
Ais dan Farid menuju percetakan dengan hati yang gembira. Mereka saling lempar senyum.
"Apa siiiiiihh?" tanya Ais.
"Gak papa, mas seneeeeeeeeng banget hari ini. Penantian mas 7 tahun gak sia-sia" jawab Farid.
"Aku juga seneng. Mas nanti setelah dari percetakan mampir rumah makan sebentar ya. Aku belum makan" ucap Ais sambil memanyunkan bibirnya.
"Ya Allah, kasihannya calon bojoku. Mau makan apa?"
"Terserah mas"
"Kok terserah? Pilih dong sayang"
"Barusan panggil apa mas?"
"Sayang"
"Hahahaha, wajahmu itu lhoooo. Pake blush on opo piye? Kok pink gitu"
"Hilih, wes to. Makan opo?"
"Sup senerek yo mas, wes suwi gak makan itu. Kamu sudah makan?"
"Belum sama kamu. Hahaha. Ya sudah kita ke percetakan undangan sebentar ya. Katanya sudah ada yang jadi sekitar 2 ribuan"
"Waw! Amazing! Mereka pada lembur apa gimana mas?"
"Sepertinya, karena waktu kemarin kita kesana langsung dikerjakan. Mas malamnya kan balik ke sana lagi"
"Kamu capek gak? Sini biar aku yang setirin"
"Gak, mas seperti disuntik semangat kalau lagi sama kamu. Asal sikap cuek dinginnya gak keluar"
Ais tersenyum melihat Farid. "Manis banget sih kamuuuu"
"Iya dooong"
Mereka akhirnya telah sampai di percetakan undangan, mengecek dan menghitung undangan itu.
"Oke mas, sampaikan ke bosmu, besok yang 4 ribu harus sudah jadi ya. Jam segini lah aku ambil lagi"
"Nggih pak" jawab karyawan itu.
Ais membantu Farid membawa undangan itu dan dimasukkan ke dalam mobil. Mereka mencari sup senerek untuk mereka santap.
.
Duta dan Laras kembali ke mobil. Duta meraih kunci mobil dan duduk di kursi kemudi kembali. Laras hanya pasrah dan duduk di kursi penumpang.
"Abang yakin sudah tidak capek?"
"Iya, abang sudah cukup tidurnya. Ay, abang minta sama kamu, besok lagi kalau papasan sama Rama diam saja. Abang gak pengen makin keruh urusannya" Duta memperingatkan Laras.
"Kan memang harus disadarkan bang, semua takdir manusia sudah ada catatannya" ucap Laras tak terima diperingatkan Duta.
"Iya abang tahu, tapi dia tetap tidak akan terima. Dia sedang diselimuti amarah"
"Iya, tapi kan...." ucapan Laras terpotong
"Sudah, pokoknya abang minta sama kamu besok kalau papasan sama Rama diam saja"
__ADS_1
Laras kesal. Memang apa salahnya berkata seperti itu kepada Rama. Dia tak menjawabi omongan Duta. Dia diam dan bersidekap. Membuang muka melihat jendela.
Duta tahu jika Laras tak terima dengan tegurannya tadi. Tapi dia juga tidak mau Rama semakin marah kepadanya karena ada yang membelanya. Karena ia tahu, Rama adalah seorang yang nekat. Dia tidak ingin Laras dicelakai oleh Rama.
"Ay" panggil Duta. Tak ada sahutan.
"Sayang, kamu marah sama abang?"
"Sayang, abang ngelakuin itu karena abang gak pengen kamu dicelakai Rama sayang. Rama itu orangnya nekat. Abang gak pengen hanya karena kamu belain abang dia nyelakain kamu" terang Duta yang masih tidak mendapatkan jawaban dari Laras.
"Sayang"
"Jangan diamkan abang dong yank, maaf ya"
"Mau makan dulu gak sayang? Abang lapar"
"Kamu diam berarti setuju ya. Oke kita cari makan dulu" Duta melajukan mobilnya mencari makanan yang dituju. Laras hanya diam tak mau menjawab satu pun pertanyaan Duta.
Akhirnya mereka sampai di rumah makan yang dituju.
"Ayo turun" Duta keluar dari mobil. Sedangkan Laras masih enggan keluar.
Duta membuka pintu Laras. "Mau turun sendiri apa abang gendong?" ancamnya.
"Awas minggir!" sahut Laras judas. Dia masuk terlebih dahulu. Duta hanya bisa tersenyum dan geleng kepala melihat tingkah calon istrinya.
Ais dan Farid ternyata makan disana juga. Laras mengenali sosok Ais dan Farid dan menghampiri mereka.
"Hayooooo" sapa Laras mengagetkan Ais dan Farid.
"Ya Allah Laraaaas, bikin kaget aja sih! Kamu sendirian?" tanya Ais.
"Sama bang Duta. Kalian ngapain disini? Kencan ya?"
"Hahahaha"
Duta mencari Laras, dan ternyata ada Ais dan Farid. "Assalamualaikum" sapa Duta.
"Waalaikum salam" jawab semua.
"Abang sama mbak Ais disini juga?" tanya Duta.
"Iya pak, tadi baru selesai dari percetakan undangan. Dia lapar. Kasihan pak bawa anak orang gak dikasih makan saya bisa dijewer nanti sama orang tuanya. Hahahaha"
"Hahaha, iya lah bang. Gimana undangannya?"
"Sudah jadi 2 ribu pak, yang 1000 punya mbak Laras. Nanti saya antarkan ke rumah sakit mbak. Tadi kainnya juga sudah saya taruh di ruangan mbak"
"Oh, makasih mas. Nanti undangannya langsung bawa ke mobil saya saja. Biar nanti saya bawa sekalian"
"Nggih mbak" jawab Farid.
"Sudah pada pesan?" tanya Duta.
"Kami sudah pak Duta, monggo jenengan sama Laras yang belum"
Duta melihat menu. "Kamu makan apa yank?" tanyanya kepada Laras.
Laras diam tak menjawab. Ais dan Farid saling pandang.
"Ras, ditanya pak Duta tuh" senggol Ais kepada Laras.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan Duta, Laras malah memanggil pelayan. "Mbak, es teh manis 1, sup senerek 1. Esnya yang banyak ya mbak"
"Baik bu. Bapak bupati mau pesan apa?" tanya pelayan itu.
"Samakan saja mbak" ucap Duta sambil melihat Laras. Kesal, menahan amarah. Itulah yang Duta tangkap.
"Kamu berantem sama pak Duta Ras?" bisik Ais ditelinga Laras.
"Kata siapa? Gak" jawab Laras datar
Ais tahu jika Laras sudah menjawab dengan muka datar artinya dia sedang marah. Suasana malah menjadi tidak enak. Hening. Sampai makanan datang pun tidak ada obrolan dari mereka. Laras makan dengan cepat dan berpamitan kepada semuanya. Membuat Duta harus mengakhiri makannya.
"Mas Farid tolong undangannya ya, saya mau pulang" ucap Laras sambil menyahut kunci disebelah Duta. Farid mengangguk dan segera menuju mobilnya.
Duta memanggil pelayan dan memberinya uang.
"Mbak Ais, saya duluan. Makanannya sudah saya bayar semua. Mari" pamit Duta.
"Nggih pak hati-hati. Kalau Laras sedang begitu coba disogok pakai es krim atau coklat pak. Biasanya sih luluh" Ais memberi saran kepada Duta dan mendapatkan anggukan dari Duta.
Laras membuka bagasi belakang dan Farid memasukkan undangannya kesana. "Sudah mas?" tanya Laras.
"Sudah mbak"
"Oke, makasih ya mas. Saya permisi dulu" Laras segera menuju kursi kemudi. Duta mengejarnya dan langsung duduk di kursi depan.
"Kok begitu sih Ay? Gak sopan tahu" Duta kesal dengan sikap Laras.
Laras hanya diam dan melajukan mobilnya. Duta menatap Laras. Memang aku salah? Aku hanya menegurnya untuk tidak ikut campur dalam masalah ku dan Rama karena aku ingin melindunginya.
"Ay"
"Hmm?"
"Abang minta maaf, bukan maksud abang marahin kamu sayang. Rama itu orangnya nekat, abang gak pengen kamu jadi bahan pelampiasan nya dia"
Laras mulai melajukan mobilnya dengan masih diam terhadap Duta. Duta teringat saran Ais.
"Ay, berhenti di swalayan situ sebentar dong, abang kebelet" Duta memohon kepada Laras.
"Nanti aja dirumah" jawab Laras judas
"Ay, kamu pengen abang ngompol disini? Ayolaaaah, abang udah gak tahan iniiii" Duta berpura-pura kebelet. Akhirnya Laras mengalah dan menepikan mobilnya.
"Sebentar ya, jangan ditinggal" ucap Duta dan berlalu kedalam swalayan. Laras hanya menunggu di dalam mobil.
Tak lama Duta kembali ke mobil membawa sebuah kresek.
"Maafin abang"
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Nanti lagi ya, author mau jemur kasur dulu. Kena ompol semua. ðŸ˜ðŸ˜…. Apapun itu syukuri saja lah. happy reading all 😘😘😘