Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
PDKT


__ADS_3

Pertemanan yang terjalin antara Dirga dan Nina semakin dekat. Dirga selalu memberikan perhatian kepada Nina. Entah itu lewat chat ataupun lewat panggilan. Sekedar menanyakan kabar dan keberadaan serta kegiatan. Semakin hari perasaan itu makin tumbuh di hati keduanya.


Siapa sih yang gak suka diberi perhatian? Pasti semua suka. Namun Nina mengendalikan perasaannya, karena sampai saat ini Dirga tak kunjung mengungkapkan isi hatinya. Dia tidak mau jika dicap sebagai cewek baperan.


Hari itu sabtu malam minggu. Dirga suntuk di rumah terus. Dia menghubungi Nina tapi tidak diangkat. Chatnya hanya bercentang 2.


"Pasti di kafe nih. Kesana ah" ucapnya penuh senyuman. Setelah ijin dengan budhe nya Dirga segera melajukan mobilnya ke arah kafe. Malam minggu. Pasti ramai. Dia hanya menunggu di dalam mobil. Sudah pukul 10 malam. Artinya Nina sebentar lagi keluar.


Nina melihat chatnya. Dia membalas chat yang masuk satu per satu. Dirga melihat Nina dan teman satu band nya keluar. Dirga menghampiri mereka.


"Hai" sapa Dirga dengan senyum sumringah. Entah kenapa, setiap bertemu Nina hatinya selalu gembira.


"Hai" balas Nina.


"Ada yang baru nih. Gak dikenalin ke kita?" sahut Adam


Wajah Nina menjadi merona karena ucapan Adam. "Apaan sih kalian, iya ini aku kenalin. Ini namanya Dirga, temen segereja dan serumah sakit aku" Dirga mengulurkan tangannya kepada teman-teman Nina.


"Nin, kita balik duluan ya. Bye"


"Iya, hati-hati kalian. Besok aku off ya. Mau balik ke Semarang"


Dirga mengerutkan keningnya. "Besok mau balik Semarang?" Nina mengangguk.


"Ada apa?"


"Suntuk di rumah, gak ngapa-ngapain. Jalan yuk" Nina melihat jam nya. "Sudah jam 10, mau jalan kemana? Ini malam banget"


"Hmm, ya sudah lah. Aku antar balik saja"


"Mau jalan kemana?" tanya Nina seakan mengiyakan ajakan Dirga.


"Kemanapun, aku kan buta daerah sini. Butuh pemandu kayaknya"


"Gimana sih, dia yang ngajak jalan, dia yang gak tahu tujuannya"


Mereka diam berpikir sambil menuju mobil. Setelah duduk di kursi masing-masing Dirga tak juga menyalakan mesin mobil. "Kok cuma duduk diam?" tanya Nina.


"Bingung mau kemana" ucap Dirga dengan memanyunkan bibirnya.


"Haissshh, gaje deh kamu. Gak jelas. Terus kalau bingung ngapain kesini? Mending tidur di rumah"


"Kangen sama kamu" Nina menoleh ke arah Dirga karena kaget dengan ucapan Dirga. Yang dilihat hanya senyum nyengir menampilkan deretan gigi putihnya.


"Makin gak jelas kamu ah, balik lah" ucap Nina kemudian. Hatinya saat itu pengen teriak. Kangen sebagai apaaaaaa??? Woy aku cewek butuh kepastiaaaaan. Ingin ku teriaaaak namun apa dayaku.


"Muter-muter Magelang mau gak?" Saran Nina karena benar-benar tak menemukan ide untuk pergi ke suatu tempat menghabiskan malam minggu itu.

__ADS_1


"Hayok aja lah" Ucap Dirga dengan senyum mengembang. Dirga mulai melajukan mobilnya menyusuri jalanan Magelang. Membelah dinginnya malam.


Dua hati yang sebenarnya sedang kasmaran hanya diam tak mampu mengutarakannya. "Besok mau pulang jam berapa?" Tanya Dirga memecah keheningan.


"Jam 6 dari sini. Biar bisa agak lama di rumahnya. Kenapa?"


"Gak ke gereja dulu? Mau aku anterin?"


"Gak usah, memang kamu shift apa?"


"Malam. Aku antar saja lah. Aku benar-benar suntuk di rumah. Sekalian PDKT sama camer" ucap Dirga sambil nyengir.


"Apa tuh PDKT, camer lagi. Ingat ya kita cuma temen!" tandas Nina tegas.


"Bercanda, tapi kenapa mukamu merah? Suka digombalin ya?"


"Dih, apaan sih" ucap Nina membuang muka. Dirga hanya tertawa lepas.


Jangan baper Nin, dia cuma bercanda doang. Batin Nina dalam hati.


Nina mencoba memejamkan mata. Dirga melihat ke samping dan melihat Nina terpejam.


"Diam, ternyata tidur toh. Hmm, boleh gak sih Nin kalau aku PDKT in kamu? Aku takut jika kamu akan menghindariku jika aku jujur. Salah aku sendiri kenapa menawarkan pertemanan. Harusnya langsung ku ajak nikah saja waktu itu. Hehehe" Dirga mengelus kepala Nina.


Ya Tuhan, kenapa rasanya begini? batin Nina. Dia sebenarnya hanya terpejam tapi tidak tidur. Dirga melihat pipi Nina memerah. Dirga merasa aneh. "Kamu pura-pura tidur ya?"


"Ck, beneran tidur. Jangan berisik deh ah" protes Nina sambil menyingkirkan tangan Dirga dari atas kepalanya.


Nina semakin merona. "Kenapa dicium?"


"Masih tanya, tadi kamu masih melek kan? Kamu dengar yang aku ucapkan kan? Jangan bohong" Nina membuka matanya.


Mereka kembali diam. "Kamu kalau bercanda gak lucu!" kata Nina.


"Kok bercanda sih, kalau aku serius gimana?" Nina kembali menoleh ke Dirga. "Serius aja masih pakai kalau" sahut Nina.


"Ehm, kamu mau gak sih Nin jadi teman sehidup semati aku? Selama ini aku memendam rasa sama kamu. Aku takut jika aku ungkapin kamu menjauh"


Nina tersenyum tipis. "Kalau takut kenapa sekarang diungkapin?"


"Sudah tidak mampu lagi memendamnya. Aku ini dokter kere, dokter yang gak punya apa-apa. Mobil aja pinjem. Hidup aja numpang. Aku juga sadar diri kali Nin. Cewek mana yang mau sama cowok kere macam aku?"


Nina mengernyitkan dahinya. "Kamu anggep aku matre? Gitu maksud dari pernyataan kamu?"


"Ha? Bukan, bukan kamu yang matre. Tapi aku yang sadar diri Nina. Aku jarang nongkrong, lebih banyak makan dirumah budhe alasannya untuk berhemat Nin. Gaji aku buat pengobatan papah. Sebagian aku tabung" jelas Dirga masih memperhatikan jalan.


Nina mengacungkan dua jempolnya untuk Dirga. "Keren" sambil tersenyum.

__ADS_1


"Haha, malah bangga. Boleh gak sih Nin, aku PDKT in kamu?" ulang Dirga menginginkan jawaban dari Nina.


Nina diam. Mereka saling lirik. "Apa sih?" kata Nina senyum malu-malu. "Ih kamu yang lirik-lirik. Jawab dong Ninaaaa"


"Hmm, gimana ya?" tanya Nina sambil memainkan jarinya di depan dagunya. Dirga menepikan mobilnya dan menatap Nina.


"Kok berhenti sih. Jalan" perintah Nina.


"Jawab dulu. Boleh gak sih cowok kere yang lagi ada di samping kamu ini PDKT in kamu? Berharap lebih sama kamu? Bukan sebagai pacar, tapi untuk menjadikanmu istri, teman sehidup sematiku?"


Wajah Nina semakin merona. Bahagia pasti. "Hadooohhhh. Kamu ini"


Dirga tersenyum menunggu jawaban Nina. "Ya sudah, gak usah dijawab. Besok pulang ke Semarang aku anterin. Sekalian kenalan sama orang tua kamu"


"Yakin gak mau dijawab?"


"Mau Nina, pengen banget dijawab. Lha kamu kayak orang bingung begitu kan ya aku gak tega lihatnya"


"Hahaha"


"Malah ketawa. Jawab dong"


"Iya"


Dirga tersenyum sumringah. "Gak papa nih dideketin sama cowok kere?"


Nina menyenggol lengan Dirga. "Apa sih kok ngomongnya gitu" Dirga meraih tangan Nina dan mengecupnya lama.


"Aa' janji bakalan nabung yang banyak biar bisa bahagiain kamu"


"Bahagia bukan cuma dari materi, meskipun gak memungkiri kita hidup butuh materi. Janji jadi cowok setia saja untuk aku, itu sudah cukup dari lebih. Karena sekali Aa' selingkuh jangan harap ada maaf keluar dari mulutku"


"Iya"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Cieee, sumpah othor ikutan baper macam anak ABG. Udah lama kagak digombalin suami. Wkwkwkw. happy reading all 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘


Jangan lupaaa, sumbangin poinnya yaaaa


__ADS_2