Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Akal Licik (2)


__ADS_3

Brata masih melakukan pengintaian di hotel x. Dia menyamar sebagai petugas kebersihan. Menunggu saat yang tepat untuk keluar dari persembunyian.


Waktu terus berputar, tapi tak ada orang yang kunjung keluar dari dua kamar yang saling berhadapan itu.


"Jenuh banget sih begini" keluh Brata. Saat akan meninggalkan tempat persembunyiannya, Arman keluar dengan masih memakai kimono dan mengetuk kamar depannya.


Seseorang keluar dan bertanya. "Sudah?" Arman mengangguk. "Yuk cabut. Biniku sudah menanyakan keberadaanku, daripada nanti dia curiga" kata Arman.


"Oke, aku mandi dulu. Setelah ini kan juga harus rapat dengan partai" Arman mengangguk dan kembali ke kamarnya. "Aku juga mau mandi dulu" Brata sudah mendapatkan bukti foto dan video mereka. Tinggal menunggu saat yang tepat untuknya masuk ke kamar itu.


Akal licik Brata kali ini sangat berfungsi dengan baik. Dia ingin mencuri ponsel dari Arman. Mumpung ada kesempatan.


"Room service" kata Brata sambil mengetuk kamar itu. Seorang perempuan membukakan pintu untuk Brata.


"Ya?" tanya perempuan itu.


"Room service bu"


Perempuan itu menautkan alisnya. Mungkin Arman yang memesan. Dia berteriak "Sayaaaang, kamu pesan layanan kamar?" Entah jawaban apa yang didengar sehingga wanita itu membiarkan Brata masuk ke kamar. Brata berpura-pura mengganti sprei dan dengan lihai tangannya mengambil ponsel yang ia yakini milik Arman, karena sang eanita itu kini sedang bermain ponsel.


Dengan cekatan Brata segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera pamit. Brata meletakkan perlengkapan kebersihan dan langsung keluar dari hotel. Menuju kediaman Farid.


.


"Tenang, kejahatan mereka sebentar lagi akan terungkap" kata Farid.


"Bagaimana caranya? Pasti dia akan menyangkal seperti itu mas Farid" jawab Amira.


"Kalau mereka menyangkal, kita punya bukti yang lain. Si Arman main gila sama perempuan. Itu adalah kesalahan paling fatal. Lihat saja pasti akan kubongkar kebobrokan moral mereka"


Meraka menatap mantap Farid. "Oke, kita rahasiakan sampai hari pelantikan" kata Ari. Mereka mengangguk setuju.


"Yank, kita harus cepat sampai rumah. Mas Brata punya bukti yang lain" Ais langsung meraih tas nya. Mereka berpamitan pada seluruh keluarga dan langsung pulang.


.


Arman kelimpungan mencari ponselnya. "Dimana hp ku?" tanya Arman.


"Mana aku tahu sayang, bukannya tadi kamu letakkan di nakas?" Perempuan itu tampak berpikir. "Atau jangan-jangan diambil oleh pegawai cleaning service tadi"


"Siapa yang mengijinkan orang lain masuk?" kat Arman geram.

__ADS_1


"Kamu tadi aku tanya kamu pesan room service? Kamu jawab yes, makanya aku biarkan dia masuk"


"Arrrggghhh, bodoh! Di ho itu ada hal penting!"


Arman menjambak rambutnya kasar. Dan kebingungan.


.


Duta dan Laras menikmati udara malam di gazebo. Duta bermanja-manja di pangkuan istrinya. Laras membelai rambutnya lembut. "Bang, Laras ingin tanya, abang jawab jujur ya?"


Duta membuka matanya "Ingin tanya soal apa?"


"Mmm, abang pernah menyesal gak sih didiskualifikasi dari pencalonan?" Duta tersenyum.


"Sama sekali gak, abang bersyukur karena abang bisa lebih perhatiin kamu. Lebih bisa ada waktu buat jalan berdua sama kamu. Tahu gak sih yank? Masalah kemarin tuh bikin keluarga kita jadi kacau. Kamu hampir ninggalin abang, abi sakit, mamah sakit, jenguk anaknya mas Agus batal, lamaran Dirga dan Nina di undur.


Hmmm, mumpung kita ada waktu nih, besok kita ke Jakarta ya, jenguk mas dan keluarganya. Kamu belum telat datang bulan yank?" kini Duta bertanya.


"Belum, sabar ya sayang. Mungkin Allah ingin kita menikmati waktu berdua saja. Terus, jika ada kemungkinan abang jadi bupati lagi mau maju atau tidak?"


Duta diam. Ingin dia menjawab jujur, tapi dia tak ingin menggores luka lagi untuk Laras. "Ay, sudah ya, jangan dibahas lagi. Bahas yang lain saja. Abang kalau ingat suka sakit hati"


Abang masih ingin kembali jadi bupati ternyata. Andai malam itu kamu tidak pergi bang, kamu pasti saat ini masih dengan posisimu. Dan waktu kita pasti tidak seintens ini. Jujur, aku cemburu. Cemburu kepada waktu.


Duta mengubah posisinya yang sekarang duduk. "Kok jadi bahas masalalu siiih, males ah"


"Ih, jawab saja bang, mantan abang ada berapa?"


"1 puas?"


"Kalau mantan cuma 1, berarti penggemar banyak dong. Abang gak boleh ya TPTP ke mereka" sahut Laras sedikit mengancam.


"Tebar pesona maksud kamu?" Laras mengangguk. "Abang gak usah tebar pesona mah mereka sudah terpesona sendiri dengan abang. Kamu juga ya, kalau sama pasien jangan tebar pesona, khususon pasien laki-laki terutama"


"Ih, siapa yang tebar pesona sih. Gak kok"


Mereka masih berdebat dengan pesona mereka masing-masing.


.


Brata memberikan bukti itu kepada Farid. "Kemungkinan ini hp Arman mas, saya bisa tidak ijin dulu sampai waktu pelantikan. Saya takut ketahuan"

__ADS_1


Farid mengangguk. "Sembunyi di rumah, jangan keluar-keluar. Aku akan membekali mu logistik dan juga keamanan. Aku akan minta intel menyamar di rumahmu"


Brata mengangguk. "Kerja bagus. Pulanglah, tapi sebelumnya gantilah dulu bajumu, motormu, agar tak mudah terlacak. Ganti kartu milikmu dengan ini"


Brata melakukan semua yang diperintahkan Farid. Setelahnya Brata pamit pulang dan langsung bersembunyi di rumah.


Dia mengutak atik ponsel Arman dan sebelumnya sudah membuang nomor itu di jalanan yang jauh dari rumahnya., sandi bisa terbuka. Dia melihat semua yang ada disana.


"Gilaaaa, istri sendiri dimakankan sebagai umpan. Dia sendiri main gila. Hadoooh, bisa hancur masa depan Magelang kalau dipegang sama kamu Man. Nasibmu Git, meninggalkan Ari hanya untuk pria yang lebih buruk. Karma itu terbalas.


Dulu kamu mencurangi Ari, sekarang kamu dicurangi. Diiming-imingi apa kamu sama dia sampai nurut kayak robot begitu. Hadeeeehhh" Farid berbicara dengan dirinya sendiri.


.


Arman menjadi tak fokus. Anak buahnya mencari titik terakhir ponselnya aktif, tapi saat dicari sudah tidak ketemu. Anak buahnya yang lain juga mencari Brata. Mereka mengintai Brata dari jauh. Berharap ada pergerakan dari rumah itu.


Rumah Brata dibuat sepi. Intel itu menyamar sebagai tukang kebun dan ayah Brata. Karebna dirasa tak ada pergerakan, anak buah Arman mencoba bertanya dimana Brata.


"Anak saya namanya Sandi, bukan Brata. Brata siapa ya nak?" tanya salah satu intel itu.


"Oh, Sandi anak ke berapa pak?" tanya orang itu masih mencoba menggali informasi.


"Anak pertama sekaligus anak terakhir saya. Karena ibunya Sandi meninggal saat melahirkannya" Ceritanya berdebeda dengan riwayat Brata yang merupakan abak kedua, memang ibunya sudah meninggal.


"Ini rumah beli atau bangun sendiri pak?"


"Oh, ini beli mas, dulu yang punya ingin menyekolahkan anaknya, kurang biayanya makanya rumahnya dijual ke saya" intel itu mengelabui anak buah Arman.


Anak buah Arman berpikir bahwa Brata sudah pindah dari sana. Saat mereka bertanya alamat pemilik rumah yang lama, intel itu hanya menggeleng tanda tidak tahu.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2