Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Kita Akan Lalui Bersama!


__ADS_3

Felix menelan makanan dimulutnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Sherli.


"Apakah perlu alasan untuk bermanja dengan istri sendiri?" tanya Felix yang langsung memeluk perut Sherli dari samping.


Cup!


Gadis itu mencium kilas kepala Felix.


"Tentu tidak, Sayangku!"


Felix tersenyum akan ciuman yang ia peroleh, ia segera menegakkan tubuhnya dan menyerong menghadap Sherli. Membuat gadis itu memandangnya penuh tanda tanya.


"Ada apa?" tanya Sherli polos.


"Kau semakin berani ya?"


Felix menarik tubuh gadis itu dengan cepat hingga pisau dan garpu yang Sherli pegang terjatuh dilantai.


"Kakak?" Suara Sherli tercekat saat jarak diantara mereka hampir terkikis habis.


Bahkan mereka dapat merasakan hembusan nafas menerpa wajah masing-masing.


Gadis itu terdiam kaku karena gugup. Felix yang melihat Sherli tak berani berkutik semakin sengaja diam lebih lama.


"Kakak, aku capek!" ucap gadis itu manja dengan wadah sendu.


Felix menelan ludahnya dengan berat, ia sungguh merasa terpancing akan respon polos istrinya.


"Kau terus saja memancingku!" ucapnya tersenggal.


"Hah?" Sherli manatap polos manik mata Felix.


Tangan Felix bergerak mengelus punggung Sherli dan berhenti pada kepala gadis itu. Dengan perlahan Felix mencium bibirnya, gadis itu tidak menolak. Ia berusaha menikmati setiap keinginan lelaki yang telah menjadi suaminya itu.


Karena merasa masih ada jarak, Felix menganggkat tubuh Sherli duduk dipangkuannya dengan posisi menghadap kearahnya.


Ciuman Felix turun menyusuri leher jenjang gadis itu. Membuat Sherli memejamkan matanya.


"Kenapa tubuhku panas dan kepalaku pusing?" batin Sherli.


"Kak?"


Sherli meremas rambut Felix saat lelaki itu menggigit dan meninggalkan tanda didada dan lehernya.


Felix segera menarik kepalanya setelah puas akan apa yang ia perbuat. Manik matanya menatap Sherli yang wajahnya telah bersemu merah.


Felix mengerti akan apa yang dirasakan istrinya, ia segera menarik kepala Sherli dan ia benamkan pada dadanya.


Dengan nafas tersenggal gadis itu menurut, ia memejamkan matanya menikmati nyamannya dekapan suaminya.


Felix terdiam, ia membiarkan gadis itu pulih terlebih dahulu. Setelah merasa cukup tenang, Felix mengelus lembut rambut Sherli.


"Apa yang kamu rasakan, Sayang? Apa aku menyakitimu?" tanya Felix.

__ADS_1


Sherli mengangkat kepalanya, ia segera memandang manik mata Felix yang tengah menunggu jawabannya.


"Tidak, Kak! Aku hanya merasa sedikit pusing."


Felix mengulum seyumannya.


"Sepertinya dia tidak faham apa yang dia rasakan."


"Tapi kamu menikmatinya, atau tidak?"


Tanpa berfikir panjang Sherli mengangguk lemah.


Felix tersenyum bahagia melihat respon polos istrinya. Ia tidak akan mengambil kesempatan lebih hingga gadis itu benar-benar paham dan siap.


Tangan Felix terangkat mengelus puncak kepala Sherli dengan lembut.


"Aku hanya akan sebatas itu hingga kamu benar-banar siap." Felix mengecup kilas bibir Sherli.


Sherli tersenyum pada Felix, hatinya sangat bahagia akan pengertian lelaki itu. Ia sangat bersyukur karena telah menikah dengan lelaki dihadapannya sekarang.


"Terimakasih, Kak!" Sherli menghadiahkan kecupan di bibir Felix dan jakunnya.


"Sudah! Nanti aku ingin lagi. Ayo kita lanjutkan makan!"


Sherli segera turun dari pangkuan Felix. Ia mendudukkan kembali tubuhnya disamping pria itu.


Melihat pisau dan garpu yang telah berserakan di lantai, Sherli segera mengambil peralatan baru didekat tangannya. Ia mulai memotong kembali daging steak yang teracuhkan beberapa saat lalu.


Garpu segera ia tusukkan pada daging, dan menyuapkannya pada Felix.


Sherli bersandar pada dada bidang Felix sambil mengaksikan acara ditelevisi.


Lelaki itu pun tidak diam begitu saja. Ia selalu punya cara untuk menjahili istrinya, terkadang bibirnya berlarian menuju kepala, leher bahkan dada istrinya. Tangannya juga tak henti-hentinya menjelajahi tubuh gadis itu. Membuat Sherli tak henti-hentinya mengeluarkan suara yang ia inginkan.


"Sudah Kak! Hentikan! Aku lelah!" Suara berat terdengar dari mulut gadis itu.


Felix tersenyum dan menghentikan tangan jahilnya. Ia segera mengapus keringat dikening dan leher Sherli hasil perbuatannya.


"Baiklah-baiklah, aku hentikan!" Felix memeluk lembut tubuh Sherli dan berusaha fokus pada acara televisi.


Sherli terdiam, ia masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal. Sejujurnya gadis itu bahagia akan tindakan Felix. Namun, ia juga belum siap melanjutkan lebih dari itu.


Gadis itu yang sedari tadi tersenyum bahagia, tiba-tiba memudar senyumannya.


"Besokkan bulan purnama? Bagaimana jika kak Hongli benar-benar akan mengambilku?"


Ekor mata gadis itu melirik Felix yang tengah fokus pada acara televisi. Gadis itu tidak ingin merusak suasana indahnya bersama lelaki yang begitu ia cintai sekarang.


Sherli segera memeluk erat tubuh Felix untuk meredam perasaannya sendiri.


"Semoga saja kita masih dapat bertemu lusa nanti!" batin Sherli pedih.


Felix yang menyadari perubahan sikap Sherli, mengeryit heran. Ia segera melepaskan pelukan Sherli dan menangkup dagunya.

__ADS_1


"Kamu menangis lagi? Kenapa? Apa aku menyakitimu tadi?" ucap Felix cemas. Gadis itu menggeleng sebagai jawaban.


"Lalu kenapa?"


"Tidak ada apa-apa, Kak! Aku hanya bahagia bisa bersamamu!" jawab Sherli berbohong.


"Jangan membohongiku! Aku sudah bilang jika perasaanmu sedang sedih ceritalah agar aku bisa merasakan juga," ucap Felix lembut.


Sherli tidak kuat akan perasaannya, tangisannya pun pecah memenuhi ruangan dan kembali memeluk tubuh Felix. Felix semakin panik melihat istrinya menangis dengan kencang.


"Kamu kenapa, Sayang?"


Tangan Felix mengelus puncak kepala dan punggung Sherli dengan lembut, berharap gadis itu lebih tenang.


Sherli segera mengangkat wajahnya dari dada Felix, dengan derai airmata ia mencoba untuk mengutarakan isi hatinya.


"Kak! Besok adalah malam bulan purnama. Bagaimana jika dia benar-benar akan mengambilku? Aku tidak ingin jauh darimu ...." Ucap Sherli tanpa menyurutkan airmata.


Tangan Felix menangkup lembut wajah Sherli, perlahan jarinya menghapus airmata yang membasahi pipi gadis itu.


"Sayang tenanglah! Aku akan selalu disampingmu! Kita akan melawan mereka. Aku berjanji akan menjagamu!"


Felix segera mendekap kembali tubuh Sherli. Ia terdiam, sejujurnya ia juga merasa takut itu terjadi. Felix semakin mengeratkan pelukannya, seoalah takut istrinya tersebut menghilang jika lengah sedikit saja.


"Sudah merasa baikan?" tanya Felix.


Sherli menarik tubuhnya dari dekapan Felix, ia segera mengangguk lemah sambil menghapus airmatanya.


"Baiklah! Ayo kita tidur!"


Tangan Felix segera mengenggam pergelangan Sherli. Gadis itu ia bimbing menuju kamar.


Sherli segera merangkak dan merebahkan tubuhnya disamping Felix. Lelaki itu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Hampir setengah jam mereka terdiam akan fikiran masing-masing.


Sherli benar-benar merasa cemas hingga tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur. Felix pun sama, ia berusaha memikirkan solusi apa untuk esok jika mahluk itu benar-benar datang.


Sherli mendekatkan tubuhnya pada Felix, ia menarik tangan lelaki itu dan menjadikan lengannya sebagai bantal. Gadis itu segera memeluk perut suaminya dan mencoba untuk memejamkan mata.


Felix tersenyum melihat kelakuan istrinya tersebut.


Ia segera fokus pada gadis yang sedang ada didekapannya, dan menepis rasa cemas dihatinya.


"Apapun yang terjadi kita akan lalui bersama!"


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan like, coment, vote dan rate.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya ❤.


__ADS_2