
Senin, hari paling awal dalam hitungan minggu. Hari yang menurut kebanyakan orang sungguh sibuk dan melelahkan. Begitu juga dengan Laras dan Ais. Laras pagi-pagi sekali harus bertemu dengan orang tua Riana.
Saat ini Riana sudah jarang sekali histeris ketika mendapatkan kunjungan dari orang tuanya. Hanya jika orang tuanya sedikit tidak sabaran dia akan kumat lagi.
Ais sudah mendapatkan panggilan mendadak pukul 4 pagi tadi. Ada pasien dengan luka tusuk. Sepertinya pasien tersebut korban pengeroyokan. Karena memar di bagian wajah dan perut sangatlah banyak.
"Jadi pak, bu, kalian bisa lihat sendiri kan bagaimana kemajuan yang dialami oleh Riana? Dia benar-benar ingin sembuh. Jadi saya mohon dengan sangat kepada bapak dan ibu, tolong, jenguk Riana terus menerus. Dan bapak, saya mohoooooon sekali, jaga emosi bapak. Bisa kan?"
"Ya dokter, saya akan berusaha mengontrol emosi saya. Kami mohon sama dokter teruslah bersabar menghadapi anak kami selama disini" jawab papah Riana.
"Pak, sudah kewajiban saya untuk membantu pasien sembuh. Tapi kemauan dan dorongan adalah hal paling penting disini. Yang paling penting lagi, nanti setelah keluar dari rumah sakit bisakah kalian menjaga dan menyayangi Riana seperti yang saat ini sedang kalian lakukan?" pinta Laras kembali.
"Kami akan berusaha dokter. Terima kasih atas bantuannya" sahut mamah Riana.
"Sama-sama ibu, jadi observasinya kita lanjutkan 3 minggu kedepan ya bapak, ibu. Tapi di minggu selanjutnya saya cuti jadi tidak bisa menemani kalian"
"Tidak apa-apa dokter, kami paham. Dokter sudah dilamar oleh pak Bupati ya?" tanya mamah Riana lagi.
Laras tersenyum dan mengangguk. "Mohon doanya ya ibu, bapak. Semoga lancar sampai hari H"
"Aamiin. Dokter tahu waktu itu kami nonton tv disini bersama Riana? Dia bilang katanya, dokter cantik sudah ketemu sama pangeran nya. Mereka cocok ya mah, gitu katanya dok"
"Hahahaha, iya kah? Riana itu anak yang baik bu, dia itu pasien saya yang paling bisa mengikuti instruksi saya. Paling bisa diajak ngobrol. Heheheh"
"Ya sudah dokter, kami sekali lagi berterima kasih karena membantu kami dalam mendampingi Riana menuju kesembuhan. Dan semoga nanti rumah tangganya menjadi keluarga yabg sakinah mawaddah dan warohmah hingga til jannah" ucap papab Riana memberikan doa untuk Laras.
"Aamiin aamiin aamiin ya robbal alamin. Terima kasih bapak ibu, nanti kalau ada waktu silahkan datang tanggal 11 jam 1 siang di pendopo. Saya mau kasih undangan tapi belum jadi heheheh"
"Insyaallah dokter, kami pamit dulu. Assalamualaikum dokter" ucap papah Riana. Mereka melenggang pergi meninggalkan ruangan Laras.
"Waalaikum salam" Laras menghela nafas dan segera mengambil minum. Dia menegak minumannya. Ais masuk dengan wajah ngantuknya.
"Kakak ngantuk banget sumpah! Haaaaahh, jam 4 kakak udah disini. Ada polisi juga disana. Kayaknya mau visum pasien tadi deeeh" Ais sudah duduk sambil menyandarkan punggungnya di kursi pasien.
"Cuci muka sanaaaa, oiya kak, kemarin gimana jalan-jalannya sama mas Farid? Cerita doooong" tanya Laras.
"Ih kamu mah kepo! Kakak malu ngomongnyaaaa" ucap Ais dengan gaya manja.
"Hahahah, sok kamu kak, jadi beralih nih hatinya? Gak sama si Arjun lagi? Udah sih kak sama mas Farid aja"
"Hmm, doakan saja lah Ras"
Nina bersama Rena yang baru saja datang mengambil rekam medis dari bagian pendaftaran sekilas mendengar obrolan 2 dokter cantik itu.
"Apa nih beralih-beralih? Nyebut nama dokter songong lagi" ucap Rena.
__ADS_1
Laras dan Ais menoleh ke sumber suara. "Ih, kalian kepooo. Ada pasien untuk saya Ren?"
"Ada 10 dok, saya lupa belum cerita sama dokter. Kemarin sabtu si dokter songong nyariin dokter. Pake ngatain saya kaya knalpot rusak lagi" terang Rena membuat semuanya tertawa.
"Hahaha, kenaoa dokter Arjun bilang begitu Ren?" tanya Nina.
"Jadi gini ceritanya, waktu itu kan dokter Ais dan dokter Laras pergi si songong masuk ke ruangan biasa tanpa permisi terus duduk di kursi dokter. Saya yang lagi ngeberesin meja kan ya kaget to. Saya ditanya jawaban saya memang sengaja tak buat ngegas. Dia gak terima malah ngatain saya kayak knalpot rusak. Sialan tuh dokter songong!"
"Hahahahahahaha" mereka semua kembali tertawa mendengar cerita Rena.
"Mau apa si Arjun nyariin saya Ren?"
"Mana saya tahu dok. Malas juga nyari tahu"
"Ya sudah lah, nanti kalau dia butuh saya kan nyari lagi. Ayok kerja. Sek yo Ren, aku tak dandan sing ayu disik. Kucel temenan Ras muka kakak?" tanya Ais.
"Kucel maksimal kak, makane to makane cuci muka sana"
"Pinjem make up kamu deh, punya kakak di mobil"
"Nih ambil" Ais meraih pouch make up Laras dan berlalu ke ruangannya diikuti Rena dibelakangnya.
"Nin, pasien ku piro? Oiya Nin, nanti saya setengah hari tok lho. Saya sudah dapat ijin dari atasan"
"Pasien dokter hanya 5 kok dok, biasa kontrol bulanan. Dokter mau kemana?"
"Waaaah, jadi dilamar beneran dokter? Ikut seneng saya. Undangannya mana dok?"
"Belum jadi, nanti kalau sudah jadi tak sebarin. Ayo dimulai saja. Biar cepet rampung" ucap Laras bersemangat.
Nina mengangguk dan mulai memanggil pasien satu persatu. Ais menyelesaikan pasien terakhirnya tepat pukul 12 siang. Dia segera menghubungi Duta.
Panggilannya terhubung tapi tak dijawab. Nina yang baru saja kembali dari pendaftaran langsung membuka ruangan Laras.
"Dok, sudah dijemput sama pak Bupati. Saya makan siang dulu ya dok"
"Oke Nin" jawab Laras cepat.
Duta dipersilahkan masuk ke ruangan Laras. Dan Nina pergi menuju kantin rumah sakit.
"Assalamualaikum Ay" ucap Duta penuh senyum sumringah.
"Waalaikum salam abang sayang, tak tepon gak diangkat!" balas Laras memasang muka cemberut.
"Maaf, abang tadi lagi ketemu sama orang gak penting pas mau jalan kesini"
__ADS_1
Laras menautkan alisnya bingung. "Siapa?"
"Gak penting sayang, ayo makan siang dulu. Terus fitting, prewed, sama pesen cincin. Pakai mobil kamu saja ya yank, mobil abang penuh dokumen" pinta Duta.
"Nggih abang, mau makan apa sayang?"
"Kamu pengennya makan apa?"
"Apa ya? Sop balungan?"
"Oke, let's go. Abang nyuruh bang Farid nganterin kain ke kamu nanti habis makan siang. Mau ditaruh dimana dulu?"
"Taruh di ruangan sini aja dulu deh"
"Oke, nanti tinggal WA bang Farid biar cepet dikirim kesini"
Duta memakai kembali maskernya dan meraih tangan Laras. Laras menghentikan langkahnya saat Duta memegang tangannya. Dengan segera Duta hendak melepaskannya.
"Maaf" ucap Duta
"Gak papa bang, jangan pernah melepas genggaman ini nantinya" ucap Laras meraih kembali tangan Duta.
Duta tersenyum dan mengecup tangan Laras. Disambut senyuman oleh Laras. Mereka segera menuju mobil.
Sementara Ais baru saja menyelesaikan pasien poli nya. Tapi dia harus berkunjung ke bangsal seperti biasa.
Rena menyusul Nina yang sudah terlebih dahulu di kantin. Mereka mengobrol dan menyantap makanannya setelah bertemu.
"Eh Ren, kamu setuju tidak kalau dokter Ais suka sampai beneran jadian sama dokter Arjun?" tanya Nina.
"Blas ora setuju lah Nin, bentukan dokter ngunu kok digandrungi. Hadeeeh. Aku tuh ya bingung sama dokter Ais. Kok bisa dia cinta sama si songong. Sedangkan yang lain nih ya lebih baik dari si dokter itu" jawab Rena menggebu-gebu.
"Tahu tuh dokter Ais. Kok bisa dia cinta banget sama dokter Arjun"
Di belakang bangku tempat mereka duduk ada Arjun yang mendengarkan pembicaraan mereka. Dadanya seketika panas. Dia yang hendak menanyakan kepada Ais perihal wanita yang mencintainya sudah mengetahui sendiri jawaban itu. Dengan cepat Arjun meninggalkan kantin dan mencari keberadaan Ais.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip