
Pagi itu, Laras disibukkan dengan dunianya sendiri. Dia masih mempelajari materi yang akan disampaikannya kepada peserta seminar nanti siang. Ya, Laras ditunjuk sebagai pemateri seminar di salah satu kampus yang ada di Magelang.
"Nanti kamu pulang jam berapa?" tanya Duta saat berganti pakaian.
Laras menjawab tanpa melepaskan pandangannya pada laptop miliknya. "Jam 4 dari sana yank. Mamah ada arisan jadi gak bisa dititipin anak-anak. Umi ngurus Abi lagi sakit. Abang gak papa kan jaga mereka sendirian?"
Duta mengangguk. "Gak papa, nanti anak-anak aku bawa ke tempat meubel ya? Soalnya Abang ada janji dengan klien jam 11 siang"
"Iya bawa saja. Keperluan mereka sudah aku siapkan di tas masing-masing. Pulang sekolah langsung gantikan baju mereka, cuci tangan dan kakinya"
Duta tersenyum dan mendekat ke arah istrinya. "Iya bawel, jatah Abang nanti malam dobel ya? Kan jagain mereka seharian"
Laras berdecak. Selalu itu yang ditagih suaminya. "Iya-iya, awas minggir Laras mau mandi dulu"
"Abang mandikan mau tidak? Sudah lama Abang gak mandiin kamu" goda Duta kepada istrinya yang sudah mengambil handuknya.
"Gak usah mulai pagi-pagi, atau anak-anak bakalan telat sekolahnya" Laras segera mempeecepat langkahnya sebelum suaminya menggodanya lagi.
"Sebentar cukup kok yank!" Laras sudah menutup pintu kamar mandi. Duta tersenyum senang menggoda istrinya.
Duta segera keluar kamar dan melihat anak-anaknya satu per satu. Para anak gadisnya sudah siap. Archee baru selesai mandi. "Astaghfirullah Abaaaaang, buruan atau semua akan telat!" kata Duta dengan penuh penekanan.
"Iya pah, sebentar" Archee memakai pakaiannya dengan malas.
Semua sudah berkumpul. Mamah mereka mengambilkan sarapan untuk mereka semua. Semua makan dengan nikmat. Hingga Duta mengantarkan anak-anaknya berangkat sekolah, dan Laras diantar oleh supir ke rumah sakit terlebih dahulu.
"A squad, nanti sama papah dulu ya, mamah gak bisa menemani kalian. Mamah ada urusan" kata Laras sebelum mereka berpisah.
"Oke mah!" jawab semua kompak. "Nanti belikan kami coklat putih ya mah" pinta Aylin.
"Ashiaaaap" kata Laras mengikuti kata-kata anaknya yang kekinian itu.
.
Pukul 10 sekolah sudah bubar. A squad menunggu jemputan Papah mereka. Mereka bermain di taman sekolah. Tak lama Duta datang.
"Ayo pulang. Tapi ikut Papah ke tempat meubel dulu ya nak? Papah mau ketemu orang disana"
Adel, anak paling kritis diantara lainnya bertanya. "Memang sekarang papah gak bertemu dengan orang pah?"
__ADS_1
Duta menautkan alisnya bingung dan baru tersadar akan ucapannya. "Maksud papah, bertemu dengan klien papah nak"
"Klien itu apa pah? Orang juga?" tanya Adel lagi.
Duta mengangguk "Iya, klien itu calon pembeli"
"Kok calon pembeli pah? Memang tidak jadi beli? Kenapa? Belum punya uang?" tanya Adel makin merembet kemana-mana.
Duta menggaruk kepalanya mulai frustasi menjawab pertanyaan Adel. "Sudah ya nak, intinya klien itu adalah orang yang mau membeli meubel papah. Kan harus lihat dulu cocok atau tidak dengan modelnya, harganya berapa. Seperti Adel kalau mau beli pakaian"
Adel mengangguk paham. Entah paham benar atau tidak. Tapi saat ini, Adel sudah tak bertanya lagi.
Tak lama mereka sampai di tempat meubel. Duta menggantikan pakaian anaknya satu per satu. Mencuci tangan mereka dan kaki mereka sesuai perintah sang nyonya besar, Ayu Larasati.
Duta membukakan bekal yang Laras siapkan untuk mereka. Biskuit dan buah-buahan. Laras melarang anak mereka memakan permen ataupun snack berangin terlalu sering.
Mereka menikmatinya. Hingga klien Duta datang, Duta menitipkan anak-anaknya kepada sekretarisnya. "Din, kamu temani anak-anak dulu ya. Saya mau menemani pak Sugondo lihat meubel dulu"
"Iya pak" jawab Samsudin. Sekretaris Duta memanglah laki-laki. Karena istrinya tak mau jika sekretarisnya perempuan.
A squad bermain sendiri di ruangan Duta. Samsudin hanya mengawasi mereka dari luar. Samsudin memiliki hobi yaitu mengunyah permen karet.
"Enak" kata Archee. Mereka mengunyah permen itu, hingga hilang rasa dan warnanya. Adel yang saat itu sedang menggambar terkena ulah jahil para kakaknya.
Mereka menempelkan permen karet itu di rambut Adel. Samsudin kembali dari toilet dan melihat permen karetnya tinggal 1. "Waduh! Mampus aku! Bisa kena omelan pak bos ini!"
Dia masuk ke dalam dan melihat Adel menangis. "Kenapa Del?" tanya Samsudin.
"Huhuhu, rambut Adel om. Huhuhu" Samsudin melihat rambut Adel. 3 permen karet menempel sempurna di rambut Adel.
"Haduuuuuhhh, nanti papah kalian bisa ngamok iniiiiii, ah kalian ini. Gimana dong?" tanya Samsudin sudah bingung dan panik.
Mereka bertiga mengangkat bahu tanpa rasa berdosa sama sekali. "Aa, Abang punya ide. Kita gundulin saja Adel"
"Gak! Gak mau!" Adel berlari keluar ruangan dan saat yang bersamaan menabrak papahnya bersama kliennya.
"Lhoh, cantik kenapa nangis?" tanya pak Sugondo.
"Rambut Adel ada permennya. Huhuhu" Duta melihat rambut anaknya dan menepok jidatnya.
__ADS_1
"Astaghfirullahal adzim naaaakk. Siapa yang nempelin ini?" tanya Duta.
"Bang Archee, kak Aylin, dan kak Maris pah, huhuhu"
"Cup sayang cup ya. Nanti kita bersihkan permen karetnya" Duta menenangkan anaknya.
Adel menggeleng. "Rambut Adel jangan digundul pah"
"Gak, gak akan digundul kok. Tenang dulu ya, papah bicara sebentar dengan klien papah. Pak Sugondo, kita bicara di ruangan lain saja ya pak" Duta mempersilahkan pak Sugondo masuk ke ruangan lain.
Adel masih sesenggukan. Tapi jauh lebih tenang. Setelah selesai berdiskusi dengan pak Sugondo, Duta segera membereskan masalah yang terjadi. Pertama dia menasehati Samsudin karena lalai menjaga anak-anaknya. Yang kedua menasehati semua anak-anaknya. Dan yang ketiga mencari cara membersihkan rambut Adel dari permen karet itu.
"Ini kalau sampai gak bersih sampai nanti jam 4 papah bisa dicemplungin ke empang lele sama mamah kalian. Kalian itu mbok ya kalau main tuh yang normal gitu lhooo"
Archee menjawab kegalauan papahnya. "Tenang pah, kalau tidak bersih, kita gundulin saja Adel" Membuat Adel kembali menangis.
Duta pasrah dan memukulkan keningnya pada meja kantornya. "Salah apa aku ya Allaaaah. Haduh naaaaakkk. Kalian memang super!"
"Din! Belikan minyak goreng dan sisir serta shampoo. Cepat!" Duta menyuruh sekretarisnya membeli bahan-bahan itu.
Butuh waktu hampir 5 jam membersihkan rambut Adel. Karena rambut Adel mirip sekali dengan mamahnya, sangat ikal. Itupun tak serta merta langsung bersih. Tapi setidaknya bisa meredam kemarahan Laras.
"Yaaaah, kok bersih sih. Padahal kita mau gundul tadi" kata Amaris.
Duta hanya diam tak menanggapi ocehan anaknya. "Mbuh lah nduk, papah ngelu (Gak tahu lah nak, papah pusing)"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1