
Keputusan orangtua Sherli, menjadikan Sherli tidak jadi berangkat kesekolah karena dirinya demam. Perasaannya yang telah tenang, kembali terguncang setelah Hongli mendatanginya. Felix yang mengetahui Sherli sakit lewat pesan, merasa sangat cemas akan keadaannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pesan dari Felix beberapa saat lalu, sedikit menenangkan hati Sherli yang kembali tertekan. Setelah mengetahui Felix akan mampir. Ia segera menuju kekamar mandi untuk mencuci wajahnya, berharap rasa kantuknya tidak kembali lagi.
Setelah keluar dari kamar mandi, Ia bergegas menuju kamarnya.
Sesaat setelah berada dikamar, Sherli terduduk lalu menyilangkan kedua tangannya menggosok kedua bahunya. Ia merasa tubuhnya sangat sakit meskipun demamnya sudah turun.
Suara mobil menghentikan aktifitasnya. Ia segera bangkit melihat kearah sumber suara. Sherli mengembangkan senyumannya saat mengetahui ternyata Felix yang datang. Ia segera membukakan pintu untuk menyambutnya.
Felix yang melihat Sherli, segera menghampiri dirinya.
"Kenapa keluar tidak menggunakan jaket?" tanya Felix cemas. Ia meletakkan punggung tangannya di kening Sherli untuk memeriksa suhu tubuh Sherli.
"Aku sudah baik, Kak!" Sherli berusaha menyembunyikan rasa nyeri ditubuhnya. Ia tidak mau membuat Felix kawatir.
"Mungkin suhu tubuhmu sudah turun, tetapi wajahmu sangat pucat, ayo masuk!"
Felix mengajak Sherli untuk masuk kedalam rumahnya. Ia tidak mau kedatangannya malah membuat sakit Sherli semakin parah dengan berada diluar terlalu lama.
Namun, saat Felix memegang bahu Sherli, untuk mengajaknya masuk, Sherli meringkukkan tubuhnya.
"Aduh, Kak sakit! Tolong jangan ditekan bahuku!" seketika Felix melepaskan tangannya.
Dia menyadari sedari tadi Sherli berpura-pura sudah sehat.
"Lihatlah bahkan tubuhmu bisa lebih jujur, jangan membohongiku! kamu masih sakit!" tegas Felix.
"Maaf, Kak! Aku tidak mau membuatmu khawatir," jawab Sherli menyesal.
"Ya sudah, ayo masuk!" Sherli mendahului Felix masuk kedalam rumahnya. Ia mempersilahkan Felix untuk duduk di ruang tamu.
"Tunggu sebentar, Kak aku akan mengambilkanmu minuman."
"Tidak usah! duduklah kembali! Aku sudah membawakanmu makanan." Sherli kembali duduk di samping Felix.
Felix membuka bungkusan yang dia bawa.
"Kamu sudah makan?" Sherli menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Kenapa?" tanya Felix.
Sherli menundukan kepala, " Aku tadi menunggu ibu pulang karena ingin makan bersama ibu, tapi ibu harus pulang terlambat karena pekerjaannya," mendengar ucapan Sherli, Felix turut sedih.
Dia mengangkat wajah Sherli sambil tersenyum.
"Sudah jangan bersedih lagi. Aku kan sudah disini, aku yang akan menemanimu makan," Sherli tersenyum pada Felix.
Dia sangat bahagia, karena untuk sekarang ini dia benar-benar membutuhkan seseorang disampingnnya.
Mereka makan tanpa adanya suara, sesekali Felix melirik Sherli yang makannya sangat sedikit dan juga lambat.
"Kenapa hanya makan sedikit? Kamu tidak suka makanannya?" tanya Felix.
"Tidak, Kak!"
"Lalu kenapa kamu terlihat tidak berselera?"
"Pedas!"
"Kamu tidak bisa makan pedas ya? Maafkan aku Sayang aku tidak mengetahuinya." Felix segera mengambil sup yang Sherli makan, ia sungguh menyesal karena malah membuat Sherli semakin menderita.
Sherli menghentikan tangan Felix, ia merasa tidak enak karena laki-laki itu sudah bersusah panyah membawakannya makanan.
__ADS_1
"Jangan, Kak! Tidak apa-apa, aku akan memakannya." Felix tidak menggubrisnya dia tetap membungkus sup itu di kantung sampah.
"Jangan menyiksa dirimu, sekarang makanlah ini!" Felix membuka makanan baru, yang tidak ada rasa pedas untuk Sherli.
"Maaf ya, Kak!" ucap Sherli menyesal.
Felix mengangkat tangannya untuk membelai kepala Sherli, " Sanyang jangan seperti itu, aku kemari ingin membantumu untuk lekas membaik. Jika kamu makan itu tadi kamu bukannya sembuh tapi malah semakin sakit," ucapnya lembut.
"Sekarang makanlah, jam sudah menunjukan pukul dua kamu harus minum obat!" Sherli segera menghabiskan makanannya.
Setelah selesai Felix membersihkan bekas bungkus makanan mereka. Dia menyodorkan beberapa obat kepada Sherli untuk segera meminumnya.
"Kak aku sudah punya obat dikamar."
"Yang kamu punya pereda demam, ini untuk pereda nyeri, cepat minumlah," titah Felix.
Sherli segera mengambil obat tersebut dari tangan felix lalu meminumnya. Setelah selesai mereka melanjutkan berbincang.
"Kak besok jadi pergi?" tanya Sherli.
Felix menoleh yang sedari tadi melihat isi ponselnya,"Tergantung padamu, jika kamu masih sakit aku tidak akan memaksamu. Tapi aku tetap akan kemari besok setelah kerja!" jawab Felix.
"Baiklah, Kak!" jawab Sherli.
Felix melihat jam di layar ponselnya, jam telah menunjukan hampir pukul tiga.
"Sayang sudah hampir pukul tiga, ibumu akan segera pulang kan? Aku akan kembali."
"Iya, Kak! Ayo aku antar kedepan,"
"Tidak usah! Cepat masuk kekamarmu istirahatlah, aku pulang dulu!"
"Terimakasih, Kak!"
Setelah memastikan mobil Felix tidak terlihat, Sherli masuk kedalam kamarnya. Karena obat yang diberikan oleh Felix, ia merasa mengantuk lalu tertidur.
***
Sherli mendengar suara dari arah dapur, ia berfikir jika ibunya sudah kembali. Sherli bangkit untuk mendudukan tubuhnya dia mengelus kedua bahunya.
"Kak Felix benar, tubuhku sudah terasa tidak sakit," gumamnya.
Sherli bangkit menuju dapur untuk menghampiri ibunya.
"Bu, pulang jam berapa tadi?" tanya Sherli.
"Jam tiga sayang. Bagaimana badanmu sudah enakan?" tanya ibu Ruri sambil memotong sayuran.
"Sudah, Bu!"
Karena tidak yakin Ibu Ruri memegang keningnya untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Syukurlah kamu sudah sehat, demammu sudah turun."
"Ibu pulang jam tiga? Untung saja kak Felix segera pulang tadi, bisa gawat jika terlambat sedikit saja," Sherli menghela nafas.
***
Jam menunjukan pukul tujuh keluarga Sherli berkumpul untuk makan.
Setelah beberapa saat hanya dentingan sendok yang terdengar. Ayah Andre membuka percakapan.
"Sayang gimana badanmu sudah membaik?" tanya Ayah Andre.
"Sudah yah, aku sudah sangat sehat," jawab Sherli.
__ADS_1
"Syukurlah, sekarang makanlah yang banyak! " Sherli menganggukan kepala, lalu melanjutkan makan.
*
Setelah selesai Sherli pamit menuju kamarnya. Ia berniat menanyakan pada Nia apakah ada tugas tadi. Sherli mengambil ponselnya dan segera mengetikan pesan.
"Nia, apa tadi ada tugas?" ~ Sherli.
"Tidak ada Sher, tadi pulang awal karena para guru ada kegiatan besok jadi tadi ada rapat," ~ Nia.
"Kamu sakit apa Sher?" ~ Nia.
"Oh syukurlah berarti aku tidak ketinggalan materi, aku hanya sedikit kelelahan. Sekarang sudah membaik," ~ Sherli.
"Syukurlah, istirahatlah yang banyak Sher!" ~ Nia.
"Iya Nia, terimakasih." ~ Sherli.
Karena tidak ada tugas, Sherli berniat untuk istirahat lebih awal. Ia menghampiri meja belajar mengambil obat karena tubuhnya marasa nyeri lagi. Setelah meminum obat ia segera merebahkan tubuhnya di ranjang.
***
Afbi berjalan-jalan di halaman depan, ia mencari udara segar untuk merilekskan tubuhnya setelah lelah bekerja. Tak lupa kopi digelas plastik menemaninya.
Karena kopi digelasnya sudah habis. Afbi bergegas membuang gelas plastiknya lalu masuk kedalam rumah.
Ketika petutup tempat sampah akan diletakkan, pandangannya terfokus pada kantung yang agak besar.
"Aku tidak mengingat membuang ini?"
Afbi membuka sedikit kantung itu memeriksa apa isinya.
" lKotak makanan, apa tadi ada tamu? Aku akan tanya pada Sherli."
Afbi bergegas menutup tutup sampah, lalu beranjak menuju kamar Sherli.
Tok tok tok!
"Dek?"
Mendengar suara sang kakak Sherli menyahutinya.
"Masuklah, Kak, tidak dikunci!"
Afbi bergegas masuk kedalam kamar Sherli.
"Dek tadi ada tamu ya?"
Sherli yang fokus pada ponselnya, terdiam seketika. Dia menoleh kearah Afbi.
"Ti-tidak, kenapa memangnya, Kak?" tanyanya tergagu.
"Ditempat sampah terdapat bungkusan makana, makanya aku bertanya kepadamu."
"Tidak, Kak, tidak ada tamu tadi!" Sherli mencoba meyakinkan kakaknya.
Ia benar-benar tidak menyangka sang kakak akan meriksa tong sampahnya.
"Oh munhkin tetangga, baiklah kalo begitu, istirahatlah kembali!"
Karena sudah mendapatkan jawaban, Afbi segera keluar dari kamar Sherli.
"Syukurlah" Sherli menghela nafas.
Ikuti terus ya teman-teman! Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views :). Karena dukungan kalian sangat memberikan semangat author, terimakasih.
__ADS_1