
Duta menyusul istrinya yang sedang uring-uringan itu. Tak lupa dengan bungkusan plastik tadi. Laras membaringkan tubuhnya ke ranjang. Duta ikut berbaring ke ranjang.
"Gak boleh tidur membelakangi suami. Dosa lho" ucap Duta. Laras segera membalik tubuhnya dan tetap memejamkan mata.
Duta meraih tasnya dan mencari foto Dini. "Ini yang membuat kamu menyebalkan hari ini? Sampai abang hanya dibuatkan sandwich pagi tadi dan tadi makan masakan umi?" tanya Duta sambil menunjukkan foto Dini. Laras hanya membuka sebelah matanya mengintip yang ditunjukkan Duta.
"Ay, ngobrol yuk" ucap Duta. Laras masih tak bergeming. Duta mengeluarkan isi bungkusan itu "Mohon terima permintaan maaf abang. Dengarkan penjelasan abang. Katanya harus saling terbuka, katanya harus dibicarakan dengan hati dan kepala dingin. Ayo dong ngomong"
Laras membuka matanya, dia sudah tak tahan lagi. Dia menangis. Duta segera meletakkan coklat dan es krim itu di atas nakas dan memeluk istrinya. "Please jangan nangis. Abang gak sanggup lihatnya. Maafin abang ya, bukan abang yang menaruhnya sayang. Abang berani sumpah, bukan abang"
"Hiks huhuhuhu.... Tapi kenapa ada disana foto Dini? Kenapa ada di tas abang? Kalau bukan abang siapa? Siapa yang berani menyentuh tas abang selain Laras bang? Siapa?"
"Tenang dulu ya, jangan menangis. Abang gak sanggup lihatnya" ucap Duta sambil menghapus air mata yang jatuh di pipi istrinya itu. "Duduk dulu" Laras menuruti Duta dan segera duduk. Duta meraih gelas yang berisi air itu. "Minum dulu sayang"
Laras meminum air itu dan menenangkan dirinya. "Sudah lebih tenang?" tanya Duta. Laras mengangguk. "Oke, foto ini yang membuat kamu marah sama abang?" Lagi-lagi Laras mengangguk.
"Abang sudah tidak mempunyai apapun tentang Dini sayang. Semuanya sudah abang bakar. Abang tidak membawa barang apaun dari masa lalu abang sayang. Seperti kamu yang tidak membawa apapun dari masa lalu kamu. Kalau tidak percaya telpon kak Yun, dia, Kinan, sama mas Agus sebagai saksinya"
"Lalu kenapa ada di tas abang? Kenapa ada foto itu?"
"Abang juga gak tahu sayang. Nih abang sobek-sobek. Besok abang bakar. Abang tidak ada niatan membuatmu cemburu sayang. Abang hanya cinta sama kamu. Bukan Dini"
Laras diam. Perkataan Duta sama persis dengan yang diucapkan umi. Mungkin benar bukan Duta yang memasukkan foto itu ke tas Duta. Laras mencoba percaya kepada lelakinya itu.
"Laras percaya"
"Mohon terima permintaan maaf abang" ucap Duta sambil meraih es krim dan coklat itu.
Laras tersenyum "Nyogok lagi?"
"Kok nyogok sih. Ini tulus sayang. Abang tulus meminta maaf sama kamu meskipun itu bukan kesalahan yang abang lakukan"
"Permintaan maaf diterima" Laras mengambil es krim dan coklat itu. Membuka keduanya dan mulai memakannya. Es krimnya sudah mencair tapi masih dinikmati oleh Laras hingga belepotan.
Duta tertawa melihat istrinya seperti itu. "Minta dong"
"Gak boleh"
"Pelit"
"Biarin, katanya ini buat Laras"
"Iya buat kamu, tapi nyicipin kan boleh. Besok ada sembako murah kan? Kamu ikut acaranya?"
"Tadi aku sudah ijin sayang, hanya bisa menemani sebentar. Gak enak ijin terus dari rumah sakit"
"Ya sudah, besok kita dijemput sama bang Farid dan pak Pri. Ajudan dan sopir abang"
Laras menghentikan makannya. "Kok ada sopir dan ajudan segala?"
__ADS_1
"Iya biar bisa memantau keadaan kamu. Main ngilang gak kasih kabar. Abang khawatir. Cemas, gusar, ada semua deh pokoknya"
"Terserah abang saja lah. Ada konsekuensi yang akan kita tanggung jika pakai sopir dan ajudan"
"Iya abang mengerti, makanya, apapun itu, kalau di luar rumah selalu tersenyumlah. Bersikap seolah tak ada apa-apa. Karena kita ini panutan sayang. Secara tidak sadar kita ini dijadikan panutan bagi masyarakat"
"Iya, Laras akan berusaha. Maafin Laras juga sudah bersikap kekanak-kanakan"
"Sama-sama. Abang akan mencari tahu siapa yang masukin foto Dini di tas abang"
"Caranya?"
"Tenang, ada bang Farid"
"Jangan merepotkan mas Farid. Mereka mau menikah lho"
"Ya kan memang sudah tugas dia"
"Tugas dia itu mengawal abang saat acara kedinasan. Yang ada hubungannya dengan jabatan abang sekarang. Cari orang lain saja lah"
"Gak bisa, abang hanya percaya sama dia"
"Sekarepmu lah bang"
.
"Assalamualaikum" ucapnya melihat Ais duduk di ruangannya dengan muka cemberut.
"Waalaikum salam. Apa?" jawab Ais Judas.
"Mak, galaknya sama calon suami. Wedi aku yank" ucap Farid takut.
"Lagian mas nyebelin banget sih!"
"Dengar dulu penjelasan mas dong Ais sayangkuuu, pak Duta tuh tiba-tiba minta dikawal pakai ajudan dan sopir. Pakai acara lembur lagi. Sudah makan yank?"
"Gak selera"
"Halah gayamu pake acara gak selera. Mas minta maaf ya ngebatalin acara kita tadi. Mas beneran sibuk yank. Makan ya, mas suapin" ucap Farid sambil membuka bungkusan makanan itu.
"Terus kapan belinya?"
"Mas gak berani janji sayang, gini aja deh. Nanti kalau ada waktu mas langsung kabari kamu"
"Keburu tanggalnya habis! Tau ah, mas Farid nyebelin!"
"Maafin mas sayang. Tolong mengerti keadaan mas. Mas ini hanya bawahan yang harus siap menerima tugas kapan pun" ucapnya penuh harap dimaafkan oleh Ais.
Ais sejenak berpikir dan memang ucapan Farid benar semua. Calon suaminya itu hanya bawahan yang harus siap menerima tugas dari atasannya.
__ADS_1
"Iya dimaafin, nanti aku sama mamah saja lah mas yang nyari seserahannya"
Farid mengeluarkan dompetnya. Mengeluarkan salah satu atm nya. "Pakai ini, jangan nolak! Beli kebutuhan seserahan kita pakai itu. Pin nya 767xxx"
Ais menerima atm itu dan menyimpannya dalam dompetnya. "Terima kasih. Ayo makan. Sudah lapar"
"Katanya tadi gak selera?"
"Ya tadi kan ada yang bikin emosi"
"Kalau sekarang?"
"Kalau sekarang ada yang bikin happy"
"Hahaha, bisa saja kamu. Bu Laras gak cerita ke kamu tentang hari ini yank?" tanya Farid masih penasaran apa yang membuat bosnya galau.
"Gak, memang kenapa?"
"Ooowh, gak papa. Nanti pulang ya sayang, jangan tidur disini. Mas takut kalau si Arjun seperti kemarin lagi. Ah, bayangin saja ngeri" pinta Farid kepada Ais.
"Anterin pulang"
"Nggih sayang, sendiko dawuh"
"Hahahaha, berasa jadi bos akunya kalau kamu bilang begitu yank"
"Iya lah, kamu kan ibu negara di hati mas"
"Masyaallah, pinter ngegombal ya sekarang. Dulu saja kaku. Wkwkwkw"
"Ya Allah, jangan diingat yang jelek-jelek tentang mas to. Ingat yang baik-baik saja"
Mereka makan sambil bercanda sampai makanan itu habis. Lalu Farid mengantarkan Ais pulang ke rumahnya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Nah mbok yo begini, adem kan lihatnya. Masalah langsung selesai. Hahaha. Ambuh thor sekarepmu. Happy reading semuaaaa 😘😘😘
__ADS_1