
Hongli memandang Sherli yang tengah menyantap makanannya. Ia tau betul bahwa gadis didepannya sedang tidak berselera untuk itu.
Namun, suka atau tidak suka Hongli ingin gadis itu menghabiskan makanan dipiringnya meskipun dengan memaksanya.
Sherli merasa sangat sakit saat mengunyah makanan dimlutnya, seakan ia sedang memakan hatinya dengan begitu brutal saat Hongli terus mengawasinya.
Tangan Hongli terangkat, ia menyentuh lengan Sherli yang terbuka, ia mencoba memeriksa legan gadis itu yang sebelumnya terluka karena ulahnya.
"Akh!" pekik Sherli saat Hongli mengenai luka yang beberapa inci ternganga itu.
"Masih sakit ya?" tanya Hongli cemas.
Sherli sungguh sebal mendengarkan ucapan laki-laki itu, untuk apa dirinya memekik jika tidak sakit, pikirnya.
Ia tidak menjawab pertanyaan Hongli dan melanjutkan makannya.
***
Bibi Jen dan Felix menghampiri seseorang yang tengah berkebun di pinggir kastil.
"Permisi?" ucap bibi Jen.
Seseorang tersebut menoleh pada bibi Jen lalu tersenyum.
"Iya! Ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang itu.
"Maaf sebelumnya, aku Jenika dan ini keponakanku Felix. Kami baru tiba dari perjalanan jauh dan kami sedang kehabisan makanan, bisakah kami mendapatkan pekerjaan di kastil ini, Tuan?" ucap bibi Jen ramah.
"Oh baiklah! Panggil saja aku Yuwen! Kastil ini milik temanku. Aku disini mengurus dibagian obat-obatan. Kebetulan sekali aku membutuhkan seseorang untuk menyiapkan obat-obatan karena temanku putra sang Ratu dan kekasihnya sedang sakit" ucap seseorang yang ternyata adalah Yuwen.
Felix mengeryit mendengar kata kekasih dari mulut Yuwen, ia berfikir jangan-jangan itu Sherli.
"Baiklah! Kalian bisa mulai bekerja dikastil ini sekarang denganku! Tugas kalian mengumpulkan tanaman herbal, di ujung utara dan ujung timur!" Yuwen memberikan kotak masing-masing pada bibi Jen dan Felix.
Mereka segera berpencar untuk melakukan tugas masing-masing.
Felix sungguh dipenuhi fikiran khawatir, ia benar-benar takut jika yang dikatakan Yuwen itu adalah kekasihnya.
Dan sekarang ia sedang sakit, dan mungkin saja gadis itu akan seruangan dengan mahluk yang telah membawanya kemarin.
Dan bagaimana jika Sherli sakit karena dilukai, semua fikiran itu terus memenuhi fikirannya. Ia segera menyelesaikan tugasnya agar bisa bertemu dengan Sherli.
*
Tabib Feng membawakan ramuan untuk Sherli, ia segera berjalan menuju kamar tuannya tersebut.
TokTok!
Hongli menoleh pada pintu yang diketuk, namun tidak dengan Sherli.
"Masuk!" teriak Hongli.
__ADS_1
Tabib Feng masuk kekamar Hongli saat telah mendapatkan izin.
"Tuan! Saya membawakan obat untuk kekasih, Anda!" ucap tabib Feng.
Hongli tersenyum mendengarkannya, ia sungguh bahagia karena sang gadis pujaannya akan sembuh sebentar lagi.
Hongli mengambil obat tersebut, lalu menyuruh tabib Feng untuk keluar dari kamarnya.
Pada waktu yang sama Sherli telah menghabiskan makannya dengan bersusah payah.
"Sekarang minumlah obat ini!" titah Hongli.
Sherli memandang datar pria itu, entah obat apa yang sedang dihadapannya ini, ia sungguh takut jika Hongli akan mencelakainya.
Bagaimanapun juga Sherli tidak ingin berakhir ditempat yang bahkan bukan dunianya itu.
"Obat apa ini, apa racun untukku?" ucap Sherli.
Hongli mendatarkan rautnya, ia sungguh kesal akan ucapan Sherli.
"Ini obat untukmu agar kau sembuh, dan lagi aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja, camkan itu!" tegasnya.
Sherli mau tidak mau terpaksa meminum obat tersebut yang dirasa sangat aneh dimulutnya.
Hongli memandang aktifitas Sherli, fikirannya berputar tanpa arah. Ia sungguh ingin Sherli tunduk pada setiap perintahnya seperti waktu awal.
Namun, karena situasi yang sedang terjadi menjadikan gadis itu mulai membencinya.
Hongli mengambil gelas obat yang isinya telah kandas diminum Sherli, Sherli benar-benar acuh tak memperdulikan Hongli.
Hongli mengobati Sherli dengan penuh kasih dan menahan amarahnya.
"Apa mendingan?" tanya Hongli.
Namu, Sherli tak menjawab ataupun menoleh.
"Aku sedang bertanya, jawab aku!" tegasnya meninggi.
Sherli masih tak bergeming dengan pandangan kearah lain. Hongli melempar obat dari Tabib Feng yang telah ia oleskan pada lengan Sherli.
"Pyar!" suara cawan obat itu pecah menghantam pintu. Membuat Sherli terkejut dan menoleh kesumber suara.
Hongli memandang tajam Sherli dengan nafas memburu menahan amarah, ia langsung menarik rambut Sherli hingga gadis itu merebahkan tubuhnya mengikuti tarikan tangan yang dirasa sangat menyiksanya.
"Akh sakit!" pekik Sherli.
Hongli memandang tajam gadis itu seakan ingin memakannya hidup-hidup karena marah.
"Kau jangan membuatku marah, tunduklah padaku jika kau dan keluargamu ingin selamat!" teriak Hongli memenuhi ruangan.
Sherli memejamkan matanya mendengar teriakan yang sangat menyakiti telinganya itu.
__ADS_1
"Lepaskan! Sakit...!" tegas Sherli tak merasa takut akan ancaman Hongli.
Hongli melepaskan cengkramannya di rambut gadis itu.
Ia bangkit keluar membanting pintu kamar. Sherli memandang punggung Hongli takut, entah apa yang akan pria itu lakukan sekarang, Sherli terus memandang kearah pintu menantikan apa yang akan terjadi berikutnya.
Tidak lama kemudian Hongli kembali kekamar dengan bola kaca ditangannya. Ia menghampiri gadis itu dengan wajah dipenuhi amarah.
"Kau masih tidak mau tunduk padaku? Baiklah! Akan kau lihat apa yang akan aku lakukan."
Hongli menunjukkan bola yang dia genggam, seketika muncul gambar ayah, ibu, dan kakak Sherli yang tengah duduk melingkar seperti berdiskusi.
"Ayah, ibu, kakak" teriak Sherli saat melihat pantulan keluarganya di bola kaca tersebut.
"Lihatlah! Apa yang akan kulakukan!" ucap Hongli menyeringai, tiba-tiba ayah Andre memekik kesakitan memegangi rambutnya.
"Ayah!" teriak Sherli, airmata gadis itu mulai meleleh dengan derasnya.
"Kak, aku mohon jangan sakiti keluargaku! Aku akan menuruti semua keinginanmu dan aku akan tunduk padamu, aku mohon!" ucap Sherli menangis pilu, sambil menarik lengan Hongli.
Hongli tersenyum sinis ke arah Sherli, karena rencananya berhasil. Ia segera meletakkan bola kaca tersebut didalam laci dan kembali memandang Sherli yang masih menangis pilu.
"Sudah jangan menangis!" tegas Hongli menghapus airmatanya.
Sherli menekan kesedihannya didalam dada sekuat tenaganya agar tidak meloloskan airmatanya lagi, karena takut Hongli kembali murka. Sherli hanya menjawab dengan anggukan kepala cepat.
"Sekarang peluk diriku!" ucap Hongli.
Sherli tanpa berpikir panjang langsung berhambur memeluknya dengan terpaksa, ini semua demi ayah dan ibu juga kakak, pikirnya.
Hongli mendekap tubuh kecil Sherli, ia mengelus punggung dan kepala gadis itu lembut.
"Aku mencintaimu, Sher! Aku akan mencari cara agar kita bisa menikah" ucap Hongli.
Sherli membulatkan matanya, ia tidak mau jika harus sampai menikah dengan pria disampingnya tersebut.
Ia hanya diam membisu dan menyembunyikan kesedihannya didalam batinnya.
Ceklek!
Ibunda Calista membuka pintu kamar Hongli, ia hanya terdiam melihat sang putra sedang memeluk Sherli, dan bahkan keduanya tidak menyadari akan kehadiran dirinya.
Ibunda Calista memandang sendu ke arah putra semata wayangnya, terlihat guratan senyum menghiasi wajah putranya yang tengah sakit itu.
"Apapun yang terjadi, Hongli harus bahagia meskipun harus kukurung gadis itu untuknya" batin ibunda Calista.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
Terimakasih atas dukungannya ❤.