Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
aku tak suka


__ADS_3

pukul tiga dini hari, saat ada orang yang ingin ke pasar untuk belanja buat keperluan warung.


orang itu kaget dan langsung beteriak dengan keras, pasalnya dia melihat dua mayat disana.


"tolong!!! mayat!!!"teriak orang itu.


mendengar teriakkan seseorang, para warga pun bangun dan melihat apa yang tejadi.


bahkan tubuh Irma sudah terpisah dengan kepalanya, dan yang membuat seram mata gadis itu tetap melotot sambil menjulurkan lidahnya.


orang-orang pun memanggil pak Prapto dan memberitahu tentang kemalangan yang di alami putrinya.


terlebih Irma di ketahui tidak bisa berjalan selama beberapa Minggu ini karena lukanya, dan aroma kedua mayat itu begitu busuk padahal baru mati beberapa jam.


polisi datang dan melakukan rekonstruksi di tempat kejadian, dan juga menanyakan pada saksi yang menemukan mayat pertama kali.


pak Prapto menangis melihat kondisi putrinya yang mati dengan begitu mengenaskan, pak Suyatno dan Raka hanya melihat dari jauh saja.


Raka bisa melihat arwah gentayangan itu menyeret tiga orang di belakangnya, dan benar saja itu pak Sugandi yang menjadi korban ketiga.


"emm... gentayangan ini mah pasti," gumam Raka


"maksud mu piye le," pak Suyatno tak mengerti.


"dengan kematian Irma seperti ini yang sangat tak wajar, biasanya ini pasti akan jadi hantu penasaran selama empat puluh hari, dan biasanya akan meminta tolong atau maaf," terang Raka.


kini pak Sugandi juga sudah mati karena ulahnya, dan masih ada satu pria lagi, dan semoga setelah ini semua berakhir.


akhirnya polisi membawa kedua jenazah ke rumah sakit untuk di otopsi.


setelah selesai Keduanya pun di bawa ke rumah masing-masing, tapi di rumah Irma hanya sedikit orang yang melayat.


Wulan yang awalnya ingin pergi dilarang oleh Raka, daripada nanti di hina oleh keluarga itu lagi.


sedang di rumah pak Sugandi begitu ramai pelayat, terlebih pak Sugandi adalah orang yang terkenal dermawan. tapi keluarganya memilih jenazah langsung di bawa ke pemakaman desa.


begitupun dengan Irma, dan mereka di makamkan berdampingan, polisi mengatakan jika Irma di bunuh pak Sugandi dan kemudian pria itu mati karena serangan jantung kemudian mayatnya di gigit tikus.


terlebih di sekitar sana di temukan golok dan juga mayat wanita lain, dan yang lebih seram mayat wanita itu sudah rusak karena di potong-potong.


tapi polisi merasa janggal bagaimana bisa tikus makan daging manusia, terlebih baru kali ini mereka menghadapi kasus seperti ini.


raka hanya melihatnya dari jauh, dia harus terpaksa libur lagi dari yayasan, bukan apa sudah tiga hari dia terus libur.


beruntung Rafa mau mengantikan dirinya, dan sekarang warga pun memberi usul untuk mengadakan tahlilan di mushola karena tak mungkin harus ke rumah satu persatu rumah para Shohibul musibah.


setelah di sepakati acara tahlilan akan di adakan di jalan desa karena yang paling mendekati.


Raka dan para bapak mengatur agar setiap setelah sholat Magrib melakukan penutupan jalan untuk di adakan acara tahlilan.


Wulan sedang duduk sambil menonton tv, saat Raka datang dan langsung ikut tidur di pahanya.


"ada apa mas, kelihatan capek sekali?" katanya mengusap ribut suaminya.


"bukan lagi sayang, huh ... bapak-bapak disini beda sama di tempatku, karena disini mereka harus di panggil dan di undang dan tak ada inisiatif sendiri," gerutu Raka.


"ya tak semua orang memiliki pemikiran seperti mu mas, oh ya di desa ku masih percaya dengan putukan, kalau di desa mas," tanya Wulan.


"dulu iya, tapi setelah Rafa membabat habis semuanya, tak ada lagi yang percaya begituan," jawab Raka.


"huh ... sombongnya," kata Wulan.


"gak kok sayang, aku kan pria baik hati, ha-ha-ha" kata Raka tertawa.


sedang di rumah Mak nur terjadi kekacauan karena Rania yang ngambek karena Adri yang lupa tak membangunkan putrinya itu.


Nurul pun memijat kepalanya karena Rania yang terus menangis, "sayang jangan menangis lagi, lihat mata mu sudah sembab, bunda dan ayah minta maaf ya, ayah kan semalam lembur nak," kata Nurul mencoba membujuk.


"tapi Rania jadi tidak sekolah bunda," kata gadis kecil itu


"ya sudah maafkan bunda ya, sekarang Rania minta apa saja bunda belikan tapi maafin ayah juga ya, kasihan itu ayahnya sedih loh," bujuk Nurul sebisanya.


Rania pun menghampiri Adri yang duduk di dapur, pria itu memasang wajah murung.


"Rania sayang ayah, ayah jangan sedih seperti ini, maaf ya ..." kata Rania memeluk adri.


"ayah yang harusnya minta maaf," kata Adri mencium putrinya itu.


sedang di tempat Jasmin, Faraz nampak begitu senang tertawa sendiri.


Jasmin yakin jika ada yang sedang mengajaknya bermain,mungkin salah satu dari khodam milik Rafa.

__ADS_1


itu benar, Sesnag yang sedang mengajak Faraz bermain dengan menggoyang kasur bayinya.


Jasmin sedang memasak di belakang membantu Mak nur dan beberapa orang yang sengaja di perbantukan.


luna pun datang mengunjungi rumah mertuanya itu dengan mengajak putranya yang sudah berusia enam bulan.


rumah Mak nur pun ramai karrna itu, terlebih Rania yang juga ikut menjaga mereka semua.


"mbak Luna, Jasmin duduk dan coba dulu?", tawar Nurul.


"apa ini dek, kok kayaknya kue brownies tapi kok renyah," kata Luna penasaran.


"ini kesukaan dari Rania mbak, ini namanya brownies cookies," Jawab Nurul.


"wah ternyata adik ipar pintar buat kue ya, sama kayak wulan," puji Luna.


"tidak mbak, ini saja resep dari Wulan, oh aku tadi buat rujak buah, mau?" tawar Jasmin.


"boleh dong, ayo di keluarin Semuanya ya, ini nih yang aku suka kalau main ke sini," kata luna tertawa.


meski usia luna lebih muda dari Nurul, tapi luna adalah istri Rizal jadi bagaimana pun dia tetap urutan tertua di keluarga itu.


pak Suyatno sedang ke sawah saat melihat pak Laksono yang berburu membawa beberapa anjing besar miliknya.


"lagi cari apa pak?" tanya pak Suyatno.


"ini loh pak, saudara ada yang ingin makan biawak jadi saya berburu dan dapat dua lumayan lah," jawab pak Laksono.


"wah bapak hebat ya, saya kagum dengan anda," kata pak Suyatno yang langsung membuat pak Laksono tersanjung tinggi.


mereka pun pulang dengan segera, karena tiba-tiba langit terlihat mendung tapi ternyata tak hujan.


pak Suyatno pun saat pulang lewat kebun belakang, dia melihat bung (bambu muda) dan dua pun ingin mengambilnya.


dia pun mengambil linggis dan juga golok, Raka pun ikut menemaninya, "assalamualaikum Mbah, saya mau minta bung angsal Mbah?" tanya Raka.


penunggu di sana pun minggir, pak Suyatno pun dengan cekatan langsung mengambil tiga bambu muda yang masih tak sebegitu besar itu.


setelah selesai, Raka membantu membersihkan bambu itu dari kulit yang melindunginya.


sedang pak Suyatno mengambil beberapa daun salam, tak hanya itu ternyata ada lompong juga jadi sekalian panen.


"wah ini kesukaan eyang pak, boleh saya antar kesana?" tanya Raka.


"terserah bapak mawon," jawab Raka.


setelah itu, Wulan sudah mandi setelah shalat Dhuhur, begitupun dengan Raka yang sudah siap berkunjung ke rumah keluarganya itu.


Wulan pun sudah pergi bersama Raka, tak butuh waktu lama hanya sekitar lima belas menit karena mereka ini juga tetangga desa.


Rania yang melihat mobil Raka begitu senang, apalagi Wulan yang turun, gadis itu langsung berlari dan memeluk Wulan.


"halo cantiknya kakak," kata Wulan.


"mbak Wulan, Rania kangen," kata gadis kecil itu.


"aduh baru juga beberapa hari gak ketemu, ayo kita bantuin kakak Raka yuk," ajak Wulan.


Rania bingung kenapa ada banyak kresek dengan bentuk aneh di dalamnya.


"ya Allah nak kalian datang," sapa mak nur.


"iya eyang, ini ada sedikit titipan dari bapak," kata Wulan menyalami tangan Mak nur.


"ya Allah gowo opo ae Iki, onok lompong, bung Pring, tewel, telo rambat barang," kaget Mak nur.


"habis panen besar dek?" tanya Jasmin memeluk tubuh Wulan.


"belum mbak, ini kan tanaman yang biasa selalu ada di kebun belakang rumah," jawab Wulan.


"ini ya, bisa-bisa mas Rizal dan Adri senang bukan kepalang, orang semua bahan kesukaan mereka begini," kata Luna tertawa.


"iya mbak, tapi kalian makan disini yuk, kita buat liwetan sambel lompong," usul Nurul.


"aku mau makannya, tapi aku harus lihat sawah bentar, karena mau ketemu mang min diluk," pamit Raka pada istrinya dan tak lupa ciuman selalu di dapatkan Wulan.


"wes Ndang budal, buat wong pingin saja," usir Luna yang kesal.


Raka pun mengeluarkan motor milik wulan dan membawanya ke sawah, ternyata tidak lama lagi panen jagung.


"assalamualaikum pak, bagaimana apa pengairan lancar?" tanya Raka.

__ADS_1


"ajor juragan, untung kita punya diesel dan sumur sendiri jika tidak bisa perang, soalnya mataulunya pilih kasih," adu pak min.


"ya sudah tidak apa-apa, nanti kalau mau panen, cari orang yang mau panen dan oncek jagung di sawah ya, satu karung lima ribu," kata Raka.


"kemahalan juragan, di sini itu pasarannya tiga ribu satu karung," protes pak min.


"haik papa dong pak, saya kasihan kalau tiga ribu, oh ya biar saya nanti yang mengatur semua sawah di sini, karena Rafa akan sibuk dengan sawah di Tembelang," kata Raka.


"inggeh siap juragan, saya doakan semoga rezekinya makin lancar," kata pak min.


"amiin ya pak, ya sudah jika solar habis bilang ya, oh ya uangnya masih ada apa habis?" tanya Raka.


"masih dua ratus ribu juragan,"


"baiklah, bapak hati-hati ya,"kata Raka menepuk pundak pria itu.


pak min tak menyangka jika putra dari Akira dan Vian memiliki sifat yang baik menurun dari orang tuanya.


tak sengaja motor raka bertabrakan dengan motor milik Arif, ternyata dia sedang buru-buru.


"maaf ya mas, saya buru-buru tadi?" kata Arif.


"buru-buru juga gak papa, untuk aku gak luka, memang ada apa mas? kok sepertinya begitu cemas," tanya Raka.


"saya khawatirkan karena istri saya mu melahirkan, maaf permisi dulu ya," kata Arif yang langsung pergi.


raka pun mengangguk saja, ternyata Azizah sudah melahirkan cepat juga pikir raka.


dia pun memilih melanjutkan perjalanan pulang, dia pun sampai dan sudah mencium aroma yang sangat familiar.


"sambel tomat, ikan asin dan pindang, lalapan lompong, wih cocok Iki.." kata Raka tak sabar.


"cuci tangan dulu gih, dasar mas ini," kata wulan pada suaminya itu.


"iya dek, oh ya bude Luna aku tadi ketemu Arif, katanya istrinya melahirkan, berarti bude sekarang gak ada yang bantuin dong," kata Raka yang duduk di samping istrinya.


"kamu ini sok tau ya, orang Azizah masih bantu bude kok di toko, oh ya itu istri barunya, kamu tak tau jika seminggu setelah pernikahan Azizah di talak cerai oleh Arif," jawab Luna santai.


"apa? kok bisa bukankah mereka nampak serasi?" kaget raka


Jasmin sudah melihat perubahan di wajah wulan yang nampak tak bersahabat, dia tau jika wanita itu sedang cemburu.


"kenapa memangnya, harus lapor sama mas dulu kalau mau bercerai," ketus Wulan.


"ya bukan begitu dek, habis mereka kan sama-sama ngerti agama, terlebih Arif saat menikah begitu yakin pada Azizah," Kata raka.


"kenapa kamu kok kayak hak terima gitu?" tanya Luna.


"ya gak gitu, orang kelihatannya baik-baik saja kan aneh lek tiba-tiba cerai," jawab Raka yang tak sadar jika Wulan sudah cemburu.


"karena mbak Azizah sudah tidak perawan saat malam pertama mereka, mas puas sekarang," kata Wulan yang langsung memutuskan pergi meninggalkan semua orang.


"dek kamu kenapa? dek?" panggil raka


mak nur yang sedang membawa entong kayu pun memukul kepala Raka, "jadi orang kok gak peka, itu istrimu marah kamu bahas Azizah, dasar kamu ini," kata Mak nur.


"aduh jadi Sangkuriang beneran ini, pakek di getok pakek entong nasi segala?" lirih Raka.


"Raka!!" teriak semua wanita melihat pria itu.


sedang Wulan sudah masuk kamar dan menangis, entah kenapa dia masih merasa sakit mendengar Raka yang penasaran tentang hidup azizah.


dia tau jika Azizah juga sepupu jauhnya, tapi Raka itu suaminya dan di tak suka saat suaminya menyebut nama wanita lain apalagi ini di depannya.


"dek ... buka pintunya yuk, kamu belum makan, kasihan kamu dan dedek bayinya," bujuk Raka.


"mas pergi dulu, aku sedang ingin sendiri, nanti aku makan kalau sudah lapar ..." saut Wulan dari dalam kamar.


"maafkan mas dek, jangan seperti ini, mas mengaku salah, tapi jangan diamkan mas seperti ini," kata raka.


Rafa yang baru pulang dari yayasan sekolah yang di pegang Raka, heran melihat Raka yang duduk sambil bersandar di pintu kamarnya.


rafa pun tak mau menyapa takut salah, dia pun langsung kebelakang menyapa sang eyang dan istrinya.


"bun, itu di raja kenapa kok kayak orang sedih gitu?" tanya Rafa.


"Wulan ngambek gak mau makan, karena dia cemburu mas Raka membahas mbak Azizah yang sekarang sudah janda," terang Jasmin.


"cari penyakit sendiri ternyata," gumam Rafa yang bergabung dengan yang lain.


---------

__ADS_1


bung Pring



__ADS_2