Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Rebutan Status


__ADS_3

Tak terasa waktu cepat sekali berputar, kini A squad sudah memasuki usia tiga tahun. Mereka sudah bisa berbicara meskipun belum jelas semua. Duta sudah akan turun dari masa jabatannya. Membuatnya semakin senang karena banyak waktu luang untuk keluarganya.


"Pah, capa yang jadi kakak, kan abang ya pah?" kata Archee


"No, Adel kakaknya, abang" sahut Adel.


Duta mengacak-acak rambutnya kasar. Perdebatan itu terjadi sejak 3 jam yang lalu. dan Duta bingung harus menjelaskan kepada dua anaknya.


"Bang, dek, sini" Duta menepuk dua sisi sofa di sebelah kanan dan kirinya. Dua bocah kecil itu langsung duduk disisi kanan kiri papahnya.


"Kenapa sih kalian rebutan status?" tanya Duta.


"Lebutan cetatus? Apa itu pah?" tanya Archee. "Iya apa itu pah?" Adel ikut-ikutan menyahut. Duta sedikit menggeram.


"Aaarrghhh, gini-gini. Kenapa kalian rebutan siapa yang mau jadi kakak ataupun adek? Kan sama saja sayang"


"Beda pah, kalau jadi kakak tuh enak, pasti jafi nomol catu" sahut Adel.


"Iya pah, makanya kita lebutan. Kan abang kan pah yang jadi kakaknya?"


"Gak abang Alchee! Adel kakaknya. Kan Adel yang peltama lahil. Abang itu paling akhil. Iya kan pah?"


"Dek Adel, abang itu kakaknya, meskipun lahir paling akhir sayang. Abang tuh ngasih jalan buat adik-adiknya agar bisa keluar duluan lho. Lagian nih ya, enak jadi anak terakhir. Kan papah juga anak terakhir dari eyang Aini" terang Duta tak tahu lagi harus bagaimana.


"Gak enak pah! Adel jadi paling telakhil telus. Pokoknya Adel mau jadi kakak!"


"Gak bisa adeeeeeekk, abang kakaknya!" kata Archee sambil mencakar tangan Adel. Sang adik pun menangis dan berlari menuju mamahnya yang sedang bermain kakak perempuannya.


"Huaaaaaahuhuhuhi, abang nakal. Adel gak suka sama abang! Abang bukan kakak Adel! Huhuhuhu"


Duta sampai melotot menyaksikan kejadian itu. Dia membiarkan Adel berlari menemui mamahnya. Dia ingin memberi penjelasan dulu dengan abang Archee.


"Bang, abang tahu kenapa dek Adel nangis?" tanya Duta halus. Archee mengangguk sambil cemberut.


"Tahu pah, Alchee cakal tangannya si adek"


"Kenapa abang begitu sama adiknya?"


"Adel nyebelin! Kan abang yang jadi kakaknya, maca dia gak telima!" protes Archee.


"Oke, berarti abang kakaknya ya? Tahu gak bang seorang kakak itu harus baik sama semua adik-adiknya lho. Gak boleh tuh bikin adiknya nangis. Abang harus bisa melindungi adik-adiknya. Paham?"


Archee menunjuk mendengarkan teguran dari papahnya. "Iya pah, Alchee paham"


"Sana minta maaf sama adiknya, jangan dibuat nangis lagi ya?" kata Duta sambil membelai rambut putranya.


"Iya pah, tapi abang kan kakaknya?"


gubrak. Masih rebutan status ini nanti kalau begini. Hadoooohh, gimana cara jelasinnyaaaaa. Ingin ku teriaaaaaakkkk. Duta hanya mengangguk lesu.


"Yeeee, Alchee menang jadi abang" ucap Archee senang dan meninggalkan papahnya menuju sang mamah.

__ADS_1


Sedangkan Aylin dan Amaris malah kebalikan dari mereka berdua. Mereka juga sedang debat rebutan status.


"Aylin ndak mau jadi kakak, Aylin mau jadi adek ajah!" debat Aylin terhadap Amaris. Laras sedang menenangkan Adel yang menangis karena ulah Archee.


"Yang jadi adek tuh Malis kak Aylin"


"Gak mau, Aylin jadi adek, Malis"


Duta datang bersama Archee. "Sana minta maaf sama Adel" Archee mengangguk.


Archee mendekati mamahnya, "Adel, maapin abang Alchee ya"


"Tuh, abangnya sudah minta maaf. Sudah ya jangan nangis lagi. Dimaafin gak abangnya?" kata Laras


Adel hanya mengangguk. "Salaman dong" Mereka bersalaman. "Abang, besok gak boleh main cakar Adel ya, kasihan nih berdarah" tegur Laras.


"Iya mah"


"Pah, Aylin ndak mau jadi kakak. Malis aja jadi kakak" adu Aylin kepada Duta. Duta tepok jidat mendengar ucapan anaknya. Ternyata drama rebutan status belum selesai.


"Papah kenapa?" tanya Amaris


"Kepala papah pusing" jawab Duta.


"Oke semua anak mamah sama papah kumpul di tengah sini" ucap Laras. Sepertinya dia punya solusi untuk perdebatan mereka.


Mereka duduk melingkar, Duta dan Laras berdampingan. "Sekarang, mainnya ditukar. Bang Archee sama kak Maris main bareng. Kak Aylin sama dek Adel...."


"Adel kakaknya maaaahhh"


"Kepala papah sakit mah" kata Duta. Laras memijit kepala Duta. "Yang paling sakit yang kepala bawah"


Laras geleng kepala mendengar ucapan suaminya. "Dasar mesum, tiap hari masa iya sakit melulu"


"Hahaha, iya, obatnya cuma kamu sih"


Archee melihat papahnya bermanja pada mamah mereka. "Papah bangun, jangan genit cama mamah. Ini mamah cuma punya Alchee, Aylin, Malis, cama Adel!" Laras hanya menahab senyumnya


"Allahu akbar nak, papah cuma minta pijit doang sama mamah. Masa gak boleh sih?"


"Gak boleh!" jawab Archee tegas.


"Ya sudah, kalau mamah gak boleh pijitin papah, berarti kalian yang pijit kepala papah ya?" tawar Laras kepada A squad.


"Adek-adek abang cemuanyaaaa! Pijitin kepala papah yuk!"


"Ayoooooo" sahut semuanya. Laras tertawa puas. Lalu beranjak meninggalkan mereka.


"Sayang, kamu ngerjain papah nih" Duta sudah pasrah saat semua anak-anaknya menindih tubuhnya.


"Bye pah, mamah mau masak dulu"

__ADS_1


"Sayang!" Duta tak bisa lagi menahan serangan dari anak-anaknya.


Tak lama umi dan abi datang. "Assalamualaikum cucu-cucu nenek sama kakek"


"Waalaikum calam" sahut semuanya.


"Kita jalan-jalan yuk, nenek mau ajak kalian ke kidzone. Mau kan?" kata Abi.


"Horeeee" sahut semua girang.


"Ganti baju dulu" ucap umi lalu membantu mereka berganti baju.


"Gimana Dut? Senang kan? Rumah jadi ramai"


Duta menyalami mertuanya. "Sangat ramai bi, mereka itu kalau sudah ribut, walaaaah. Barusan nih ribut perkara rebutan status, antara yang jadi kakak siapa yang adek siapa"


Abi tertawa. "Laras mana?" tanyanya kemudian.


Laras datang dengan nampan di tangannya. "Laras disini bi" lalu Laras mencium tangan abinya.


"Anak-anak abi bawa ya, kalian kalau mau berduaan biar bebas" kata Abi, angin segar bagi Duta. Sudah lama sekali rasanya dia tak bisa berduaan dengan bebas bersama istrinya.


"Aduh jadi gak enak sama Abi. Makasih ya bi, abi tahu saja kalau Duta butuh berduaan, hehehehe"


Laras mencubit lengan suaminya. "Selalu deh!" Tak lama umi kembali bersama para cucu-cucu yang sudah cantik dan ganteng. Para ciwi-ciwi memakai setelan kaos fan legging beserta jilbabnya. Si abang Archee memakai jeans pendek dan kaos berwarna hitam.


Duta dan Laras menyalami uminya. "Pamit dulu sama papah dan mamah" semua salim dengan orang tua mereka.


"Have fun ya sayang, jangan nakal sama nenek kakek. Nurut lho ya" pesan Laras sambil menciumi pipi mereka"


"Iya mamah" jawab mereka kompak. Lalu mereka berangkat jalan-jalan. Duta langsung membopong istrinya saat Laras akan kembali di dapur.


"Abang! Masakannya bisa gosong nanti"


"Bi Mar, bi Sum, lanjutin tugas ibu ya. Saya mau diskusi dulu sama ibu" Duta membopongnya hingga kamar mereka. Laras hanya tersenyum menghadapi kelakuan Duta.


"Ini nih masih pagi lho bang, masih jam 10"


"Adek abang kalau sudah pengen gak peduli waktu. Bisa berapa ronde ya kali ini?" Duta membaringkan istrinya di ranjang dan dengan cepat dia membuka seluruh pakaiannya.


Menatap istrinya penuh senyum dan gairah. Lalu memulai olahraga yang membutuhkan banyak tenaga itu.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2