Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Kegentingan


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 siang. Ayah Andre, ibu Ruri dan Afbi tak kunjung menemukan keberadaan Sherli. Mereka tak henti-hentinya mengelilingi komplek mencari putri bungsunya.


Ponsel Sherli yang terus berada digenggaman Afbi beberapa kali berbunyi karena notif pesan.


Namun, Afbi tidak menghiraukannya karena fokus mencari sang adik.


****


Sherli merasa lemah disamping Hongli, bukan karena perutnya yang kosong karena tidak mendapat asupan makanan dari tadi pagi. Namun, ia merasa lemas karena mengingat akan perasaan cemas keluarganya dirumah.


Hongli yang sedari tadi memandang Sherli dengan raut sedih di sampingnya, merasa sangat bersalah karena tidak bisa menolong gadis itu, bahkan untuk menopang tubuhnya sendiri ia merasa kesulitan.


"Hiks hisk" tangis Sherli pun akhirnya pecah setelah ia kukuh menahannya.


"Kak aku mau pulang" ucapnya mengoyang-goyangkan tubuh Hongli. Tangan Hongli terangkat mengelus rambut Sherli.


"Maafkan aku Sher, tunggulah sebentar saja hingga tubuhku sedikit pulih! Aku akan memulangkanmu" ucapnya sedih.


Hongli sangat membenci dirinya untuk saat ini, juga kepada ibundanya yang telah membawa paksa Sherli demi dirinya.


Sherli menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia tak henti-henti mengeluarkan airmata pilunya.


Ceklek!


Pintu terbuka, Sherli dan Hongli sontak melihat kearah sumber suara. Ibunda Calista muncul menampakkan dirinya.


Sherli bangkit dari duduknya ia segera menghampiri wanita paruh baya tersebut dan memohon untuk dipulangkan.


"Bibi! Tolong antarkan aku pulang, pasti orang tuaku sedang mencemaskanku" ucapnya menangkupkan kedua tangannya.


Namun, ibunda Calista tidak memperdulikannya, ia melewati Sherli begitu saja dan menghampiri sang putra.


Melihat sang ibunda, Hongli merasa sangat kesal, ia memaksakan dirinya untuk duduk,


"Mama, kenapa mama seperti ini? Cepat pulangkan Sherli!" ucap Hongli.


Ibunda Calista duduk disamping putranya dengan sangat tenang.


"Bukankah kamu mencintainya? Mama membawanya untukmu," jawabnya santai.


Hongli merasa geram akan sikap sang ibunda.


"Tapi bukan seperti ini, Ma! Sherli memiliki keluarga pasti mereka cemas. Sekarang cepat antarkan dia pulang!" bentak Hongli.


Ibunda Calista memandang datar sang putra seraya berkata, "Kau membentak Mama hanya karena gadis ini? Apa kau tahu, Nak? Dia tadi mengatakan tidak ingin menemuimu lagi bahkan saat kau sedang sekarat? Dia bahkan memiliki kekasih dan membiarkanmu kesakitan disini, apa itu adil? Apa kau rela dia memadu kasih dengan kekasihnya sementara kau sedang terbaring lemah karenanya?" ucap ibunda Calista memprofokasi.


Hongli terdiam ia tidak percaya jika Sherli akan melakukan itu, mengingat kemarin mereka baik-baik saja.


"Mama pasti bohong, Sherli tidak akan mengatakan hal itu" bantah Hongli.


Ibunda Calista tersenyum sarkas, ia menoleh pada Sherli yang tengah mematung ditempatnya.


"Kau tidak mau mengatakan yang sejujurnya pada putraku?" tanya ibunda Calista.


Sherli terdiam membisu, ia tidak menyangkalnya karena memang ia telah membulatkan niatnya akan hal itu.

__ADS_1


"Lihatlah, Nak! Diamnya sudah membuktikan ucapan Mama" ujar ibunda Calista pada putranya.


Hongli terdiam, meskipun ia telah mencoba merelakan Sherli, namun hatinya merasa sakit untuk menerima kenyataan yang ada, ia merasa tidak adil jika gadis itu tidak mau menemuinya lagi. Bahkan ia mengorbankan dirinya untuknya, namun apa yang dia dapatkan.


Hongli bangkit berdiri, seketika tubuhnya menjadi kuat karena dikelabuhi amarah, ia mendekati Sherli dengan tatapan tajam sehingga membuat gadis itu menciut takut dan memundurkan tubuhnya.


Ibunda Calista tersenyum kecut melihatnya, ia segera keluar dari kamar putranya dan kembali mengunci pintu, ia membiarkan sang putra menyelesiaikan gadis itu sendiri.


Perasaan marah telah menutup hati wanita paruh baya tersebut, ia merasa Sherli pantas mendapatkan ganjaran dari tangan Hongli sendiri.


Sherli merasa sangat takut melihat pintu kembali terkunci, disaat yang bersamaan tubuh Hongli tinggal selangkah kearahnya. Ia kembali melihat kilatan merah dimata Hongli beberapa waktu lalu.


Hongli menghimpit tubuh Sherli, tangan gadis itu ia kunci di samping kanan dan kirinya.


"Kenapa kau mau meningalkanku?" teriaknya memenuhi ruangan.


"Bukankah aku telah banyak berkorban untukmu, dan apa balasannmu? Bukankah kemarin kau telah berjanji akan terus berteman dengaku!" imbuhnya dengan suara masih meninggi.


Sherli menangis sejadi-jadinya ia sangat takut akan situasi yang bahkah tidak memberikannya ruang untuk bergerak bebas.


"Maafkan aku, Kak!" ucapnya sesenggukan.


Hongli mencengkram lengan Sherli, ia menyeret gadis itu dan membantingnya di atas ranjangnya.


"Akh" pekik Sherli saat lengannya terbentur dinding dengan begitu keras.


Hongli membuka laci nakas, ia mengambil gelang lengan yang telah ia lepas waktu lalu, dan kembali memasangkannya pada lengan Sherli.


"Akh sakit!" teriak Sherli.


Sherli merasa sangat lemah disekujur tubuhnya hingga pandangannya kabur dan dia pun pingsan.


Hongli memandang tajam wajah Sherli, ia melepaskan cengraman di lengan gadis itu yang terlihat begitu banyak darah.


Hongli kembali merasakan detak jantungnya melemah, ia menjatukan tubuhnya disamping tubuh Sherli dan menarik kepala gadis itu mengarah tepat dijantungnya.


"Mungkin ini egois, tapi aku tidak akan membuatmu hidup tenang jika kau mengabaikanku setelah apa yang aku lakukan " batin Hongli. Lalu ia memejamkan matanya karena merasa sakit ditubuhnya hingga kesadarannya menghilang.


****


Ponsel Sherli terus saja berdering hingga membuat Afbi frustasi dibuatnya. Namun, saat melihat ponsel sang adik, panggilan masuk menyambutnya membuat Afbi mengeryit heran.


"Kak Felix terkasih" gumam Afbi yang melihat nama yang terpampang saat itu.


Dengan wajah datar Afbi mengangkat ponsel sang adik.


"Halo sayang? Kamu kemana saja? Kenapa sulit dihubungi?" ucap Felix disebrang.


Afbi sangat geram mendengar suara seseorang yang tidak asing di telinganya.


"Sayang?" ucapnya dingin.


Felix membeku ditempatnya, ia tidak mengira Afbi yang akan mengangkat ponselnya.


"Ma-maaf Afbi aku bisa menjelaskan semuanya" ucap Felix terbata.

__ADS_1


Afbi merasa sangat marah pada temannya tersebut, ia sungguh merasa kecolongan akan adiknya sendiri.


"Apa yang ingin kau katakan lagi? Dimana Adikku?" ucap Afbi marah.


Felix mengeryit heran ia menghubungi Sherli karena ingin mengajaknya keluar, malah mendapatkan pertanyaan aneh dari temannya diseberang.


"Apa maksudmu, Bi? Aku menghubungi adikmu karena mencarinya kenapa kau malah menanyakan dirinya kepadaku? Sherli kemana?" tanya Felix heran.


Afbi sangat kesal mendengar ucapan Felix, fikirannya dipenuhi amarah dan anggapan yang tidak-tidak akan adiknya yang dilakukan oleh temannya itu.


"Kau mau berpura-pura tidak tahu? Sherli menghilang dari tadi pagi" teriaknya.


Felix membulatkan matanya mendengar perkataan Afbi. Ia segera memutuskan panggilan dan menuju rumah gadis itu. Afbi merasa sangat marah karena fikiran negatifnya pada temannya tersebut.


Ia melangkahkan kaki kembali kerumahnya, saat baru masuk di ruang tamu ia melihat kedua orangtuanya terduduk dengan wajah pilunya, sang ibu bahkan menangis tersedu-sedu memikirkan nasip sang putrinya.


"Bu aku belum menemukan Adik" ucap Afbi frustasi menjatuhkan tubuh disofa .


Tidak lama kemudian, mobil Felix tiba dirumah Sherli. Ia bergegas turun menuju rumah yang pintunya sedang terbuka itu.


Afbi memandang tajam kearah Felix, ia bangkit dari duduknya dan menyambar kerah baju temannya itu.


"Diamana adikku?" teriaknya.


Ibu Ruri dan ayah Andre terkesiap melihat amarah putranya, mereka menghampiri Afbi yang tengah berusaha memukul laki-laki itu.


"Afbi apa yang kau lakukan?" teriak ayah Andre.


Ibu Ruri menjauhkan tubuh Felix dari putranya, yang sedang ditahan oleh ayah Andre.


"Apa yang sedang kau lakukan, Nak? Adikmu sedang menghilang jangan menambah masalah!" teriak ibu Ruri.


Afbi memandang tajam kearah Felix. "Apakah kalian tahu, pria ini telah mengencani putri kalian? Dan mungkin saja hilangnya Sherli adalah ulahnya" ucap Afbi marah.


Ayah Andre dan ibu Ruri memandang Felix spontan.


"Apa itu benar, Nak? " tanya ayah Andre pada Felix.


"Om, Tante saya mengakui telah mengencani putri kalian, tetapi saya bersumpah tidak menggetahui akan hilangnya putri kalian saat ini" ucap Felix meyakinkan.


"Bohong!" sela Afbi marah.


Ayah Andre merasa sangat marah mendengar perkataan Felix, namun ia berusaha menahannya karena amarahnya tidak akan menyelesaikan masalah pikirnya.


Ia mencoba memberikan Felix kesempatan menjelaskan demi dapat bertemu putri bungsunya apapun yang terjadi.


Ayah Andre menyuruh Felix masuk dan duduk diruang tamu agar keributan mereka tidak menjadi pusat perhatian para tetangga.


.


.


.


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya terimakasih yang telah membaca ❤

__ADS_1


__ADS_2