
Dirga akhirnya pulang karena sebenarnya dia tak mau jika harus menunggu Laras. "Bukan makin lupa, malah timbul lagi rasa itu kalau aku sering bertemu dengannya. Huh, untung dia nyuruh pulang. Fokus Dirga, fokus. Dia hanya masa lalu mu. Sudah menjadi milik orang lain" Dirga menuju mobilnya dan berlalu meninggalkan rumah sakit.
Laras, Ais, dan Nina masih mengobrol karena pasien mereka sudah habis.
"Kamu kok akrab banget sama Dirga?" tanya Ais menyelidik.
"Biasa aja kok kak" elak Laras.
Nina menatap mata Laras, dia menemukan kebohongan. "Dokter berbohong, dan ini pertama kalinya saya lihat dokter berbohong. Ayo jujur dok, atau kami akan terus menyelidiki ini"
"Sok tahu kamu Nin"
"Dokter Dirga dari masa lalu?" tanya Nina langsung menjurus ke intinya.
Mereka diam menunggu jawaban Laras. "Kalian mau tahu banget??" mereka mengangguk.
"Janji tutup mulut. Karena aku tidak pernah menceritakan apapun tentang masa laluku. Bahkan orang tuaku tidak tahu"
"Tapi pak Duta tahu kan Ras?" potong Ais.
"Tahu kak, dia cemburu sama Dirga. Jadi Dirga memang dari masa lalu. Kami bertemu saat menjadi dokter magang. 5 tahun aku di Bandung bersama 4 sahabat lainnya termasuk Dirga. Dia menyatakan cinta itu padaku, memintaku untuk menjadi istrinya. Tapi aku menolak.
"Kenapa?" tanya Nina memotong cerita Laras.
"Karena kami bukan seiman, dia berniat pindah agama karena ku dan itu membuat papahnya stroke. Aku tidak mau jadi orang yang egois, hanya karenaku dia menjadi dibenci keluarganya. Dan aku tidak tahu kalau dia sepupu bang Duta. Hah, dunia memang sempit" terang Laras.
"Dokter sempat cinta sama dokter Dirga?" tanya Nina lagi.
"Sempat, tapi pupus. Karena prinsip aku dan keluargaku adalah mencintai dia yang seiman. Kamu gak ingin dekat dengan dia Nin? Kan kalian seiman tuh"
"Pantas saja tatapan dia begitu. Sebaiknya kamu jangan sering bertemu dengannya" kini Ais bersuara.
"Kenapa kak dengan tatapannya?"
"Dia masih ingin memilikimu, tapi dia berusaha melupakanmu. Itu sih yang aku tangkap dari pandangan dia. Mungkin dia sedang mencoba melupakanmu" terang Ais.
Laras diam sejenak. Memikirkan perkataan Ais. "Kakak yakin begitu?"
"Yes, coba ajak dia bicara. Tanyakan rasa itu padanya kalau tidak percaya"
"Aku takut"
"Akan apa?"
"Takut jika dia menjadi perusak bagi kami. Tapi aku juga takut dia hancur"
"Bicarakan saja dengan pak Duta"
"Saran yang kurang tepat. Aku takut abang semakin cemburu nantinya. Huft"
"Dokter Ais hebat sekali bisa mengartikan pandangan orang? Mau dong saya diajarin" cerocos Nina memecah keheningan yang terjadi.
"Ojo, iku ilmu rahasia. Hahaha. Jawab dulu tuh pertanyaan Laras"
__ADS_1
"Yang mana?"
"Sok polos dia kak, yang tadi. Kenapa kamu gak coba dekat dengan dia? Kan kalian seiman. Siapa tahu beneran jodoh" ucap Laras.
"Belum move on dari yang lalu"
"Makanya biar move on itu ya harus buka hati buat yang lain. Kayak kak Ais ini lhoo, gak dapat Arjun dapat jodoh 7 tahun lalu"
Nina sekarang menatap penuh selidik ke Ais. "Apa?" tanya Ais
"Dokter Ais sama siapa?" Nina tidak mengetahui apapun tentang Farid. Karena sejak kejadian itu, Rena menyimpan rahasia itu karena disuruh oleh Ais.
"Kepo kamu, sudah adzan Ras, ayo sholat ashar. Kamu jaga sini sendiri berani kan Nin? Atau mau ditemani Dirga?"
"Ora usah, aku wani cah kendel kok disepeleke (tidak usah, aku berani bocah berani kok disepelekan)"
"Guayamu Nin, ya sudah kami sholat dulu ya"
"Iya silahkan"
Laras dan Ais berjalan menuju masjid rumah sakit untuk melakukan sholat. Laras senyum sendiri mengingat kelakuannya yang ingin mengintip Duta. Lalu dia berdoa untuk diberi jodoh yang seperti itu. Eh ternyata beneran dikasih sama Allah.
Selesai sholat Laras dan Ais kembali ke ruangan. Laras masih kepikiran dengan yang Ais ucapkan. Laras tidak ingin cerita masa lalu itu membuat rumah tangganya menjadi goyah.
"Masih memikirkan yang kakak ucapkan?" ucap Ais melihat Laras yang gelisah. Laras hanya mengangguk.
"Aku bingung, kalau kupendam jadi beban pikiran. Tapi kalau kuungkapkan takutnya malah akan terjadi pertengkaran"
"Kurasa pak Duta orang yang bijaksana. Mending cerita saja"
"Gimana ya?"
"Gara-gara kakak nih. Kemarin waktu kami ke rumahnya dia itu menawarkan pertemanan dengan ku. Aku bingung. Aku jawab saja bukannya dari dulu kita memang berteman? Dia bilang kali ini tulus"
"Semoga perkataannya benar. Semoga niatannya untuk melupakanmu memang kuat Ras, makanya jangan sering-sering bertemu. Takutnya nanti dia yang semakin terluka"
"Iya, aku akan minta abang untuk tidak menyuruhnya menjagaku lagi. Aku juga tidak akan ke rumah mamah jika ada dia di rumah"
"Kakak setuju. Besok minggu depan temenin kakak dong fitting baju"
"Ijin dulu sama suami"
"Iya, kakak tunggu kabarnya"
Tak terasa mereka sudah berada di ruangan Laras kembali. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Nina pulang mendahului 2 dokter cantik itu. Karena mereka sedang menunggu pasangan mereka masing-masing.
Ais dan Laras sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Sudah 1 jam lamanya mereka menunggu. Hingga ada suara ketukan pintu. Laras segera membukanya, dilihatnya Farid dan Duta berdiri disana.
"Kak, sudah dijemput tuh" tolehnya kepada Ais. Lalu Ais beranjak dan tersenyum menyambut Farid. "Kakak balik duluan. Mari pak Bupati"
Laras tersenyum dan mencium tangan suaminya. "Tunggu sebentar ya bang" Dia membereskan barang-barangnya dan menuju kepada Duta lagi.
Mereka menuju parkiran. Saat sudah siap melaju Laras membuka obrolan dengan suaminya.
__ADS_1
"Abang"
"Ya sayang" jawab Duta sambil menyetir.
"Laras boleh minta sesuatu tidak?"
"Apa?"
"Jangan suruh Dirga untuk menemani Laras selama nunggu abang pulang" pintanya menatap penuh harap akan persetujuan suaminya.
"Kenapa sayang? Abang menyuruh dia agar kamu tidak diganggu oleh si kampret itu"
"Laras baik-baik saja sayang. Pokoknya aku tidak suka jika Dirga menemani ku"
"Kenapa sih?"
"Gak papa. Laras tidak bisa sering-sering ke rumah mamah" imbuhnya.
"Ada apa sih Ay? Dirga ngapain kamu sayang?"
"Aku takut sayang, takut jika nanti kamu akan cemburu lagi. Aku takut kehadiran Dirga malah membuat rumah tangga kita diselimuti kabut kecurigaan"
Duta menoleh kepada istrinya. "Apa maksud kamu Dirga masih ada rasa sama kamu?"
"Mungkin, abang juga pernah terjebak dengan masa lalu. Jadi bukan tidak mungkin kan rasa itu masih ada di hati Dirga?"
Duta diam. Benar juga kata Laras, bagaimanapun mereka pernah ada rasa. Jika salah satu masih berharap bisa merusak semuanya.
"Bang"
"Iya sayang, nanti abang suruh Dirga untuk tidak menemani mu lagi"
"Alhamdulillah, terima kasih pengertian abang"
"Sama-sama. Abang senang kita saling terbuka begini. Selalu seperti ini ya"
"Iya"
Mereka pulang dengan hati yang lega.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Masa lalu biarlah masa lalu, jangan kau ulang jangan ingatkan aku. Malah nyanyi othor. Masa lalu memang kadang membayangi kita, cukup jadikan kenangan dan tatap saja masa depan. Ahay. Wkwkw. Happy reading all 😘😘😘