Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
liburan sekaligus baby moon


__ADS_3

sedang di Surabaya, Rafa dan Jasmin benar-benar menikmati waktu mereka berdua.


Jasmin belum mengajak suaminya untuk ke rumah orangtuanya lagi, karena Rafa tak suka dengan tatapan Windi padanya.


seperti hari ini, Anis, Fandi dan Ersa bertemu keduanya di daerah sunan Ampel.


karena malam ini, Rafa ingin mengajak istrinya itu berdoa dan mengunjungi makan wali itu.


Rafa bisa melihat berbagai hal ada di sana, tapi kebanyakan adalah jin muslim yang banyak.


mereka berlima berdo'a terlebih dahulu, setelah itu mereka makan di sebuah toko yang menyediakan masakan timur tengah.


setelah itu Rafa mengajak semuanya berkeliling di pasar untuk mencari oleh-oleh untuk semua orang.


"dek, tolong belilah gamis kembaran, tapi yang satu beli ukuran yang besar ya," kata Rafa.


"loh memang buat apa mas?" tanya Jasmin bingung.


"beli saja, suatu saat kamu akan tau, tapi tolong beli dengan ukuran paling besar," kata Rafa.


Jasmin pun menurut saja, toh suaminya tak mungkin membeli tanpa ada sesuatu yang tak berguna.


setelah membeli gamis, mereka pun kembali berjalan bersama menikmati suasana kota Surabaya.


"mas ... lapar ..." kata Jasmin mengejutkan semua orang.


"aduh sayang, kamu baru saja makan loh, kok lapar lagi?" kaget Anis.


"kan belum makan nasi Bu, jadi belum kenyang," jawab Jasmin lirih.


"kita beli nasi sambel mas," usul Ersa.


"tidak boleh, mbak mu gak boleh makan pedas," kata Rafa dan Fandi bersamaan.


"terus?" tanya Ersa.


"kita cari warung Padang aja, terus bungkus nasinya," kata Rafa.


"siap mas, tapi aku makan bakwan tadi ya," kata Jasmin yang sudah berbagi dengan Ersa.


"untuk sayang badan kamu gak mbedah, bisa kayak apa kalau kmu makannya Seperti ini," kaget Anis.


"gak papa Bu, asal keduanya sehat, aku sih tak masalah jika istriku nanti gemuk, toh nanti juga ada temennya," kata Rafa tertawa.


"apa maksudnya sih, bikin bingung kamu itu," kesal anis.


"sudah lah bu nanti juga tau, oh ya dek beberapa Minggu lagi, Azizah menikah, apa kamu mau datang?" tanya Rafa.


"loh bukannya gadis itu yang akan ta'aruf dengan mas Raka?" tanya Jasmin.


"tak jadi dek, Raka membuat gadis itu mundur dengan mengatakan segalanya," jawab Rafa.


"berarti belum jodoh, oh ya ibu coba nanti Carikan gadis yang baik untuk Raka, tak perlu khawatir, karena Raka pria yang baik, pasti akan banyak wanita yang mau dengannya," kata Anis.

__ADS_1


"iya Bu, tolong segera ya, kasihan tinggal dia sendiri yang belum nikah, kan om Adri juga udah nikah," kata Rafa usil.


"gampang, udah nanti aku kabari, atau nanti aku main ke Jombang, sekalian ajak gadisnya," kata Anis senang.


"tapi kalau mas Raka ngamuk gimana? dia kan sering marah kalau kita bahas pernikahan untuknya," kata Jasmin takut.


"tak perlu khawatir, karena itu akan jadi tanggung jawabku sayang," kata Rafa menenangkan istrinya.


mereka pun sampai di warung yang pernah di rekomendasikan oleh Ahong.


rumah makan itu nampak kecil tapi begitu bersih, "mas ... tolong bungkus nasi lima puluh bingkus ya," kata Rafa.


"iwak opo mas?" tanya penjaga itu.


"sembarang," jawab Rafa yang duduk menunggu di mobil.


"dek kamu bawa uang pecahan lima puluh ribu?" tanya Rafa.


"adanya cuma pecahan seratus ribu, itupun hanya tujuh puluh lembar," jawab Jasmin.


"ya sudah, sini mas pinjam dulu ya, nanti mas kembalikan," kata Rafa.


"ini juga uang mu loh mas, jadi ya gak papa loh," kata Jasmin.


Rafa pun kembali ke warung dan meminta plastik kecil, untuk membungkus uang dan di masukkan ke dalam bungkusan nasi itu.


sekitar satu jam akhirnya pesanan selesai, bahkan Anis ikut membantu, sedang Ersa menemani Jasmin di mobil.


Anis tersenyum melihat kebaikan Rafa yang menurun dari orang tuanya, dia teringat bagaimana Vian dulu.


akhirnya nasi pun habis, tapi kebaikan itu tak berhenti, kini Rafa berhenti di sebuah minimarket dan belanja beberapa kantong kresek sembako.


setelah itu di bagikan pada orang yang masih bekerja di malam hari.


setelah itu mereka semua pun sampai di apartemen, Jasmin dan Rafa si antar pulang.


besok mereka akan berkunjung ke rumah pak Handoko untuk berpamitan pulang ke kampung.


malam ini Jasmin sudah tidur karena kelelahan, Rafa pun memilih berdzikir sambil duduk.


kemudian pria itu tertidur dalam posisi bersila,sambil memegang tasbih di tangannya.


dia pun terbangun pukul setengah tiga pagi, dan ini sudah kesiangan baginya.


tapi tak masalah, dia juga tak membangunkan Jasmin yang nampak masih kelelahan.


setelah sholat malam, Rafa melanjutkan untuk membaca Al-Qur'an.


sedang Raka mencoba membangunkan Wulan dengan memanggil nama gadis itu sebanyak tiga kali.


pukul setengah tiga pagi, Wulan terbangun karena merasa namanya di panggil.


dia pun memutuskan untuk mandi dan menjalankan sholat malam, Bu mut yang bangun pukul tiga kaget melihat Wulan sudah sholat.

__ADS_1


"terima kasih ya Allah," lirihnya melihat putri kesayangannya itu.


adik Wulan yang juga terbiasa di pondok juga bangun untuk sehat malam.


"ibu sedang apa?" tanya Fahri.


"lihat mbak mu le, Alhamdulillah sekarang dia makin dengan dengan Gusti Allah," kata Bu mut.


"Alhamdulillah Bu, ya sudah adik ambil wudhu dulu dan sholat di kamar saja kalau begitu, takut ganggu mbak," jawab bocah laki-laki itu.


saat mengaji, Raka teringat wajah teduh Wulan, kemudian dia mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.


dia tak menyebutkan nama, dia hanya ingin di berikan jodoh yang baik dan bisa menghormati dirinya dan keluarganya, dan juga mengerti agama dengan baik.


pagi hari, Rafa dan Jasmin sudah siap berkunjung ke rumah pak Handoko.


mereka juga sudah sarapan terlebih dahulu, karena bagi Rafa akan butuh tenaga ekstra menghadapi keluarga istrinya yang unik.


padahal di awal dia dihina, dan sekarang pasti berubah setelah kemarin pulang dari pertemuan pengusaha.


mereka datang dengan mobil yang cukup mencolok di banding deretan mobil di garasi rumah itu.


saat sampai pun terlihat Windi dan Diah menunggu keduanya, kemudian baru pak Handoko yang datang.


"aku rasanya gak mau turun dek," kata Rafa.


"terus aku harus gimana dong mas, ayolah Kita hampiri sebentar saja untuk berpamitan," kata Jasmin.


"baiklah sayang, apapun permintaan mu, tapi aku Mohon lindungi aku dari adikmu itu, yang menatapku begitu mengerikan ..." lirih Rafa.


"mas aneh ya, sama hantu dan jin gak takut, tapi sama Windi takut?" tanya Jasmin mengejek.


"karena adikmu lebih mengerikan di banding hantu dan jin," bisik rafa mengandeng istrinya.


keduanya pun bersalaman dengan para orang tua, setelah itu Rafa langsung berlindung di balik tubuh istrinya.


Windi ingin menggandeng kakak iparnya, tapi Jasmin terus menghalangi.


apalagi Rafa juga tak mau jauh dari istrinya itu, "nak Rafa sini loh duduk dekat ayah," panggil pak Handoko.


"maaf ya yah, semenjak Jasmin hamil, mas Rafa jadi manja gini, apalagi orangnya juga tak mau jauh dari Jasmin." kata Jasmin.


"baiklah kalau begitu, kelihatannya nak Rafa sayang banget sama Jasmin," kata Bu Diah sedikit tak suka.


"pasti Bu, siapa yang gak cinta sama, istri cantik, Sholehah dan pintar masak, dan pintar rawat suami, mau butuh yang gimana lagi, buat ayah yang punya anak gadis ini, terima kasih sudah memberikan istri yang Sempurna untukku," kata Rafa yang terus memeluk Jasmin.


"kamu ini bicara apa, aku yang harusnya bersyukur bisa memiliki menantu yang begitu mencintai istrinya seperti dirimu," kata pak Handoko.


"tidak kok ayah, aku cuma pria biasa, oh ya sebenarnya kami ke sini ingin berpamitan, karena kami harus kembali ke desa," kata Rafa.


"kenapa nak, tidak menetap disini saja, toh pekerjaan mu banyak di sini kan," kata Bu Diah.


"tidak bisa Bu, lagi pula di sini ada orang yang mengawasinya, dan saya hanya sesekali datang memeriksa," jawab Rafa dengan sopan.

__ADS_1


__ADS_2