Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Pindahan


__ADS_3

Selesai sholat ashar Duta dan Laras dibantu oleh ART yang ada di rumah Duta melakukan pindahan. Hanya pakaian yang mereka bawa. Karena Duta sudah mengisi rumah itu dengan perabot.


Tak butuh waktu lama untuk melakukan pindahan, karena hanya menata pakaian. Keadaan rumah itu betul-betul terawat. Selalu terjaga kebersihannya.


Adzan maghrib berkumandang. Mereka memutuskan untuk sholat terlebih dahulu di rumah baru mereka. Duta menjadi imam untuk istrinya. Khusyu'. Selesai sholat seperti biasa mereka mengaji bersama.


Setelah selesai semuanya Laras mencium tangan suaminya. "Ingat gak dulu aku pernah nyium tangan abang? Aku kira abi?"


"Ya ingat lah. Pengen ngakak abang waktu itu. Tapi takut. Takut kalau kamu ngamuk. Kamu tuh sebenarnya sifatnya gimana sih Ay?"


"Mmm, tergantung bang. Kalau sama pasien ya lembut lah. Karena pasien aku kan yang terganggu mentalnya, jadi harus ekstra lembut menghadapi mereka. Kalau sama cowok ya begitu, galak!"


"Hahahaha, kalau sama abang galak banget!" ejek Duta sambil meninggalkan istrinya. Laras merapikan mukena nya dan menyusul Duta yang menuju dapur.


"Galak banget gimana maksudnya?" tanya Laras sambil memeluk suaminya dari belakang.


"Kalau ngamuk itu lho, walah wes, bujuk rayu nya susaaaaaah buanget"


"Hahahaha, biar usaha merayu doooong. Abang mau ngapain?" Tanya Laras yang melihat Duta mengambil cangkir.


"Buat kopi"


"Sini, biar Laras aja. Duduk disana" Laras melepaskan pelukannya dan menyuruh Duta duduk di ruang tv.


Duta tersenyum dan menuruti kata istrinya itu. Laras segera membuatkan kopi untuk suaminya dan membawanya ke ruang tv.


"Besok lagi kalau mau kopi bilang dong sayang. Jangan buat sendiri. Kan ada aku" ucap Laras sambil meletakkan kopi itu di depan suaminya.


Duta tersenyum "Makasih sayang. Abang kan juga bisa buat sendiri"


"Tapi kan tetap aja abaaaang, tugas istri itu melayani suami"


Duta melirik Laras sambil menyesap kopinya. "Cieee, iya deh iya. Besok tolong bikinkan abang kopi lagi ya sayang" ucapnya sambil meletakkan kopinya kembali.


"Iya, bang, ini tv nya pakai parabola bukan? Soalnya tadi pas masuk aku lihat ke atas kok ada pemancarnya" tanya Laras sambil menggelendot manja di lengan Duta


"Iya, kenapa?"


"Yes, bisa nonton drakor dong!"


"Kamu penyuka drakor juga? Kayak mamah saja sih!"


"Iya, memang mamah juga suka bang?"


"Jangan ditanya Ay, jangan diajak nonton juga. Bisa maraton sampai subuh, rela gak tidur demi mengejar tiap episodenya"


"Hahahaha, ya gak papa dong. Aku kalau lagi gak ada kegiatan ya begitu. Kan dulu aku juga jarang pulang ke rumah. Sukanya nonton drakor"


Duta tepok jidat. "Hadeeeh, kalian tuh suka drakor kenapa sih?"


"Mmm, kalau aku tuh ya suka drakor tu karena alur ceritanya bagus. Ringan tapi gak ngebosenin. Kalau lagi seneng marah sedih tu mereka bener-bener dari hati. Daaaaaan yang pasti, yang main pada bening-bening" ucap Laras sambil melihat ekspresi suaminya.


"Emang abang kurang bening?"

__ADS_1


"Bening, tapi mereka itu lebih kinclong abang. Hahahah"


"Ck.. Awas minggir" ucap Duta sambil berdiri meninggalkan Laras.


Laras tertawa puas. Dia tahu suaminya panas. Tak suka dibandingkan dengan yang lain. Meskipun itu hanya dengan oppa-oppa Korea.


"Mau kemana bang?"


"Siap-siap sholat, udah mau isya'. Tonton tuh yang kinclong-kinclong" ucap Duta kesal dan sedikit berteriak.


Adzan berkumandang. Duta selesai wudhu. Laras sedang keluar sifat jahilnya. Dengan sengaja dia menyentuh dan mengecup pipi suaminya.


"Jangan cemburu. Kan yang menang abang, bukan mereka"


"Astaghfirullah sayang, kamu sengaja jahilin abang ya. Abang udah wudhu lhooo" ucap Duta makin kesal.


"Ya tinggal wudhu lagi. Gak ingat abang kemarin juga gituin aku?" tanya Laras dengan senyum jahil.


Akhirnya Duta wudhu lagi. Laras sudah siap dengan mukenanya. Duta segera menjadi imam.


Duta segera kembali ke kamar setelah bermurotal. Laras masih cekikikan senang berhasil menjahili Duta.


Laras membuka pintu kamar dan melihat Duta sedang memegang ponselnya.


"Abang sayaaaaang, jangan cemberut begitu dong. Maaf deh maaf. Hihihi"


"Minta maaf yang benar, jangan sambil cekikikan tidak jelas" jawabnya sambil melihat layar ponsel.


Duta tak bergeming. Dia masih sibuk dengan ponselnya. Laras merebut ponsel itu. "Laras minta maaf buat abang kesel. Cuma kamu satu cintaku sayang"


"Tapi tetep aja Ay, abang gak suka kamu puji-puji yang lain di depan abang. Apa abang ini kurang bening? Kurang tampan? Kurang apa?" protes Duta.


"Gak ada kurangnya sayang, sempurna. Pengen jahil aja. Hahaha"


"Dasar ya kamu. Kamu memang pengen dihukum sama abang ya" ucap Duta sambil menarik tubuh Laras dalam pelukannya.


"Masih sore yank, ayo pulang" Laras mengelak dari Duta karena dia tahu hukuman apa yang akan diterimanya.


"Gak ingat tadi tugas istri apa?"


"Iya tahu, tapi masih sore yank. Malu"


"Malu sama siapa? Kita ini cuma berdua. ART sudah pulang ke rumah mamah semua. Ada juga satpam 1 di depan"


"Abaaaang" ucap Laras geli karena Duta sedang menikmati tengkuk lehernya.


Duta segera mengubah posisinya dari yang tadi duduk sekarang menjadi berbaring mengunci tubuh Laras.


"Abang mau kasih hukuman buat kamu yang sengaja bikin abang kesel. Lakukan hukumanmu dengan baik" ucap Duta sambil tersenyum licik.


Laras hanya bisa pasrah menerima hukuman itu. Adegan panas baru saja terjadi. Duta berguling ke samping istrinya dan mengecup kening istrinya.


Laras menarik selimut untuk menutupi tubub mereka. "Mau pulang apa tidur sini?" tanyanya kepada Duta.

__ADS_1


"Tidur sini saja. Di rumah banyak yang nemenin mamah. Tampan mana abang sama cowok-cowok korea itu?"


"Tampan abang"


"Bohong"


"Hahaha, itu sudah tahu jawabannya. Sayang dengar ya, aku jatuh cinta sama kamu bukan dari rupa, melainkan dari suara. Aku minta sama Allah, supaya diberi jodoh yang suaranya merdu. Eh, alhamdulillah dikasih orangnya yang bikin klepek-klepek"


"Serius?"


"Iya abaaaang, hanya kamu cuma kamu yang bisa membuat hati ku bergetar. Selalu ingin dekat, bawaannya uring-uringan kalau lihat kamu didekati sama yang lain. Menyentuhmu saja membuatku panas dingin"


Duta mengecup lagi kening istrinya. "Sama, abang jatuh cinta sama kamu saat lihat kamu tertawa lepas dengan Kinan. Ingin rasanya abang melihatmu lebih lama. Kamu kira abang gak uring-uringan kemarin waktu si kampret Arjun bilang kayak kemarin?"


"Sudah ah, malah bawa-bawa si Arjun. Merusak mood. Abang lapar gak?"


"Lapar, pesen online saja ya?"


"Iya"


"Kamu pengen makan apa?"


"Mie thek-thek sama martabak sayur"


Duta meraih ponselnya dan segera memesan apa yang diinginkan istrinya. Laras bangun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Segera dia membersihkan dirinya. Setelahnya gantian Duta yang membersihkan dirinya.


Tak lama makanan yang Duta pesan sampai. Laras menyiapkannya dan memanggil Duta di kamar.


"Sayang, makan yuk" ajak Laras kepada Duta.


Duta mengangguk dan menyusul istrinya di ruang makan yang bergabung dengan dapur itu.


"Abang suapin, aaa" Duta menyuapkan makanannya ke mulut Laras.


"Laras suapin abang, aaa" Gantian Laras menyuapi Duta.


"Makan malam pertama hanya berdua sama kamu setelah kita pindahan" ucap Duta sambil tersenyum. Ah bahagianya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Maaf ya gaes, author disminorrhea. diusahakan tetep up kok happy reading all 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2