
Ais dan Farid sudah selesai melakukan fitting baju dan foto prewed. Mereka melihat hasil jepretan fotografer itu. Sesuai ekspektasi.
"Habis ini kemana lagi kak?" tanya Laras.
"Kalian pulang saja, kakak gak enak. Masa pak Bupati suruh ngikutin kegiatan kita sih, ya gak mas?"
"Benar bu Laras, jenengan sama bapak pulang saja. Kami habis ini mau ambil undangan" timpal Farid.
"Gimana bang?" tanya Laras kepada Duta.
"Ya sudah, kami pulang ya. Saya mau ajak istri jalan-jalan. Mau nonton film di bioskop. Kan gak pernah tuh" tiba-tiba Duta mengajak Laras nonton film.
"Udah sanaaaa, kalian kencan sajaaaaa" Ais mendorong tubuh Laras lebih dekat ke Duta.
"Oke baiklah, ayo nonton sayang. Yang mau OTW halal gak mau dibuntutin sih"
"Let's go. Bang mbak kami pamit ya, assalamualaikum" Pamit Duta kepada pasangan itu.
"Waalaikum salam"
.
Duta dan Laras akhirnya memilih nonton bioskop. Ais dan Farid segera bersiap menuju percetakan undangan. Sekitar 10 menit mereka tiba di tempat percetakan. Mereka disambut oleh pemilik percetakan yang saat ini sedang berada disana.
"Assalamualaikum" ucap Farid
"Waalaikum salam mas Farid, ambil undangan ya?"
"Iya, gimana mas? Sudah jadi semua kan?"
"Sudah mas, ayo tak bantu naruh di mobilnya"
"Sek mas, iki ameh tak terno sisan ning omahe. Wes sesuai karo wilayahe kan? (Sebentar mas, ini mau aku antarkan sekalian ke rumahnya. Sudah sesuai sama wilayahnya kan?)"
"Sampun mas Farid, sesuai requestnya jenengan pokoknya"
"Okeh, angkuuuut"
Farid dibantu para pekerja percetakan itu memasukkan beberapa kardus ke dalam bagasi mobil. Farid berpamitan kepada pemilik percetakan itu dan segera melajukan mobilnya kembali.
"Sekalian nyebar undangan ya yank" katanya kepada Ais.
"Manut"
"Mau makan dulu?"
"Jangan ngajakin makan melulu, takut melar badanku mas, kebaya nanti gak muat susah kita" jelas Ais menolak ajakan Farid untuk makan.
"Makan kan memang kebutuhan tubuh kita yank. Kamu itu sama saja, gak makan tapi ngemil. Gimana gak bikin melar?" kata Farid sambil melajukan mobil menuju alamat yang ditujunya.
"Iiiiih, kamu kok gitu sih mas? Huhuhu. Sedih aku"
"Kok sedih, mas kan ngomong opo onone, apa adanyaaaa. Kamu gak makan tapi ngemil. Kuwalik iku (Kebalik itu). Kurangi ngemilnya sayang. Porsi makan juga dikurangi"
__ADS_1
"Jadi kamu bilang aku gendut? Huhuhu"
"Lhaaaaahh malah begini. Gak, mas gak bilang kamu gendut sayang. Kamu mau gendut mau kurus gak ngaruh sama rasa cinta mas ke kamuuuu. 7 tahun mas nunggu kamu, sama sekali gak hilang. Malah bertambah. Sudah jangan sedih. Makan ya? Ngemilnya buah saja, tapi yo dibatasi. Oke cinta?" Farid mengusap kepala Ais.
"Ya kamu ngomongnya nyakitin"
"Kok nyakitin sih. Sisi mana yang menyakitkan? Wes lah ora usah dibahas marai geger nek diteruske (sudah lah gak usah dibahas membuat geger kalau diteruskan)"
Mereka saling diam hingga tiba di alamat yang dituju. Farid segera mengeluarkan undangan itu dan menitipkan kepada temannya.
Dia menuju alamat selanjutnya. Melihat Ais yang masih cemberut saja dia hanya geleng kepala.
"Mas minta maaf ya"
"Hmm"
Keheningan terjadi di dalam mobil sampai ada bunyi. Kruuuuuuuuukkkkk. Farid menoleh ke arah Ais dan menahan tawanya.
Wajah Ais merona menahan malu. Cacing peruuuut kenapa kalian tidak bisa diajak kompromi sih. Maluuuu
Farid mencari rumah makan terdekat saat melintasi jalanan. Sebuah warung makan kecil tapi cukup ramai. Menawarkan menu ayam dan bebek goreng sambel dower. Membuat Ais melihat itu menelan air liurnya. Farid turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ais.
"Ayo turun" perintah Farid. Ais diam tak bergeming.
"Moh (Gak mau)" jawab Ais singkat. Farid melepaskan seatbelt Ais.
"Gak mau turun sendiri ya mas gendong. Kok susah"
Akhirnya Ais keluar dari mobil. Dia berjalan di belakang Farid menuju ke dalam warung makan itu.
"Ayam 2 ya mbak, minumnya es teh 2" Farid mengatakam kepada pelayan disana dan segera mencari tempat duduk.
Ais menyangga kepalanya dengan tangan. Seperti orang malas.
"Masih marah?" tanya Farid.
"Kamu nyebelin"
"Nyebelin dari sebelah mananya sih yank, kan mas gak bilang kamu gendut Aisyaaaaah. Coba diingat, mas ada nyebut kamu gendut?" Ais menggeleng.
"Nah, terus salah mas dimana? Melarangmu ngemil?" Ais mengangguk.
"Ealah wong wedok wong wedok (Ealah perempuan-perempuan), mas gak melarang kamu ngemil sayang, mas hanya bilang mending makan daripada ngemil. Kalori ngemil lebih besar daripada makan. Benar apa benar?" Ais mengangguk.
"Jadi?"
"Ya tetep mas yang salah. Peraturannya pasal 1 wanita selalu benar, pasal 2 kalau laki-laki yang benar kembali pada pasal 1" jawab Ais
Farid tepok jidat mendengar jawaban calon istrinya. "Peraturan perundang-undangan perempuan ya? Lupa mas kalau kalian para wanita punya perpu itu. Hadeeeeh. Wes lah mbuh"
"Hahahahah, maafin aku ya mas. Heheh. Iya aku yang salah. Perempuan itu sensitif kalau yang dibahas begituan"
"Iya dimaafin, kan pasal 1 yang menang" ucap Farid sambil membuang muka. Ais mencubit pipi Farid karena gemas sambil tertawa.
__ADS_1
"Hahahaha, lucu ih kalau begitu"
Makanan datang, dia tersenyum senang, mata Ais seperti melihat berlian. Berbinar-binar. Perutnya semakin bergejolak. Dia menelan air liurnya tak sabar menyantap ayam itu.
Farid tersenyum saat melihat tinglah Ais seperti itu. "Lapar? Tadi ada yang gak mau turun tuh dari mobil"
"Wes to maaaas, jangan dibahas lagi. Ayo makan" rengek Ais kepada Farid.
"Hahahaha, iya ayo makan. Yang lahap makannya. Percuma mas kerja tiap hari kalau gak bisa bikin kamu seneng"
"Cieeee, jadi selama ini kerja buat aku? Bukan buat ibu?" Goda Ais saat Farid mengatakan itu.
"Ya ibu, ya kamu juga. Habis ini lanjut lagi ya yank. Undangannya masih banyak tuh"
"Nggih mas ajudan tampaaaan"
"Uhuk uhuk uhuk" Farid terbatuk saat dirayu oleh Ais.
"Kenapa sih? Heran aku. Gak pernah dirayu sama cewek ya? Hahaha" ucap Ais sambil menyodorkan es teh milik Farid.
"Ehm ehm ehm. Ya mana pernah deket sama cewek selain kamu. Hatiku sudah terpatri untuk mu sayaaaaaanng"
"Walaaah terpatri. Emas kali dipatri. Gombal banget sih kamu. Selama 7 tahun kamu memang ngapain saja? Gak nyari cewek lain?"
"Sibuk" jawab Farid singkat. Membuat Ais menautkan alisnya. "Sibuk mengurus pak Duta? Memang sama sekali gak ada waktu mas?"
"Sibuk stalking in sosmed kamu"
"Ha?" tanya Ais kaget. "Apa tadi? Stalking in sosmed aku? Ya Allah si bapaaaaaakkk, segitu cintanya sama akuuuu?"
"Hahaha, kamu kira move on gampang? Lihat kakakmu. Apa dia juga sudah move on? Mas yakin belum. Pak Duta? Baru-baru ini saja. Dirga yang kata kamu suka sama bu Laras? Hey girls, kami para cowok itu juga punya perasaan. Sikap kami saja yang cuek. Hati mah tetep, hangat. Move on itu susah sayaaaang. Apalagi kalau cinta kami itu sudah terlanjur mengakar di hati. Dicabut tumbuh lagi"
Ais bertepuk tangan dan tertawa. "Masyaallaaaaaaaah, calon imam akuuuu. Puitis buanget siiiiiiih. Gemes aku jadinya. Tapi kalau sekarang jangan pernah move on dari aku ya sayaaaaang"
"Never"
"Hahahahah" Mereka tertawa bersama. Oh indahnyaaa.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Votenya dong kakak sekaliaaaaaaannn. Komeeeeeennnn juga kuencengiiiin. Biar othor suemangaaaaaaaaattt. Happy reading all 😘😘😘😘
__ADS_1