
Duta kebingungan mencari istrinya. Dia bertanya kepada salah satu petugas kebersihan disana dimana istrinya.
"Pak, tahu ibu dimana tidak?" tanyanya kepada petugas itu.
"Nuwun sewu pak, mboten ngertos niku. Menawi sampun wangsul. Acara sampun rampung setengah jam wau pak (Maaf pak, tidak tahu itu. Mungkin sudah pulang. Acara sudah selesai setengah jam yang lalu pak)" sahut petugas itu.
"Oh nggih mpun, matur suwun nggih pak? (Oh ya sudah, terima kasih ya pak?)" jawabnya.
"Sami-sami pak (sama-sama pak)"
Duta kembali ke ruangannya dan mencoba menelpon Laras lagi. Tersambung tapi tidak diangkat. Farid masuk ke ruangannya dan memberikan dokumen yang harus ditandatangani oleh Duta. Melihat wajah bosnya seperti itu Farid yakin bahwa bosnya sedang galau.
"Ehm, Pak. Bapak kenapa?" tanya Farid
"Hmm, gak papa bang. Besok suruh pak Pri setirin saya setiap hari. Abang juga sebagai ajudan yang merangkap lain-lainnya ikut mengantar jemput saya"
"Kok tiba-tiba pak? Bukannya bapak yang tidak mau kalau kami mengikuti bapak?" Farid heran dengan permintaan bosnya. Pasalnya Duta selalu menolak jika dikawal. Seperti tidak bebas katanya.
"Daripada saya galau begini. Istri pulang sama siapa pulang kemana saya tidak tahu"
Farid mengerti maksud dari omongan Duta. Galau perkara istri ternyata. Apa nanti Ais bakalan begini kalau marah?
"Memang ibu kenapa pak?"
"Itu dia saya gak tahu bang. Pagi tadi wajahnya menakutkan. Tadi ikut kumpulan PKK setelah pulang saya kira mampir menemui saya, kok saya cari gak ada. Saya tanya petugas kebersihan disana bilang gak tahu. Ditelpon gak diangkat. Di chat gak dibalas. Kan bikin bingung bang. Kalau ada supir dan ajudan saya masih bisa memantau dia kalau lagi marah begini" cerocos Duta kesal dengan sikap istrinya.
"Nggih pa, sendiko dawuh (Ya pak, siap dilaksanakan)" Farid tidak mau memperpanjang pertanyaannya lagi. Jika bosnya mengatakan demikian maka harus demikian. Apakah Laras akan setuju? 😁
"Mulai nanti sore saya pulang. Kalian sudah harus ikut dengan saya. Ini file nya sudah semua. Ada lagi?"
"Banyak pak, mau saya ambilkan lagi?"
"Ambilkan semua yang perlu ditandatangani. Saya mau lembur malam ini"
Farid menyesali pertanyaannya. Dia harus ikut lembur karena bosnya. Pasti deh, aaahh, kenapa harus pakai ajudan sihhh. Biasanya bapak mandiri. Saya ada janji paaaak
"Jangan ngebatin bang, saya denger semuanya" Farid melotot tak percaya.
"Bapak anak indigo ya?"
"Bang"
"Maaf pak, segera saya ambilkan file nya" Farid keluar untuk mengambil berkas yang harus ditandatangani. Dia mengabari Ais tidak bisa menemaninya mencari seserahan karena harus lembur. Dan segera kembali ke ruangan Duta.
Laras membiarkan teleponnya. Sengaja tidak dia angkat. Dia tidak menuruti perkataan umi. "Pengen lihat seberapa usahanya nyari aku" gumamnya.
__ADS_1
"Bi, mi, Laras pulang ya. Sudah sore. Takutnya nanti bang Duta nyariin"
"Iya hati-hati. Duta gak menjemputmu?" tanya Abi.
"Bang Duta lembur bi. Laras pulang duluan saja. Daripada nanti kelamaan nunggunya"
Umi tak percaya dengan perkataan Laras. Tapi beliau diam saja. Tak mau mencampuri kehidupan anaknya terlalu dalam. "Hati-hati bawa mobilnya" ucap umi saat Laras sudah akan meninggalkan rumah.
"Iya, assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Laras sampai rumah pukul 5 sore. Dia menggunakan mobilnya sendiri. Satpam di depan rumahnya sampai harus melihat siapa yang didalam mobil.
"Assalamualaikum pak Ron" sapa Laras.
"Ooo, ibu to. Saya kira siapa bu. Waalaikum salam" Pak Ron segera membuka pintu gerbang. Laras masuk. Dia memarkirkan mobilnya di depan pintu utama.
Segera dia mandi dan menyiapkan makanan untuk suaminya. Maghrib menjelang, tapi suaminya tak kunjung pulang. Dia memilih berdzikir hingga isya'. Selesai isya' Laras memasukkan makanannya ke dalam kulkas. Entah jam berapa suaminya pulang. Dia memilih menonton tv tapi hatinya gusar. Dia ke kamar mencoba tidur tapi masih awal.
"Bang, mampir ke swalayan depan. Saya mau beli sesuatu untuk permohonan maaf saya sama istri"
"Nggih pak, pak Pri nanti menepi sebentar ya" Pak Pri mengangguk. Duta turun dan beli sesuatu.
"Mas Farid, bapak kenapa tiba-tiba minta disupirin? Biasanya juga mandiri mas"
"Iya juga sih mas. Hehehe"
"Moodnya lagi jelek pak hari ini. Tiba-tiba minta sopir dan ajudan. Padahal ya pak, hari ini saya ada janji sama calon saya"
"Sek sek, mas Farid kapan punya calon? Seingat saya kok ya masih singlet. Eh salah single maksudnya"
"Hahahah, bapak bisa saja. Seminggu lalu pak saya melamar pujaan hati saya"
"Wah, gak bilang-bilang. Gak ngundang. Selamat ya mas, akhirnya laku juga"
"Memang saya barang pak laku"
Duta kembali ke mobil dengan tentengan di tangannya. Farid dan pak Pri menoleh ingin bertanya apa isinya.
"Sudah pak?" tanya Farid.
"Sudah. Ayo pulang. Keburu istri saya tidur" jawabnya.
Pak Pri segera menancap gas menuju rumah Duta. Duta meraih tasnya, merogoh tas itu mencari sesuatu. Tapi tak kunjung ketemu, akhirnya matanya ikut menelusuri barang yang dicarinya. Matanya menemukan benda itu tapi terganggu dengan keberadaan benda lain disana.
__ADS_1
Duta meraih keduanya. "Bang Farid, di flasdisk ini ada data yang akan kita jadikan bahan untuk ptesentasi besok dengan para anggota dewan. Tolong dibenahi ya. Itu belum sempurna"
"Siap pak" sahut Farid. Lalu Duta membalik foto itu dan tersadar. Ini yang membuat kamu marah terhadapku? Bukankah sudah kubuang? Tapi kenapa bisa ada disini? Siapa yang memasukkannya kemari? Hadeeeh, masalah lagi.
Tak lama Duta sudah berada di rumah. Farid dan pak Pri segera pamit meninggalkan kediaman Duta. Dia heran mengapa ada mobil Laras disana. "Siapa yang bawa mobil dia kesini?" gumamnya sambil masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum" ucapnya. Tak ada sahutan. Sepi. Dia mencari di dapur tapi tak menemukan yang dia cari. Bungkusan plastik itu ia geletakkan begitu saja di atas meja makan. Dia masuk ke kamar dan melihat istrinya sedang tertidur. "Awal sekali tidurnya" Akhirnya Duta membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Laras yang mengetahui kepulangan suaminya segera bangun dan menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Ya, dia hanya pura-pura tidur. Lalu ia turun untuk membuatkan minuman dan menghangatkan makanan, saat itu dia melihat bungkusan plastik dan melihat apa isinya. "Mau menyogok lagi? Gak bakalan bisa kalau belum tahu salahnya dimana"
Duta selesai mandi dan melihat ranjang kosong. "Kemana dia?" Dia juga melihat baju yang sudah disiapkan istrinya dan tersenyum. "Terima kasih istriku"
Duta menuju ke bawah melihat istrinya sedang asyik menonton drama Korea. "Ay" panggilnya.
"Hmm"
"Tolong siapkan makanan ya, abang lapar"
"Sudah siap"
"Temenin abang makan" Laras berjalan menuju meja makan dan duduk disana.
"Abang gak dilayani nih?" Laras segera mengisi piring itu dengan makanan yang ada.
Duta membaca doa dan makan dengan tenang. Rasanya kayak masakan umi. Ada mobil di depan. Ooo, dia pulang ke rumah Abi. Haduh dia cerita gak ya sama mertuaku.
"Uhuk uhuk uhuk" Duta tetiba terbatuk.
"Kenapa sih? Gak ada yang minta makanan abang, makan pelan-pelan" ucap Laras menyodorkan minuman untuk Duta.
"Terima kasih" Masih marah tapi perhatian. Gemesin banget sih kamu.
Selesai makan Laras segera mencuci piring Duta dan segera kembali ke kamar meninggalkan Duta yang masih menyeruput teh miliknya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip