"boleh saya yang buatkan, tapi anda harus mau berbelanja bahan kue ya," jawab Nurul tersenyum.


"benarkah, apa tidak merepotkan?" tanya Adri senang.


"tentu tidak pak, saya malah akan ikut senang nanti, kalau begitu saya tuliskan apa saja yang di butuhkan, dan tolong nanti di antar ke kontrakan ya," kata Nurul.


Adri pun mengangguk dan menerima nota belanjaan itu, sedang Nurul membeli roti tawar.


kebetulan Nurul tau ulang tahun Rania, dan nanti dia akan membelikan sesuatu untuk gadis kecil itu.


Nurul pun bergegas pulang untuk menyiapkan segalanya, sedang Rafa terpaksa ikut Rizal pulang karena Adri menghilang tanpa kabar.


Adri sedang antri bersama ibu-ibu yang berbisik melihat seorang pria membeli bahan-bahan kue.


setelah itu dia pun bergegas menuju ke rumah Nurul, saat sampai kebetulan ibu Nurul menyapanya.


Adri pun langsung di minta masuk untuk menemui Nurul dan akan segera membut kue.


"bagaimana pak Adri, dapat semuanya?" tanya Nurul yang selesai membuat puding.


"Alhamdulillah, tapi ku meras aneh dengan pandangan ibu-ibu di toko bahan tadi, mereka seakan ingin menguliti diriku," jawab Adri merinding.


"mungkin mereka tak pernah melihat pria tampan seperti bapak belanja bahan kue," jawab Nurul tersenyum.


mendengar ucapan Nurul, Adri sedikit menyunggingkan senyumannya, entahlah memdengar pujian Nurul dia senang.


"tapi maaf aku tak bisa membantu, karena ada acara di rumah, dan nanti aku akan menjemput anda saat malam, dan itu akan menjadi kejutan untuk Rania," kata Adri.

__ADS_1


"baiklah pak Adri, saya tunggu ya," jawab Nurul.


Adri pun pamit, dia pun langsung menuju ke rumah, saat sampai ternyata Rafa, Raka dan Alfin serta Rizal sedang berdiskusi.


"wah ada apa ini?" tanya Adri


"ini nih, main tinggalin aja, aku kan terpaksa minta tolong sama pakde Rizal," kesal Rafa melempar kardus kearah Adri.


"ya maaf, habis ada sedikit urusan, ngomong-ngomong kalian mau ngapain sih?" tanya Adri


"kami sedang membahas ta'aruf untuk Raka dan dirimu," jawab Rizal tegas.


"tapi bang, aku masih belum bisa menikah," jawab Adri memohon.


"Jasmin kemari nak," panggil Rizal


"inggeh pakde, ada apa?" jawab Jasmin sopan.


"hari ini apa yang di alami Aira di sekolah?" tanya Rizal.


"anu pakde, Rania di ejek teman-temannya karena tak memiliki ibu, dan Rania selalu sedih saat melihat anak lain di manjakan oleh ibu mereka," jawab Jasmin.


"tapi ada kamu Jasmin," kata Adri membantah.


"baiklah, aku akan pikirkan," jawab Adri pasrah.


"dan untuk mu Raka, apa kamu sudah memutuskan?" tanya Rizal.


"baiklah pakde, tapi aku akan mengatakan segalanya pada wanita itu, tanpa ada yang di tutupi sedikitpun, itu syarat dariku," mohon Raka.


"baiklah, dan besok aku akan mendatangi dan meminta mereka untuk kalian berdua," jawab Rizal dingin.


Adri pun masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap, dan tak sengaja Adri melihat gambar Rania.


di dalam gambar itu, ada Adri dan Nurul yang menggandeng tangan putrinya itu, "maafkan ayah ya nak," gumam Adri.


"ayah sudah pulang, Rania tadi sudah pilih baju sama, jadi ayah pakai ya, cepat," kata gadis kecil itu semangat.


"baiklah sayang, ayah pakai, tapi Rania apa boleh tanya?"


"iya, mau tanya apa?" jawab Rania sambil duduk di samping Adri.


"Rania mau memiliki ibu?"

__ADS_1


gadis itu diam, Adri pun memeluk Rania, "Rania mau tapi Rania takut, ibu akan sayang ayah saja," lirih gadis kecil itu.


"apa Rania menyukai ibu guru Nurul?" tanya Adri lagi


"iya, ibu guru selalu baik pada Rania, bahkan ibu guru juga sering menyuapi Rania saat istirahat," jawab bocah itu sambil mengambil buku gambar nya.


"ini apa sayang?" tanya Adri.


"bukan apa-apa," jawab Rania membawa buku gambarnya.


acara malam ini pun berjalan lancar, pengajian itu di laksanakan untuk mendoakan seluruh keluarga agar tetap dalam lindungan Tuhan.


Nurul sudah selesai dengan dua kue yang di buatnya, bahkan kedua kue itu berukuran cukup besar.


sekarang dia hanya tinggal menunggu Adri, tak lama mobil Adri datang, "mari pak, kita masukkan kue ini kedalam mobil," ajak Nurul.


"tunggu dulu Bu guru, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan anda," tahan Adri.


"iya pak Adri?"


"maukah anda jadi ibu untuk putriku, Rania," tanya Adri mengejutkan Nurul.


"bapak jangan bercanda, itu tidak lucu," jawab Nurul.


"saya tidak sedang bercanda, saya ingin meminang anda menjadi ibu sambung untuk Rania," jawab Adri bersungguh-sungguh.


Nurul terdiam melihat pria yang berdiri di depannya itu, "apa hanya Rania alasan anda, kalau begitu aku tak bisa menerimanya," jawab Nurul


"maafkan saya Bu guru, seharusnya aku tak melakukan ini, tapi saya tak bisa memikirkan siapapun lagi yang bisa mencintai putriku seperti anda, anda juga pernah tau bagaimana wanita yang ingin dekat dengan ku memperlakukan Rania, dan lagi Rania sering sekali menyebut anda di rumah,"


"tapi pernikahan bukan hal main-main, apalagi saya pernah gagal," lirih Nurul.


"saya tau itu, dan asal ibu tau, saya juga bukan pria sepenuhnya baik, dan bahkan sudah berapa banyak nyawa yang hilang di tangan saya," kata Adri yang membuat Nurul terdiam.


"baiklah pak Adri, saya akan melakukan Sholat istikharah dulu untuk mencari jawabannya, sekarang lebih baik kita berangkat ke rumah anda," kata Nurul.


"baik bu guru, terima kasih atas pertimbangannya," jawab Adri yang kini membawa kue itu ke mobil.


Nurul juga membantu membawakan beberapa puding dan juga hadiah untuk Rania.


di rumah gadis kecil itu sedang merajuk karena Adri pergi tanpa mengajaknya.


bahkan tak ada yang bisa menenangkan gadis itu, tapi tangisan Rania sedikit mereda saat mendengar mobil Adri datang.

__ADS_1


__ADS_2