Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Kecelakaan


__ADS_3

Duta, Laras, dan Nina kembali ke Magelang terlebih dahulu. Mereka harus kembali ke aktifitasnya. Sedangkan Mamah Aini dan tante Rum masih menemani tante Meli. Dirga diberi waktu cuti hanya sampai hari selasa.


"Nina, nanti balik ke Magelangnya bareng kami saja" Laras menawarkan tumpangan kepada Nina.


"Gak usah dok, saya naik bis saja"


"Mbak Nina ikut kami saja, jangan merasa sungkan. Anggap saja kami diberi amanah sama tante Meli untuk mengantarkan calon mantunya pulang, heheheh" sahut Duta.


"Pak Duta ini, malah ikut-ikutan dokter Laras"


"Hahaha, ya kan Dirga sendiri yang ngomong kalau kamu calonnya. Udah sih Nin, ayo bareng kami" Nina akhirnya ikut bersama rombongan mereka. Karena Farid dan Ais ada acara sendiri maka yang menjemput adalah mas Budi dan pak Pri.


.


Senin pagi seperti biasa, merupakan hari sibuk. Laras sekarang harus rajin olahraga untuk mengatur pernafasannya. Dia bersama suaminya jalan-jalan pagi di sekitaran kompleks.


"Bang, kok kemarin pakdhe Bambang sama budhe Endang gak ikut ke Bandung sih?" tanya nya sambil berjalan.


"Mereka itu orangnya keras sayang, tahu deh sampai kapan mereka seperti itu. Kemarin, waktu awal-awal Dirga datang kesini, diantar sama tante Rum ke rumah pakdhe Bambang, tahu apa yang mereka lakukan? Menghina Dirga. Menyalahkan papah Dirga karena membuat adik mereka meninggalkan segala-galanya. Malah budhe Endang yang dipanggil kesitu juga bilang, itu karma buat tante Meli. Haduh, kasihan abang sama tante Meli.


Kan dia juga tidak tahu akan begini cerita hidupnya. Semua kan sudah diatur oleh Allah, harusnya mereka tidak terpecah seperti ini. Malah seperti musuh. Mamah sampai pegel ngasih tahu dengan cara apa lagi. Meskipun agama sudah beda, tapi dalam tubuh mereka mengalir darah yang sama. Gak ada tuh namanya mantan kakak dan adik" terang Duta agak jengkel dengan pakdhe dan budhenya.


Laras mengatur nafasnya "Kita doakan saja semoga pintu hati pakdhe dan budhe bisa segera terbuka dan permintaan maaf tante Meli segera membuat mereka akur kembali. Kan itu bukan salah tante Meli seutuhnya, jalan takdirlah yang menentukan seperti itu. Hmmm, pemikiran orang beda-beda sih ya"


Duta menarik tangan Laras "Tunggu abang, tali sepatu abang lepas. Kita balapan"


"Oke, siapa takut, Laras jalan di depan dulu. Kejar Laras ya baaang hehehe" Laras tersenyum nyengir dan meninggalkan suaminya. Dia mempercepat langkahnya.


Seorang pengendara motor dengan sengaja menyenggol tubuh Laras hingga dia jatuh ke samping. Duta langsung berteriak "Laras!!"


Duta segera menghampiri istrinya. "Kamu gak papa sayang?" Laras menggeleng. "Gak papa, itu pengendaranya ugal-ugalan banget sih, ini pinggir lhoh, masih aja kesenggol"


Duta mengecek keadaan istrinya, dia merogoh koceknya dan menelpon Brata untuk segera menjemputnya di sekitaran kompleks. Tak lama Brata datang dengan sepeda motor matic. Laras segera dibawa pulang oleh Duta.

__ADS_1


"Mas Brata, cek cctv sekitaran kompleks, sepertinya ada orang yang sengaja mengincar keselamatan kami"


Brata mengangguk "Nggih pak sendiko dawuh" Brata melakukan penyusuran sekitaran kompleks itu dan memeriksa cctv. Sayang, cctv yang ada mati. Brata melakukan penyisiran lagi, menggunakan logikanya darimana arah pengendara itu datang, dan berhasil.


Dia segera mengkopi dan menunjukkan pada Farid. Farid bingung dengan yang dikirim Brata.


Farid : Apa ini mas?


Brata : Ibu tadi pagi kecelakaan mas, kesrempet orang. Bapak curiga memang sedang diincar.


Farid : Oke, saya lihat dulu. Makasih infonya. Minta polisi untuk berjaga di rumah bapak.


Brata : Siap!


Farid melihat rekaman cctv itu. "Ini kan motor yang terlibat kasus kecelakaan waktu itu? Benar dugaan bapak dong mereka sedang dalam bahaya" ucap Farid serius. Dia segera menghubungi kapolres Magelang dan meneruskan rekaman itu.


Sampai di rumah, Laras langsung menghubungi Citra untuk segera memeriksa keadaannya, karena saat ini yang ia rasakan adalah mulas yang hebat. Tapi dia tak berani bilang dengan suaminya. Dia hanya menyembunyikan rasa sakit itu.


"Ay, mana yang sakit sayang?" tanya Duta cemas karena melihat buliran keringat sebesar biji jagung memenuhi kening Laras. Dia hanya mampu menggeleng dan menampilkan senyumnya.


"Mulas Cit, mulas banget. Kayak orang mau menstruasi" Citra memeriksa denyut jantung janin Laras, tapi tak kunjung ditemukan.


"Kita harus ke rumah sakit. Aku mau pastikan sesuatu" ucao Citra sangat serius. Membuat Duta dan Laras ketakutan.


Duta memboyong istrinya ke rumah sakit, Citra bersama sang suami langsung mengikuti mereka. Mereka sudah sampai di IGD dan langsung dilakukan USG oleh Citra.


Ais yang mendengar dari suaminya khawatir dengan keadaan Laras dan bayinya. "Kenapa bisa begini sih Ras?" tanyanya sambil berkaca-kaca. Citra sibuk dengan peralatannya. Saat membuka baju Laras darah segar sudah mengalir dari bawah sana. Dia mengecek kembali denyut jantung janin Laras tapi tak menemukannya.


Citra dengan menunduk dan mengusap air matanya menyampaikan hasil pemeriksaan kepada Duta dan Ais. "Janinnya tidak bisa tertolong. Kemungkinan perut Laras mengalami benturan yang cukup keras tadi"


"Tadi memang kena setang motor bagian pinggir sini, dan aku jatuhnya dalam posisi miring" terang Laras.


Duta mengusap mukanya kasar, mencengkeram rambutnya dan menitikkan iar mata itu kembali. "Lalu apa yang harus dilakukan dok?"

__ADS_1


"Kita harus segera melakukan curetage, karena detak jantung janinnya tidak ada pak" ucap Citra sedih. Tubuh Laras seketika lemas, air matanya mengalir tanpa permisi. Dia menyesali perbuatannya pagi tadi.


"Selametin anak aku Cit, tolong" katanya sendu. Citra menggeleng. "Maaf Ras, tapi dia sudah tidak ada" Duta menenangkan istrinya. Ais ikut menangis menyaksikan kejadian pagi ini. Kecelakaan yang dianggap orang sepele, tapi bisa menghilangkan nyawa tak berdosa.


"Lakukan tindakan itu dok" perintah Duta pasrah. "Jangan bang, jangan!" tolak Laras.


"Sayang, jangan seperti ini. Abang mohon, tegarlah. Abang mohon sayang" Duta tak tahu lagi harus bagaimana menguatkan istrinya. Sebenarnya dia juga rapuh mendengar tentang janin mereka. Tapi ia berusaha tegar untuk istrinya.


Berita ceoat menyebar, hingga mamah Aini dan tante Rum yang berada di Bandung mendengar berita itu. Mamah Aini memutuskan untuk pulang sendiri dan meninggalkan tante Rum untuk menemani tante Meli dan Dirga. Mamah Aini pulang naik pesawat sendirian. Agus dan Yuna tak bisa menjenguk karena kondisi Yuna juga sedang hamil 8 bulan.


Umi Saodah dan Abi Gunawan langsung menuju rumah sakit saat mengetahui anaknya menjadi korban kecelakaan.


Citra segera menginfus Laras dan menambahkan obat pemacu pembukaan serviks. Duta selalu berada di samping istrinya. Berusaha tegar. Laras benar-benar menyesal.


"Maaf.... hiks, maafkan Laras"


"Sudah, jangan menangis. Musibah sayang. Jangan menyalahkan diri sendiri. Ikhlaskan. Seperti yang kamu katakan kepada para pasienmu. Hanya ikhlas dan menerima ketetapan Allah, itu akan membuat kita menjadi kuat. Abang selalu bersamamu sayang. Jangan menangis lagi ya.


Abang gak tahan kalau lihat kamu menangis. Perintah suami harus dituruti ya. Jangan menangis. Belajar ikhlas, belajar menerima. Abang tidak menyalahkanmu. Kita hadapi ini sama-sama"


Umi dan Abi masuk dan menguatkan anak dan menantu mereka. "Jangan menangis di depan Abi, belum menjadi rejekimu nak. Sabar ya" ucap Abi saat Laras menggenggam kuat tangannya.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


😭😭😭 jahat banget sih yang nyerempet


__ADS_2