
Ais kembali ke mobil. Entah mengapa dia lebih bersemangat setelah memeluk ibu Farida.
"Ayo jalan" ucap Ais saat sudah duduk di sebelah Farid.
"Oke" jawab Farid sambil melajukan mobilnya.
"Tadi ngomong apa sama ibu? Kok pake acara pelukan segala?" imbuh Farid.
"Kepo" jawab Ais jutek.
"Galak"
"Biarin galak, toh kamu suka kan?" jawaban Ais membungkam Farid.
Sekarang pipi Farid yang merona. Ais hanya bisa melirik dari sudut matanya. Sebenarnya juga hatinya dah dig dug ser saat mengucapkan pernyataan tadi.
"Kamu tadi sedih kenapa sih Is? Bukannya harusnya seneng karena mbak Laras mau nikah?" Farid mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gak papa. Kita beli kainnya dimana sih mas? Kok kayaknya daritadi jauh banget jalannya"
"Toko langganan pak Duta, jalan sebelah sana ditutup karena ada pembuatan gorong-gorong. Makanya muter lewat sini"
Ais hanya menganggukkan kepala ber oh ria. Tak lama mereka sampai di toko yang dimaksud Farid.
"Kita disuruh beli untuk berapa orang mas?"
"500 potong kain kebaya dan batik. Aku pilih batiknya, kamu pilih kebayanya. Suruh potong 2 meteran. Biar lebih cepat"
"Warnanya?"
"Pak Duta sih sukanya warna lime, kalo mbak Laras?"
"Laras mah semua warna suka dia. Oke kalau begitu kita pilih lime aja. Perlu dapat ijin dulu gal dari pak Duta?"
"Coba aku WA dulu deh, daripada salah" Farid dengan cepat mengirim pesan kepada Duta. Dan langsung dibalas.
"Lime" ucap Farid.
"Oke, let's go!"
Farid dan Ais memulai perburuan mereka. Dengan cepat Ais menemukan pilihannya. Dia meminta karyawan disana untuk memotongkan kain itu per 2 meter, dan langsung dibungkusi.
Sedangkan Farid masih sibuk memilih batik yang cocok. Dia agak kebingungan sampai bertemu Ais lagi, dia tidak bisa menentukan pilihannya.
"Sudah?" tanya Ais. Farid menggeleng membuat Ais memutar bola matanya. Dia menarik tangan Farid dan mulai berputar lagi. Mata Ais sangat jeli dalam menemukan yang bagus.
"Ini?" tanya Ais sambil menunjuk batik itu. Farid melihatnya sekilas dan menyetujuinya. Farid memanggil karyawan dan menyuruhnya untuk memotong kain tersebut sebanyak 500 potong. Gempor-gempor deh tangan.
Ais dan Farid menunggu duduk di sofa.
"Masih butuh bahu untuk bersandar?" tanya Farid. Ais menautkan alisnya.
"Sudah tidak, harusnya aku meminjam bahu mu untuk melepas penat, bukan bersedih gara-gara lelaki"
"Ooo, jadi gara-gara lelaki? Si dokter halu tadi?"
Ais mengangguk. Farid tak tahu harus berkomentar apa.
__ADS_1
"Aku tuh kayak cewek bodoh yang masih mengharapkan dia. Sudah jelas-jelas dia sangat mencintai Laras, ralat terobsesi sama Laras, banyak orang yang bilang ke aku bahwa dia tu begini-begini, gak baik, gak cocok, apalah. Tapi hanya aku anggap angin lalu omongan mereka" tutur Ais.
"Dan sekarang, sudah sadar belum? Kamu sudah coba mengungkapkan rasa itu padanya?" sahut Farid
Ais menggeleng. "Belum diungkapkan saja dia pernah bilang agar dilupakan saja. Waktu itu Laras pernah hampir kelepasan bicara. Dia bertanya padaku, siapa wanita lain yang mencintainya? Dia akan menyuruh wanita itu untuk membuang rasa itu. Karena hatinya hanya untuk Laras. Saat itu remuk sudah harapanku. Dan hari ini semakin sakit"
Farid hanya menyimak cerita Ais.
"Menurutmu aku harus bagaimana? Jujur aku benar-benar mencintainya" tanya Ais kepada Farid.
"Kalau kamu bisa memilikinya kamu yakin kamu akan bahagia? Bagaimana jika sebaliknya? Hati kamu yang akan disakiti terus menerus? Jujur ya Is, aku masih menyimpan rasa itu untukmu. Aku pun merasa sakit saat kamu bersedih dan akan pinjam bahuku hanya untuk menangisi pria bajingan seperti itu"
Farid mengungkapkan isi hatinya. Akhirnyaaaa. Dia tidak peduli lagi ditolak atau diterima. Dia hanya ingin Ais mengetahuinya. Tapi dia juga khawatir jika Ais akan menjauh lagi seperti dulu.
Ais diam sejenak. Memikirkan perkataaan Farid.
"7 tahun tidak bertemu aku kira akan bisa menghilangkan rasa itu, tapi kenyataannya? Aku masih mengharapkan mu" imbuh Farid.
Ais masih saja diam tak menjawab. Farid tidak ingin Ais menjauh lagi darinya. Mungkin terlalu terburu-buru pikirnya. Akhirnya dia diam. Mereka terjebak dalam keheningan.
"Berikan nomor ponselmu padaku" pinta Ais kepada Farid.
"Untuk?"
"Bukankah kita ini tim suksesnya pernikahan Laras dan Pak Duta? Untuk berkomunikasi lah"
"Ooo, ku kira kamu mau pendekatan dengan ku. Heheheehehe, bercanda" ucap Farid nyengir.
"Ya mungkin sambil pendekatan juga boleh. Tapi jangan salahkan aku jika kamu sakit hati"
Bagai mendapat oksigen tambahan. Tubuh Farid seakan disuntik semangat. "Serius Is? Sakit hati urusan belakangan. Yang penting ada celah untuk ku masuk"
"Habis ini kita kemana lagi bang?" tanya Ais.
"Ke percetakan undangan. Lalu booking WO. Hadooooh, makin nambah beban kerjaku. Waktu persiapannya singkat banget ya, hanya 5 hari"
"Sabaaar, kita pasti bisa. Yang jauh-jauh pakai undangan digital saja. Selipkan foto mereka berdua aja. Kalau harus bikin video lama" Ais memberi saran kepada Farid.
"Hmm, ide yang bagus"
"Mana nomornya? Minta nomornya boleh mas?"
"Hahahah, kesinikan hp kamu"
Ais menyerahkan ponselnya dan Farid segera menuliskan nomornya. Dia mendial agar terhubung ke ponselnya. Ternyata nomor Ais masih sama. Farid mengembalikan ponsel itu lagi.
"Kamu gak lapar? Kan tadi kamu belum makan apapun" tanya Farid.
"Perhatian banget sih, lapar siii...."
"Ayo makan dulu, mereka pasti masih lama motongnya" Farid menarik tangan Ais dan berpesan kepada karyawan toko itu bahwa mereka keluar sebentar.
.
Duta sudah sampai dirumahnya. Dia langsung naik menuju kamarnya dan melakukan video call kepada Laras.
Laras yang baru selesai berganti baju meraih hijab nya dan menerima panggilan video itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum abang sudah sampai rumah?" tanya Laras melihat Duta yang sudah merebahkan diri pada bantalnya.
"Waalaikum salam, sudah barusan. Abang kangeeeennnn"
"Ih, baru juga beberapa jam gak ketemu, gak usah gombal deeeeehh"
"Abang gak lagi ngegombal sayang, abang beneran kangen sama kamu. Ah, rasanya pengen cepat tanggal 11. Ay, besok kosongkan waktumu setelah makan siang ya. Kita disuruh mamah fitting baju pengantin"
"Iya sayang, nanti aku ijin dari rumah sakit dulu"
"Setelah itu kita ke makam papah, Dini, dan Haris ya. Aku mau mengenalkan kamu sama papah dan Dini"
"Iya abaaaaang. Sudah sana istirahat, jangan kecapekan"
"Hilang capek abang kalau sudah melihatmu. Kamu pengennya konsep nikahan kita gimana Ay? Mau prewed gak?"
"Konsepnya pengennya yang minimalis tapi unsur budaya nya tetap masuk bang, abang pengen prewed? Aku ikuti abang saja sih"
"Kalau prewednya di studio aja gimana yank? Abang masih takut kalau prewed di luaran"
"Oke, setuju. Abang nyetak undangan berapa?"
"Yang abang undang sih dikit, hanya sekitar 5 ribu orang"
"Ha? dikit dari mana, itu banyak sayaaaang. Aku nanti minta undangannya 1000 ya, buat keluarga abi dan umi, sama teman-teman"
"Oke, abang mau ngenalin kamu sama satu orang lagi. Tapi abang ragu, dia mau menerima abang atau tidak"
"Siapa?"
"Kakaknya Dini, Rama"
"Dicoba saja, minta bantuan sama sahabat abang. Siapa tahu jalan kita bisa memperbaiki silaturahmi abang dan mas Rama yang agak mbulet"
"Makasih ya Ay, kamu sudah mau menerima abang. Kamu bisa mengerti keadaan abang"
"Sama-sama. Sudah dzuhur. Sholat dulu lalu istirahat ya sayang. Love you"
"Love you too. Assalamualaikum sayang"
"Waalaikum salam"
Duta dan Laras sama-sama tersenyum. Akhirnya mereka akan menuju pelaminan.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Senin pagiii, semangat pagiii. Happy reading semuaaaa 😘😘😘😘