
Raka pun merasa khawatir, karena dari dalam tak terdengar suara Wulan bicara atau apapun di dalam kamar.
entah kenapa dia punya ide gila mendadak, Raka mendobrak pintu kamar miliknya dan akhirnya pintu itu pun hancur.
sedang Wulan yang berada di dalam kamar pun kaget setengah mati karena ulah suaminya.
"mas pintunya rusak itu!" kesal Wulan.
Raka pun langsung memeluk istrinya itu, "maafkan aku dek, jangan begini, aku sakit kalau kamu diamkan begini, aku salah, seharusnya aku tak membahasnya lagi, karena harus ada hati yang aku jaga, yaitu istriku yang cantik ini," kata Raka
"kamu jahat mas, aku memang tak secantik dan sesempurna mbak Azizah, aku cemburu saat kamu menyebut namanya seperti tadi, aku tau jika dulu dia adalah orang yang pernah hampir ta'aruf dengan mu," kata wulan menangis sesenggukan.
"tidak, kamu itu lebih baik dan sempurna di banding wanita manapun, jadi jangan ngomong seperti itu ya, aku hanya mencintaimu," kata Raka.
"aku tak suka, aku cemburu mas..." kata wulan memukuli dada Raka gemas.
"ah sakit sayang, sakit ...." kata Raka yang langsung bisa membuat istrinya itu tersenyum.
Rafa yang kaget pun melihat adiknya biru, tapi dia tak mengira jika Raka mendobrak hingga membuat pintu kamar hancur.
"dasar pria gila, kamu bisa minta kunci cadangan kamar mu di Mak, kenapa harus mendobraknya,bikin kerjaan saja," kesal Rafa.
"reflek bro, he-he-he," jawab Raka cengengesan.
"ya sudah, ajak istrimu makan dulu, kasihan dia sedang hamil tuh," kata Rafa.
"siap bang," jawab Raka yang langsung mengendong wulan.
"mas aku bisa jalan," bisik Wulan malu.
"tidak boleh, ini semua permintaan maaf ku," kata Raka.
sesampainya di dapur, ternyata yang lain sudah sibuk untuk menyiapkan bahan untuk membuat sayur lodeh.
Raka pun begitu perhatian terhadap istrinya, bahkan Wulan tak di ijinkan untuk makan sendiri.
bahkan Raka menyuapi istrinya dari tangannya langsung, Luna, Nurul dan Jasmin. yang melihat pun di buat senyum-senyum sendiri.
"aduh di sini penuh cinta ya, si kembar selalu romantis dengan istrinya ya, bikin iri deh," kata Luna.
"jangan bilang begitu dong bude, padahal kalau di rumah bude, pakde lebih bucin dari kami," sindir Rafa.
"gak papa dong, kan udah sah," jawab Luna.
"lah itu tau bude," kata Raka.
"iya deh, iya..." kata Luna yang kalah dari kedua saudara itu.
tak lama Adi juga datang setelah pulang dari sekolah dan akan kembali untuk latihan bola.
"bunda, aku berangkat lagi ya, mau latihan bola karena bulan depan ada lomba," pamit Adi.
"makan dulu Adi," kata Raka.
"aku udah makan, mau uang saku aja boleh?" kata remaja itu.
"ini buat beli es,"
Adi begitu senang saat menerima uang saku Lima puluh ribu, tapi yang ternyata ada tiga lembar yang di berikan oleh Wulan.
"makasih mbak wulan," kata Adi yang langsung berlari pergi.
remaja itu memang benar-benar tak bisa diam, terlebih setelah Luna menjadi ibu sambungnya.
Adi seperti melupakan semua masa lalunya yang begitu pahit, dan sekarang dia menjadi kakak dari dua adik.
__ADS_1
dan Rizal selalu membebaskan apapun hobi putranya itu, tapi tetap mengawasi dan mengendalikan.
tapi Adi tetap putra yang akan begitu dekat dengan Luna, bahkan Luna tau siapa saja gadis yang sering memberikan coklat pada putranya itu.
"wah sebentar lagi bude bakal mantu, lihat saja itu bocah baru kelas tiga SMP tapi sudah setinggi itu dan ganteng lagi," puji Jasmin.
"maklum bibit unggul dong, belum masih lama, dia minimal harus selsai kuliah dulu," kata Rizal yang Baru datang dan langsung mengendong putranya.
"loh bunda, kakak Elsa mana?" tanya Rizal
"tadi ikut Mak dan bapak, lihatkan bedanya pengantin lama yang di cari anaknya, kalau pengantin baru di sosor terus," kata Luna mencebikkan bibirnya.
Rizal pun mencium kening istrinya dengan mesra, "ciye pakde ...." goda semua orang.
rumah Mak nur begitu ramai, terlebih Raka yang tak mau lepas dari istrinya, di takut jika Wulan akan marah lagi.
sore hari Wulan dan Raka pun pamit pulang, saat di jalan Wulan melihat penjual cilok.
"mas stop, aku mu beli ya," kata Wulan.
"baiklah," jawab Raka.p
Wulan pun turun dan langsung pesan cukup banyak, apalagi Fahri juga suka jenis makanan seperti itu.
"sayang jangan di campur itu sausnya, kamu itu kebiasaan soalnya!" omel Raka.
"iya mas iya," kata Wulan.
"bang tolong di pisah ya, itu suami saya sudah sensi duluan," kata Wulan tersenyum.
"loh, mbaknya udah nikah, kok mukanya kayak anak-anak gitu," ledek penjual itu.
"bang jangan suka godain istri orang loh, nanti kena karma," kata raka kesal.
"idih si Abang mah cemburuan, saya kan cuma tanya saja," jawab penjual cilok.
"wah ada apa ini?" tanya raka yang membantu istrinya turun.
"nak Raka dan nak Wulan saya mau minta maaf, tolong bantu saya untuk sembuh, ini sakit terlebih putriku juga sudah meninggal dunia," kata Bu Prapto dengan menangis.
"iya bude, saya sudah memaafkan, bagaimana dengn mu ma?" tanya Wulan.
"insyaallah sudah, asal ibu tak mengulangi perbuatan buruk lagi, atau mungkin nyawa anda yang akan melayang," Kata raka.
"iya nak terima kasih, ibu akan ingat itu," kata Bu Prapto.
Wulan pun masuk dan mengambil segelas air putih, kemudian berdiri di depan Raka.
raka pun membaca ayat memohon kesembuhan, begitupun dengan Wulan.
kemudian keduanya meniup air itu baru memberikannya kepada Bu Prapto.
"mungkin setelah minum air itu, ibu akan kesakitan, tapi terus berdoa dan pasrah pada Allah jika ibu akan sembuh," kata raka.
"terima kasih nak," jawab bu Prapto yang di bantu pak Prapto untuk minum air itu.
setelah itu mereka pun membawa Bu Prapto untuk pulang, sedang Wulan pun meminta Fahri memanaskan cilok yang tadi di beli.
sedang di rumah Bu Prapto, ustadz Arifin sedang berdoa dan tak lama Bu Prapto muntah darah, paku, silet bahkan beberapa kelabang hidup.
kemudian wanita itu terus kesakitan tapi yang terakhir dia memuntahkan darah segar dan semua pun sudah berakhir.
"Alhamdulillah, semua santet sudah di hilangkan tadi, ibu saya mohon ini terakhir, jika sampai anda melakukan hal seperti ini lagi, saya tidak janji bisa menyembuhkan anda," kata ustadz Arifin.
setelah sholat magrib, semua orang sudah bersiap menggelar doa di jalan kampung.
__ADS_1
bahkan mereka juga melakukan makan bersama yang di berikan oleh keluarga wulan.
semua orang begitu senang saat tau ada yang menjamin memberikan makan setelah berdoa.
semua orang pun makan dengan aman, terlebih saat memasak Suni menjaga agar tak ada yang ingin berbuat buruk.
setelah makan banyak warga yang memutuskan untuk berbincang sambil menunggu isya.
terlebih Raka akan mengatakan hal jujur pada warga desa, karena Raka merasa kasihan jika warga desa ketakutan karena teror.
kini semua sedang berkumpul di jalan lagi, dan mereka sedang berbincang-bincang.
Fahri dan beberapa remaja sudah di minta untuk membeli cemilan untuk warga.
setelah itu mereka pun ikut berkumpul lagi, "sebelumnya saya ingin meminta maf jika ucapan saya akan menyinggung beberapa keluarga, yang sebenarnya terjadi adalah para arwah yang sudah meninggal setiap malam akan meminta tolong dan maaf pada semua orang, karena mereka masih terikat," kata Raka.
"terus apa yang harus kami lakukan nak Raka?" tanya semua orang.
"sebenarnya masih ada satu orang lagi yang di incar, tapis semoga tak terjadi, dan saya mohon sedalam-dalamnya, untuk bisa memaafkan mereka yang telah mendahului kita," mohon Raka.
"itu benar bapak-bapak, saya juga memohon untuk anda tidak memiliki dendam pada mereka," kata ustadz Arifin.
semua pun mengangguk, akhirnya terlihat arwah Irma menangis di depan wulan.
"mas ... irma sudah tenang," kata Wulan.
"Alhamdulillah, tapi masih tiga orang yang belum," jawab Raka yang disambut bingung oleh ustadz Arifin.
Raka menyentuh tangannya, ustadz Arifin tak percaya melihat arwah ketiganya.
tapi tiba-tiba rantai di tangan mereka terputus dan sang arwah gentayangan tersenyum.
tapi kemudian dia melemparkan rantai di leher pak Laksono dan langsung memaksa arwah pria itu keluar dari tubuhnya.
dan semua orang panik melihat semua anjing pak Laksono keluar dan menggigit tubuh pria itu yang sudah mati.
Raka pun menyiram air untuk mengusir para anjing itu, dan kemudian pak RW memeriksa bagaimana kondisinya ternyata sudah meninggal dunia.
mereka pun mencoba menghubungi keluarganya tapi tak ada yang bisa di hubungi.
"pak RT dan pak RW, mending kita lakukan persiapan pemakaman terlebih dahulu, sambil menunggu dan mencari keluarganya," usul Raka.
Rafa yang mengetahui akan adanya masalah, memutuskan ingin menginap di rumah mertua Raka.
benar saja, semua yang di rasakan, Rafa menyentuh jenazah dan melihat semua perbuatan biadab yang di lakukan.
"akan sulit meminta maaf pada semua orang yang di sakiti, coba telpon semua orang yang ada di ponselnya dari huruf M sampai Z," perintah dari rafa.
"apa gila banget, sebanyak itu wanita korbannya," kaget Raka.
"ya Allah, mulut mu Raka, diam dong," kesal Rafa.
tapi mereka melihat arwah pak Laksono, "kalian bisa mengkremasi diriku, karena semua perbuatan ku akan ku tebus dengan caraku."
"baik pak," jawab Raka
"maaf bapak-bapak, karena pak Laksono berbeda keyakinan, lebih baik kita melakukan perawatan jenazah sesuai dengan agamanya, dan jenazah seharusnya di kremasi," kata Rafa.
"baiklah kalau begitu aku hubungi petugas yang biasa melakukan itu," kata ustadz Arifin.
arwah pemimpin pembawa rantai itu melihat Raka dan langsung menghampiri pria itu, "selamat tinggal, senang berkenalan dengan mu, dan pocong teman mu itu terlalu cerewet tapi kamu kuat bersamanya,"
"terima kasih, aku juga senang mengenalmu," kata Raka
arwah itu pun pergi bersama dengan arwah pak Laksono, sedang baru kali ini pak RT, pak RW dan pak lurah melihat mayat di kremasi.
__ADS_1
dan benar saja semua orang yang di hubungi tak ada yang mau memaafkan pria itu.