Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Tarik Ulur (Season 2)


__ADS_3

Hari sabtu, hari yang sangat dinantikan oleh semua orang. Amira, Ais, dan Laras janjian dengan para istri trio mobat mabit, kecuali Shila yang saat ini menduduki posisi sebagai ibu bupati.


Sore yang cerah. Mereka sengaja berkumpul di rumah Kayla, istri Wisnu. Rumah yang sangay asri, banyak tanaman hijau disana. Kayla juga sedang menggeluti bisnis hidroponik yang sedang ngetrend saat ini.


Ya, selain kumpul, mereka juga ingin belajar bisnis dari Kayla. Laras, Ririn, Lila, Amira, dan Ais datang secara bersamaan. Hanya beda beberapa menit. Mereka tidak sendirian. Mereka dengan si krucil mereka masing-masing. Tujuannya agar mereka bisa lebih akrab


Kayla menyapa mereka ramah. "Assalamualaikum gengster" serunya semangat. Semua saling pandang.


Ririn tak terima dirinya disebut gengster. "Mulutmu Kay kalau ngomong. Masa kita disebut gengster sih?" protes Ririn.


"Tahu tuh Kayla, enak aja ngarani wong ayu-ayu ngene gengster (Tahu tuh Kayla, enak aja bilang orang cantik-cantik begini gengster)" timpal Lila.


Kayla tertawa. "Haduh kalian itu, kudet banget sih. Makanya dong jeeeeng, main sama kaum metropolitan. Gengster itu geng mak berdaster"


Semua kembali tertawa. "Kita gak pakai daster lhoh mbak Kay" ucap Laras.


"Besok kita bikkn seragam berdaster" sahut Ais cepat.


"Ide bagus tuh. Besok tiap pertemuan kita seragamnya dasteran" Amira setuju dengan ide Ais.


"Sisan rambut e dinggoni rol rambut, ora usah dandan, karo nyangklong tas pasar yo? (Sekalian rambutnya dipakaikan rol rambut, gak usah dandan, sama bawa tas pasar ya?)" sahut Ririn.


"Setuju mbak Rin, hahahah" sahut semuanya. Gak suaminya gak istrinya semuanya somplak.


"Mau langsung lihat hidroponik dulu atau makan-makan dulu nih?" tanya Kayla.


"Hidroponik dulu, nanti kalau sudah baru kita makan" sahut Laras.


"Oke, de krucils. Kalian main di sana ya sayang. Jangan ada yang berantem. Pinjam mainannya gantian ya? Galih, hari ini jadi ketuanya. Jadi kalau ada yang berantem tugas Galih melerainya ya nak" tutur Ririn kepada anaknya.


"Oke, siap mah!" jawab Galih sambil memberikan hormat. Lalu semua anak-anak itu menuju area permainan yang sudah disiapkan Kayla.


Para gengster itu menuju tempat hidroponik Kayla. Luasnya hanya sekitar 5 meter dan lebar sekitar 3 meter, tapi mampu tertata dengan apik dan rapi. Yang sedang ditanam Kayla dan Wisnu adalah selada air, tomat ceri, bayam merah, pokcoy, dan kangkung.


"Enak dong ya kalau begini, tinggal petik-petik gitu" celetuk Amira.


"Iya mbak, bikin adem lagi lihatnya" jawab Ais.


"Kay, bikin beginian habis berapa?" tanya Lila mulai tertarik dengan hidroponik. Kayla berpikir mengingat harga yang ia keluarkan.


"Sekitar 3 jutaan sudah dapat Lil, enak banget pakai hidroponik. Cepet panennya, perawatannya gampang, gak perlu pupuk ini itu, gak perlu siram air juga" jelas Kayla.


"Ada kendala gak sih mbak waktu proses ini?" tanya Laras.

__ADS_1


"Ada, pasti setiap hal itu ada kendalanya. Distribusinya yang agak susah. Kalau di pasar tuh masih kalah saing sama yang biasa kita beli"


"Kenapa begitu ya? Kan malah lebih sehat hidroponik. Tanpa bahan kimia" tutur Ririn.


"Dari segi harga pastinya, ya kan Mbak Kay?" tanya Amira.


"Yup, betul sekali mbak Mira. Kan kalau hidroponik sayurannya kita bungkus pakai plastik, biar tetap fresh. Kita beri label agar konsumen juga tahu kapan itu dipetik. Itu yang bikin agak mahal dari sayur biasa"


Mereka mengangguk paham. "Aku minta abang bikinin beginian ah, kan lahan samping lele masih kosong tuh" Laras berangan


"Aku juga ah" Ais juga tak kalah semangat.


"Aku jaluk gonmu wae lah Kay. Garek metik tok kok. Wkwkwk (Aku minta punyamu aja lah Kay. Tinggal metik saja kok. Wkwkwk)" ucap Ririn


"Tuku yo Rin? (Beli ya Rin?)"


"Minta Kay minta"


"Hahaha, ayo ke dalam rumah lah. Kita lanjut ngobrol disana" ucap Lila menengahi perdebatan yang meminta gratisan itu.


Mereka mengobrol ngalor ngidul dari A sampai Z mereka bicarakan semua. Biasa lah, ibu-ibu kalau sudah ngumpul ya begitu. Perkembangan anak, masakan, tontonan yang lagi hits, pelakor. Semua mereka bahas.


"Aku mau minta pendapat kalian nih tentang pelakor. Gimana ya caranya kita melindungi suami kita dari pelakor gitu?" tanya Amira tetiba.


"Mas Ari macam-macam mbak Mira?" tanya Ais penasaran.


"Bukan mas Ari nya dek, ini ada pebisnis muda cantik tapi janda gangguin mas Ari tiap malam coba"


"Kita tanya pada ahli jiwa, silahkan dijawab" kata Lila mempersilahkan Laras untuk menjawab.


Laras menunjuk dirinya sendiri bingung. "Apa kaitannya dengan jiwa mbak Lila? Hahaha. Ehm, tapi pendapat pribadi aku nih ya. Ibaratkan suami kita tuh layangan. Benangnya sebagai cinta kita. Nah kita yang mainin tuh layangan.


Kita pakai trik tarik ulur saja. Berikan suami kita kebebasan tapi masih dalam pantauan kita. Jika ada yang mencoba menggaet itu layangan, kita tarik dengan perlahan dan mencoba menjauhkannya. Tapi itu juga tergantung kecepatan angin.


Makanya, kita sebagai yang mainin jangan sampai lengah. Kalau abang, ada orang begitu pasti dia sendiri yang blokir nomornya. Kalau kalian gimana?" tanya Laras meminta pendapat yang lain.


"Kalau suami aku berani main sama pelakor itu artinya dia sudah tak mencintaiku lagi. Tanya, maunya gimana? Kalau mau sama pelakor ya minta gono gininya saja. Beres deh" ucap Ririn enteng.


"Gundulmu, lha Galih piye? Kalau aku ya, kita ingatkan terus. Alasannya adalah anak. Pasti tuh mereka ingat akan anak mereka" sahut Kayla.


"Lha mas Ari gimana mbak Mira?" tanya Lila.


"Mas Ari gak menggubrisnya mbak, dia kalau ditelpon malam-malam begitu pasti dikasihkan ke aku. Gak mau dia ngangkat"

__ADS_1


"Kenapa gak diblokir aja aksesnya sih? Kan lebih gampang gitu" kata Ririn memberi ide.


Amira menghela nafas. "Gak bisa mbak, mereka masih kontrak kerjasama kok. Kalaupun aku blokir pasti pakai nomor baru lagi"


"Aha!" Kayla mendapatkan sebuah wangsit. "Mbak Mira, pengen caranya ngusir pelakor kan? Gampang mbak"


Semua mendekat ke arah Kayla. "Apaan?" tanya semuanya. "Hihihi, wajah kalian lucu. Pernah gak itu perempuan tetiba datang ke kantor mas Ari?"


"Pernah mbak, waktu itu aku pergoki dia lagi mau nyuapi mas Ari, sampai mas Ari marah menepis tangan perempuan itu" tutur Amira.


"Oke, sekarang keadaannya dibalik. Mbak Amira yang melayani mas Ari di kantor. Agak gimana sih, tapi itu cara paling ampuh. Bikin pelakor itu malu sendiri gangguin hubungan rumah tangga orang" saran Kayla.


Laras dan Ais mencoba mencerna kata-kata Kayla. "Maksudnya melakukan itu gitu di kantor?" terang Lila dan Ririn yang lebih tanggap.


"Iyap betul. Kalian itu memang, terdebest kalau otaknya suruh mikir begituan. Wkwkwkwk" seru Kayla.


"Gimana mbak Mir? Berani?" tanya Lila.


Amira mengangguk. "Tak ada salahnya mbak, pakai trik tarik ulur dan panasin si pelakornya langsung. Mantap!" ucap Amira sumringah karena menemukan solusinya.


"Batal-batal deh kerjasamanya. Yang penying suami aman" seru Ais.


"Bener dek, mbak setuju sama kamu"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Jadwal up untuk ep ini jam 10 malam dan 12 malam ya. Hehehe. Jangan paksa othor crazy up. Othor tak mampu mengerjakan 2 cerita sekaligus.


Oh ya, untuk jum'at othor libur dulu. Othor mau persiapan tempat untuk penilaian praktik bidan mandiri. So sorry all


Love you and happy reading 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2