Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
dukun abal-abal


__ADS_3

mereka tetap berkumpul meski sudah selesai membahas semuanya, tapi Wulan dan jasmin sedang berdua duduk sambil ngemil mangga muda.


entah tadi Rizal iseng memberikan kedua wanita itu mangga yang berada di depan rumahnya yang memang sedang berbuah.


di bandingkan dengan Jasmin, eulani begitu menyukai rasa mangga muda itu.


terlebih begitu enak di lidahnya, tak hanya itu Rizal juga memberikan makanan juga.


apalagi Mak nur sedang menginap di rumahnya, sedang Adri juga berada di rumah mertuanya.


Rafa dan Raka pulang setelah menyelesaikan segalanya, tapi betapa terkejutnya mereka melihat dua gadis itu ngemil buah asam itu.


"aduh ... kalian berdua ini, malam-malam kok malah makan beginian," kata Raka sedikit marah dan merebut rujak mangga itu.


"mas raka balikin dong, lagi enak nih," kata Jasmin memohon.


tapi tanpa terduga malah Wulan yang ngambek dan berlari ke kamar, melihat itu Rafa menepuk bahu saudaranya.


"selamat kamu sudah membuat istrimu ngambek, jadi kamu pasti tidur di luar nanti malam bareng nyamuk," ejek Rafa.


"brengsek ..." kata Raka memberikan rujak itu pada saudaranya dan menghampiri sang istri.


"kamu kenapa dek? maaf ya mas cuma tidak ingin kamu sakit kalau malam-malam begini makan rujak mangga muda seperti tadi," bujuk Raka pada Wulan.


"mas jahat, aku hanya ingin memakannya saja, kenapa sampai membentak begitu," kesal Wulan sambil mendorong Raka.


"baiklah-baiklah, mas minta maaf ya sayang, sekarang apapun yang kamu minta mas berikan tapi jangan menangis lagi ya," kata Raka memohon.


"aku ingin menginap di rumah ibu, sekarang," jawab Wulan.


"baiklah, kamu bersiap dulu biar aku berpamitan ya, jadi jangan sedih lagi ya," kata Raka tak bisa menolak kalau tidak bisa gawat dunia persilatan.


Raka pun buru-buru menghampiri Rafa dan berpamitan, pria itu mengerti dan mengiyakan untuk hal itu.


Wulan datang dengan tas besar, rafa kaget melihat itu, "kamu mau menginap berapa hari Wulan?"


"hanya sehari kok mbak, besok sore aku pulang saat mas Raka pulang mengajar, memang Kenapa?" tanya Wulan yang menatap bingung.


"kok barang mu banyak sekali?" tanya Jasmin.


"mas Raka selalu meminta jatah dan tak kenal waktu, jadi aku harus menambah baju ganti lebih," jawab Wulan jujur.


rafa tertawa mendengar itu, sedang raka tak habis pikir dengan istrinya yang selalu berkata jujur pada Jasmin.


"ya sudah kami berangkat dulu, wassalamu'alaikum ..." pamit keduanya pergi sebelum Rafa mengatakan hal-hal aneh lagi.


mobil Raka sudah berangkat ke desa sebelah tempat mertuanya, di dalam mobil Wulan melihat ke arah jalan desa.


"dek kamu masih marah?" tanya Raka yang fokus menyetir.


"tidak kok, cuma lagi lihat jalan soalnya lagi pingin makan bakso Mbah Joss, yang di pertigaan sekolah dasar itu loh mas, jadi jangan ngebut ya," kata Wulan.


"baiklah, dan semoga Mbah Joss gak jualan," bisik raka lemah.


tapi tak terduga, ada penjual lain di sana, meski rombong milik Mbah Joss itu masih di tempat biasanya dia jualan, tapi saat melihat dengan seksama dia melihat sedikit hal aneh.


tapi dia tak bisa menolak, hanya saja dia tak mau istrinya semakin sakit karena makan bakso pedas setelah makan mangga kecut.


tapi saat mobil itu berhenti, Wulan tak jadi turun karena di atas rombong bakso itu ada sesosok mahluk yang sedang menjatuhkan air liurnya ke dandang bakso.


"itu bukan Mbah Joss mas..." kata Wulan ketakutan.


"bener kok dek, lihat saja rombong dan nama di gerobaknya, tapi kenapa yang jualan lebih muda," kata Raka yang tak habis pikir.


"ayo pergi mas, aku mual ..." kata Wulan memukul lengan Raka panik.

__ADS_1


Raka pun langsung menancap gas menjauhi gerobak itu, sesampainya di rumah mertuanya.


Wulan langsung muntah di lubang pembuangan sampah di samping rumah, dia tak bisa menahannya lagi.


Raka membantunya dan memerintahkan Suni untuk mengusir pocong penglaris itu.


dan dengan mudah Suni membuat pocong itu pun kembali pada pemiliknya.


Wulan pun lemas seketika, dan Raka langsung menahan tubuh istrinya itu dengan sigap.


kemudian dia mengendong Wulan, dan kebetulan kedua mertuanya pulang dari luar.


"loh ada apa nak?" panik Bu mut melihat Wulan yang berada di gendongan suaminya.


"hanya sedang mual saat tau bakso langganannya ada penglaris ya Bu," jawab Raka.


"dasar gadis ini, itu memang gerobak Mbah Joss karena gerobak itu di jual, tapi bukan Mbah Joss sudah tak jualan, dia sekarang jualan di rumah dan sering menerima pesanan untuk pernikahan, ini tadi ibu bawakan saat tau Mbah joss masih belum tutup tadi," kata Bu mut.


"tapi aku sudah tak ingin Bu, aku ingin tidur saja," jawab Wulan lemas.


"nih anak Kenapa sih, tumben-tumbenan kayak gini, ya sudah nak ayo masuk,kasian kamu pasti kelelahan habis tubuh Wulan yang berisi ini harus di gendong," kata pak Suyatno.


"tidak apa-apa pak,saya sudah biasa," jawab Raka tersenyum.


mengendong Wulan bukan beban baginya, karena dia suka melihat istrinya yang begitu manja di pelukannya.


Raka menidurkan Wulan di kamar gadis itu, kemudian Bu mut datang dan menyuapi Wulan.


sedang Raka memilih bermain catur bersama sang mertua di luar, betapa tidak ini yang Raka dan pak Suyatno sukai.


tak lam ada penjual sate yang lewat, tapi anehnya penjual itu terlihat terburu-buru.


"masih sore padahal, tapi kenapa orang itu begitu buru-buru," kata pak Suyatno yang ingin memanggil penjual itu.


"itu bukan sate biasa pak, dia sedang buru-buru karena ingin mengejar pasar ghaib, karena di samping kuburan desa ini terkenal sebagai psar ghaib, yang sangat ramai," kata Raka.


"jika bapak jual sate gagak, pasti akan ada yang beli, dan berapapun harga bapak menjual sate itu," jawab raka tertawa melihat reaksi mertuanya.


"kamu pernah ke pasar itu nak?" tanya pak Suyatno tak percaya.


"sebenarnya kami dulu sebelum menikah, kami sering bermain di sana untuk melihat manusia yang menjual berbagai hal, bahkan jiwa mereka atau bahkan keluarga mereka," Jawab Raka.


"wah bapak tak mengira ada hal seperti itu, tiba-tiba kok jadi pingin makan sate ya, tapi serem apalagi harus meninggalkan ibu dan Wulan di rumah," kata pak Suyatno.


"biar khodam saya yang menjaga mereka, bapak pamit dulu ke ibu dan wulan, Suni ... ki Antaboga ..." lirih Raka memanggil dua khodam miliknya.


Ki Antaboga adalah khodam pemberian nyai Nawang untuk menjaga Raka dan Wulan.


"baiklah nak, mereka juga mau, ternyata istrimu benar-benar tak mau makan bakso tadi," kata pak Suyatno.


"mari pak, kita naik motor saja biar cepat," jawab Raka.


"siap nak," jawab pak Suyatno yang naik ke jok belakang motor.


mereka pun keluar meninggalkan rumah, dan tak lama banyak arwah yang mengincar rumah pak Suyatno.


tapi semua di bakar hangus oleh Ki Antaboga, dan suni yang mencabik semua arwah yang ingin menganggu Wulan.


naga Jawa itu bahkan melingkari rumah itu dengan tubuhnya, dan Suni menjaga bagian depan dengan siaga penuh.


bagi orang yang bisa melihat kedua hal itu, maka akan melihat betapa seram di khodam itu.


sedang Raka tertawa bersama sang mertua, tapi Rafa beberapa kali menghindari penjual sate terdekat.


mereka pergi cukup jauh, bahkan warung itu begitu sepi, bahkan pak Suyatno tak tau ada warung di sekitar sana.

__ADS_1


"tapi kenapa harus sejauh ini nak, tadi ada dua warung yang kamu hindari loh," kata pak Suyatno bingung.


"ini sate langganan saya dan Rafa, dan sepertinya seseorang mulai mengerjai pemilik ini lagi," kata Raka.


"bapak tidak mengerti nak, bapak masuk dan pesan dulu ya," kata pak Suyatno.


"biar saya pak, karena saya sudah kenal pemiliknya,"


Raka pesan cukup banyak karena ingin membagikan sate itu, dan melarang penjualnya yang sebentar lagi mau tutup.


"mbak nik, boleh minta garam dan air gak," tanya Raka.


"ambil sendiri di dapur den," kata istri sang penjual.


Rafa berdiri di samping pak Toha yang sedang membakar sate, kemudian dia berdoa dan melempar garam itu ke arah depan warung.


tiba-tiba terdengar suara benda jatuh di belakang warung, Raka tertawa melihat mahluk itu.


"kembali pada pengirim mu jika tak mau binasa di sini," gumam Ra mengancam arwah itu.


tak lama terlihat ada sebuah pohon kecil yang bersinar, kemudian Raka menyiramkan air doa di dalam gelas itu dan membuat pohon itu mati.


tiba-tiba banyak orang yang berhenti ke warung itu. "ya Allah pak Toha, saya tak mengira sekarang bapak bukanya malam ya, padahal saya sudah kangen makan sate di sini," kata para langganan warung sate itu.


pak Toha terdiam mendengar itu, Raka mengangguk dan akhirnya warung itu sangat ramai.


sampai pak Suyatno pun membantu mencatat pesanan, karena mbak nik kewalahan.


bahkan Raka pun tak segan membantu membakar sate juga, "pak lain kali kalau ada orang yang datang memberikan apapun, tolong di tolak,karena itu bisa mencelakai anda," kata Raka yang sibuk membalikkan sate.


"iya nak, dan terima kasih atas semuanya," jawab pak Toha.


tak lama anak-anak pak Toha datang membantu, Raka dan pak Suyatno pun pulang.


awalnya pak Toha melarang Raka membayar, tapi Raka tak bisa menerima kebaikan itu.


dia pun tetap membayar makanannya, dan memberikan sedikit informasi tentang bagaimana melancarkan rezeki.


dan pak Toha akan mengikuti permintaan Raka, yaitu untuk menggratiskan anak yatim yang ingin makan setiap hari Jum'at.


dan itu bisa menjadi ladang pahala berlimpah untuk keluarga pak Toha, saat dalam perjalanan pulang.


pak Suyatno masih tak percaya dengan yang dia lihat dan alami, menantunya begitu baik mau menolong sua orang.


"ih ya pak, bagaimana dengan teman bapak itu, apa dia sudah puasa empat puluh hari, jika belum aku dan Rafa belum bisa membantunya," kata Raka.


"aku juga belum kesana, baiklah besok pagi biar bapak tanya ke keluarganya," jawab pak Suyatno.


saat sampai rumah, Raka bisa melihat apa yang terjadi, sedang pak Suyatno tak tau apapun.


pria itu bahkan dengan santai masuk rumah, sedang Raka menerima laporan dari dua khodam miliknya.


"kamu mau main dengan ku dukun licik,dia belum tau mau menghadapi siapa," gumam Raka yang berdiri di depan pintu melihat bola api yang melihat kearahnya.


dia melemparkan keris miliknya dan langsung bola api itu meledak dengan sangat keras.


"Binoso!" teriak Raka.


dukun itu terpental dan muntah darah, dia tak mengira jika kekuatan Raka tak kalah dari Rafa.


bahkan khodam milik Raka lebih mengerikan di banding milik Raka. belum lagi ada satu lagi khodam besar yang masih tersimpan.


"goblok, aku kalah Ambi arek kroco, dontok en ae aku mesti iso njupok mustika iku tekan Rogo bojone, aku dukun Mujib gak onok seng Oso ngalahno aku," kata dukun itu dengan marah.


tapi dia belum tau jika saudara kembar itu bersatu, di tambah Wulan Mala dia yang bisa mati.

__ADS_1


bahkan dukun Suryo saja bukan tandingan ketiganya, yang memiliki ilmu abadi.


__ADS_2