Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Astaghfirullah, mulut Arjun


__ADS_3

Ais masih melakukan kunjungan bangsal. Arjun mencari keberadaan Ais dan menemukannya masih kunjungan bangsal.


"Ais, bisa bicara sebentar?" ucap Arjun mendekatinya.


Ais yang saat itu sedang ganti balut menoleh ke sumber suara. Matanya mengisyaratkan Arjun untuk melihat dia sedang melakukan apa.


"Ini penting!" kata Arjun dengan nada tidak sabaran.


Perawat yang ada disana sampai heran dengan sikap Arjun.


"Tunggu lah aku selesai kunjungan bangsal Arjun. Kau ini tidak sabaran sekali sih?" ucap Ais kesal.


"Oke. Aku tunggu di ruangan mu. Berapa jam lagi aku harus menunggu?"


"30 menit lagi"


"Oke aku tunggu!" ucap Arjun meninggalkan bangsal dan menuju ruangan Ais.


.


Duta dan Laras menuju mobil Laras. Saat sudah berada di dalam mobil, Duta segera mengirim pesan kepada Farid untuk mengirimkan kain dan batik itu nanti setelah pekerjaannya selesai.


"Abang kayaknya capek banget, mau aku supirin aja?" tanya Laras sembari memperhatikan wajah Duta yang lesu.


"Gak, gak usah. Abang gak papa kok sayang. Abang kecewa saja sama Rama. Dia susah sekali memaafkan abang. Harus gimana lagi abang memberi penjelasan kepadanya tentang kematian Dini. Ditambah lagi, waktu mau menjemputmu tadi ketemu si Arjun. Mulutnya itu lho pengen abang jotos rasanya" Duta menumpahkan kekesalannya yang sedari tadi dia sembunyikan dari Laras.


"Sabar sayang, jangan terlalu dipikirkan. Kalaupun mas Rama menolak kita coba lagi nanti setelah menikah. Memang Arjun bilang apa sih?"


"Dia bilang, kalau nanti bakalan merebut kamu dari ku. Dia juga bilang, dia sudah merasakan tubuhmu"


"Astaghfirullah, mulut Arjun pengen aku robek benar!" Laras ikut-ikutan emosi.


Flash back On


Duta berjalan ke ruangan Laras, saat di depan pendaftaran dia bertemu dengan Arjun. Duta malas menyapanya, tapi Arjun sudah mengetahui dirinya. Arjun tersenyum licik melihat Duta.


Arjun mensejajarkan langkahnya di samping Duta. "Dasar pria perebut pacar orang! Lihat saja nanti aku akan merebutnya kembali darimu"


"Hahaha, kalau halu jangan kelewatan. Seorang Laras tidak pernah pacaran" ucap Duta sambil menatap lurus kedepan.


"Memang! Tapi aku sudah mencicipinya! Silahkan ambil bekas ku!" Arjun berbalik dan meninggalkan Duta yang diam mematung.


Duta mengepalkan tangannya mencoba menahan emosinya. "Sabar Duta, astaghfirullah, gak mungkin Laras begitu. Disentuh saja marah, dia bilang mencicipi. Dikira makanan!"


Duta mengatur nafasnya dan meredam emosinya. Tapi mood nya yang sekarang menjadi rusam karena ucapan Arjun.


Flashback Off


"Abang gak percaya, tapi mulutnya itu bilang di depan orang banyak. Gak punya akal. Mencemarkan nama baik" Duta masih kesal dengan ucapan Arjun.


"Sudah, sudah. Biarkan Allah yang membalas. Yang penting abang percaya sama Laras. Laras gak pernah bersentuhan dengan laki-laki kecuali sama Haris, Abi, dan Abang" ucap Laras sambil mengelus-elus lengan Duta.

__ADS_1


"Iya abang percaya sama kamu. Kalau dia gangguin kamu lagi, kasih tahu abang biar abang sedikit memberinya pelajaran"


"Tidak usah, Laras gak suka abang menjadi pemarah dan pendendam seperti ini. Biarkan saja, nanti kalau tidak direspon kan dia akan berhenti sendiri" ucap Laras sambil tersenyum.


"Makasih ya sudah mau menenangkan abang. Huft, ayo kita fitting. Yang gak penting biarin saja"


"Nah gitu dong, itu baru Bupati kesayanganku" Laras mencubit pipi Duta.


"Aaaaaahh, meleleh abang"


"Hahahaha, sudah ayo ah"


Duta melajukan mobil meninggalkan rumah sakit menuju tempat fitting baju. Setelah sampai ternyata Abi dan umi, mamah dan Agus beserta keluarga kecilnya sudah ada disana.


"Ayo sayang turun" ucap Duta mengajak Laras turun.


Laras dan Duta turun dari mobil dan menyalami semua yang ada disana. Setelahnya Laras mulai mencoba satu per satu kebaya yang sudah dipilihkan oleh desaigner itu.


Duta juga mencoba beberapa beskap untuk akad dan resepsi. Anggota keluarga yang lain juga mencoba baju-baju itu.


Akhirnya mereka menemukan yang cocok dengan pilihan hati mereka. Untuk prewed Laras dan Duta memilih gaun berwana hijau mint dan jas berwarna hitam. Untuk akad Laras akan memakai kebaya berwarna putih dengan full payet. Begitu pun Duta, dia akan memakai beskap berwarna senada.


Untuk acara akad dan resepsi mereka memilih menggunakan adat jawa. Mereka memilih paes Solo. Perias dari WO pun datang ke butik itu dan mulai mendemokan bagaimana nanti hasil jadi dari riasan mereka.


Para perias pun mulai mendandani Laras dengan riasan. Laras berpesan bahwa dia ingin riasannya tampak natural. Para perias pun mengikuti kemauan Laras. Butuh waktu 3 jam untuk menyelesaikan dandanan itu.


Duta berinisiatif untuk menyuruh fotografer studio datang ke butik dan sesi prewed dilakukan di butik.


Sungguh cantik hasil jadi riasan Laras. Sungguh menyatu di kulitnya. Duta sampai terpana melihatnya.


"Mingkem dek, ojo ngowoh" ejek Agus melihat Duta yang terpana melihat calon istrinya itu.


Sontak membuat yang lain tertawa akan tingkah Duta. "Hahahahah"


Duta sampai menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sembari menyimpan senyumnya.


Sesi foto dimulai, fotografer mengarahkan gaya untuk mereka. Butuh waktu 1 jam mereka akhirnya selesai sesi foto dan fitting.


"Alhamdulillah sudah selesai, kalian tinggal pesen cincin. Mamah sudah bilang sama penjualnya. Kalian nanti tinggal datang dan milih"


"Ya mah" jawab Duta.


"Ya sudah kami pamit dulu"


"Iya mah, hati-hati semuanya"


Laras dan Duta menyalami mereka satu per satu dan berpisah di parkiran.


"Abang kalau capek biar Laras yang setirin" ucap Laras melihat wajah Duta yang menampilkan keletihan.


"Gak sayang, abang masih kuat kok. Abang lihat kamu aja sudah langsung semangat lagi. Hehehe"

__ADS_1


"Bener? Kalau capek bilang lho ya"


"Iya ih, bawel"


Mereka saling lempar senyum dan masuk ke mobil menuju tempat pemesanan cincin.


.


Farid menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dia harus segera ke rumah sakit mengantarkan kain-kain itu.


Farid baru saja sampai dan menurunkan kain itu. Karena jumlahnya banyak, Farid harus bolak balik untuk mengangkut kantong kresek berisi kain itu.


"Permisi mbak, saya mau mengantarkan kain untuk dokter Laras. Ditaruh dimana ya?" tanya Farid saat sudah berada di depan ruangan Laras dan bertemu dengan Nina dan Rena.


"Oh, masukkan saja ke ruangannya pak, Sini sini"


Farid mengikuti langkah Nina dan meletakkan kain tersebut. "Sebentar ya mbak masih ada lagi" imbuh Farid.


"Ya pak" sahut Nina cepat.


"Banyak amat ya Nin, kira-kira kita dapat gak ya? Hahaha"


"Hahahah, gak usah ngarep!"


Farid kembali lagi dan meletakkan kain itu. "Dah, beres. Terima kasih ya mbak, tolong sampaikan ke dokter Laras kalau jumlah nya 200 potong"


"Nggih pak sami-sami"


"Oh ya, ruangan dokter Ais yang mana ya? Hari ini dia ada jadwalnya kan?" tanya Farid kepada Nina.


"Oh ada pak, mari saya antarkan" sahut Rena cepat.


Farid diantarkan Rena menuju ruangan Ais. Tapi pemandangan nya sepertinya tidak tepat untuk dia saksikan.


Dia melihat Arjun sedang mencoba mengintimidasi Ais.


"Ada apa nih?!" tanya Farid geram dengan tindakan Arjun.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2