
Duta mengeluarkan barang yang ada di dalam kresek itu. Tangan kanannya memegang eskrim dan tangan kirinya memegang coklat.
"Maafin abang" ucap Duta sambil mengerling-kerlingkan matanya seperti anak kecil dan tersenyum.
Laras menoleh. Dia yang tadinya marah melihat ekspresi muka Duta yang seperti itu jadi tidak bisa menahan tawa.
"Hahahaha, apaan sih muka abang. Gak lucu ah" ucap Laras masih sok jual mahal.
"Maafin abang" ucap Duta lagi.
"Iya" jawab Laras singkat.
"Maafin abang"
"Iya ih, udah dimaafiiiin. Orang mana bisa marah lihat ekspresi abang begitu. Pakai nyogok es krim dan coklat lagi. Pasti kak Ais nih yang ngasih tau. Iya kan?"
"Beneran sudah dimaafkan?"
"Iya ih, gak percaya ya sudah, aku marah lagi aja kalau begitu"
"Eeeh, jangan dong. Kamu kalau marah nyeremin nyebelin. Abang cuma gak mau kamu dijahili Rama sayang. Dia itu kalau tidak terima bisa langsung muncul jahilnya. Sekali lagi maafin abang ya. Bukan maksud abang marahin kamu"
"Sudaaaaah, sinikan es krim dan coklatnya!" Laras merebut es krim dan coklat dari tangan Duta.
Laras membuka es krim itu memakannya dengan lahap. Duta tertawa melihat Laras begitu lahap. Seperti anak kecil yang diberi hadiah oleh orang tuanya.
"Hahahah, ya Allah calon istri abang, makan es krim kayak anak kecil. Belepotan kemana-mana. Kamu pindah sini gih, biar abang yang nyetirin kamu. Sudah mau jam 5 abang belum sholat. Nyari masjid dulu"
"Gak usah, ini sudah mau habis. Abang duduk saja disitu" Laras segera menghabiskan es krim nya dengan cepat hingga bibirnya belepotan.
"Ya Allaaaah, sini abang bersihkan" ucap Duta mengambil tisue dan mulai mengelap bibir Laras.
"Makasih abang" ucap Laras tersenyum.
"Gitu dong senyum. Lebih cantik kalau lagi senyum begini. Ayo jalan yank, bisa habis waktu asharnya nanti"
"Nggih pak, niki nembe dinyalakan mesin e"
"Hahahaha" Duta tertawa mendengar Laras berbahasa jawa krama dengannya.
Laras melajukan mobilnya mencari masjid terdekat. Dan sampai, jaraknya hanya satu kilometeran lah. Duta segera turun dan melaksanakan sholat ashar. Laras menunggu beberapa saat di dalam mobil.
Panggilan masuk ke ponsel Laras. Dari umi. Laras segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum mi, kenapa?"
Kamu dimana? Masih sama Duta?
"Masih mi, lagi nunggu abang sholat"
Oh ya sudah, pulang nya hati-hati
"Tumben umi telpon nanyakan keberadaan Laras"
Umi kangen sama Duta. Suruh dia mampir ke rumah ya Ras
"Heeeeh, umi ni bukan kangen bang Duta. Kangen Haris. Ya kan?"
Iya, makanya ajak Duta ke rumah ya. Umi kangen
__ADS_1
"Coba nanti Laras sampaikan deh, kasihan juga abang, kelihatan capek banget mi"
Iya, ya sudah kalau begitu. Umi tutup telponnya dulu. Oya bilang umi masak pecel lele daun kemangi kesukaan dia. Assalamualaikum
"Waalaikum salam" Laras mengakhiri panggilannya. Tak lama Duta masuk ke dalam mobil.
Laras melihat Duta. Terlihat lebih segar karena terkena air wudhu.
"Kenapa yank?" tanya Duta.
"Umi nyuruh abang ke rumah. Dimasakin pecel lele daun kemangi kesukaan abang katanya"
"Ya sudah ayo. Ambil kain dulu ke rumah sakit, nanti bawa mobil sendiri-sendiri ya"
"Oke siap" Laras segera melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit.
"Coklatnya gak dimakan?" tanya Duta
"Dimakan lah, tolong buka kan"
"Siap nyonyaaaah"
"Hehehe"
Duta membukakan dan mulai menyuapi Laras.
"Yank, setelah nikah kamu mau tinggal sendiri atau bareng sama mamah?" tanya Duta berdiskusi dengan Laras.
Laras menautkan alisnya bingung dengan pertanyaan Duta. "Memang kenapa bang?"
"Jawab aja dulu"
"Nanti kalau kita rumah-rumah sendiri mamah gimana bang? Kalau Laras sih pengennya ya rumah sendiri bang. Jadi kita bisa belajar mandiri. Ada masalah diselesaikan sendiri. Ada ribut orang tua gak tahu. Bisa lebih bebas mesra-mesraan"
"Hahahaha, kalau abang gimana?"
"Abang juga sepemikiran sama kamu yank, tapi abang bingung ngomong ke mamahnya gimana. Abang sudah siapkan rumah untuk kita. Sebenarnya sih itu rumah yang dulu abang siapkan untuk Dini, tapi yaa kamu tahu sendiri lah. Kalau kamu pengen rumah yang lain nanti kita cari"
"Kenapa harus cari lagi kalau sudah ada? Dini adalah masa lalu bagi abang. Dan aku adalah masa sekarang dan masa depan abang. Jadi, abang gak perlu seperti itu"
"Seperti itu gimana?"
"Ya itu tadi, kenapa mau cari rumah lagi? Pasti gak enak kan sama Laras?"
Duta mengangguk. Dia memegang kepala Laras dan mengelusnya lembut. "Abang makin sayang sama kamu Ay, pantas saja kamu jadi rebutan Ay. Kamu ini selalu mengerti keadaan orang lain"
"Gak usah lebay deeeh"
"Hahaha, kok lebay sih Ay, beneran kok. Besok setelah urusan surat selesai kita lihat rumahnya sebentar ya. Gak jauh kok dari rumah abang"
"Iya abang sayaaaang"
"Aduuuuhh, abang masih suka gemeteran kalau kamu panggil seperti itu"
"Hahaha"
.
Ais masih bersama dengan Farid. Yang niat awalnya hanya ke percetakan sekarang harus ikut menemaninya mengurus surat-surat nikah agama.
__ADS_1
"Kamu yakin mau ikut mas? Gak capek kamu nya?" tanya Farid
"Yakin, yang harusnya nanya capek apa gak itu aku mas. Mau tak gantiin nyupirnya?"
"Ora usah, mas isih sanggup"
"Yawes nek gitu. Okeh let's go mas, keburu maghrib"
Farid melajukan mobilnya menuju rumah kepala KUA.
"Tenang sayang, kepala KUA nya udah abang telpon kok. Kita ketemuannya di rumahnya"
"Wes pancen penak puol si Laras. Surat dipermudah, resepsi dan acara yo wes ono sing ngurus. Hahaha"
"Jangan iriiii, justru kita ini lagi belajar"
"Belajar opo mas?"
"Belajar merancang pernikahan impian kita" ucap Farid malu-malu. Ais semakin gemas saat Farid sedang malu-malu begitu.
"Hahahah, iya juga ya. Jadi nanti kita sudah tahu alurnya bagaimana. Yang dibutuhkan apa saja"
"Nah bersyukur dong"
"Kamu besok rabu sama kamis masuk apa yank?" tanya Farid lagi.
"Cieee, sekarang berani manggil aku nya yank-yank an?"
"Lha dipanggil opo? Is?"
"Hahaha, terserah kamu sih. Aku suka kok dipanggil yank"
Farid dan Ais saling berpandangan dan saling melempar senyum.
"Rabu sama kamis masuk apa lho?" tanya Farid kembali mengingatkan pertanyaannya tadi.
"Memang kenapa?"
"Mas mau nyebar undangan se magelang, ke jogja, ke solo sama semarang"
"Ooo, minta ditemenin?" tanya Ais menggoda.
"Dih, kamu yang ngambil kesimpulan sendiri. Tapi emang bener siiihh, mas pengen ditemenin kamu. Kan kamu juga tim sukses dari pernikahan Laras dan pak Duta"
"Hahaha, nanti aku ambil cuti. Alhamdulillah sekarang kan dokter bedah umum di rumah sakit x bukan aku aja"
"Makasih ya yank" ucap Farid.
"Nggih mas, sami-sami"
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip