Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Hukuman


__ADS_3

Arman dan Bagus beserta para istrinya dan rombongannya pulang dalam keadaan penuh amarah dan malu.


"Ini semua salah kamu!" bentaknya kepada Gita. Gita yang sedari tadi diam tersulut emosi.


"Aku yang kamu salahkan?? Kamu sendiri apa?! Kamu main gila dengan perempuan lain. Berapa ronde kamu main ha? Aku sudah rela jika diriku kamu gunakan umpan untuk menjebak Duta. Ini rasa terima kasihmu kepadaku?? Dengan sebuah pengkhianatan??"


Arman malah tertawa mendengar ucapan istrinya. "Gak usah muna kamu! Aku menjadikanmu umpan juga tidak gratis! Aku mentransfer sejumlah uang yang kamu minta! Dasar wanita matre!!"


Plak Gita menampar pipi Arman dengan keras. "Kalau aku kamu katakan wanita matre, lanyas apa dirimu??? Lelaki jal*ang!! Menyesal aku meninggalkan Ari hanya demi kamu!!! Aku minta cerai dari kamu!!!"


"Oke! Siapa takut kehilangan kamu! Banyak wanita di luar sana yang ingin menjadi istri ku! Gita Ayuna, mulai malam ini aku talak kamu sebanyak 3 kali dan kamu bukan istriku lagi. Puas???"


Air mata Gita menetes tanpa permisi. Tega sekali Arman mentalaknya sebanyak 3 kali. Arman pergi meninggalkan Gita untuk kembali ke kamarnya, dia mengeluarkan semua barang-barang Gita dari kamar itu.


Lalu melemparkan koper berat itu kepada Gita. "Minggat kamu dari rumahku!!!" Makin hancur hati Gita.


"Terima hukuman itu karena kamu pantas mendapatkannya!!" ucap Arman pedas.


Gita membawa koper itu keluar dari rumah mereka. Tak tahu harus kemana. Yang ada di pikirannya saat ini, dia harus mencari ATM untuk menarik uang sebanyak-banyaknya. Arman pasti akan dengan segera memblokirnya.


Gita segera masuk ke ATM, menarik uang dalam jumlah banyak yaitu sebanyak 15 juta. Berhasil, itu artinya Arman belum memblokir aksesnya. Dia mencoba kartu yang lain, dan bisa lagi, hingga dia menggunakan kartu yang ketiga sudah tidak bisa.


"Sial! hanya bisa ambil 30 juta! Mana cukup aku uang segitu???"


Gita pulang ke rumah orang tuanya. Tapi sayang, orang tuanya mengusir Gita, hingga dia lewat depan rumah Farid dan bertemu dengan ibu Farida, ibunya Farid.


"Kamu dari mana mau kemana? Kenapa bawa-bawa koper?" tanya bu Farida.


"Aku diceraikan oleh suamiku, bulek, aku diusir dari rumah, aku pulang ke rumah ayah tapi juga diusir, hiks, huhuhuhu" Gita menangis tak tahu harus pulang kemana. Bu Farida kasihan melihatnya.


"Ya sudah, di rumah bulek saja dulu" Gita menatap buleknya senang. "Beneran bulek?? Farid tidak keberatan??"


Bu Farida tersenyum dan menggeleng, "Tentu tidak"


Akhirnya sore itu Gita berada di rumah buleknya. Tanpa Farid dan Ais tahu. Bagaimana jika mereka tahu?


.


Arman sedang marah, dia membanting barang-barang disekitarnya. Malu yang sungguh luar biasa ia tanggung. Dia dipermalukan di depan Gubernur Jawa Tengah, detik-detik saat kemenangan akan diraihnya.


Seseorang mengetuk pintu, ART Arman membukakan pintu untuk mereka. Ternyata yang datang adalah beberapa orang polisi dengan membawa surat penangkapan.


"Selamat sore. Apakah pak Arman dan bu Gita ada?"

__ADS_1


ART itu mengangguk, "Yang ada hanya pak Arman, bu Gita sudah diusir oleh beliau. Beliau sedang marah, ada di kamarnya"


Anggota polisi itu menggeledah kamarnya tapi sudah tak ada Arman disana. Ternyata Arman mengetahui kedatangan polisi. Dia kabur lewat jendela dan turun menggunakan tali.


"Ndan, target kabur!" ucap salah seorang polisi itu.


"Lakukan pengejaran!" Anggota polisi lainnya mulai menyebar di halaman rumah Arman. Melakukan penyisiran tapi tak ketemu. Mereka melihat Arman berhasil kabur lewat gerbang saat para polisi lengah.


Arman lari dengan kencangnya, tapi polisi menembak tepat di kakinya. Hingga ia jatuh terguling-guling. "Tiarap!" bentak polisi itu.


"Tangan ke belakang!" polisi itu memborgol Arman. "Kami membawa surat penangkapan untuk anda, atas kasus penyebaran berita hoax dan penyebaran fitnah, serta pencemaran nama baik. Proses dia!" kata komandan pasukan itu.


Farid tersenyum senang saat Arman berhasil di tangkap. Dia mendekatinya saat akan digelandang ke polres. "Terima hukuman mu, Man!"


Arman meludahi Farid, tapi Farid berhasil menyingkir. "Tak kena tak kena. Weeeeekkk, bawa dia pak. Proses sesuai hukum. Istrinya pasti tak jauh dari tempat saya. Bawa 2 orang pasukan dari kalian, ikut saya mencari Gita"


Polisi itu mengangguk Farid langsung menuju kediaman orang tua Gita, Saat bertanya kepada Ayahnya Gita, beliau bilang memang tadi Gita datang.


"Tadi memang dia datang, Rid. Tapi pakdhe usir. Anak gak tahu diuntung, gak tahu diri, emoh aku nerima dia! Setelah itu pakdhe tidak tahu dia ada dimana"


Farid berpikir Mungkinkah dia di rumah ibu?. "Pak kita coba ke rumah ibu saya. Pakdhe saya pamit"


"Iya Rid, hati-hati. Beri dia hukuman sesuai perbuatannya, sesuai dengan hukum yang berlaku. Pakdhe sudah muak dengannya" kata pakdhe Farid dengan menggebu-gebu.


"Waalaikum salam"


Farid dan para polisi itu bergegas ke rumah Farid. "Assalamualaikum, bu, Gita ada disini?" tanya Farid langsung ke intinya. Bu Farida mengangguk.


"Dia sedang istirahat, biarkan dia tenang dulu Rid, kasihan dia, dia diceraikan oleh suaminya"


Farid menghela nafasnya kasar. "Bu, dia itu sekarang sedang jadi buron. Dia itu sengaja melakukan foto bersama pak Duta agar pak Duta kalah dan Arman yang menang, dia melakukan pencemaran nama baik bu" terang Farid.


"Tapi, biarkan dia istirahat sebentar"


"Yo ora iso" Farid membuka kamar tamu, dilihatnya Gita sedang tidur. "Pak, dia disini, bawa dia" titah Farid.


Gita yang setengah sadar itu kaget saat tangannya diborgol. "Apa-apaan ini, lepaskan!"


"Bawa dia pak, pertemukan dia dengan suaminya, biar mereka sama-sama menerima hukuman hasil dari perbuatan mereka" tutur Farid. Polisi itu menyeret paksa Gita.


"Tega kamu Rid! Tega kamu sama sepupu sendiri! Lihat saja nanti pembalasanku!"


"Kakehan omong! (Kebanyakan bicara!)" balas Farid.

__ADS_1


"Bulek, tolongin Gita bulek" rengeknya saat melintas di depan bu Farida. Bu Farida hanya bisa menangis melihat keponakannya digelandang oleh polisi seperti itu.


Ais pulang, dan berpapasan dengan Gita. "Awas kalian!" ancamnya. Ais hanya bersidekap dan tersenyum kecut.


"Tidur di bui ya?? Dingin dong!" ucapan Ais membuat Gita marah hendak membalasnya tapi tak bisa.


Ais masuk ke dalam rumah melihat bu Farida dan Farid. Ais menyalami keduanya. "Ibu gak menyangka Gita setega itu. Astaghfirullah nduuuk" kata bu Farida mengerti saat dijelaskan oleh Farid mengapa Gita ditangkap polisi.


Untung ketemu. Huft, kalau sampai tadi aku gagal nemuin Gita, bisa ada perang dunia ketiga. Batin Farid.


"Mas, mikir apa?"


"Gak papa, sudah makan? Makan yuk, mas lapar" kata Farid.


"Ayo, cuci tangan dulu"


Mereka makan sambil mengobrol menceritakan serunya pagi tadi. "Mereka pantas mendapatkan hukuman, itu bibir kamu kena tonjok?"


Farid mengangguk. "Sakiiit" rengeknya manja.


"Kasih sambel, biar sembuh" kata Ais enteng.


"Kok sambel sih yank, kasih kiss dong biar sembuh"


"Itu nanti jadinya sariawan, kalau sariawan paling cepet sembuhnya pakai yang asem atau yang pedes. Kalau yang manis gak mumpan"


Farid memanyunkan bibirnya. "Jahat!" Ais hanya tertawa.


Malam menjelang, Farid mendapatkan telpon dari Duta untuk ke rumahnya bersama Ais, Duta sedang butuh bantuan karena ada rombongan partai dan KPU datang bersamaan di rumah Duta.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2