Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
kelakuan gila (Raka)


__ADS_3

tak terduga semua warga berhasil membawa dan mengumpulkan kayu gelondongan dan juga begitu banyak bambu kering.


"keluarkan jenazah dari keranda dan naikkan ke atas kayu dan Ki bisa mulai membakarnya."


para warha pun mengikuti Raka, tapi tak terduga, istri pak Usman menahan tutup keranda agr tak di buka.


"tidak, jangan siksa suamiku, dia sudah seperti ini, dan kalian tega melakukan Perbuatan ini padanya, aku sudah memaafkannya, aku sudah ikhlaskan segalanya," tangis wanita itu.


Raka pun mengangguk dan meminta para warga membawa dan mengantarkan jenazah itu ke peristirahatan terakhirnya.


bahkan di sepanjang perjalanannya, istri pak Usman begitu mendampingi suaminya.


dia bahkan terus meminta maaf pada setiap orang yang di temui, karena dia tak ingin suaminya tersakiti di akhir hidupnya.


pemakaman berjalan lancar, tapi Raka masih tak mengerti sebenarnya apa yang tejadi.


pasalnya semalam ada empat rumah yang di itari oleh pegebluk itu, dan satu orang sudah mati.


Raka pun pulang bersama pak Suyatno, di melihat tetangga mertuanya itu sedang memukuli sapi ternaknya dengan bongkotan.


raka pun menghampiri pria itu, "mohon maaf pak, anda menyiksa sapi itu dengan kayu sebesar itu, bagaimana jika bapak yang di pukuli pasti akan merasakan sakit, jadi sapi itu juga sama pak, bisa merasakan sakit juga," kata Raka


"dasar anak ingusan kemarin sore, berani mencampuri urusan orang tua sepertiku, dasar sok tau pergi sana," bentak pria itu.


pak Suyatno pun melerai dan memilih mengajak menantunya pergi.


"sudah nak, dia memang seperti itu, ayo kita pulang, bukankah kamu harus pulang untuk bersiap pergi mengajar," kata pak Suyatno.


"iya pak," jawab raka.


pria itu masih memukuli sapi yang bahkan tak bisa melakukan apapun atau sekedar membalas, ternyata kata pak Suyatno pria itu memang seperti itu.


akan melakukan itu saat marah dan jengkel, dia sering melampiaskan kemarahannya pada hewan itu.


raka pun pergi setelah sarapan dan bersiap ke yayasan sekolah, karena harus mengurus berkas Wulan yang akan mengikuti ujian negara susulan.


sedang Wulan memutuskan pulang di jemput Rafa, Karena Jasmin yang memintanya.


rafa juga sudah izin dengan Raka untuk menjemput istrinya, dan orang tua wulan pun mengizinkan hal itu.


rafa menyadari sesuatu yang sedang terjadi di desa Wulan, "ada pagebluk ya, dan satu sudah di jemput," lirih Rafa.


"iya mas sepertinya, semalam bahkan mas raka yang memimpin warga memukul bunyi-bunyian, untuk mengusirnya," jawab Wulan.


"semoga saja tak berlanjut ya, oh ya mau beli sesuatu dulu?" tanya Rafa


"mas pasti di suruh belanja kan, memang di suruh beli apa?" tanya wulan yang menebaknya.

__ADS_1


"kamu tau saja, ini daftarnya, maaf harus merepotkan mu adik ipar," kata rafa tertawa.


Wulan pun membaca belanjaan itu juga tertawa, pasalnya itu adalah semua kebutuhan wanita.


mereka pun sampai di minimarket, dengan cekatan Wulan mengambil beberapa barang yang ada di catatan itu.


bahkan di juga mengambil beberapa roti untuk jaga-jaga, tak lupa dia juga membeli buah yang memiliki rasa asam.


setelah selesai metja berdua menuju rumah, ternyata keluarga Jasmin itu belum pulang.


"akhirnya kamu pulang, ayah mau pamit kembali ke Surabaya, nak wulan ayah pamit ya," kata pak Handoko.


"iya ayah, hati-hati di jalan ya, maaf jika selama ayah disini saya tak bisa menyambut ayah," kata Wulan sopan.


"iya nak, aku mengerti, dan titip salam untuk suamimu ya, sayang kami tak bisa menunggunya pulang,"


Wulan pun mengangguk, akhirnya mobil keluarga Jasmin pergi. meski awalnya Windi tak ingin pulang.


pak Handoko menyeret gadis itu agar tetap mau pulang, sedang genderuwo itu mengendong anaknya yang mulai besar melihat kepergian wanita itu.


"kejar dong, masak raja genderuwo patah hati, gak banget tuh ..." ejek pocong asap.


"kau ini lemes ya, biarin terserah diriku lah," jawab raja genderuwo yang pergi membawa sang anak.


sedang pocong itu tertawa di samping pohon pisang di kebun belakang rumah.


"wah mas Rafa, mau di bantuin gak?" tanya pocong itu.


"memang bisa, orang yang di bungkus gitu, lagi pula pagi-pagi udah nongol aja lu," kata Rafa cuek.


"habis godain om Wowo yang Lagi patah cinta tuh, kasihan ya jadi duda dengan anak, padahal anaknya aja pindah loh, katanya biar mudah cari mangsa," kata pocong itu.


"aku boleh mencabik-cabik pocong banyak omong ini, dia begitu berisik," kata Linggo yang bertengger di sebuah pohon jambu.


"terserah saja, asal kalian tak.membutku bermasalah, terserah kalian mau apa," jawab Rafa pergi dengan pisang yang sudah di tangan


linggo pun langsung mencabik-cabik pocong itu karena cerewet, bahkan burung ghaib itu terlihat begitu menikmati mengnghu mahluk lain.


Rafa pun tak habis pikir melihat Keduanya, Wulan melihat pisang itu yang ternyata adalah pisang mentok.


"ini pisang buah ya, padahal mau buat Bolu, bisa berantakan kalau pakai pisang ini," gumam Wulan.


"coba saja dengan dua buah pisang yang setengah matang, siapa tau bisa," jawab Rafa.


Wulan pun memberikan jempolnya, dan mulai membuat kue dari dua biji pisang itu.


tapi tak terduga malah berhasil dan hasilnya sempurna, dan kebetulan suaminya suka sekali dengan bolu pisang.

__ADS_1


Nurul pagi ini memilih libur mengajar, saat sedang beres-beres kamar Rania dia menemukan sebuah tes kehamilan.


dia mengambilnya dan duduk termenung, dia pun mengenggam benda itu di tangannya


"baiklah aku harus kuat untuk melihatnya dan mengetahui segalanya," gumam Nurul.


wanita itu pun membaca setiap instruksi yang tertera di bungkus tes kehamilan.


dia memahami dan membaca dengan seksama dan memutuskan mulai memakai alat itu, dan tubuhnya bergetar tak percaya.


tapi dia buru-buru menyimpan alat itu dan menghapus air matanya, dan memilih mencuci muka dengan air agar mata sembabnya tidak terlihat.


"Tante di rumah?" panggil Wulan


"iya nduk masuk saja, ada apa," jawab Nurul.


"tidak ada apa-apa Tante, aku hanya ingin memberikan garang asem ayam buatan ibu, kebetulan tadi ibu buat terus aku inget ini masakan kesukaan Tante, tapi maaf ya kalau asem banget karena aku sedang suka yang asem-asem," terang Wulan


"terima kasih ya, oh ya semalam kamu bawa mangga apel ya, tadi pagi Tante ambil tiga buat sambal gak papa kan?"


"gak papa kok Tante, kalau gitu aku pamit pulang ya, mau jagain baby Faraz kan eyang sedang kamisan," pamit Wulan


"baiklah, dan terima kasih lauknya ya," jawab Nurul yang di angguki oleh Wulan.


Nurul bahkan tak mengira jika orang tua Wulan sebaik ini, sering sekali mengirimkan ikan atau bahkan lauk yang sudah matang.


ini sebabnya putri mereka begitu sopan dan berbudi pekerti yang baik. bahkan itu sudah di akui oleh semua orang.


hari ini adalah hari pengambilan sertifikat oleh Irma dan Zuzun di sekolah, karena Nurul libur jadi terpaksa Raka yang harus memberikan sertifikat itu.


pukul sebelas siang dua gadis itu datang untuk bertemu Raka sesuai pesan Nurul.


tapi raka tak menunggu kedua gadis itu sendiri, dia di temani pak Subhan agar tak ada fitnah.


Raka bahkan tak suka melihat tatapan Irma padanya, meski diasudah menolong ayahnya itu tak lantas membuat Raka bisa bersikap baik pada gadis itu.


pak Subhan memberikan sertifikat itu so saksikan oleh Raka, "sekarang kalian sudah selesai menjalankan tugas praktek kalian, dan semoga ilmu yang kalian dapat bisa di gunakan dengan baik ya," kata Raka.


"iya pak terima kasih," jawab keduanya.


tak lupa mereka berdua juga memberikan hadiah kenang-kenangan sebuah jam dinding.


pak Subhan yang menerimanya, dan setelah itu mereka pun di minta untuk berpamitan pada semua murid.


pak Jhoni yang melihat Raka pun menggodanya, "jangan di lihat terus nanti nyesel milih Wulan di banding mereka,"


"bukan menyesal, aku malah sangat bersyukur karena aku bisa menikah dengan gadis yang tepat dan yang aku cintai," jawab Raka.

__ADS_1


"iya deh yang sekarang udah bahagia, percaya aku," jawab guru olahraga itu.


__ADS_2