Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Memberi Perhatian


__ADS_3

Laras muntah-muntah di kamar mandi. Duta memijat tengkuknya. Laras menolaknya, tapi Duta tak bergeming. Dia tetap memijat tengkuk Laras. Laras segera mencuci mulutnya dan hendak kembali ke ranjang. Duta dengan cekatan menggendong istrinya itu.


"Lepasin!"


Duta hanya diam sampai di ranjang. Laras langsung masuk kembali ke dalam selimut. Duta bingung harus mulai dari mana. "Abang mandi dulu ya" katanya.


Seperti biasa Laras akan merasa lapar setelah muntah. Dia ingin makan martabak sayur diberi nasi putih hangat dan segelas es. Dia memakai kerudungnya kembali, membawa ponselnya dan turun ke bawah.


Dia memesan lewat aplikasi online. Tak lama, bi Sum membawa makanan itu. Laras menuju meja makan. "Mau saya temani bu?" tanya bi Sum yang sedari tadi masih melihat Laras sesenggukan. Laras menggeleng. "Saya ingin sendiri dulu bi, tolong nasinya bi, dan tolong buatkan es susu seperti biasanya"


"Biar saya saja bi" Duta muncul lalu mengambilkan nasi untuk Laras. Dia juga mengambil gelas untuk membuatkan es susu.


Laras tak peduli dengan Duta, dia hanya ingin makan. "Kenapa gak nyuruh abang untuk beli kalau ingin ini?" tanya Duta ditengah Laras makan. Laras yang tadinya sudah agak tenang, saat mendengar suara Duta kembali menitikkan air mata.


Duta benar-benar merasa bersalah. Dia menghapus air mata istrinya. "Tolong jangan begini, abang tahu abang salah, abang minta maaf Ay"


Laras sudah menghabiskan nasinya dan menegak habis susunya. Laras masih terus diam dan memilih meninggalkan Duta. Dia segera kembali ke kamarnya. Saat akan naik tangga, Duta berlutut di hadapannya.


Bi Mar dan bi Sum mengintip saat itu. "Abang mohon bicaralah, jangan diamkan abang. Abang harus apa supaya kamu maafin abang?"


Laras benar-benar lelah. "Aku butuh waktu untuk sendiri, kamu silahkan tidur di kamar tamu. Aku benar-benar sedang tak ingin membahas masalah ini. Tolong biarkan aku sendiri dulu" jawabnya sambil berlalu meninggalkan Duta.


Laras kembali menangis saat sampai di kamar. Laras kembali merenungi keputusannya menikah dengan Duta, konsekuensi menjadi istri dari orang penting, orang nomor 1 di kotanya. Tapi dia juga tak tahu jika akan sesibuk ini. Bahkan acara penting saja terlupakan.


"Salahkah aku memilihmu? Salahkah aku menyutujuimu maju pemilihan lagi? Kenapa berat sekali ya Allah" Dia mengusap perutnya. "Maafin mamah ya sayang, kuat-kuat di dalam sana" Laras mengambil wudhu dan mulai bermurotal.


Duta duduk di sofa merenungi kesalahannya. Dia tidak bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Tak terasa air matanya menetes. Dia memejamkan matanya sambil bersandar di sofa. Bingung memikirkan cara untuk meminta maaf kepada istrinya dan juga cara membagi waktunya.


.


Pagi itu Laras sholat shubuh sendirian, dia bermurotal sambil mengelus-elus perutnya. Duta baru akan sholat. Dengan cepat Laras menyelesaikan bacaannya dan kembali ke kamar.


Laras kembali muntah. Dia mengetik chat untuk Dirga.


Laras : Dimana Ga?


Dirga : Di rumah teh, mau ke gereja. Ada apa?


Laras : Bisa minta tolong belikan bubur ayam? Aplikasi ku lagi gak bisa dipakai nih, gak tau kenapa


Dirga : Oke

__ADS_1


Laras : Cepet ya


Laras menunggu bubur ayamnya sampai. Bi Sum membuatkan susu untuk Laras tapi dicegah oleh Duta.


"Biar saya saja bi" Duta mengambil alih gelas yabg sudah dipegang bi Sum, lalu meracik susu untuk istrinya.


Tak lama Dirga datang, "Pagi A', nih pesenan teteh. Aku ke gereja dulu"


"Apa ini?"


"Bubur ayam, teteh yang minta"


"Oke makasih" Duta meletakkan bubur ayam itu. "Pengen makan ini kenapa gak bilang abang Ay? Kenapa malah Dirga yang kamu suruh? Sakit hati abang"


Dia mengambil kunci mobilnya dan membeli bubur ayam. Antriannya lumayan ramai. Tapi warga mengenali bupati mereka, dengan rela hati memberikan antrian kepada Duta.


"Pak, bubur ayam 1, kuah dan sambalnya dipisah saja. Untuk orang ngidam" katanya pada penjual itu.


Seorang ibu-ibu mendengarnya, "Bu Bupati sedang hamil pak? Alhamdulillah, semoga sehat sampai lahiran ya pak, ikut senang kami dengarnya. Bapak harus semangat jadi suami siaga nih"


"Iya bu, doakan ya bu" penjual itu selesai meracik pesanan Duta. "Berapa pak?"


"12 ribu pak" Duta mengeluarkan uang 100 ribuan 3 lembar. "Sama punya yang pada ngantri pak" sontak mereka semua berterima kasih kepada Duta.


"Sudah lapar ya?" tanya Duta sambil tersenyum dan masuk ke dalam kamar. Laras tak tahu harus memakannya atau tidak. Tapi perutnya benar-benar lapar.


"Duduk sini, abang suapkan" Duta meletakkan nampan itu dan menarik tangan Laras untuk duduk di sofa.


Laras hanya diam. "Buka mulut, aaa..." Laras akhirnya membuka mulutnya. Entah mengapa air matanya kembali menetes. Duta dengan cepat menghapus air mata itu. "Kenapa nyuruh Dirga membeli bubur ayam? Kenapa gak nyuruh abang? Ini bubur abang yang beli. Yang punya Dirga masih ada di dapur" cerocos Duta. Laras hanya diam.


"Abang akan mulai membatasi pekerjaan abang, pertemuan dengan partai juga akan abang adakan disini saja, abang akan bekerja di rumah agar bisa tetap memberikan perhatian untuk kalian, kamu dan calon anak kita" katanya sambil menyuapkan makanan.


"Kamu setuju kan? Dek, maafin papah ya karena nyuekin kalian. Sekarang jangan cuekin papah dong. Papah tahu papah salah. Papah minta maaf" ucapnya sambil melihat dan mengelus perut Laras. Lalu mengecupnya lama.


"Abang minta maaf Ay, abang benar-benar minta maaf, abang salah. Kamu mau kan maafin abang?" Laras masih diam tak bergeming. Hingga suapan terakhir Laras masih diam. Duta memberikan susu itu.


Kenapa rasanya enak? Ini semua dia yang siapin? Batin Laras.


Duta meletakkan mangkuk dan gelas itu. Dia berlutut di depan istrinya. Dia mencium kaki istrinya hingga Laras kaget.


"Bangun bang, jangan begini" Laras mencoba membangunkan suaminya itu. Duta menangis tak mau bangun.

__ADS_1


"Tolong maafkan abangmu ini sayang, abang tahu abang sudah keterlaluan. Abang minta maaf"


"Iya bangun dulu, jangan seperti ini" Laras masih mencoba membangkitkan suaminya. Duta duduk di samping istrinya. Mereka saling tatap. Air mata menetes dari mata keduanya. Duta membawa Laras ke dalam dekapannya. "Abang jahat!" kata Laras sambil memukul keras dada bidang itu.


"Abang jahat! Abang gak perhatian lagi sama aku dan calon anak kita! Abang jahat!" ucap Laras sambil terisak.


"Maaf"


"Abang.... huhuhuhi.....hikss, apa kami ini tidak penting?"


"Kalian paling penting, maaf menomorduakan kalian. Abang akan perbaiki semuanya"


"Kami tidak bisa percaya dengan ucapan abang"


"Abang buktikan dengan sikap abang. Jika sekali lagi abang seperti ini, kamu boleh melakukan apapun untuk menghukum abang"


"Huhuhu hiks"


"Maaf"


Duta melepas pelukannya, menghapus air matanya dan air mata istrinya. Mengecup lama kening istrinya dan menghujani istrinya dengan ciuman. "Sudah boleh kan?" katanya sambil tersenyum dan mendamba. Laras mengangguk. Pagi yang panas dimulai.


"Papah tengok sebentar ya dek, adek yang kuat ya disana. Papah janji main halus kok" Kata Duta ditengah aktivitasnya.


Selesai dengan aktivitasnya, Duta mencium perut Laras. "Makasih sayang" ucapnya dan berbaring di samping istrinya.


Mereka berpelukan dan kembali tertidur pagi itu. Cukup dengan memberikan perhatian membuat hati yang sedang diselimuti amarah akan meredam. Kembali menghangat.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Ayo doooong sumbangin puin-puinnyaaaa. Othor udah nuruti keinginan kalian lhoooo. Heheheee 😘😘😘


__ADS_2