
Ais merasakan tubuhnya tak enak. Dia terpaksa izin pulang awal kepada HRD. Kepalanya sangat pusing sekali dan rasa mualnya tak tertahankan.
Laras mengantarkannya pulang, karena dia khawatir dengan keadaan Ais. Untuk berjalan pun Ais harus di papah.
"Kakak sakit apa sih, kak? Aku jadi khawatir nih. Aku telponkan mas Farid ya?"
Ais duduk bersandar sambil memejamkan matanya di sandaran mobil. "Mungkin kakak kena vertigo, kakak pusing mual, rasanya pengen tidur terus"
Laras mencerna kata-kata Ais. Pusing, mual, pengen tidur terus. "Kenapa ciri-cirinya kayak waktu aku hamil si kembar ya kak? Jangan-jangan!" Mata Laras melotot melihat Ais.
"Maksud kamu?" tanya Ais bingung.
"Jangan-jangan kakak hamil lagi" Ais segera tersadar. Dia memberikan ponselnya kepada Laras.
"Coba cek kan kalender kakak bulan lalu" Laras membuka ponsel Ais dan mencari kalender yang ada di ponsel itu.
"Bulan ini sudah mens belum?" tanya Laras memastikan. Ais menggeleng pelan. Laras tersenyum. "Kakak sudah telat datang bulan selama 5 minggu. Nanti beli test pack deh"
Ais hanya bisa mengangguk. Tubuhnya seperti orang tak berdaya. Benar-benar tak memiliki energi. Laras berhenti di apotik dekat rumah Farid dan membelikan alat tes kehamilan untuknya.
"Semoga kabar bahagia segera aku dengar ya kak?"
"Aamiin" jawab Ais.
Setelah mengantar Ais pulang, Laras membawa mobil Ais kembali ke rumah sakit. Disana suami dan A squad sudah menunggunya.
"Dari mana sih??" tanya Duta tak ramah. Laras nyengir. Dia menyalami tangan suaminya terlebih dahulu.
"Maaf pah, mamah lupa izin sama papah. Mamah nganter kak Ais pulang. Dia hamil lagi kayaknya"
Duta terkejut mendengar ucapan istrinya. "Ais hamil lagi?" Laras mengangkat bahunya. "Belum tahu pah, belum cek juga. Mending papah kasih tahu mas Farid kalau kak Ais sakit"
Duta mengangguk dan segera memberitahu Farid. "Mah, ayo pulang. Maris mau beli es krim" rengek Amaris kepada mamahnya.
"Kak, kok es krim terus sih sayang. Tadi pagi juga sudah es krim lho. Besok lagi aja ya es krim nya. Sekarang kita cari STMJ dulu. Oke?"
"STMJ apaan mah?" tanya Aylin. "Ih, kakak, masa gak tahu STMJ? Adel aja tahu?" sahut Adel.
"Apa coba?" tantang Aylin. "STMJ itu, toko di dekat rumah kita. Yang punya namanya SiTiMaJi, makanya disingkat STMJ. Benar kan Adel bilang mah?"
Duta dan Laras tertawa mendengar jawaban Adel. "Bukan STMJ yang itu Adel, itu lho yang susu dicampur sama madu" kata Archee.
"Eh, salah ya?" kata Adel.
"Salah Adel" sahut semuanya.
"STMJ itu susu telur madu jahe. Minuman susu hangaymt yang bisa dicampur dengan ketiga bahan tambahan tadi" jelas Duta ke anak-anaknya.
.
Farid segera pulang setelah mendapatkan kabar dari Duta. Dia langsung pulang meninggalkan pekerjaannya. Pikirannya saat ini hanyalah istrinya.
Setelah beberapa jam perjalanan, Farid tiba di rumah. Ibunya bermain bersama Hilal dan Habib. Dia menyalami ibunya. Anak-anaknya memeluk kaki kiri dan kanannya.
__ADS_1
"Bunda dimana nak?" tanya Farid sambil berjongkok.
"Di dalam kamar Rid, kasihan istrimu. Sana temankan dia. Anak-anal biar sama ibu"
Farid mengangguk dan segera menuju kamarnya. Ais tak bisa membuka matanya. Dia sangat mengantuk. "Yank" panggilnya kepada Ais.
"Hmm, mas kok sudah pulang?" tanya Ais sambil merem.
"Iya, mas ijin. Mas khawatir sama kamu. Kamu kenapa?"
"Pusing mual ngantuk mas. Aku tidur dulu ya" Farid mencium kening istrinya. "Iya tidurlah"
Farid melihat sebuah alat tes kehamilan di atas meja rias istrinya. Dia tersenyum. Semoga kamu hamil lagi yank.
Ais tak mampu untuk beraktivitas. Dia harus digendong oleh Farid untuk ke kamar mandi. Farid memandikan istrinya dan membantunya memakaian pakaian.
Lalu mengambilkan makanan untuk Ais. "Mulutku pahit mas" kata Ais. "Sedikit saja sayang, biar kamu ada tenaganya. Buka mulutnya" Ais memaksakan diri membuka mulut dan mengunyah makanan itu.
Rasa di dalam perutnya langsung bergejolak. Membuatnya langsung muntah. "Hoeeekkk"
Farid langsung menangkup makanan itu lagi. "Udah mas, aku gak bisa nelen" kata Ais.
Farid bingung. "Minun teh dulu. biar ada tenaganya. Kamu mau makan apa? Mas carikan"
"Teh hangat aja mas. Aku masih ingin tidur"
"Jangan tidur lagi. Sudah mau maghrib sayang. Itu alat tes kehamilan punya siapa? Kamu?" tanya Farid. Ais mengangguk pelan.
Farid tersenyum. "Semoga kamu hamil lagi yank. Mas gak sabar nunggu besok"
Ais tersenyum. "Iya, semoga ya"
.
Pagi hari Ais dibantu Farid menuju toilet. Dia langsung melakukan tes kehamilan itu. Menunggu dengan harap-harap cemas. Daaaannnn.... jeng jeng jeeeeeenggg.
"Garis dua" kata Farid sambil tersenyum. "Kamu hamil sayang. Kita jaga sama-sama ya?" imbuhnya. Ais tersenyum dan mengangguk.
Ais terpaksa mengambil cuti satu minggu untuk jadwalnya kali ini. Dia mengandalkan Arjun untuk menggantikannya.
.
Rumah sakit
Arjun datang lebih awal dari Rena. Dia baru saja menyelesaikan operasi subuh tadi. Jika ia pulang takutnya malah terlambat.
"Assalamualaikum" kata Rena saat masuk ruangannya dan melihat bukan Ais yang duduk di kursi dokter, melainkan Arjun.
Arjun yang sedang memakai sepatunya menjawab salam itu. "Waalaikun salam. Selamat pagi" ucapnya.
"Kok bukan dokter Ais?" kata Rena bingung.
"Dokter Ais sakit, dia meminta saya menggantikannya"
__ADS_1
Sakitnya parah berarti, aku kira cuma vertigo biasa. Aih, malas aku jaga sama dia.
Arjun menatap Rena yang sedang menerawang. "Ngalamun" ucap Arjun sambil melemparkan pulpen ke arah Rena.
"Hish! Apaan sih!" jawab Rena dengan begitu sengit.
"Biasa aja sih, Ais hamil lagi Dia gak bisa bangun. Makanya saya disuruh gantikan" terang Arjun.
"Gak nanya" kata Rena datar.
"Ya sudah kalau begitu. Bisa tolong belikan saya kopi tidak?" pinta Arjun.
"Gak bisa" jawab Rena masih datar. Arjun geleng kepala melihat sikap Rena padanya.
"Saya salah apa sih sama kamu ha?" Rena menoleh dan mengerutkan alisnya. "Ooo. dokter lupa pernah menghina suara saya kayak knlapot? Gak ingat dulu dokter menghina saya?"
Arjun mengingat lagi ucapannya. "Ooohh ituuu, ya sudah, saya minta maaf" katanya sambil tersenyum.
Rena melihat senyum itu sekilas. "Dimaafin kan?" kata Arjun lagi.
Rena diam dan akhirnya mengangguk. "Ya sudah. Saya ke kantin sebentar. Mau titip apa?"
"Gak titip apa-apa" Jawab Rena datar.
"Oke" Arjun meninggalkan ruangannya dan berjalan menuju kantin. Dia berpapasan dengan Laras dan keluarganya.
"Om Arjuuuunnn" teriak Amaris kepada Arjun. Arjun tersenyum. Duta kesal melihatnya.
"Amaris ngapain sih?" tanya Duta.
"Sudah sih pah. Masa lalu jangan dibawa-bawa. Arjun juga bukan orang yang dulu lagi. Dia sudah berbeda" Duta hanya membuang muka saat Laras bicara tentang laki-laki itu.
"Amaris, ayo nak, nanti telat masuk sekolahnya" teriak Duta.
"Iya pah, bentar. Om, Maris sekolah dulu ya, dadaaaahh" Amaris melambaikan tangannya kepada Arjun. Arjun ikut melambaikan tangannya dan tersenyum.
Setelah mereka berlalu, Laras menghampiri Arjun. "Maafin sikap papahnya anak-anak ya?" Arjun mengangguk. "Dasar pria posesif. Aku ke kantin dulu"
Laras mengangguk dan mereka berpisah di persimpangan jalan.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1