Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Sakit


__ADS_3

Sore itu Amira merasa badannya tak enak. Dia merasa pusing dan meriang. Dia masih menunggu Ari untuk pulang. Setelah isya' Ari baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Seorang karyawan bagian keuangan yang sedang lembur berlari ke ruangannya.


Dengan nafas terengah-engah karyawan itu memberitahukan sekretaris Ari, bahwa Amira pingsan. Sekretaris itu memberitahu atasannya. Ari dengan cepat berlari ke ruangan Mira. Saat sampai disana, Mira sudah sadar dan diberi minyak angin oleh salah satu temannya.


"Kamu sakit?" tanya Ari. Mira hanya menggeleng. "Cuma meriang saja pak"


"Kita pulang, bisa jalan kan?" Amira mengangguk. Rasanya badannya masih lemas. Tapi dia menguatkan dirinya. Dia tak ingin membuat Ari malu di depan karyawan yang lain. Karena setahu mereka, Amira adalah sepupu Ari.


Setelah sampai di mobil, Ari memberanikan diri menyentuh kening Amira yang sedang menutup mata. "Maaf ya, badan kamu panas banget Mir, kita ke rumah sakit ya"


Amira masib terpejam dan menggeleng. "Gak usah mas, aku mau istirahat saja"


"Setidaknya kamu dapat obat Mir, badan kamu panas banget lho. Atau nanti di rumah aku suruh dokter keluarga datang dan periksa kamu saja lah" Amira tak bisa membantah. Tubuhnya lemas sekali. Dia hanya memejamkan matanya.


Ari segera melajukan mobilnya menuju jalan pulang dengan sedikit menambah kecepatan. Jujur, hatinya sedang gelisah, melihat orang yang dicintainya lemah tak berdaya.


Setelah sampai dirumah, Ari menggendong Amira masuk ke kamarnya. "Aku masih bisa jalan mas"


"Diem ah, badan udah lemes begitu masih aja bandel" Amira hanya bisa pasrah. Ari segera menghubungi dokter keluarganya untuk segera datang dan memeriksa Amira. Mamah dan papah Ari yang akan berangkat ke Medan malah bingung.


"Bu Amira gak papa kok pak, bu. Hanya panas biasa. Saya infus mau bu? Biar cepet turun panasnya" Amira menggeleng.


"Gak usah dok, obat minum saja sudah cukup" Ari dan keluarganya hanya pasrah dengan keputusan Amira.


"Ya sudah, ini saya pas kebetulan bawa obatnya. Sehari 3 kali semua ya bu, setelah makan. Semoga lekas sembuh. Saya pamit dulu pak bu"


Ari membayar biaya pengobatan Amira dan mengantarkan dokter sampai berlalu.


"Gimana nih pah? Mamah gak tega ninggalin Mira"


"Berangkat aja mah, Mira gak papa kok. Kasihan kalau papah sendirian. Yang menyiapkan keperluannya siapa?"


"Ya sudah kalau kamu memaksa. Cepet sembuh ya sayang" Amira mengangguk. Pak Wibi dan istrinya berangkat ke bandara. Mereka berpesan kepada Ari untuk menjaga Amira.


"Jagain calon mantu mamah"


Ari hanya tersenyum malu. "Iya". Lalu dia masuk kembali ke dalam rumah.


Dilihatnya Amira sedang makan sendirian di kamarnya. "Kamu kenapa sih?" tanya Ari.


"Gak papa, cuma kangen papah aja. Aku kalau lagi kangen sama seseorang pasti begini. Jatuhnya sakit" terang Amira sambil menahan tangisnya.

__ADS_1


"Mau dianterin ke Jakarta?" Amira menggeleng. "Gak sanggup lihat papah ditahan disana. Nanti saja, aku siapkan hati dulu" Ari hanya memandangi wajahnya. "Ada yang aneh sama wajahku?"


Ari yang ketahuan sedang memperhatikan wajah Amira mengalihkan pandangannya. Amira tersenyum. "Kamu kenapa cerai mas?" tanya Amira asal.


Ari hanya diam. "Kamu kalau lagi kangen begitu terus ngapain?" Ari coba mengalihkan pembicaraan.


"Berdoa. Kamu belum jawab pertanyaan aku lho" Ari bingung ingin cerita atau tidak. Baginya itu aib.


"Aku balik ke kamar ya, obatnya diminum tuh. Piringnya biar diambil bi Yem" Ari berdiri dan hendak melangkah ke luar.


"Maaf ya kalau pertanyaanku membuatmu tersinggung. Mereka, para karyawan lain maksud aku, menggosipkanmu"


Ari menghela nafasnya kasar. "Mereka bilang apa?"


"Ehm, maaf ya. Jangan marah ya. Mmm, mereka bilang kamu letoy makanya diceraikan sama mantan istrimu" jawab Amira hati-hati.


"Letoy gimana? Memang aku terlihat seperti banci?"


"Bukan ituuuu, anu nyaaaa" Seketika Ari paham yang dimaksud oleh Amira. Tawanya pecah. "Memang mereka pernah lihat? Satu hal yang aku konfirmasi, aku bukan diceraikan tapi aku yang menceraikan. Sudah, omongan mereka tak perlu kamu hiraukan. Biar saja"


"Tapi aku kepo, seorang laki-laki yang baik sepertimu sampai hati menceraikan perempuan, pasti alasannya bukan hal sepele" jawab Amira meletakkan piringnya lalu meminum obatnya.


Ari masih diam melihat Amira. "Suka banget lihat wajah aku?" tanya Amira padahal dia tak melihat mata Ari. Ari kembali salah tingkah. "Sudah malam, tidurlah. Besok ijin saja"


"Malam" jawab Ari singkat dan meninggalkan kamar Amira.


.


Laras berbaring memeluk suaminya. Menghirup aroma itu hingga puas. "Yank, besok jumat mas ada pertemuan dengan partai koalisi. Selesainya sekitar jam 9, itu pun masih belum pasti. Besok, kalau abang pulangnya lewat dari jam 9 abang kabari kamu"


Laras mengangguk. "Iya, jangan lama-lama perginya" ucapnya dengan manja.


"Istri abang manja banget sih sekarang? Malam ini pengen tengokin debay boleh?" katanya sambil memainkan rambut Laras.


"Pelan saja ya mainnya, kan kata Cicit jangan keseringan juga" Duta mengangguk. Mereka akhirnya menyalurkan hasrat satu sama lain.


Ponsel Duta bergetar, pesan masuk dari Farid yang memberi kabar bahwa Amira sakit.


"Yank, besok tengokin mbak Amira sebentae bisa? Dia sakit kata bang Farid"


Laras mengangguk "Bisa, besok Laras ijin pulang cepat deh, biar bisa nengokin mbak Amira. Kasihan dia, kalau itu Laras sepertinya gak akan sanggup"

__ADS_1


.


Farid juga meminta istrinya untuk menengok Amira besok. "Besok tengokin mbak Amira ya yank, mas besok sama pak Duta luangin waktu juga deh"


"Siap komandan Farid Baihaqi" kata Ais sambil memeluk suaminya.


"Mas Ari gak pengen buka hati untuk perempuan lain apa?"


"Hmm, gak tau lah mas, Mas Ari tuh selalu nolak kalau dijodohin. Akhirnya papah sama mamah nyerah deh"


"Kita doakan saja semoga mas Ari cepat dapat gantinya Gita"


"Aamiin. Bobok yuk sudah malam, jangan suka begadang, karena mengganggu kesuburan"


"Mosok yank??" tanya Farid. "Iya, mengganggu kualitas spe*rma kamu sayang. Makanya kalau kerja ingat waktu ya suamiku yang tampaaaan"


"Siap ibu negara!"


.


Fajar menyingsing. Ari mengecek keadaan Amira di kamarnya. Menyentuh dahinya memastikan panasnya sudah turun. "Alhamdulillah, panasmu turun"


Amira merasakan ada yang menempel pada dahinya. Dia segera meraih itu dan membuka mata. "Eh, kamu mas, maaf" katanya sambil melepaskan tangan Ari.


"Gak papa, aku yang harusnya minta maaf membangunkanmu. Tidur lagi saja kalau masih mengantuk"


Amira duduk. "Aku belum sholat subuh. Mau subuh dulu" Ari mengangguk.


Mereka melakukan sholat berjama'ah. Bi Yem yang sedang membersihkan rumah terharu dengan pemandangan itu. "Semoga bahagia segera menghampirimu den, semoga mbak Amira ialah jodohmu. Kalian sangat cocok" kata bi Yem sambil menghapus air matanya.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2