Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Kesetiaan dan Kejujuran


__ADS_3

Mereka saling diam. Waktu terus berlalu, tak terasa sudah pukul setengah 11 malam. Dirga menyalakan mesin mobilnya melaju meninggalkan kafe.


Di dalam perjalanan pun mereka masih saling diam. Dirga sengaja berkeliling jalanan Magelang. Ingin tahu jawaban tentang pertanyaannya. Meyakinkan diri bahwa yang dikatakan Aldi adalah suatu kebohongan belaka.


Tapi melihat saat Aldi mengatakan hal itu, wajahnya tidak sedang bercanda. Membuat Dirga diambang kebingungan. Hingga saat ini mereka masih diam.


Dalam hati Nina ingin sekali dia menyuruh Dirga untuk percaya pada dirinya. "Aku minta maaf" akhirnya Nina buka suara. "Maaf karena kemarin aku tidak jujur kepadamu alasan ku tidak bisa bertemu dengan mamah. Sumpah A', aku tidak ada rasa sama sekali ke Aldi. Hanya rasa iba. Mengingat bahwa dia jauh dari orang tuanya"


Dirga menepikan mobilnya masuk ke dalam pom bensin. "Kalau sudah tidak ada rasa kenapa masih peduli?" kini Dirga menjawab.


"Hanya iba A', gak lebih"


"Iba sama dengan peduli kan? Padahal kamu tahu sendiri dia sudah punya pacar. Untuk apa kamu datang? Itu tidak perlu. Itu hanya akan membangkitkan masa lalu mu. Kenapa? Aa' kecewa sama kamu. Kamu punya pilihan untuk tidak datang menjenguknya, tapi kamu malah datang. Dan dia, bajingan itu bilang merindukanmu.


Hati-hati Nina, jangan main api. Kita masih pacaran aja kamu berani begini. Lalu saat kita menikah, menjadi suami istri kamu akan bertingkah seperti apa? Sampai selingkuh?"


Sungguh sakit hati Nina saat Dirga menyangka dirinya akan melakukan hal sejauh itu. Tapi, Dirga ada benarnya. Kenapa juga kemarin dia mau menjenguk Aldi, jelas-jelas ada Rosa disampingnya. Dia menangis.


"Gak usah nangis, maaf kalau Aa' begini terhadapmu. Aa' gak suka kamu menemui dia lagi. Aa' cemburu Nin. Jujur Aa' kecewa sama kamu. Apapun alasan kamu, seharusnya kamu tidak datang menemui dia. Paham?" Nina mengangguk.


"Aa' jadi ragu sama perasaanmu. Kamu niat serius sama Aa' gak sih? Ha?"


"Niat, sangat niat A'. Jangan ragukan perasaanku terhadapmu. Sepenuhnya hati ini hanya untuk kamu"


"Yakin?" Nina mengangguk. "Besok ganti nomor ponsel kamu. Aa' gak mau dia mengusikmu lagi. Bisa?" Nina kembali mengangguk.


Dirga memainkan jarinya di setir. Tanda dia bingung kembali. "Lalu bagaimana ucapan Aldi tadi?" Nina menoleh. "Aa' percaya sama aku?" Dirga mengangguk.


"Aku tidak pernah berciuman. Pacaran ya hanya sebatas pegangan tangan. Tidak lebih A'. Dia hanya mengarang cerita. Mungkin dia main tikung sama Rosa karena Rosa memberikan yang lebih kali"


"Oke Aa' percaya. Aa' maafin kamu. Tapi gak ada yang namanya lain kali. Kesetiaan dan kejujuran itu yang paling penting dalam menjaga sebuah hubungan. Aa' juga mau minta maaf ke kamu"

__ADS_1


"Soal?"


"Memutuskan kamu secara sepihak. Aa' sedang tidak bisa mengontrol emosi hingga keluar kata-kata itu. Aa' ingin mempertahankan hubungan kita. Maaf membuat mata kamu bengkak. Maaf membuatmu menangis. Maaf membuatmu bersedih.


Maria Kanina, malam ini, aku Dirgantara Pambudi ingin memintamu untuk menjadi istriku. Aku hanya bisa memberikan ketulusan, kejujuran, dan kesetiaan sebagai bukti cintaku. Apakah kamu bersedia? Menjadi pendamping hidupku? Menjadi bagian dari masa depan ku? Menjadi bagian suka dan dukaku?"


Dirga mengeluarkan kotak berisi cincin itu dan membukanya tepat dihadapan Nina. Wajah Nina merona merah. Dua kali dia mendapatkan kejutan dari Dirga hari ini. Jika siang tadi Dirga minta putus, dan malam ini, sungguh bahagia hatinya. Dirga melamarnya. Meskipun sangat sederhana, tapi membuatnya sangat istimewa.


"Jangan bengong saja dong, dijawab ini. Mau gak?"


Nina menghapus air matanya. "Aku mau A', aku mau menjadi teman hidupmu, istrimu, ibu dari anak-anak kita, dan menua bersamamu. Aku berjanji akan menjaga kesetiaan dan kejujuran terhadapmu" ucapnya dengan penuh haru dan tangis bahagia.


Dirga memeluknya. Mencium keningnya. "Jangan nangis lagi. Maafin Aa' ya. Aa' takut jika benar-benar kehilanganmu"


"Maafin Nina juga, hatiku hanya untukmu dokter cintaku"


"Hahaha, kayak judul lagu saja" Dirga melepaskan pelukannya. "Aa' pakein ya" Dirga memakaikan cincin di jari manis Nina, lalu mengecupnya. "Kok bisa pas sih?" tanya Nina.


Dirga mengangkat bahu. "Ini cincin mamah, mungkin dulu mamah jarinya seukuran sama kamu kali. Besok kita pesan cincin ya. Seperti di awal saja ya, hanya pemberkatan dan makan sama keluarga besar. Maaf Aa' hanya bisa memberikan itu. Karena tabungan Aa' sebagian sudah untuk membayar deposito rumah kita"


"Aa' antar pulang" Nina tersenyum dan mengangguk.


.


Amira dan Ari sedang honeymoon di Bali. Meneguk nikmatnya setelah pernikahan. Ari memegang ponselnya dan ponsel Amira, sibuk menguunggah foto pernikahan mereka. Amira ikut berbaring di sampingnya. "Besok pulang ke Magelang ya yank?" kata Ari sambil masib fokus dengan ponselnya.


"Nggih masku, kamu mau anak berapa mas?" Ari bingung dengan pertanyaan istrinya. "Kamu sanggupnya berapa?" jawab Ari kemudian.


"Mmm, berapa ya? 10 oke lah"


"Hahaha, sayang, umur kita ini tidak muda lagi. Kamu umur 30 tahun, lebih dari 35 tahun sudah masuk resiko tinggi. 2 saja cukup. Laki perempuan sama saja"

__ADS_1


"Kok kayak slogan KB ya?"


"Hahaha, sedikasihnya sama Allah saja. Mas nyesel baru ketemu kamu waktu nikahan Ais. Kenapa gak pas pak Duta nikah sih?"


"Ih, kamu. Gaya. Ketemu di nikahan Ais saja gak minta nomor hp, ketemu di rumah setiap hari saja gak ngungkapin cinta"


"Wkwkww, mas sadar diri mas ini duda sayang. Tidak semua orang bisa menerima dengan status itu"


Amira memeluk suaminya "Tidak semuanya seperti itu mas. Jangan pesimis sebelum mencoba. Bukannya itu yang selalu kamu bilang sama anak buah kamu? Oh ya, nanti kita gimana? Menetap di Magelang atau Pati?"


Ari selesai mengunggah foto pernikahannya dengan Amira di semua sosmed miliknya dan Amira. "Kamu maunya dimana?"


"Magelang saja lah, kan kamu kerjanya disana. Aku boleh kerja lagi gak?"


"Gak boleh, tugas kamu hanya melayani suami. Gak ada yang lain. Mengerti nyonya Ari Wibisana?" Amira mengangguk. "Istri pintar. Ayo sunah Rosul"


Amira tertawa. "Dulu aja malu-malu. Sekarang gak punya malu. Dasar kamu mas"


"Hahahah, ya beda toh" Ari mulai membuka pakaiannya dan istrinya. Menghujani Amira dengan ciuman. dan berlanjut dengan aktifitas romantis. Bayangin sendiri. Sekiiiiiiiiipppp


Sedang di Magelang sana, ada yang tak sengaja melihat postingan Ari, siapa lagi kalau bukan istri Arman, Gita. "Hmm, dasar tukang pamer!"


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2