Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Berita Duka


__ADS_3

Jum'at pagi menjadi hari paling sibuk untuk Dirga. Dia mendapat shift pagi, baru saja operan dengan petugas jaga tadi malam, dia disibukkan dengan beberapa pasien kecelakaan.


Dua buah mini bus yang akan menuju Jogja terguling ke sisi kanan jalan karena jalanan licin. Dirga sampai bingung mana yang harus ia prioritaskan. Dia menenangkan dirinya sebentar, lalu mengambil gelang pasien. 5 warna yang ia bawa, merah, kuning, hijau, putih, dan hitam. Semua medis yang saat itu berjaga ikut turun membantu Dirga. Hingga kepala ruangan pun. Jumlah pasien ada 20 orang.


IGD menjadi penuh sekali. Hingga ruang isolasi dibuka untuk menampung banyaknya pasien. Pasien dengan luka ringan didudukkan berjajar. Mereka diberi perawatan dengan cepat.


Nina dan Rena yang sudah di rolling tempat dari awalnya di bangsal dan sekarang di IGD. Sungguh permulaan yang sibuk. Pikir mereka.


"Wooow, penyambutan yang sungguh luar biasa. Seru sekaliii. Aku sudah kangen dengan semua alat-alat itu" kata Nina begitu bersemangat. Berbeda dengan Rena. Ia merasa biasa saja, karena dia menjadi asisten Ais maka hal itu tak begitu ia rindukan.


Dirga memakaikan gelang kepada pasien. Dia mengkategorikannya sesuai warna gelang itu. "Nin, Ren, bantuin ya" kata mbak Pungki. "Siap"


Nina dan Rena memilih pasien dengan warna gelang hijau dan kuning untuk mereka tangani. Sedangkan Dirga dan mbak Pungki menangani yang merah.


"Hubungi dokter bedah, dia mengalami luka bagian perut, sepertinya hati atau pankreasnya terluka. Siapkan juga USG, aku ingin lihat bagian apa yang terkena luka itu" ucap Dirga pada mbak Pungki, setelahnya dia melihat pasien lainnya.


"Dok, lihatlah" kata mbak Pungki menunjuk layar USG itu. Dirga segera melihatnya, ada sebuah luka di bagian hati pasien itu. Pembuluh darahnya robek. Ais yang baru saja datang langsung berlari ke IGD melihat itu.


"Innalillahi wainna ilaihi roji'un" ucap Ais melihat keadaan IGD. Dia membantu Dirga. "Ren, Nin, bawa 2 pasien ini ke ruang operasi sekarang. Minta persetujuan keluarganya, dan hubungi dokter Samsul. Cepat!" perintah Ais.


Rena dan Nina segera mempercepat pekerjaan mereka dan melaksanakan perintah Ais. "Ga, yang ini tangani disini saja. Arterinya ikat dulu, baru ikat jaringannya. Bisa kan?" Dirga mengangguk. Ais segera berlalu menuju ruang operasi.


Ponsel Dirga berdering terus menerus. Tapi tak ia hiraukan. Baginya, saat ini yang terpenting adalah nyawa pasiennya. Hingga pukul setengah 9 pagi ia baru bisa menyelesaikan pasiennya, dan mengendalikan keadaan.


Saat akan melihat ponselnya, Dirga mendapatkan pasien seorang ibu yang akan melahirkan. Seorang bidan mengecek keadaan ibu itu terlebih dahulu. "Dok, ketubannya sudah pecah, warnanya keruh pembukaannya baru 6cm"


"Segera hubungi dokter kandungan. Drip oxytosin" Bidan itu mengangguk dan melaksanakan perintah Dirga. Citra datang dan memastikan keadaan pasien.


"Pasienmu tak bawa ke VK ya Ga, kerja keras kamu hari ini. Semangaaaat" ucap Citra sambil mengangkat tangannya.


"Hahaha, dokter bisa saja. Terima kasih dokter Citra"


"Sama-sama"


Dirga masih melengkapi dan menyelesaikan status pasien. Nina datang dan memberinya minum. "Minum dulu dok" Dirga tersenyum.


"Makasih Nin" Nina membalas senyumnya. "Ehm, aku jadi obat nyamook nih"


"Ih, kamu apaan sih?"


Ponsel Dirga kembali berdering. Telepon dari mamahnya. "Halo mah"

__ADS_1


Halo Dirga, papahmu masuk rumah sakit nak. Kata mamahnya


"Apa mah? Mamah tenang dulu ya, jangan menangis. Dirga usahakan besok sabtu pulang ya mah"


Iya Dirga, mamah takut sekali sayang


"Tenang ya mah, berdoa terus. Dirga minta ijin dulu ya. Dirga langsung pesan tiket bis saja biar bisa langsung sampai besok pagi"


Iya Ga, doakan papah ya


"Iya mah, sekarang pokoknya mamah tenang oke? Jangan nangis ya mamahku sayang"


Iya, kalau gitu mamah tutup dulu telponnya


"Iya mah"


Panggilan berakhir, Nina mendekat dan bertanya pada Dirga. "Kenapa?"


"Papah masuk rumah sakit, Aa' besok harus pulang. Aku ngurus ijin dulu ya" Nina mengangguk. "Semangat ya A', aku doakan papah cepat membaik"


Dirga tersenyum "Makasih". Dirga segera menghadap kepala ruang dan HRD untuk ijin beberapa hari.


"Tuhan, jika memang sudah waktunya dia engkau ambil. Aku ikhlas. Jangan buat dia kesakitan, Tuhan"


Mamah Meli terlalu mencintai suaminya. Tapi apa daya? Dia hanyalah seorang manusia yang harus menerima takdir. Berita papah Dirga masuk rumah sakit menyebar di anggota keluarga mamah Aini.


Tante Rum dan mamah Aini, siang itu langsung berangkat ke Bandung. Mereka takut adik mereka tak ada yang menemani saat duka datang.


"Mbak, sudah bilang Dirga?" tnaya tente Rum.


"Aku telponin dari tadi gak bisa Rum, aku udah kasih tahu Laras"


Benar dugaan mamah Aini, tepat pukul 2 siang papah Dirga menghembuskan nafas terakhirnya. Dada Dirga seketika sakit yang terlalu, dia menangis membaca pesan mamahnya.


Nina yang baru saja masuk mobil melihat pacarnya menangis dan membaca pesan itu. "Yang sabar ya sayang, mungkin ini yang terbaik untuk papah. Ikhlaskan A', kamu harus kuat demi mamah" ucap Nina sambil memeluk kekasihnya itu.


Dirga menghapus air matanya. "Aku harus pulang ke Bandung segera, aku bawa mobil saja. Kalau pakai bis harus nunggu nanti malam"


"Sayang, kamu nyetir sendirian lhoh, kamu yakin mau pake mobil?" Dirga mengangguk. "Ya sudah, hati-hati ya. Kabari aku kalau sudah sampai Bandung. Besok aku susul ke Bandung sama ibu"


"Makasih ya sayang, aku antar pulang dulu" Dirga segera mengantarkan Nina pulang.

__ADS_1


Laras mencari Dirga tapi tak menemukan keberadaannya. Dia menghubungi Dirga tapi tak diangkat. Laras akhirnya menghubungi suaminya. "Assalamualaikum bang" ucapnya panik.


Waalaikum salam sayang, ada apa?


"Berita duka bang. Papahnya Dirga meninggal. Abang sudah baca chat di grup keluarga belum?"


Innalillahi wainnailaihi roji'un. Abang belum baca sayang. Sekarang Dirga kemana?


"Gak tahu, Laras cari sudah gak ada, mungkin sudah pulang dan langsung ke Bandung"


Ya sudah, tunggu abang nanti malam. Besok kamu ijin saja, minta surat keterangan dari Citra biar bisa naik pesawat.


"Iya sayang. Ya sudah Laras tutup telponnya ya. Semangat kerjanya suamiku, jangan lama-lama nanti perginya"


Iya sayang, diusahakan. Tunggu abang pulang, nanti kalau kemalaman abang hubungi kamu lagi. Love you, Ay


"Love you too pak Bupati. Assalamualaikum"


Waalaikum salam


.


Dirga langsung berangkat sendirian menggunakan mobil menuju Bandung. Sungguh, hatinya pilu. Tangisnya terus meleleh saat mengingat papahnya.


Nina menghubungi ibunya memberitahukan berita duka itu. Dia meminta ibunya untuk menemaninya pergi ke Bandung. Sayangnya ibunya tidak bisa. Akhirnya Nina memesan tiket pesawat untuk menghemat waktu, dia mengeluarkan tabungannya untuk terbang ke Bandung, ingin menjadi orang yang ada disamping kekasihnya, baik suka maupun duka.


Dia menukar jadwalnya dengan Rena untuk besok dan minggu. Karena susah untuk mendapatkan ijin.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2