
Setelah menjelaskan semua tentang obat-obat itu, Citra, Ais, dan Amira pun pamit. Nina menunggu suaminya yang masih memanen lele. Duta mengantarkan mereka hingga ke pintu utama.
"Sekali lagi terima kasih ya mbak Ais, mbak Amira, dokter Citra. Laras beruntung memiliki teman-teman seperti kalian" ucap Duta.
"Sama-sama pak" sahut mereka kompak. "Kami pamit ya pak, assalamualaikum" ucap Ais.
"Waalaikum salam warahmatullah" jawab Duta. Tak lama, Dirga datang membawa pesanan Duta. "Taruh kulkas ya?" perintah Duta. Dirga mengangguk.
Duta kembali ke kamar dan melihat Nina sedang menemani istrinya. Nina menjelaskan kepada Duta jika plabot infusnya tinggal sedikit, harus langsung diganti. "Nanti kalau macet atau keluar darahnya dari sini telpon saja pak, biar saya yang betulkan" Duta mengangguk.
"Bang, mau air putih tapi yang hangat" ucap Laras merasakan perutnya mulai bergejolak. Dia segera menutup matanya agar tak muntah.
"Dokter kenapa?" tanya Nina. "Nin, tolong baskom. Saya mau muntah lagi, di bawah ranjang" titah Laras.
Nina segera mengambilkan baskom itu, Nina sudah tak tahan, dia langsung memuntahkan makanan yang ia makan. Nina memijat tengkuk Laras. "Sudah dok?" tanya Nina. Laras mengangguk.
Duta melihat istrinya muntah lagi. "Muntah lagi mbak mu Nin?" tanya Duta. "Iya pak" sahut Nina.
"Biar saya yang bereskan Nin. Kamu bantu beri minum saja" Nina mengangguk. Bener-bener sayang istri nih si bapak bupati, sampai muntahan istrinya saja dibereskan sendiri. Padahal kan bisa nyuruh ART
Laras meneguk air putih hangat itu. Nina memberikan tisue untuknya. "Mau makan lagi gak dok?" kata Nina.
"Tolong ambilkan buah saja Nin, pilihkan yang agak asam ya"
"Dok, diimbangi ya, asam sama manis. Biar asam lambungnya gak melonjak nanti" Laras hanya mengangguk.
Biasa lah orang hamil. Mintanya yang segar-segar. Yang asam-asam. Nina langsung mengambilkannya di kulkas. Bertemu dengan suaminya yang sedang memindahkan lele itu pada tempatnya.
"Ngapain sayang?" tanya Dirga.
"Teh Laras minta diambilkan buah. Tahu gak yank tadi?"
"Gak tahu, kan kamu belum cerita" jawab Dirga.
"Ihhh, Aa'! Tadi tuh pas habis teh Laras muntah yang membersihkan muntahannya tu pak Duta. Romantisnyaaa, dia gak jijik sama sekali lhooo. Nanti kalau aku hamil kamu bakalan gitu gak ya?"
Dirga tersenyum mendengar cerita istrinya. "Gak, Aa' kan gak tahan dengan bau muntahan" jawabnya cuek. Membuat Nina kecewa.
__ADS_1
"Ih, kok gitu??"
"Ya gimana dong, emang Aa' kan gak tahan bau muntahan. Mending bau darah" Nina memanyunkan bibirnya. "Dasar!"
Dirga merangkul bahunya. "Ya pasti lah sayang. Aa' bakalan bersihin muntahan kamu. Meskipun Aa' gak tahan, tapi Aa' usahakan mengurus segala keperluan kamu nantinya"
"Aaaahhh, Aa' ih, paling bisa kalau suruh bikin meleleh" kata Nina. Dirga menciun pipi istrinya. Duta berdahem untuk mengagetkan mereka dan mereka terlonjak kaget.
"Mana buahnya Nin?" tanya Duta menahan senyum. Mereka salah tingkah seperti ABG ketahuan pacaran oleh orabg tua mereka.
"I-ini pak" Nina menyodorkan kepada Duta, buah-buah yang telah dicuci bersih olehnya.
Duta menerimanya. "Lanjutin deh pacarannya" ejek Duta. Dirga hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil menahan senyum.
Duta kembali ke kamar dan membawakan buah-buahan untuk istrinya. Mulai menyuapi istrinya. "Yank, abang mau bicara serius sama kamu"
Laras mengangguk "Tentang apa bang?"
"Tentang kondisi kamu sayang. Abang merasa kamu sudah sangat kesusahan dengan kondisi kamu saat ini. Boleh gak kalau abang minta.....kamu...resign?" kata Duta sangat hati-hati.
Laras diam memikirkan ucapan Duta, sebenarnya dia tak ingin jika harus resign. Dia harus meninggalkan segala tentang dunia kesehatan jiwa. Tak bisa lagi bertemu dengan para pasiennya.
Laras mengangguk. "Laras setuju bang. Tolong buatkan surat resign untuk Laras. Dan tolong pamitkan Laras kepada HRD. Keadaan Laras belum memungkinkan untuk menemuinya sendiri"
Duta tersenyum dan memeluk istrinya. Mengecup keningnya. "Terima kasih atas jawabannya sayang. Kamu yakin kan dengan jawaban kamu?" Tanya Duta meyakinkan.
"Laras ikhlas lahir batin. Bagi Laras, permintaanmu adalah perintah dari Allah. Laras yakin akan keputusan ini" katanya sambil tersenyum tipis. Jauh di lubuk hatinya, dia masih ingin menggeluti dunianya.
Tak memungkiri, sudah lama dia menggeluti bidang kesehatan jiwa. Jadi juga tak semudah itu untuk melepasnya. Dia menyimpan dalam-dalam rasa itu. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan dirinya dan para janin di dalam rahimnya.
"Bang, Laras pengen minum air kelapa muda lagi, tapi yang masih di wadahnya ya" Duta mengangguk dan segera membeli kelapa muda itu lagi.
Nina melihat jam dan sudah saatnya injeksi. Dia masuk ke kamar Laras dan menyuntikkan obat itu lewat selang infusnya. "Nin, Ga, makasih ya" kata Laras.
"Sama-sama teh" jawab mereka berdua. "Nanti malam yang injeksi Nina ya, nanti biar dia di rumah budhe dulu. Soalnya aku ada jaga di klinik x" ucap Dirga.
"Iya, kalian atur saja lah" ucap Laras. Duta kembali dengan degan di tangannya. "Pengen banget minum ini dok?" tanya Nina.
__ADS_1
"Iya, kalau habis minum ini bisa duduk Nin, gak baring terus begini" jelas Laras.
"Ooo, ya berarti siap stok degan aja di rumah A', nanti kalau pas mau tinggal minum" saran Dirga kepada Duta.
Duta mengangguk. "Kalau gitu nanti kamu bilangkan sama penjual yang dekat rumah mamah, tiap hari antarkan sepuluh buah kemari. Nin, temankan mbakmu dulu ya. Saya harus buat surat resign untuknya"
Dirga dan Nina saling pandangm "Resign?" tanya mereka kompak.
"Iya, saya memutuskan untuk resign. Agar bisa lebih fokus ke pemulihan dan kehamilan ini" jelas Laras. Mereka hanya mengangguk. Nina dan Dirga menemani Laras di kamar itu.
Duta segera mengetik surat itu agar senin bisa langsung ia antarkan ke HRD rumah sakit.
Dirga melihat postingan Arjun di instagram. "Widiiih, kakak sen, mulai kumat nih sonbongnya. Lihat yank, dia foto gayanya begini" Dirga memperlihatkan postingan Arjun.
"Hahaha, blas ora keren. Norak ih temen kamu"
"Wkwkwk, enak aja temen aku. Temenmu kali, kan kalian lebih kenal dulu daripada aku" bantah Dirga.
"Musuhnya si Rena" ucap Laras. Membuat gelak tawa dari ketiganya.
"Udah ah, jangan ngomongin orang. Kasihan nanti si senior jatuh kesandung" kata Nina.
"Hahaha, lagian dia. Kita semua mah tahu lagi PPDS di Solo. Gak usah foto di depan gerbang juga kali. Hadeeeehh, kalian kok punya sih temen senorak dia"
"Yeeee, itu kan senior kamu yank" Nina tak mau kalah. Mereka masih saja membahas Arjun sebagai bahan candaan. Membuat Laras bisa sedikit tersenyum.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Maaf ya slow up, othor baru selesai meeting. Diusahakan tetap up kok. tenang-tenang