
Kondisi serius menyelimuti area ruang tamu. Pintu rumah yang tadinya terbuka, dututup rapat-rapat oleh ayah Andre.
Wajah yang tengah menunjukan kerutan di keningnya tersebut, mulai memandang tajam kearah Felix.
Ayah Andre berusaha untuk tidak naik pitam saat memandang pria dihadapannya sekarang.
Afbi dan ibu Ruri memandang serius pada keduanya yang sedang duduk berhadapan.
Mereka sedikit berharap ucapan Felix akan membantu mereka nanti.
Felix menetralkan rasa takutnya, ia berusaha berfikir jernih agar setiap kata yang akan dilontarkan tidak membawa petaka untuk dirinya maupun hubungan cintanya dengan sanga kekasih.
"Coba jelaskan detilnya!" tegas ayah Andre.
Felix menghela nafas sebelum menjawabnya untuk menetralkan perasaan yang sedang campur aduk di hatinya.
"Om! Maafkan saya, saya mengakui memang saya mengencani putri Om, tapi percayalah! Saya tidak pernah bertindak kurang ajar pada Sherli. Saya sangat menghormatinya, dan hari ini saya berniat mengajaknya untuk menemui mama dan papa saya agar kita bisa lebih berkerabat. Saya berani bersumpah, jika hilangnya Sherli hari ini saya benar-benar tidak tau" ucap Felix serius.
Ayah Andre menatap tajam Felix, ia melihat kejujuran laki-laki dihadapannya saat ini.
Namun, mengenai tentang hubunga cintanya dengan sang putri, tetap saja membuat seorang ayah gelap mata.
"Kau sudah berapa lama mengencani putriku? Sudah kau bawa kemana saja putriku? Berapa kali kau pernah mendatangi putriku kemari?" tanya ayah Andre dengan beruntun pertanyaan.
"Saya memiliki hubungan dengan Sherli sekitar tiga bulanan Om, saya hanya mengajak Sherli pergi untuk makan dan ketaman hiburan, dan saya hanya kemari sekali waktu Sherli sedang demam untuk membawakannya makanan dan obat" jawab Felix.
Ayah Andre sedikit merasa lega akan jawaban pemuda tersebut, ia berharap pria dihadapannya benar-benar tidak melampaui batas pada putrinya.
"Baiklah! Untuk saat ini aku percaya kepadamu. Dan kedatanganmu saat ini apa yang bisa kau bantu?" tanya ayah Andre.
Felix merasa sedikit lega didadanya mendapat kepercayaan ayah dari kekasihnya tersebut. Ia akan berusaha mengambil hati orang-orang disana secara tulus agar mendapatkan restu mereka.
"Begini Om! Beberapa waktu lalu saat saya datang kemari saya melihat sosok laki-laki. Namun, sepertinya bukan manusia, dan saat Sherli kutanya dia memang temannya" ucap Felix.
Ayah Andre, Afbi, dan ibu Ruri terkesiap mendengarkan perkataan Felix. Mereka sungguh tidak percaya akan hal itu mengenai putri mereka.
"Apa kau bergurau? Apa maksudmu Sherli memiliki teman bangsa jin?" sela Afbi tajam.
Felix memandang kearah temannya tersebut.
"Iya Bi, mungkin ini terdengar sedikit tabu, namun itu benar adanya, dan Sherli mengatakannya kepadaku namanya Hongli, diapun pernah diajak kedunianya" jawab Felix .
__ADS_1
Ibu Ruri gemetar mendengarkan Felix yang menunjukkan kejujuran, ia sungguh syok mengetahui kehidupan putrinya yang tidak pernah ia ketahui, wanita paruh baya itu meloloskan airmata kesedihannya.
Afbi yang terkejut segera menenangakan sang ibu agar hatinya kuat menghadapi kondisi yang sedang menentang mereka.
Ayah Andre terdiam seketika , ia sungguh merasa gagal menjadi orangtua. Bahkan hal yang mengancam putrinya sendiri tidak ia ketahui.
"Teruskan ceritamu yang kau ketahui tentang Sherli yang kami tidak ketahui, Nak!" kata ayah Andre.
Mereka yang berada diruang tamu memandang serius kearah Felix untuk mendengarkan kelanjutan mengenai putri mereka, Felix melanjutkan ceritanya ia menceritakan sedetail-detailnya kepada mereka dari awal hingga akhir.
Ayah Andre, ibu Ruri, dan Afbi sungguh sedih dan merasa hancur setelah mengetahui seluruh kisah sang bungsu mereka.
Bahkan sang anak beberapa kali membawakan buah dari tempat asing itu, mereka tidak menyadarinya.
Fikiran bersalah akan kurang memperhatikan Sherli menjadikan rasa putus asa pada diri mereka.
Airmata ketiganya lolos begitu derasnya karena merasa kecewa pada diri masing-masing.
Felix ikut serta meluluhkan airmatanya, ia juga merasa gagal dalam menjaga sang kekasih.
Namun, ia berusah menguatkan hatinya agar Sherli dapat segera ditemukan.
"Om, Tante, Afbi. Kita harus kuat jangan sampai lemah, kita harus segera menemukan Sherli sebelum terlambat, karena kita tidak tahu isi hati mahluk itu apakah ingin mencelakai Sherli atau tidak. Kuasai perasaan kalian! Aku akan mengajak bibi Jen kemari untuk membantu kita" ucap Felix.
"Baiklah Om! Saya akan membawa bibi Jen kemari." Felix bangkit dari duduknya, ia segera melajukan mobilnya untuk menjemput bibi Jen.
Ayah Andre berdiri menghampiri putra dan istrinya. Ia mencoba menguatkan hati keluarganya agar terus kuat demi mencari putri mereka.
Afbi dan Ibu Ruri berusaha menguasai hati mereka, untuk waktu yang sangat berharga setiap detiknya demi sang bungsu.
"Baiklah Yah! Aku akan menggeledah kamar Sherli, mungkin ada barang-barang dari temannya itu" Afbi segera meninggalkan ayah Andre dan ibu Ruri. Ia mencoba membuka laci, tas Sherli, dan lemarinya.
Ia menemukan, kalung mutiara biru, gelang marmer, dan baju. Juga sepatu yang tidak pernah sang adik pakai.
Afbi menggotong barang tersebut keruang tamu dimana ayah dan ibunya berada.
"Aku menemukan ini Ayah, Ibu." Afbi meletakkan barang-barang tersebut di atas meja.
Ayah Andre dan ibu Ruri mengeryit saat melihat barang yang dibawakan Afbi, mereka segera menyentuh barang-barang janggal itu.
Mereka membolak-balikkannya untuk melihat secara mendetail.
__ADS_1
"Kalung ini, Sherli pernah bilang jika ia beli di pameran" ucap ibu Ruri menggenggam kalung mutiara biru.
"Pasti ia takut kita curiga Bu! Makanya dia berbohong" jawab ayah Andre.
Ibu Ruri membenarkan ucapan suaminya, mungkin saja Sherli takut untuk menceritakannya dan membuat orang tuanya cemas, pikirnya.
*
Setengah jam telah berlalu, Felix telah sampai kembali dikediaman Sherli, ia segera mengajak bibi Jen masuk kerumah itu.
"Permisi Om, Tante" salam Felix. Ayah Andre, ibu Ruri, dan Afbi menoleh kesumber suara.
"Masuklah, Nak!" ucap ayah Andre. Felix memperkenalkan bibi Jen kepada mereka. Mereka mulai fokus membicarakan solusi untuk menemukan Sherli dari barang-barang yang Afbi temukan dikamar Sherli.
"Ini gelang dariku Om! Karena bentrok energi aku menyuruh Sherli untuk melepaskannya, karena Sherli langsung demam" ucap Felix memegang gelang marmer Sherli.
Mereka bertiga terkesiap mendengarkan hal itu, sedikit demi sedikit kebenaran mencuat dengan sendirinya.
"Beberapa waktu lalu, aku melihat aktifitas Sherli, ia menghilang dibalik pohon bambu belakang rumah, aku fikir putri kalian menerobos pintu dimensi lain dari tempat itu" ucap bibi Jen.
Ibu Ruri sungguh terkejut mendengarnya, beberapa waktu lalu Ia melewati pohon bambu yang dirasa sangat mengerikan untuknya.
Malah sekarang putrinya melewatinya menuju dunia yang berbeda.
"Bagaimana putriku sekarang" ucapnya menangis pilu.
"Tenanglah Bu Ruri! Putrimu itu kuat, mahluk itu sepertinya hanya ingin berteman saja. Jadi kuasai emosi kalian, jernihkan fikiran kalian demi Sherli" ucap bibi Jen.
"Lalu apa yang seharusnya kami lakukan sekarang? Kami tidak memiliki kemapuan melihat roh" ucap Afbi.
"Baiklah, disini yang bisa menerobos pintu dimensi itu hanya aku, dan Felix. Karena kami bisa melihat mereka, aku memerlukan air bidara kesana dan ayat suci untuk petunjuk kami, dan kalian lantunkan ayat-ayat suci untuk memperlancar usaha kami" ucap bibi Jen.
Mereka segera melakukan tugasnya masing-masing, Felix membawa gelang marmer dan kalung mutiara tersebut didalam tas yang telah berisikan botol air bidara dan ayat suci yang bibi Jen pinta.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
__ADS_1
Terimakasih yang atas dukungannya ❤.